Ada nasib yang lebih tragis daripada menjadi korban ideologi. Salah satunya adalah menjadi Albert Camus yang dijadikan konten pengembangan diri di media sosial.
Bayangkan sejenak. Camus, filsuf yang menghabiskan hidupnya
bergulat dengan absurditas eksistensi manusia, tiba-tiba bangun dari kubur lalu
mendapati kutipan-kutipannya dipakai untuk menjual kebebasan finansial, mindset
anti-sistem, dan strategi menjadi kaya sebelum usia empat puluh.
Mungkin ia akan menyalakan rokok, memandang langit dengan
tatapan kosong, lalu berkata, "Ternyata dunia memang absurd."
Begitulah kesan yang muncul ketika membaca kisah seseorang
yang mengaku bertransformasi dari seorang "woke" menjadi pengagum
absurdisme Camus. Ia bercerita bagaimana dulu percaya pada berbagai narasi
kesetaraan, politik identitas, dan perjuangan kolektif. Namun setelah melewati
berbagai kekecewaan, ia menemukan Camus dan merasa seperti menemukan pintu
darurat untuk keluar dari gedung ideologi yang sedang terbakar.
Masalahnya, setelah keluar dari gedung itu, ia justru masuk
ke mal.
Dari Aktivis Menjadi Konsultan Kehidupan
Ada pola menarik dalam banyak perjalanan intelektual zaman
sekarang.
Awalnya seseorang sangat percaya bahwa dunia bisa diperbaiki
melalui perubahan sistem. Semua persoalan dianggap berasal dari struktur
sosial, budaya, ekonomi, atau politik.
Lalu ia kecewa.
Kemudian ia menemukan filsafat eksistensial atau absurdisme.
Lalu ia membaca Camus.
Kemudian ia menyimpulkan bahwa solusi terbaik adalah menjadi
kaya.
Di titik inilah perjalanan intelektual tersebut sering kali
berubah seperti film yang kehilangan penulis skenario pada babak ketiga.
Camus berbicara tentang makna hidup.
Pembacanya berbicara tentang investasi properti.
Camus bertanya bagaimana manusia tetap bermartabat dalam
dunia yang tidak masuk akal.
Pembacanya bertanya bagaimana memperoleh kebebasan finansial
sebelum usia pensiun.
Seolah-olah seseorang membaca buku tentang astronomi lalu
menyimpulkan bahwa inti alam semesta adalah membuka warung kopi di Mars.
Dunia Tidak Peduli Padamu
Salah satu gagasan paling menarik dalam absurdisme memang
sederhana:
Dunia tidak peduli.
Gunung tidak peduli pada perasaan kita.
Laut tidak peduli pada status sosial kita.
Matahari tetap terbit meskipun kita sedang galau.
Alam semesta tidak memiliki departemen layanan pelanggan.
Bagi banyak orang, gagasan ini terasa menyakitkan.
Namun bagi sebagian lainnya, justru terasa membebaskan.
Jika dunia memang tidak peduli, maka kegagalan bukanlah
kiamat.
Jika dunia memang tidak peduli, maka komentar warganet
bukanlah wahyu.
Jika dunia memang tidak peduli, maka kita tidak perlu
menghabiskan separuh hidup untuk memastikan semua orang menyukai kita.
Dalam hal ini, Camus seperti satpam realitas yang berkata:
"Maaf Pak, alam semesta tidak menyediakan fasilitas
validasi emosional."
Pesan semacam ini memang menyegarkan, terutama di zaman
ketika banyak orang mengukur harga dirinya menggunakan jumlah tanda suka dan
komentar.
Fantasi Kesetaraan dan Fantasi Lainnya
Penulis thread mengkritik apa yang ia sebut sebagai
"fantasi kesetaraan".
Namun di sinilah ironi mulai muncul.
Manusia memiliki bakat luar biasa untuk mengganti satu
fantasi dengan fantasi lain.
Ketika bosan dengan fantasi politik, kita pindah ke fantasi
ekonomi.
Ketika lelah dengan utopia sosial, kita beralih ke utopia
finansial.
Ketika tidak lagi percaya bahwa revolusi akan menyelamatkan
dunia, kita percaya bahwa rekening tabungan akan menyelamatkan jiwa.
Padahal rekening memiliki banyak fungsi.
Ia bisa membeli rumah.
Ia bisa membeli mobil.
Ia bahkan bisa membeli kopi yang sangat mahal.
Tetapi ia belum pernah terbukti mampu membeli makna hidup.
Kalau uang benar-benar mampu membeli kebahagiaan, para
miliarder pasti sudah menjadi guru spiritual paling bijaksana di dunia.
Faktanya, banyak di antara mereka justru tampak seperti
orang yang memenangkan permainan tetapi lupa mengapa mereka bermain sejak awal.
Camus dan Tukang Perahu
Camus sering diibaratkan sebagai seorang pelaut yang tahu
bahwa laut itu ganas.
Ia tidak berjanji bahwa badai akan berhenti.
Ia tidak menjual kursus manifestasi semesta.
Ia tidak menawarkan tujuh langkah menuju kesuksesan
universal.
Ia hanya berkata:
"Ya, badai itu ada. Tetaplah mendayung."
Dalam filsafat Camus, keberanian bukanlah menang.
Keberanian adalah tetap hidup dengan jujur meskipun tidak
ada jaminan kemenangan.
Karena itu, sangat lucu ketika absurdisme diubah menjadi
semacam ideologi sukses.
Itu seperti membaca kisah Sisifus yang mendorong batu ke
puncak gunung setiap hari, lalu menyimpulkan bahwa pesan moralnya adalah
membuka bisnis pertambangan batu.
Bahaya Pindah Kandang
Mungkin pelajaran terbesar dari kisah transformasi ini bukan
tentang woke, kiri, kanan, kapitalisme, atau absurdisme.
Pelajaran terbesarnya adalah bahwa manusia sangat suka
memiliki kandang.
Ketika satu kandang terasa sempit, kita mencari kandang lain
yang lebih nyaman.
Kita menyebutnya kebebasan.
Padahal sering kali kita hanya berpindah alamat.
Dulu kita percaya semua jawaban ada pada gerakan politik.
Kini kita percaya semua jawaban ada pada pasar.
Dulu kita memuja kolektivitas.
Kini kita memuja individualitas.
Dulu kita menghafal slogan perjuangan.
Kini kita menghafal kutipan motivasi.
Perabotannya berubah.
Bangunannya tetap sama.
Menjadi Pemberontak yang Tidak Nyaman
Barangkali Camus akan mengusulkan sesuatu yang lebih
merepotkan.
Bukan menjadi woke.
Bukan menjadi anti-woke.
Bukan menjadi kapitalis romantis.
Bukan pula menjadi pertapa anti-sistem.
Melainkan menjadi manusia yang terus-menerus curiga terhadap
dogma, termasuk dogma yang sedang ia sukai.
Ini tentu tidak nyaman.
Jauh lebih menyenangkan menjadi penggemar fanatik.
Jauh lebih mudah memiliki jawaban untuk segala hal.
Namun justru di situlah letak pemberontakan sejati.
Karena musuh terbesar kebebasan sering kali bukan penjara
yang dipaksakan orang lain.
Melainkan penjara yang kita bangun sendiri lalu kita hias
dengan kutipan-kutipan filsafat.
Dan mungkin itulah bentuk absurditas yang paling lucu
sekaligus paling manusiawi: kita menghabiskan hidup untuk melarikan diri dari
ideologi, hanya untuk menemukan bahwa ideologi baru diam-diam sudah menunggu di
pintu keluar sambil tersenyum ramah dan menawarkan secangkir kopi.
abah-arul.blogspot.com., Juni 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.