Selasa, 02 Juni 2026

Sufi Sejati dan Bahaya Menjadi “Spiritual Influencer” Dadakan

Di zaman sekarang, menjadi sufi kadang lebih mudah.  Cukup pakai gamis warna bumi, foto sambil menatap senja, lalu unggah kutipan: “Aku telah tenggelam dalam samudera cinta Ilahi.” Selesai. Kolom komentar pun dipenuhi emoji api, hati, dan kalimat “MasyaAllah dalem banget.”

Padahal yang tenggelam mungkin bukan dalam samudera cinta Ilahi, melainkan dalam cicilan paylater.

Kajian “Tanda-Tanda Sufi dalam Dirimu” mengingatkan kita bahwa tasawuf sejati ternyata tidak semudah membuat video reels dengan backsound seruling Turki. Pak Kyai  seperti sedang mengetuk kepala kita perlahan sambil berkata, “Nak, jangan salah paham. Sufi itu bukan aksesori spiritual.”

Dalam dunia modern, agama kadang diperlakukan seperti menu kopi kekinian. Ada yang suka “Islam strong”, ada yang “Islam less sugar”, bahkan ada yang ingin “Islam oat milk tanpa syariat.” Yang penting terasa nyaman di hati. Masalahnya, hati manusia itu mirip GPS murah: kadang bilang “belok kanan”, ternyata masuk sawah.

Karena itu, kajian ini menegaskan sesuatu yang sangat penting: tasawuf sejati tidak pernah meninggalkan syariat. Kalau ada orang berkata, “Saya sudah sampai hakikat, jadi tak perlu salat,” itu seperti sopir ojek online yang berkata, “Saya sudah memahami hakikat perjalanan, jadi motor tidak perlu bensin.”

Hakikat tanpa syariat sering kali hanya bentuk lain dari kemalasan yang diberi parfum mistik.

Lucunya, manusia memang senang mencari jalan pintas menuju Tuhan. Kita ingin ma’rifat secepat mie instan. Baru tiga malam ikut zikir daring, sudah merasa mendapat sinyal langsung dari langit. Baru dua kali puasa Senin-Kamis, bio media sosial berubah menjadi “pengembara menuju cahaya.”

Padahal para sufi sejati justru takut mengaku dirinya sufi.

Ini seperti orang benar-benar kaya yang santai naik sandal jepit, sementara yang baru punya motor bekas langsung memotret setir tiap hari.

Kajian tersebut juga mengkritik fenomena sedekah yang dipromosikan seperti iklan diskon akhir tahun:
“Sedekah 100 ribu, rezeki cair 7 turunan!”
“Transfer sekarang, besok mobil datang!”

Sedekah akhirnya terasa seperti investasi kripto spiritual. Orang tidak lagi memberi karena cinta kepada Allah, tetapi karena berharap semesta segera mengirim hadiah berupa rumah dua lantai dan dagangan laris manis.

Padahal ikhlas itu unik. Ia seperti "angin" dalam tasawuf: kalau terlalu diumumkan, biasanya kualitasnya patut dicurigai.

Salah satu bagian paling menarik dalam kajian itu adalah konsep wujuduhu bila wujudin — ada tanpa merasa ada. Dalam bahasa sederhana: hidup, tetapi tidak sibuk memoles ego.

Ini sulit sekali di era media sosial. Hari ini bahkan makan bakso saja harus diberi narasi:
“Menikmati kuah sederhana sambil merenungi kefanaan dunia.”

Baksonya belum habis, tapi riya-nya sudah matang.

Sufi sejati justru bergerak diam-diam seperti Wi-Fi tetangga: terasa manfaatnya, tetapi tidak sibuk mengumumkan keberadaannya. Ia tidak haus validasi. Ia tidak sibuk mencari gelar “orang alim”, “orang khusyuk”, atau “guru spiritual.” Sebab semakin dekat seseorang kepada Allah, biasanya semakin ia sadar betapa kecil dirinya.

Ini paradoks tasawuf: semakin berisi, semakin merunduk. Berbeda dengan galon kosong yang merasa tercerahkan setelah menonton tiga podcast filsafat Timur Tengah.

Kajian ini juga indah karena menyeimbangkan antara takut (khauf) dan cinta (mahabbah). Hubungan dengan Allah bukan hubungan satpam dan maling, penuh ketakutan terus-menerus. Tetapi juga bukan hubungan pelanggan dan customer service langit:
“Ya Allah, saya sudah zikir tiga hari. Mana hasilnya?”

Tasawuf mengajarkan cinta yang beradab. Takut yang menenangkan. Harapan yang tidak manja.

Dalam dunia yang serba cepat, tasawuf sejati sebenarnya seperti rem pada kendaraan hidup. Ia membuat manusia tidak mabuk oleh pujian, tidak hancur oleh hinaan, dan tidak terlalu silau oleh gemerlap dunia. Sebab dunia memang pandai menipu. Ia seperti marketplace tengah malam: semua tampak penting, sampai sadar besok pagi barangnya ternyata tidak terlalu dibutuhkan.

Pada akhirnya, tanda sufi sejati bukanlah bisa menebak isi pikiran orang, berjalan di atas air, atau memiliki tatapan mata berkabut senja. Tanda terbesar justru sederhana: hatinya makin lembut, egonya makin kecil, syariatnya makin rapi, dan cintanya kepada Allah makin sunyi.

Karena orang yang benar-benar dekat dengan Allah biasanya tidak sibuk mengumumkan kedekatannya. Sama seperti matahari: ia tidak pernah berteriak “Lihat aku bercahaya!”, tetapi seluruh dunia tahu ia memang terang.

Dan mungkin di situlah inti tasawuf yang paling dalam: menjadi manusia biasa yang diam-diam bercahaya.

abah-arul.blogspot.com., Mei 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.