Ada orang yang kalau dipotret hasilnya selalu tampak lebih muda. Ada juga yang difoto malah seperti sedang mengajukan pinjaman koperasi. Tetapi Leo Tolstoy, menurut Maxim Gorky, adalah spesies yang berbeda. Ia bukan sekadar terlihat tua. Ia tampak seperti sebuah batu purbakala yang entah mengapa memutuskan bangun pagi, merapikan janggut, lalu duduk di pantai menikmati angin Laut Hitam.
Kalau kita percaya pada deskripsi Gorky, Tolstoy bukan
manusia biasa. Tubuhnya memang kecil, rambutnya putih, wajahnya renta, tetapi
matanya... ah, matanya! Gorky menggambarkannya seolah memiliki seribu mata.
Untung bukan seribu mulut. Bayangkan betapa repotnya membeli pasta gigi.
Tentu saja "seribu mata" itu bukan berarti Tolstoy
keturunan laba-laba atau kandidat dewa dalam mitologi Yunani. Itu cara sastra
mengatakan bahwa ada orang-orang yang sekali memandang, rasanya seluruh isi
hidup kita sudah terbaca. Kita baru duduk lima menit, beliau sudah tahu bahwa
kita masih menyimpan nota utang sejak 2018.
Begitulah sastra Rusia bekerja. Mereka tidak pernah puas
mengatakan, "Dia tampak tua." Tidak. Itu terlalu sederhana. Mereka
akan berkata, "Ia seperti batu yang telah mendengar percakapan angin
selama seribu tahun, lalu memutuskan diam karena manusia terlalu berisik."
Setelah membacanya, kita manggut-manggut sambil berpura-pura mengerti. Padahal
dalam hati bertanya, "Ini sebenarnya sedang mendeskripsikan orang atau
tebing?"
Yang menarik justru bukan Tolstoy seorang diri, melainkan
Gorky yang sedang mengamatinya. Sebab dalam dunia sastra Rusia, penulis bukan
hanya gemar menulis novel setebal kamus. Mereka juga gemar mengamati sesama
penulis seperti ahli burung mengamati elang langka.
Kalau media sosial zaman sekarang penuh komentar, "Mas,
aura Anda beda," maka Gorky melakukannya dengan level yang jauh lebih
artistik. Ia melihat Tolstoy duduk di pantai, lalu lahirlah potret psikologis
yang lebih panjang daripada sebagian skripsi.
Bayangkan adegannya.
Tolstoy duduk sendiri di Pantai Gaspra. Ombak datang dan
pergi. Angin memainkan janggutnya seperti anak kecil memainkan tirai ruang
tamu. Burung-burung mungkin lewat tanpa sadar sedang melintasi kepala penulis War
and Peace. Sementara Gorky memandang dari kejauhan dengan ekspresi seorang
sahabat yang kagum sekaligus curiga.
Di situlah hubungan mereka menjadi menarik.
Gorky menghormati Tolstoy sebagai gunung sastra. Namun,
seperti kebanyakan sahabat dekat, ia juga memiliki stok keraguan yang cukup
sehat. Ia mengagumi kebesaran Tolstoy, tetapi tidak otomatis membeli seluruh
paket pemikirannya.
Ketika Tolstoy mulai hidup sederhana, mengenakan pakaian
petani, dan berkhotbah tentang kesederhanaan, Gorky tampaknya bergumam dalam
hati, "Bagus sih... tapi jangan-jangan ini juga semacam pertunjukan."
Ah, persahabatan memang begitu. Teman sejati bukan yang
selalu berkata, "Kamu luar biasa." Teman sejati sesekali berkata,
"Aku tahu kamu luar biasa, tapi aku juga tahu kamu kadang dramatis."
Ironisnya, justru keraguan itulah yang membuat penghormatan
Gorky terasa lebih tulus. Kekaguman tanpa kritik biasanya berubah menjadi fan
club. Sebaliknya, kritik tanpa kekaguman hanya menghasilkan kolom komentar yang
melelahkan. Gorky memilih jalan tengah yang lebih sulit: mengagumi sambil tetap
berpikir.
Sikap seperti ini sekarang mulai langka. Kita hidup di zaman
ketika seseorang harus dipilih menjadi malaikat atau monster. Padahal manusia
lebih sering menjadi campuran keduanya, ditambah sedikit rasa takut, sedikit
gengsi, dan sedikit tagihan yang belum lunas.
Tolstoy sendiri adalah contoh terbaik tentang kontradiksi
itu.
Ia seorang bangsawan yang mengagungkan kehidupan petani.
Ia kaya tetapi mengkritik kekayaan.
Ia terkenal tetapi ingin hidup sederhana.
Ia dicintai jutaan pembaca, tetapi sering merasa sendirian.
Kalau hidupnya dijadikan status media sosial, mungkin hanya
berbunyi: "It's complicated."
Gorky menangkap kegelisahan itu melalui satu kalimat yang
begitu indah: Tolstoy seperti seorang rahib yang tidak pernah menemukan
ketenangan.
Bukankah itu juga penyakit manusia modern?
Kita membeli kasur paling empuk, tetapi tidur tetap gelisah.
Kita punya ribuan teman di media sosial, tetapi makan siang
tetap sendirian.
Kita mengejar liburan ke pantai demi mencari ketenangan,
lalu sibuk memotret matahari terbenam agar orang lain tahu bahwa kita sedang
mencari ketenangan.
Mungkin yang berubah hanyalah jenis pantainya. Tolstoy punya
Pantai Gaspra. Kita punya wallpaper pantai di layar ponsel.
Pada akhirnya, kisah Gorky tentang Tolstoy bukanlah cerita
tentang seorang sastrawan tua yang duduk di tepi laut. Ini adalah cerita
tentang bagaimana manusia mencoba memahami manusia lain tanpa menghapus
kerumitannya.
Kita sering ingin menjadikan tokoh besar sebagai patung.
Padahal patung tidak pernah ragu, tidak pernah gelisah, dan tidak pernah salah.
Masalahnya, manusia besar justru menjadi besar karena ia pernah ragu, pernah
gelisah, bahkan kadang salah arah.
Barangkali itulah sebabnya mata Tolstoy terasa seperti
"seribu mata". Bukan karena ia mampu melihat seluruh dunia, melainkan
karena ia telah berkali-kali menatap dirinya sendiri—dan menemukan bahwa
manusia adalah makhluk yang jauh lebih rumit daripada tokoh mana pun dalam
novel.
Dan mungkin, kalau Gorky hidup hari ini, ia tidak akan
memotret Tolstoy dengan kamera ponsel. Ia tetap akan memilih kata-kata. Sebab
kamera hanya menangkap wajah, sementara sastra berhasil menangkap angin yang
mengibaskan janggut, ombak yang menyimpan kesunyian, dan kegelisahan yang
bahkan pemiliknya sendiri belum selesai memahaminya.
Itulah keajaiban sastra Rusia. Mereka bisa membuat seorang
lelaki tua yang sedang duduk diam di pantai terasa lebih menegangkan daripada
sebagian film laga. Bahkan setelah selesai membaca, kita ikut memandang laut,
mengelus dagu sendiri, lalu bertanya pelan, "Jangan-jangan setiap orang
memang membawa seribu mata... hanya saja sembilan ratus sembilan puluh
sembilannya sedang tertidur."
abah-arul.blogspot.com., Juli 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.