Museum FC vs Laboratorium United
Ketika Sejarah Ingin Jadi Striker, tetapi Ekonomi yang Selalu Cetak Gol
Ada dua jenis warga negara di dunia.
Golongan pertama bangun pagi lalu bertanya, "Hari ini
inovasi apa yang bisa saya ciptakan?"
Golongan kedua bangun pagi lalu bertanya, "Tahukah
kalian bahwa nenek moyang kami sudah menemukan semuanya sejak lima ribu tahun
yang lalu?"
Yang lucu, golongan kedua biasanya menyampaikan kebesaran
leluhurnya menggunakan ponsel buatan negara lain, di media sosial buatan negara
lain, melalui internet yang infrastrukturnya juga hasil riset negara lain.
Kalau paradoks diberi KTP, mungkin beginilah wajahnya.
Belakangan media sosial kembali ramai oleh kutipan yang
konon berasal dari Henry Kissinger.
"Amerika tidak ada hubungannya dengan sejarah. Barang
siapa ingin membangun negara kuat, andalkan ilmu pengetahuan dan
ekonomi..."
Kalimat ini beredar dengan kecepatan yang membuat Einstein
mungkin ingin mengoreksi rumus relativitasnya. Dalam beberapa jam, ia sudah
muncul di Facebook, X, WhatsApp keluarga, bahkan mungkin sudah dibacakan dengan
musik instrumental yang mengharukan di TikTok.
Masalahnya cuma satu.
Belum tentu Kissinger pernah mengucapkannya.
Tetapi memang ada satu hukum alam yang lebih konsisten
daripada gravitasi.
Semakin tidak jelas sumber sebuah kutipan, semakin besar kemungkinan foto di bawahnya memakai wajah tokoh terkenal yang sedang memandang ke kejauhan.
Kalaupun Kissinger benar-benar tidak pernah berkata
demikian, gagasan di balik kutipan itu tetap menarik.
Ia seolah berkata, "Kalau ingin menjadi negara kuat,
berhentilah terlalu sering bernostalgia."
Ini nasihat yang terdengar sederhana.
Namun ternyata sangat menyakitkan bagi bangsa yang hobi
mengadakan seminar bertema "Mengembalikan Kejayaan Masa Lalu."
Aneh juga.
Kalau kejayaan masa lalu memang bisa kembali hanya dengan seminar, mungkin Romawi sudah bangkit setiap hari Selasa.
Ada fenomena unik yang hanya dimiliki banyak negara
berkembang.
Mereka memiliki sejarah yang sangat panjang.
Tetapi daftar paten ilmiahnya sangat pendek.
Museum penuh.
Laboratorium sepi.
Arsip sejarah bertingkat-tingkat.
Jurnal internasional cuma beberapa lembar.
Seolah-olah kita menganggap leluhur bekerja sangat keras
supaya cucunya cukup bekerja sebagai pemandu wisata sejarah.
Padahal para leluhur itu sendiri dulu adalah inovator.
Mereka tidak menghabiskan hidup dengan mengenang leluhur
yang lebih tua lagi.
Bayangkan kalau para pembangun Borobudur dahulu berkata,
"Kita jangan membangun apa-apa dulu. Mari kita adakan
diskusi tentang betapa hebatnya bangunan generasi sebelumnya."
Mungkin sampai sekarang kita hanya memiliki notulen rapat.
Namun kutipan pseudo-Kissinger ini juga punya masalah.
Ia terlalu percaya bahwa sejarah hanyalah gudang barang
bekas.
Padahal sejarah itu seperti ibu.
Kadang cerewet.
Sering mengulang cerita yang sama.
Tetapi biasanya benar.
Bangsa yang benar-benar maju justru sangat menghargai
sejarah.
Jepang tetap punya upacara minum teh.
Tetapi juga membuat robot.
Jerman masih merawat kastel abad pertengahan.
Sekaligus membuat mesin industri kelas dunia.
Korea Selatan masih bangga memakai hanbok.
Sambil menjual semikonduktor ke seluruh planet.
Mereka tidak memilih antara museum dan laboratorium.
Mereka membangun laboratorium di samping museum.
Kalau perlu, Wi-Fi museum-nya lebih cepat daripada Wi-Fi kantor pemerintahan.
Amerika sendiri sebenarnya juga lucu.
Katanya negara tanpa sejarah.
Tetapi coba sentuh Konstitusinya sedikit saja.
Reaksinya bisa seperti seseorang yang baru saja diberi tahu
bahwa resep rendang keluarganya ternyata kurang santan.
Negara yang konon "tidak punya sejarah" justru
memiliki narasi sejarah yang sangat kuat.
American Dream.
Declaration of Independence.
Founding Fathers.
Gettysburg.
Semuanya diperlakukan hampir seperti kitab keluarga
nasional.
Jadi mengatakan Amerika tidak membutuhkan sejarah sama saja seperti mengatakan seseorang tidak membutuhkan tulang karena yang terlihat hanya ototnya.
Di Indonesia, perdebatan ini terasa semakin akrab.
Kita adalah bangsa yang sangat rajin mengenang masa lalu.
Kadang bahkan terlalu rajin.
Setiap ada masalah ekonomi, muncul kalimat,
"Dulu Nusantara menguasai jalur perdagangan
dunia."
Benar.
Tetapi tagihan listrik bulan ini sayangnya tidak bisa
dibayar memakai kejayaan Majapahit.
Bank belum menerima pembayaran dalam bentuk nostalgia.
Yang diterima tetap rupiah.
Sayangnya.
Ironisnya, sejarah terbesar Islam justru dibangun oleh
orang-orang yang sangat mencintai ilmu pengetahuan.
Mereka tidak puas hanya menceritakan kejayaan Nabi dan para
sahabat.
Mereka mendirikan observatorium.
Rumah sakit.
Perpustakaan.
Universitas.
Menerjemahkan ribuan buku.
Mengembangkan matematika, astronomi, kedokteran, optika,
hingga filsafat.
Mereka menghormati masa lalu justru dengan menciptakan masa
depan.
Hari ini kadang kita membalas jasa mereka dengan mengadakan
seminar tentang betapa hebatnya mereka dahulu.
Barangkali kalau Ibnu Sina hadir kembali, beliau akan
bertanya,
"Baik... setelah seminar selesai, laboratoriumnya di
sebelah mana?"
Lalu ruangan mendadak sunyi.
Mungkin pelajaran terbesar dari kutipan yang belum tentu
diucapkan Kissinger ini justru bukan tentang Amerika.
Melainkan tentang kebiasaan manusia.
Kita sering mengira sejarah bisa menggantikan pekerjaan.
Padahal sejarah hanyalah GPS.
Ia menunjukkan jalan.
Tetapi tidak menyetir kendaraan.
Mobil tetap harus berjalan.
Kalau hanya memandangi peta sambil berkata, "Lihat, jalannya bagus sekali," kita tetap tidak akan sampai tujuan.
Akhirnya saya membayangkan sebuah pertandingan sepak bola.
Di satu sisi ada Museum FC.
Pemain-pemainnya membawa foto leluhur.
Seragamnya klasik.
Yel-yelnya megah.
Tetapi tidak pernah latihan.
Di sisi lain ada Laboratorium United.
Mereka setiap hari bereksperimen.
Salah berkali-kali.
Bangkit lagi.
Berlatih lagi.
Ketika peluit panjang berbunyi, papan skor tidak pernah
bertanya siapa yang memiliki sejarah paling panjang.
Papan skor hanya menghitung siapa yang berhasil mencetak
gol.
Untungnya, dalam kehidupan nyata kita tidak harus memilih
salah satunya.
Bangsa yang bijak tidak membakar museum demi membangun
laboratorium.
Ia membangun laboratorium agar suatu hari nanti hasil
penelitiannya pantas dipajang di museum.
Karena sejarah yang paling membanggakan bukanlah sejarah
yang terus dikenang.
Melainkan sejarah baru yang sedang kita tulis hari ini.
abah-arul.blogspot.com., Juli 2026
Reviewed by banyu bening Ajibarang
on
7/30/2026 02:30:00 PM
Rating:


Tidak ada komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.