Bayangkan Anda bertamu ke rumah seorang Rusia. Dengan penuh semangat, Anda mengulurkan tangan dari luar pintu sambil tersenyum selebar iklan pasta gigi. Namun tuan rumah malah mundur sedikit.
Bukan karena Anda lupa mandi.
Bukan pula karena parfum Anda terlalu optimistis.
Ia hanya berkata, "Masuk dulu."
Anda pun bingung. Dalam hati bertanya, "Apakah rumah
ini memakai sistem antrean seperti bank?"
Ternyata tidak. Yang sedang bekerja adalah sebuah tradisi
berusia ratusan tahun. Dalam budaya Rusia, berjabat tangan di ambang pintu
dipercaya bisa mengundang sial, pertengkaran, bahkan hubungan yang retak. Jadi,
sebelum tangan bertemu tangan, kaki harus lebih dulu melewati kusen.
Rupanya, bahkan persahabatan pun harus mengikuti prosedur masuk.
Tradisi ini berasal dari kepercayaan Slav kuno yang
memandang ambang pintu sebagai wilayah istimewa. Ia bukan sekadar kayu yang
dipaku di lantai, melainkan garis batas antara dunia yang aman dan dunia yang
penuh ketidakpastian.
Kalau di zaman sekarang kita mengenal firewall untuk
melindungi komputer, orang-orang Slav rupanya sudah lebih dulu memiliki doorwall
untuk melindungi rumah.
Konon, di sekitar ambang pintu berdiam roh pelindung rumah
yang disebut domovoi. Ia bertugas menjaga kedamaian keluarga. Maka,
berjabat tangan tepat di atas wilayah kerjanya dianggap sama tidak sopannya
dengan menggelar konser dangdut di ruang baca perpustakaan.
Barangkali si domovoi hanya ingin bekerja dengan tenang.
Yang menarik, zaman berubah, kerajaan berganti, agama datang
silih berganti, internet muncul, kecerdasan buatan lahir, tetapi beberapa
kebiasaan tetap bertahan.
Ini menunjukkan bahwa manusia sebenarnya makhluk yang sangat
modern dalam membeli ponsel, tetapi sangat tradisional dalam menyimpan
kebiasaan.
Lihat saja kita sendiri.
Masih banyak orang yang mengetuk meja tiga kali setelah
mengucapkan sesuatu yang terlalu optimistis.
Masih ada yang tidak enak hati membuka payung di dalam
rumah.
Masih ada pula yang percaya bahwa mencari barang hilang
lebih cepat jika sambil memarahi seluruh isi rumah.
Logikanya memang sering cuti.
Namun tradisinya tetap masuk kerja.
Di Indonesia, kita pun tidak kekurangan kebiasaan serupa.
Jangan duduk di depan pintu, nanti susah jodoh.
Jangan menyapu malam hari, rezeki kabur.
Jangan bersiul malam-malam, nanti ada yang datang.
Kalau dipikir-pikir, hidup ini rupanya penuh larangan yang
membuat pintu memiliki karier lebih sibuk daripada pegawai kelurahan.
Pintu bukan hanya tempat keluar masuk.
Ia menjadi pusat diplomasi keluarga, tempat nasihat nenek berkantor, sekaligus lokasi favorit berbagai mitos membuka cabang.
Yang lucu, hampir semua budaya memiliki "aturan tak
terlihat" seperti ini.
Artinya, manusia di seluruh dunia sebenarnya sama saja. Kita
sama-sama suka memberi makna lebih pada benda-benda biasa.
Ada bangsa yang menganggap angka tertentu membawa sial.
Ada yang percaya burung tertentu membawa pertanda.
Ada pula yang merasa rapat akan lebih sukses kalau
presentasi dimulai tepat pukul sembilan lewat tiga menit.
Padahal penyebab rapat gagal biasanya bukan angka.
Melainkan presentasinya terdiri dari seratus tiga puluh tujuh slide.
Di sinilah keindahan unggahan seperti yang dibagikan akun @AdabRuss.
Ia tidak sedang mengajarkan cara berjabat tangan yang benar. Ia sedang
mengingatkan bahwa setiap bangsa memiliki logika budayanya sendiri.
Yang bagi kita terasa aneh, bagi mereka terasa biasa.
Yang kita anggap mitos, bagi orang lain adalah bentuk
penghormatan kepada leluhur.
Budaya memang seperti resep keluarga.
Secara ilmiah mungkin sulit dijelaskan mengapa opor buatan
nenek terasa lebih enak daripada restoran berbintang.
Namun semua anggota keluarga tetap percaya.
Dan tidak ada yang cukup berani membantah nenek.
Media sosial sering membuat kita sibuk berdebat tentang
siapa yang paling benar.
Padahal sesekali kita perlu berhenti dan sekadar berkata,
"Oh, ternyata di sana begitu."
Kalimat sederhana itu jauh lebih berguna daripada seribu
komentar yang diawali dengan, "Sebenarnya..."
Karena memahami budaya orang lain bukan berarti harus ikut
mempercayainya.
Kita cukup menghormatinya.
Seperti kita menghormati teman yang selalu mematikan dan menyalakan sakelar tiga kali sebelum tidur. Kita mungkin tidak ikut melakukannya, tetapi juga tidak perlu menyita sakelarnya.
Akhirnya saya sampai pada kesimpulan sederhana.
Mungkin bukan ambang pintu yang membawa sial.
Yang sering membawa sial justru kebiasaan manusia mengambil
kesimpulan sebelum benar-benar masuk ke "rumah" pemahaman orang lain.
Kita terlalu sering berjabat tangan dengan prasangka,
sebelum melangkah masuk ke ruang budaya yang berbeda.
Barangkali itulah pelajaran paling berharga dari tradisi
Rusia tersebut.
Kadang-kadang, sebelum mengulurkan tangan, kita memang perlu
melangkah satu langkah lebih dulu.
Bukan sekadar masuk ke dalam rumah.
Melainkan masuk ke dalam pengertian.
Dan untungnya, untuk memasuki rumah itu, tidak diperlukan
paspor.
Cukup rasa ingin tahu, sedikit kerendahan hati, dan
kesediaan meninggalkan sandal kesombongan di depan pintu.
abah-arul.blogspot.com., Juli 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.