Minggu, 26 Juli 2026

Mimpi Tidak Bisa Dicicil: Pelajaran dari Ana María Matute untuk Manusia yang Terlalu Sibuk Mengisi Keranjang Belanja

Ada dua jenis manusia di dunia modern. Yang pertama bangun pagi lalu bertanya, "Apa mimpiku hari ini?" Yang kedua bangun pagi, membuka ponsel, lalu bertanya, "Siapa yang sudah liburan ke Jepang lagi?" Ironisnya, golongan kedua jauh lebih banyak. Mereka bahkan belum sempat menyikat gigi, tetapi sudah berhasil menyikat habis rasa syukur.

Di sinilah Ana María Matute datang seperti tetangga bijak yang tidak pernah ikut arisan, tetapi sekali bicara membuat seluruh kampung terdiam. Ia mengatakan bahwa orang tanpa mimpi adalah orang yang sangat gagal. Bukan gagal karena saldo ATM lebih tipis daripada tisu warung makan, melainkan karena ia kehilangan mesin paling penting dalam hidup: imajinasi.

Sebab sesungguhnya manusia hidup bukan hanya dengan nasi. Kalau hanya nasi, ayam goreng juga hidup bahagia sampai hari-H sebelum masuk penggorengan. Manusia bertahan karena mempunyai sesuatu yang ingin dicapai, walaupun kadang sesuatu itu berubah-ubah. Waktu kecil ingin jadi astronot. Remaja ingin jadi penyanyi. Dewasa cukup ingin cicilan lunas dan grup WhatsApp keluarga berhenti mengirim hoaks setiap pagi.

Mimpi memang sering dituduh tidak realistis. Padahal, yang paling tidak realistis justru keyakinan bahwa kita bisa bahagia hanya dengan menambah angka di rekening. Kalau benar demikian, para miliarder pasti sudah tidak pernah insomnia. Nyatanya, kasur paling empuk tetap tidak bisa menggantikan hati yang keras seperti kerupuk semalaman.

Matute menggambarkan mimpi sebagai sebuah bukit. Indah sekali. Bukit memang tempat orang melihat dunia lebih luas. Hanya saja, zaman sekarang banyak orang lebih suka mendaki "Bukit Diskon 11.11". Napas ngos-ngosan mengejar promo, tetapi santai saja membiarkan cita-cita berdebu di gudang pikiran.

Lucunya lagi, manusia modern sangat rajin membuat daftar keinginan, tetapi malas membuat daftar impian. Perbedaannya tipis, tetapi dampaknya jauh. Keinginan biasanya berakhir di keranjang belanja. Impian berakhir di sejarah hidup.

Namun Matute rupanya belum selesai menggoda kita. Setelah membicarakan mimpi, ia mengeluarkan daftar penyakit yang menurutnya paling menyebalkan: hati yang sempit, keserakahan, dan tidak mau bermurah hati.

Kalau dipikir-pikir, penyakit ini memang lebih menular daripada flu. Bedanya, flu membuat orang bersin. Kekerdilan hati membuat orang alergi melihat kebahagiaan tetangga.

Ada orang yang melihat temannya sukses lalu berkata, "Alhamdulillah."

Ada pula yang berkata, "Pasti ada orang dalam."

Kalau temannya membeli mobil baru, ia langsung menjadi detektif ekonomi.

"Utangnya berapa?"

Kalau temannya menikah bahagia, ia berubah menjadi analis hubungan.

"Nanti juga berantem."

Kalau temannya mendapat penghargaan, ia mendadak ahli konspirasi.

"Itu pasti setting-an."

Begitulah kekerdilan hati bekerja. Ia tidak pernah bisa menikmati bunga di taman karena terlalu sibuk menghitung kenapa bunga tetangga mekar lebih dulu.

Yang menarik, Matute tidak menuduh kemiskinan materi sebagai musuh terbesar manusia. Ia justru mengingatkan adanya kemiskinan spiritual. Dan yang satu ini lebih licin. Orang miskin harta masih bisa tertawa bersama teman-temannya sambil minum kopi sachet. Tetapi orang miskin hati bisa duduk di restoran bintang lima sambil iri kepada meja sebelah.

Padahal kemurahan hati tidak selalu membutuhkan dompet tebal. Senyum itu gratis. Mengucapkan selamat tidak dikenai pajak. Memberi semangat belum dipungut bea materai. Bahkan memuji orang lain tidak membuat tinggi badan kita berkurang satu sentimeter.

Sayangnya, ada manusia yang memperlakukan pujian seperti emas batangan: disimpan rapat-rapat, takut berkurang kalau dibagikan.

Untungnya, Matute tidak hanya pandai mendiagnosis penyakit. Ia juga membawa resep. Obatnya sederhana: cinta dan persahabatan.

Bukan cinta ala sinetron yang setiap lima menit kehilangan ingatan, lalu ingat lagi menjelang iklan. Bukan pula persahabatan yang hanya aktif ketika butuh pinjaman motor atau password Wi-Fi.

Yang ia maksud adalah cinta sebagai kebiasaan memberi ruang bagi orang lain untuk tumbuh. Persahabatan sebagai kesediaan hadir bahkan ketika tidak ada foto yang bisa diunggah ke media sosial.

Karena pada akhirnya hidup bukan perlombaan mengumpulkan pengikut, melainkan perjalanan mengumpulkan orang-orang yang bersedia tetap tinggal ketika kita sedang tidak menarik untuk ditonton.

Di zaman sekarang, kita memang memiliki ribuan teman digital. Tetapi ketika pindahan rumah, yang datang sering kali hanya dua orang dan satu di antaranya adalah jasa ekspedisi.

Mungkin itulah sebabnya kutipan Matute terasa semakin segar. Ia mengingatkan bahwa manusia bukan mesin produktivitas. Kita bukan aplikasi yang harus terus diperbarui versinya setiap bulan. Kita hanyalah makhluk yang membutuhkan tiga hal agar tidak berubah menjadi robot berwajah lelah: mimpi yang masih menyala, hati yang cukup lapang untuk ikut bergembira atas keberhasilan orang lain, dan persahabatan yang tidak memakai sistem poin loyalitas.

Maka, sesekali berhentilah menggulir layar. Cobalah menggulir kembali mimpi-mimpi yang pernah Anda simpan. Barangkali masih ada yang belum kedaluwarsa.

Dan kalau hari ini Anda belum mampu mengubah dunia, tidak apa-apa. Mulailah dari hal yang lebih sederhana: jangan pelit memberi tepuk tangan ketika orang lain berhasil. Toh tepuk tangan tidak pernah membuat telapak tangan menjadi lebih tipis.

Karena ternyata, sebagaimana diingatkan Ana María Matute, hidup yang paling miskin bukanlah hidup yang kekurangan uang. Hidup yang paling miskin adalah hidup yang kehilangan mimpi, kekurangan kasih sayang, dan terlalu sibuk menghitung milik orang lain sampai lupa menikmati miliknya sendiri. Itu baru benar-benar bangkrut—bahkan sebelum dompetnya kosong.

abah-arul.blospot.com., Juli 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.