Ada satu makhluk yang paling sering disalahpahami oleh anak-anak zaman sekarang. Bukan dosen pembimbing. Bukan petugas pajak. Apalagi algoritma media sosial yang tiba-tiba memunculkan iklan kasur setelah kita mengeluh pegal.
Makhluk itu bernama: ayah yang bertanya, "Filmnya
tentang apa?"
Bagi seorang remaja atau pemuda, pertanyaan itu terdengar
seperti awal interogasi di kantor polisi.
"Kamu dari mana?"
"Nonton."
"Sama siapa?"
"Teman."
"Film apa?"
"Film."
"Ceritanya bagaimana?"
"..."
Padahal yang ditanya cuma sinopsis. Reaksinya sudah seperti
diminta membacakan seluruh trilogi The Lord of the Rings lengkap dengan
lampiran analisis simbolisme cincin.
Lucunya, kepada teman tongkrongan kita sanggup bercerita
selama dua jam. Bahkan adegan yang hanya muncul tiga detik bisa diperdebatkan
sampai warung kopi tutup.
"Tahu nggak, waktu tokohnya melirik ke kanan itu
sebenarnya foreshadowing."
"Wah, gila! Dalam banget."
Tetapi ketika ayah bertanya, "Filmnya bagus?"
Jawabannya berubah menjadi format SMS tahun 2004.
"Bagus."
"Kenapa bagus?"
"Ya... bagus."
Selesai.
Demokrasi yang Berhenti di Ruang Tamu
Anak muda sering menganggap rumah adalah tempat transit.
Mandi, makan, mengisi daya ponsel, lalu menghilang lagi.
Orang tua menganggap rumah adalah tempat berkumpul.
Anak menganggap rumah adalah stasiun pengisian ulang.
Perbedaan persepsi ini melahirkan salah satu dialog paling
klasik sepanjang sejarah keluarga.
"Sudah pulang?"
"Iya."
"Mau ke mana lagi?"
"Keluar."
"Lho, baru pulang."
"Iya."
Percakapan selesai. Tidak ada yang menang. Tidak ada yang kalah. Yang ada hanya ibu yang menghela napas sambil memanaskan lauk untuk ketiga kalinya.
Bahasa Cinta Generasi Lama
Generasi sekarang punya banyak cara mengungkapkan kasih
sayang.
Mengirim emoji hati.
Memberi stiker lucu.
Mengirim GIF.
Mengunggah foto dengan caption sepanjang tesis.
Generasi orang tua jauh lebih sederhana.
"Sudah makan?"
"Jangan lupa bawa payung."
"Motornya bensinnya cukup?"
"Kok kurusan?"
Kalimat-kalimat itu sering dianggap mengganggu.
Padahal bagi orang tua, bertanya adalah bentuk pelukan yang
diterjemahkan ke dalam bahasa praktis.
Ayah mungkin tidak pernah berkata, "Nak, keberadaanmu
membuat hidupku bermakna."
Beliau lebih mungkin berkata,
"Ban belakangmu anginnya kurang."
Terjemahan emosionalnya sebenarnya sama.
Kesepian Itu Tidak Berisik
Jalal Amin menceritakan ayahnya duduk sendirian di ruang
tamu dengan lampu redup.
Adegan itu menyedihkan.
Tetapi coba bayangkan kalau ayah zaman sekarang.
Beliau duduk di ruang tamu.
Televisi menyala.
Tidak ditonton.
YouTube terbuka.
Video berhenti di menit ketiga.
WhatsApp dibuka berkali-kali.
Tidak ada pesan dari anak.
Lalu beliau melihat status kita.
"Ngopi lagi."
Beliau tersenyum.
Bukan karena kopi.
Tetapi karena setidaknya tahu anaknya masih hidup.
Kadang status media sosial telah menggantikan fungsi surat
keluarga.
Sayangnya, yang mengetahui aktivitas kita justru seribu pengikut, sementara orang tua baru tahu kita sedang ke Bali setelah melihat foto dari tetangga.
Ironi Zaman Digital
Teknologi diciptakan untuk mendekatkan yang jauh.
Hebatnya, kita berhasil menggunakannya untuk menjauhkan yang
dekat.
Kita bisa video call dengan teman di Kanada.
Tetapi sulit duduk lima belas menit bersama ayah di ruang
tamu.
Kita hafal jadwal influencer.
Kita lupa jadwal kontrol kesehatan ibu.
Kita tahu drama percintaan artis Korea.
Tetapi tidak tahu obat darah tinggi ayah sudah habis.
Manusia memang spesies yang luar biasa.
Bisa mengingat password Wi-Fi tetangga.
Tetapi lupa menelepon orang yang setiap malam mendoakannya.
Siklus yang Selalu Berulang
Yang paling lucu sekaligus tragis dari cerita Jalal Amin
adalah hukum alam yang tidak pernah gagal.
Anak berkata,
"Ayah cerewet."
Dua puluh lima tahun kemudian...
Ia sendiri menjadi ayah.
Lalu bertanya kepada anaknya,
"Dari mana?"
Anaknya menjawab,
"Keluar."
"Sama siapa?"
"Teman."
"Film apa?"
"Film."
Saat itulah semesta tertawa kecil.
Alam semesta rupanya memiliki selera humor yang sangat
klasik.
Ia tidak membalas kita dengan hukuman.
Ia membalas kita dengan pengalaman.
Karma ternyata bukan petir dari langit.
Karma adalah ketika kita tiba-tiba mengucapkan kalimat yang dulu paling kita benci dari mulut orang tua sendiri.
Orang Tua Tidak Membutuhkan Hadiah Mahal
Ada anggapan bahwa membahagiakan orang tua harus dengan
mobil baru.
Rumah baru.
Umrah.
Liburan ke Eropa.
Padahal sering kali mereka jauh lebih bahagia jika anak
berkata,
"Yah, tadi aku nonton film. Ceritanya begini..."
Lalu mereka mendengarkan.
Mungkin tidak paham siapa tokoh utamanya.
Mungkin lupa nama filmnya lima menit kemudian.
Tetapi itu tidak penting.
Yang mereka simpan bukan judul filmnya.
Melainkan kenyataan bahwa malam itu anaknya memilih berbagi
cerita.
Kadang-kadang, sinopsis lima menit jauh lebih berharga daripada oleh-oleh lima juta.
Jangan Sampai Ruang Tamu Menjadi Museum
Penyesalan
Ada sebuah benda yang hampir punah di rumah modern.
Bukan radio transistor.
Bukan telepon kabel.
Melainkan obrolan tanpa terburu-buru.
Ruang tamu kini lebih sering menjadi tempat meletakkan paket
belanja daring daripada tempat berbagi cerita.
Padahal mungkin di sanalah kenangan paling berharga bisa
lahir.
Mungkin malam ini ayah hanya ingin tahu isi film.
Mungkin ibu hanya ingin mendengar bagaimana perjalananmu
pulang.
Bukan karena mereka kekurangan informasi.
Melainkan karena mereka sedang mengumpulkan kenangan.
Sebab pada usia tertentu, orang tua tidak lagi menghitung
berapa banyak uang yang mereka miliki.
Mereka menghitung berapa banyak malam ketika anak-anak masih
mau duduk bersama mereka.
Jadi, kalau malam ini ayah bertanya, "Filmnya tentang
apa?"
Jangan jawab, "Bagus."
Duduklah sebentar.
Ceritakan tokohnya.
Ceritakan ending-nya.
Kalau perlu, tambahkan spoiler sekalian.
Toh yang benar-benar mereka tunggu bukan akhir ceritanya.
Melainkan kenyataan bahwa, untuk beberapa menit, mereka
kembali menjadi bagian dari cerita hidupmu.
abah-arul.blogspot.com. Juli 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.