Ada sebuah fenomena menarik di zaman modern ini. Dahulu seseorang menjadi ulama setelah bertahun-tahun mondok, menghafal kitab, berguru dari satu kiai ke kiai lain, dan menghabiskan hidupnya bergelut dengan ilmu. Kini, kadang-kadang seseorang cukup membeli peci putih, menambahkan kata "official" di belakang namanya, lalu mengunggah video berdurasi 60 detik dengan musik latar yang mengharukan. Dalam hitungan minggu, lahirlah seorang "ustaz viral".
Jika dulu sanad keilmuan ditelusuri dari guru ke guru hingga
bersambung kepada ulama-ulama besar, kini sanad sering kali hanya bersambung
dari algoritma ke algoritma. Guru utamanya bukan lagi kitab kuning, melainkan
fitur "For You Page".
Barangkali inilah yang membuat PBNU merasa perlu menyusun
Piagam Nilai-Nilai Keulamaan. Sebab, jika tidak ada penanda jalan, masyarakat
bisa salah masuk jalur. Niatnya mencari ulama, yang ditemukan justru motivator
spiritual, komentator politik, analis konspirasi, pedagang suplemen, dan
kadang-kadang semuanya sekaligus dalam satu akun.
Piagam ini pada dasarnya adalah upaya sederhana namun
penting: mengingatkan bahwa ulama bukan profesi dadakan seperti mie instan. Ada
proses panjang yang harus dilalui. Bahkan mie instan saja masih perlu direbus
tiga menit. Masa ulama cukup tiga video TikTok?
Gus Yahya menjelaskan bahwa piagam ini memiliki tiga fungsi.
Pertama, sebagai pengingat bagi para ulama sendiri. Ini mirip cermin yang
dipasang di ruang tamu. Bukan karena penghuni rumah lupa wajahnya, tetapi agar
tetap ingat seperti apa dirinya.
Kedua, sebagai panduan bagi calon ulama. Ibarat papan
petunjuk di gunung, piagam ini menjelaskan bahwa jalur menuju keulamaan bukan
jalan tol yang bisa ditembus dengan modal percaya diri dan mikrofon wireless.
Ada tanjakan ilmu, jurang ego, dan tikungan akhlak yang harus dilewati.
Ketiga, sebagai panduan bagi masyarakat. Sebab di era
digital, memilih guru agama kadang lebih rumit daripada memilih telepon
genggam. Spesifikasi luar terlihat jelas, tetapi kualitas "mesin
dalamnya" sering sulit diperiksa.
Dalam tradisi NU, ulama bukan sekadar orang yang pandai
berbicara. Burung beo juga bisa mengulang kalimat yang sama sepanjang hari.
Yang membedakan ulama adalah kedalaman ilmu, keluasan wawasan, akhlak, dan
keterhubungannya dengan rantai keilmuan yang panjang.
Masalahnya, media sosial memiliki logika yang berbeda dengan
pesantren.
Pesantren menghargai proses.
Media sosial menghargai kecepatan.
Pesantren mengajarkan kehati-hatian.
Media sosial mengajarkan bahwa yang tercepat sering kali
menang.
Pesantren mengutamakan kedalaman.
Media sosial mengutamakan durasi pendek yang bisa ditonton
sambil menunggu lampu merah.
Akibatnya, terjadi benturan budaya yang cukup unik. Di dunia
nyata, seorang kiai mungkin membutuhkan puluhan tahun untuk diakui keilmuannya.
Di dunia maya, seseorang bisa menjadi "ulama nasional" setelah satu
video viral dan tiga kali tampil di podcast.
Keadaan ini mengingatkan pada cerita tentang emas dan kertas
alumunium. Dari jauh keduanya sama-sama berkilau. Namun ketika diuji, barulah
terlihat mana yang benar-benar berharga dan mana yang hanya memantulkan cahaya.
PBNU tampaknya ingin menyediakan alat uji tersebut.
Tentu saja langkah ini tidak bebas dari kritik. Akan ada
yang bertanya, apakah ini bentuk monopoli definisi ulama? Apakah NU sedang
membuat "sertifikat kelulusan" untuk dunia dakwah?
Pertanyaan itu wajar. Namun sesungguhnya setiap tradisi
keilmuan selalu memiliki standar. Dokter memiliki standar. Pilot memiliki
standar. Bahkan tukang bakso yang baik pun memiliki standar tentang berapa
banyak bawang goreng yang layak ditaburkan.
Maka tidak aneh jika ulama juga memiliki standar.
Justru yang aneh adalah jika profesi yang mengurusi
keselamatan rohani manusia tidak memiliki standar sama sekali.
Tantangan terbesar bukanlah menyusun piagam, melainkan
menghidupkannya. Sebab sejarah manusia penuh dengan dokumen indah yang akhirnya
hanya menjadi penghuni lemari. Nasib piagam ini akan ditentukan bukan oleh
kualitas kertasnya, melainkan oleh kesediaan warga NU dan masyarakat untuk
menjadikannya kompas dalam kehidupan sehari-hari.
Pada akhirnya, Piagam Nilai-Nilai Keulamaan adalah pengingat
sederhana bahwa tidak semua yang viral itu alim, dan tidak semua yang sepi itu
kurang ilmu.
Kadang-kadang ulama sejati ibarat sumur tua di desa. Ia
tidak berisik. Ia tidak memiliki lampu warna-warni. Ia tidak membuat konten
setiap hari. Namun ketika orang kehausan, merekalah yang tetap didatangi.
Sementara sebagian tokoh viral ibarat mesin minuman otomatis
yang berkedip-kedip terang di malam hari. Menarik perhatian banyak orang,
tetapi kadang setelah tombol ditekan, yang keluar justru angin.
Di zaman ketika jumlah pengikut sering dianggap lebih
penting daripada kedalaman ilmu, piagam ini seolah ingin mengingatkan kembali
satu hal yang sangat tua namun tetap relevan: bahwa otoritas keagamaan tidak
tumbuh dari popularitas, melainkan dari ilmu, akhlak, dan ketekunan yang
panjang.
Karena sejatinya, Wi-Fi bisa membuat seseorang terkenal
dalam semalam. Tetapi hanya sanad dan ilmu yang membuat seseorang dipercaya
lintas generasi.
abah-arul.blogspot.com., Juni 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.