Jumat, 24 Juli 2026

Tolstoy, Gorky, dan Mata yang Seolah Punya CCTV Sejagad

Ada orang yang kalau dipotret hasilnya selalu tampak lebih muda. Ada juga yang difoto malah seperti sedang mengajukan pinjaman koperasi. Tetapi Leo Tolstoy, menurut Maxim Gorky, adalah spesies yang berbeda. Ia bukan sekadar terlihat tua. Ia tampak seperti sebuah batu purbakala yang entah mengapa memutuskan bangun pagi, merapikan janggut, lalu duduk di pantai menikmati angin Laut Hitam.

Kalau kita percaya pada deskripsi Gorky, Tolstoy bukan manusia biasa. Tubuhnya memang kecil, rambutnya putih, wajahnya renta, tetapi matanya... ah, matanya! Gorky menggambarkannya seolah memiliki seribu mata. Untung bukan seribu mulut. Bayangkan betapa repotnya membeli pasta gigi.

Tentu saja "seribu mata" itu bukan berarti Tolstoy keturunan laba-laba atau kandidat dewa dalam mitologi Yunani. Itu cara sastra mengatakan bahwa ada orang-orang yang sekali memandang, rasanya seluruh isi hidup kita sudah terbaca. Kita baru duduk lima menit, beliau sudah tahu bahwa kita masih menyimpan nota utang sejak 2018.

Begitulah sastra Rusia bekerja. Mereka tidak pernah puas mengatakan, "Dia tampak tua." Tidak. Itu terlalu sederhana. Mereka akan berkata, "Ia seperti batu yang telah mendengar percakapan angin selama seribu tahun, lalu memutuskan diam karena manusia terlalu berisik." Setelah membacanya, kita manggut-manggut sambil berpura-pura mengerti. Padahal dalam hati bertanya, "Ini sebenarnya sedang mendeskripsikan orang atau tebing?"

Yang menarik justru bukan Tolstoy seorang diri, melainkan Gorky yang sedang mengamatinya. Sebab dalam dunia sastra Rusia, penulis bukan hanya gemar menulis novel setebal kamus. Mereka juga gemar mengamati sesama penulis seperti ahli burung mengamati elang langka.

Kalau media sosial zaman sekarang penuh komentar, "Mas, aura Anda beda," maka Gorky melakukannya dengan level yang jauh lebih artistik. Ia melihat Tolstoy duduk di pantai, lalu lahirlah potret psikologis yang lebih panjang daripada sebagian skripsi.

Bayangkan adegannya.

Tolstoy duduk sendiri di Pantai Gaspra. Ombak datang dan pergi. Angin memainkan janggutnya seperti anak kecil memainkan tirai ruang tamu. Burung-burung mungkin lewat tanpa sadar sedang melintasi kepala penulis War and Peace. Sementara Gorky memandang dari kejauhan dengan ekspresi seorang sahabat yang kagum sekaligus curiga.

Di situlah hubungan mereka menjadi menarik.

Gorky menghormati Tolstoy sebagai gunung sastra. Namun, seperti kebanyakan sahabat dekat, ia juga memiliki stok keraguan yang cukup sehat. Ia mengagumi kebesaran Tolstoy, tetapi tidak otomatis membeli seluruh paket pemikirannya.

Ketika Tolstoy mulai hidup sederhana, mengenakan pakaian petani, dan berkhotbah tentang kesederhanaan, Gorky tampaknya bergumam dalam hati, "Bagus sih... tapi jangan-jangan ini juga semacam pertunjukan."

Ah, persahabatan memang begitu. Teman sejati bukan yang selalu berkata, "Kamu luar biasa." Teman sejati sesekali berkata, "Aku tahu kamu luar biasa, tapi aku juga tahu kamu kadang dramatis."

Ironisnya, justru keraguan itulah yang membuat penghormatan Gorky terasa lebih tulus. Kekaguman tanpa kritik biasanya berubah menjadi fan club. Sebaliknya, kritik tanpa kekaguman hanya menghasilkan kolom komentar yang melelahkan. Gorky memilih jalan tengah yang lebih sulit: mengagumi sambil tetap berpikir.

Sikap seperti ini sekarang mulai langka. Kita hidup di zaman ketika seseorang harus dipilih menjadi malaikat atau monster. Padahal manusia lebih sering menjadi campuran keduanya, ditambah sedikit rasa takut, sedikit gengsi, dan sedikit tagihan yang belum lunas.

Tolstoy sendiri adalah contoh terbaik tentang kontradiksi itu.

Ia seorang bangsawan yang mengagungkan kehidupan petani.

Ia kaya tetapi mengkritik kekayaan.

Ia terkenal tetapi ingin hidup sederhana.

Ia dicintai jutaan pembaca, tetapi sering merasa sendirian.

Kalau hidupnya dijadikan status media sosial, mungkin hanya berbunyi: "It's complicated."

Gorky menangkap kegelisahan itu melalui satu kalimat yang begitu indah: Tolstoy seperti seorang rahib yang tidak pernah menemukan ketenangan.

Bukankah itu juga penyakit manusia modern?

Kita membeli kasur paling empuk, tetapi tidur tetap gelisah.

Kita punya ribuan teman di media sosial, tetapi makan siang tetap sendirian.

Kita mengejar liburan ke pantai demi mencari ketenangan, lalu sibuk memotret matahari terbenam agar orang lain tahu bahwa kita sedang mencari ketenangan.

Mungkin yang berubah hanyalah jenis pantainya. Tolstoy punya Pantai Gaspra. Kita punya wallpaper pantai di layar ponsel.

Pada akhirnya, kisah Gorky tentang Tolstoy bukanlah cerita tentang seorang sastrawan tua yang duduk di tepi laut. Ini adalah cerita tentang bagaimana manusia mencoba memahami manusia lain tanpa menghapus kerumitannya.

Kita sering ingin menjadikan tokoh besar sebagai patung. Padahal patung tidak pernah ragu, tidak pernah gelisah, dan tidak pernah salah. Masalahnya, manusia besar justru menjadi besar karena ia pernah ragu, pernah gelisah, bahkan kadang salah arah.

Barangkali itulah sebabnya mata Tolstoy terasa seperti "seribu mata". Bukan karena ia mampu melihat seluruh dunia, melainkan karena ia telah berkali-kali menatap dirinya sendiri—dan menemukan bahwa manusia adalah makhluk yang jauh lebih rumit daripada tokoh mana pun dalam novel.

Dan mungkin, kalau Gorky hidup hari ini, ia tidak akan memotret Tolstoy dengan kamera ponsel. Ia tetap akan memilih kata-kata. Sebab kamera hanya menangkap wajah, sementara sastra berhasil menangkap angin yang mengibaskan janggut, ombak yang menyimpan kesunyian, dan kegelisahan yang bahkan pemiliknya sendiri belum selesai memahaminya.

Itulah keajaiban sastra Rusia. Mereka bisa membuat seorang lelaki tua yang sedang duduk diam di pantai terasa lebih menegangkan daripada sebagian film laga. Bahkan setelah selesai membaca, kita ikut memandang laut, mengelus dagu sendiri, lalu bertanya pelan, "Jangan-jangan setiap orang memang membawa seribu mata... hanya saja sembilan ratus sembilan puluh sembilannya sedang tertidur."

abah-arul.blogspot.com., Juli 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.