Di zaman sekarang, menjadi sufi kadang lebih mudah. Cukup pakai gamis warna bumi, foto sambil menatap senja, lalu unggah kutipan: “Aku telah tenggelam dalam samudera cinta Ilahi.” Selesai. Kolom komentar pun dipenuhi emoji api, hati, dan kalimat “MasyaAllah dalem banget.”
Padahal yang tenggelam mungkin bukan dalam samudera cinta
Ilahi, melainkan dalam cicilan paylater.
Kajian “Tanda-Tanda Sufi dalam Dirimu” mengingatkan kita
bahwa tasawuf sejati ternyata tidak semudah membuat video reels dengan
backsound seruling Turki. Pak Kyai seperti sedang mengetuk kepala kita
perlahan sambil berkata, “Nak, jangan salah paham. Sufi itu bukan aksesori
spiritual.”
Dalam dunia modern, agama kadang diperlakukan seperti menu
kopi kekinian. Ada yang suka “Islam strong”, ada yang “Islam less sugar”,
bahkan ada yang ingin “Islam oat milk tanpa syariat.” Yang penting terasa
nyaman di hati. Masalahnya, hati manusia itu mirip GPS murah: kadang bilang
“belok kanan”, ternyata masuk sawah.
Karena itu, kajian ini menegaskan sesuatu yang sangat
penting: tasawuf sejati tidak pernah meninggalkan syariat. Kalau ada orang
berkata, “Saya sudah sampai hakikat, jadi tak perlu salat,” itu seperti sopir
ojek online yang berkata, “Saya sudah memahami hakikat perjalanan, jadi motor
tidak perlu bensin.”
Hakikat tanpa syariat sering kali hanya bentuk lain dari
kemalasan yang diberi parfum mistik.
Lucunya, manusia memang senang mencari jalan pintas menuju
Tuhan. Kita ingin ma’rifat secepat mie instan. Baru tiga malam ikut zikir
daring, sudah merasa mendapat sinyal langsung dari langit. Baru dua kali puasa
Senin-Kamis, bio media sosial berubah menjadi “pengembara menuju cahaya.”
Padahal para sufi sejati justru takut mengaku dirinya sufi.
Ini seperti orang benar-benar kaya yang santai naik sandal
jepit, sementara yang baru punya motor bekas langsung memotret setir tiap hari.
Sedekah akhirnya terasa seperti investasi kripto spiritual.
Orang tidak lagi memberi karena cinta kepada Allah, tetapi karena berharap
semesta segera mengirim hadiah berupa rumah dua lantai dan dagangan laris
manis.
Padahal ikhlas itu unik. Ia seperti "angin" dalam tasawuf:
kalau terlalu diumumkan, biasanya kualitasnya patut dicurigai.
Salah satu bagian paling menarik dalam kajian itu adalah
konsep wujuduhu bila wujudin — ada tanpa merasa ada. Dalam bahasa
sederhana: hidup, tetapi tidak sibuk memoles ego.
Baksonya belum habis, tapi riya-nya sudah matang.
Sufi sejati justru bergerak diam-diam seperti Wi-Fi
tetangga: terasa manfaatnya, tetapi tidak sibuk mengumumkan keberadaannya. Ia
tidak haus validasi. Ia tidak sibuk mencari gelar “orang alim”, “orang
khusyuk”, atau “guru spiritual.” Sebab semakin dekat seseorang kepada Allah,
biasanya semakin ia sadar betapa kecil dirinya.
Ini paradoks tasawuf: semakin berisi, semakin merunduk.
Berbeda dengan galon kosong yang merasa tercerahkan setelah menonton tiga
podcast filsafat Timur Tengah.
Tasawuf mengajarkan cinta yang beradab. Takut yang
menenangkan. Harapan yang tidak manja.
Dalam dunia yang serba cepat, tasawuf sejati sebenarnya
seperti rem pada kendaraan hidup. Ia membuat manusia tidak mabuk oleh pujian,
tidak hancur oleh hinaan, dan tidak terlalu silau oleh gemerlap dunia. Sebab
dunia memang pandai menipu. Ia seperti marketplace tengah malam: semua tampak
penting, sampai sadar besok pagi barangnya ternyata tidak terlalu dibutuhkan.
Pada akhirnya, tanda sufi sejati bukanlah bisa menebak isi
pikiran orang, berjalan di atas air, atau memiliki tatapan mata berkabut senja.
Tanda terbesar justru sederhana: hatinya makin lembut, egonya makin kecil,
syariatnya makin rapi, dan cintanya kepada Allah makin sunyi.
Karena orang yang benar-benar dekat dengan Allah biasanya
tidak sibuk mengumumkan kedekatannya. Sama seperti matahari: ia tidak pernah
berteriak “Lihat aku bercahaya!”, tetapi seluruh dunia tahu ia memang terang.
Dan mungkin di situlah inti tasawuf yang paling dalam:
menjadi manusia biasa yang diam-diam bercahaya.
abah-arul.blogspot.com., Mei 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.