"Kelaparan adalah satu-satunya ukuran kebenaran. Ketika manusia lapar, semua topeng peradaban dan kebudayaan akan rontok, dan yang tersisa hanyalah naluri."
Ketika Filsafat Kalah oleh Nasi Padang
Ada banyak cara untuk menguji karakter manusia.
Sebagian orang percaya karakter diuji oleh kekuasaan.
Berikan seseorang jabatan, lalu lihat apakah ia tetap rendah hati atau berubah
menjadi raja kecil yang bahkan meminta kopi disajikan dengan sudut kemiringan
45 derajat.
Sebagian lagi percaya karakter diuji oleh uang. Berikan
seseorang rekening berisi miliaran rupiah, lalu lihat apakah ia masih ingat
kata "cukup" atau mulai mengoleksi mobil seperti anak kecil
mengoleksi kartu Pokémon.
Namun Varlam Shalamov punya metode yang jauh lebih
sederhana.
Jangan beri dia kekuasaan.
Jangan beri dia uang.
Cukup jangan beri dia makan.
Menurut Shalamov, kelaparan adalah auditor paling jujur
dalam sejarah manusia. Ia tidak membaca ijazah, tidak peduli status sosial,
tidak tertarik pada gelar profesor, ustaz, doktor, atau motivator. Ia hanya
datang, mengetuk lambung, lalu bertanya:
"Baik, sekarang mari kita lihat siapa dirimu
sebenarnya."
Dan pertanyaan itu sering menghasilkan jawaban yang tidak
nyaman.
Perut: Filsuf yang Tidak Pernah Lulus Universitas
Manusia suka menganggap dirinya makhluk rasional.
Kita menulis konstitusi, membangun museum, menciptakan
simfoni, menyelenggarakan seminar tentang etika, lalu berdebat berjam-jam
tentang makna kehidupan.
Namun semua keagungan itu memiliki satu kelemahan fatal.
Ia bergantung pada sarapan.
Coba perhatikan diri sendiri ketika baru selesai makan.
Dunia tampak indah. Anda mudah memaafkan. Anda percaya pada persaudaraan umat
manusia. Anda bahkan mungkin tersentuh melihat video anak kucing dan anak bebek
berteman.
Lalu lewatkan makan siang.
Sekitar pukul tiga sore, filsafat mulai goyah.
Pada pukul lima, Anda mulai curiga bahwa seluruh umat
manusia sebenarnya menyebalkan.
Pada pukul tujuh malam, Anda bersedia menjual sebagian
idealisme hanya demi sepiring nasi goreng.
Shalamov menyaksikan versi ekstrem dari proses itu di Gulag
Soviet. Di sana, kelaparan bukan lagi gangguan kecil yang bisa diselesaikan
dengan aplikasi pesan antar makanan. Kelaparan adalah penghuni tetap. Ia tidur
bersama para tahanan, bekerja bersama mereka, dan perlahan-lahan menggerogoti
segala sesuatu yang mereka sebut kemanusiaan.
Gulag: Tempat Teori Bertemu Musim Dingin
Di Kolyma, Siberia, tempat Shalamov menghabiskan
bertahun-tahun hidupnya, suhu bisa turun hingga puluhan derajat di bawah nol.
Bayangkan tubuh manusia seperti sebuah ponsel.
Dalam keadaan normal, baterainya terisi penuh. Ia bisa
menjalankan berbagai aplikasi: kesopanan, seni, cinta, empati, humor, bahkan
filsafat.
Tetapi di Gulag, baterai itu hampir habis.
Tubuh kekurangan makanan.
Energi menipis.
Aplikasi-aplikasi mewah mulai ditutup satu per satu.
Pertama yang mati mungkin apresiasi terhadap puisi.
Lalu kemampuan menikmati musik.
Kemudian minat terhadap debat politik.
Tak lama kemudian yang tersisa hanya satu aplikasi yang
terus berjalan:
Survival Mode.
Dan Survival Mode tidak terlalu peduli pada etika Kant atau
metafisika Aristoteles.
Ia hanya punya satu pertanyaan:
"Ada roti tidak?"
Hobbes, Dostoevsky, dan Sebungkus Roti
Filsuf Inggris Thomas Hobbes pernah mengatakan bahwa tanpa
aturan sosial, hidup manusia akan menjadi "solitary, poor, nasty, brutish,
and short."
Kalau diterjemahkan bebas ke bahasa warung kopi:
"Kalau semua orang lapar, keadaan bisa sangat
kacau."
Shalamov tampaknya mengangguk setuju.
Namun ia menambahkan sesuatu yang lebih menyakitkan.
Bahkan ketika aturan sosial masih ada, kelaparan bisa
membuat aturan itu menguap seperti es batu di atas aspal Jakarta.
Di sinilah ia berbeda dari banyak pemikir lain.
Dostoevsky masih percaya penderitaan bisa menjadi jalan
menuju pencerahan.
Shalamov seperti menjawab:
"Itu mungkin karena Dostoevsky masih sempat
makan."
Tentu ini berlebihan dan tidak sepenuhnya adil. Namun
pengalaman Shalamov membuatnya sulit mempercayai romantisasi penderitaan.
Baginya, penderitaan bukanlah guru bijaksana berjanggut putih yang memberikan
pelajaran hidup.
Penderitaan lebih mirip debt collector yang datang pukul
enam pagi dan menendang pintu.
Ia tidak mendidik.
Ia menagih.
Apakah Peradaban Hanya Cat Tembok?
Pertanyaan terbesar yang diajukan Shalamov sebenarnya sangat
mengganggu.
Bagaimana jika peradaban hanya lapisan cat tipis di atas
dinding naluri?
Kita bangga pada kemajuan manusia.
Kita punya internet, kecerdasan buatan, satelit, dan kopi
dengan nama yang panjangnya melebihi judul skripsi.
Namun Shalamov mengingatkan bahwa di balik semua itu masih
ada makhluk biologis yang sama dengan nenek moyangnya ribuan tahun lalu.
Perut kita tidak membaca buku filsafat.
Lambung tidak peduli pada teori politik.
Usus tidak menghormati gelar akademik.
Ketika tubuh mulai kekurangan energi, seluruh bangunan
peradaban bisa bergetar seperti menara kartu yang tersenggol kucing.
Ini bukan penghinaan terhadap peradaban.
Justru sebaliknya.
Ini pengingat betapa rapuhnya peradaban.
Untungnya Manusia Tidak Selalu Menjadi Serigala
Namun apakah Shalamov sepenuhnya benar?
Di sinilah cerita menjadi lebih menarik.
Sejarah ternyata penuh dengan orang-orang yang tetap berbagi
ketika mereka sendiri lapar.
Ada tahanan yang membagi roti.
Ada ibu yang mengutamakan anaknya.
Ada relawan yang mempertaruhkan hidup demi orang asing.
Ada manusia yang, bahkan ketika seluruh alarm biologis
berbunyi, masih memilih untuk menjadi manusia.
Fenomena ini membuat para pesimis frustrasi.
Karena ternyata manusia bukan hanya makhluk naluriah.
Ia juga makhluk yang mampu melawan nalurinya sendiri.
Seekor singa lapar tidak akan mengadakan rapat etika sebelum
berburu.
Manusia kadang melakukannya.
Sering kali hasil rapatnya membingungkan, tetapi setidaknya
rapat itu ada.
Pelajaran dari Sebuah Perut Kosong
Mungkin pelajaran terbesar dari Shalamov bukanlah bahwa
manusia itu buruk.
Melainkan bahwa kebaikan jauh lebih mahal daripada yang kita
kira.
Kita sering menganggap moralitas sebagai sesuatu yang
otomatis.
Padahal moralitas membutuhkan kondisi.
Ia membutuhkan keamanan.
Ia membutuhkan keadilan.
Ia membutuhkan kesempatan untuk hidup layak.
Bunga tidak tumbuh di atas beton.
Demikian pula kemanusiaan sulit tumbuh di atas kelaparan
yang berkepanjangan.
Karena itu, ketika kita melihat orang kehilangan martabat
akibat kemiskinan atau kelaparan, pertanyaan yang tepat bukanlah:
"Mengapa mereka berubah?"
Melainkan:
"Bagaimana kita membiarkan kondisi itu terjadi?"
Antara Perut dan Jiwa
Pada akhirnya, Shalamov memberi kita cermin yang tidak
menyenangkan.
Ia menunjukkan bahwa di bawah jas, gelar, ideologi, dan
semua kebanggaan intelektual kita, ada perut yang diam-diam memegang hak veto.
Namun kisah manusia tidak berhenti di sana.
Jika kelaparan adalah ujian, sejarah juga menunjukkan bahwa
sebagian orang tetap lulus meskipun soal-soalnya nyaris mustahil.
Mungkin peradaban memang rapuh.
Mungkin moralitas memang tipis.
Mungkin naluri selalu mengintai di ruang bawah tanah jiwa
kita.
Tetapi justru karena itulah setiap tindakan berbagi, setiap
pengorbanan, dan setiap bentuk kasih sayang menjadi begitu berharga.
Kebaikan bukanlah sesuatu yang muncul karena keadaan mudah.
Kebaikan menjadi bermakna karena keadaan sering kali sulit.
Dan mungkin di situlah letak ironi terbesar yang tidak
sempat diakui Shalamov: kelaparan memang dapat membuka topeng manusia, tetapi
kadang-kadang, di balik topeng yang jatuh itu, kita menemukan bukan hanya
seekor serigala yang ketakutan, melainkan juga seorang santo yang lapar.
abah-arul.blogspot.com., Juni 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.