Dulu dunia internasional mirip sebuah acara reuni keluarga yang aneh. Ada satu paman super kaya yang membayar hampir semua tagihan, mengatur tempat duduk, menentukan menu makan malam, dan kadang-kadang juga menentukan siapa yang boleh berbicara. Paman itu bernama Amerika Serikat.
Selama puluhan tahun, banyak negara merasa cukup nyaman
dengan situasi tersebut. Toh ada yang menjaga keamanan, ada yang membuka pasar,
dan ada yang siap turun tangan ketika tetangga mulai berkelahi.
Tetapi seperti semua drama keluarga, ada saat ketika para
keponakan mulai dewasa dan sang paman mulai sedikit berubah tabiat.
Di sinilah kisah menarik Uni Eropa dan Jepang dimulai.
Mereka bukan tetangga. Mereka tidak berbagi bahasa. Mereka
tidak pernah satu sekolah. Kalau dunia ini adalah kompleks perumahan, Jepang
tinggal di ujung timur gang, sementara Uni Eropa tinggal di ujung barat. Jarak
mereka begitu jauh sehingga kalau saling meminjam gula, gulanya mungkin basi
sebelum sampai.
Namun tiba-tiba mereka tampak semakin akrab.
Mereka menandatangani perjanjian ekonomi. Mereka berbagi
informasi keamanan. Mereka membicarakan semikonduktor, kecerdasan buatan,
energi masa depan, hingga pertahanan militer.
Pertanyaannya sederhana:
Mengapa dua orang yang tinggal berjauhan tiba-tiba rajin
ngopi bersama?
Jawabannya ternyata sama seperti alasan dua murid yang
sering duduk sebangku ketika ada tukang bully berkeliaran di sekolah.
Sandwich Geopolitik yang Tidak Enak Dimakan
Uni Eropa dan Jepang saat ini berada dalam posisi yang agak
tidak nyaman.
Mereka seperti isi sandwich yang terjepit di antara dua
potong roti raksasa bernama Amerika Serikat dan China.
Masalahnya, kedua roti itu sedang berdebat tentang siapa
yang paling penting di meja makan.
Amerika memiliki tarif.
China memiliki rare earth.
Amerika bisa berkata:
"Kalau mau jual mobil ke saya, bayar dulu."
China bisa berkata:
"Oh begitu? Kalau begitu saya simpan dulu logam tanah
jarang yang kalian perlukan untuk membuat mobil itu."
Akhirnya Jepang dan Eropa berada pada posisi yang sangat
filosofis:
Mereka bisa menjual barang tanpa bahan baku, atau memiliki
bahan baku tanpa pasar.
Keduanya sama-sama tidak menyenangkan.
Rare Earth: Unsur Langka yang Ternyata Lebih Berkuasa
daripada Raja
Banyak orang mengira dunia dikendalikan oleh presiden, raja,
atau miliarder teknologi.
Padahal kadang-kadang dunia justru dikendalikan oleh sesuatu
yang namanya sulit dieja.
Rare earth.
Benda ini terdengar seperti nama grup musik indie yang
manggung di kafe, tetapi kenyataannya ia adalah jantung dari hampir semua
teknologi modern.
Mobil listrik membutuhkannya.
Turbin angin membutuhkannya.
Rudal membutuhkannya.
Ponsel kita membutuhkannya.
Bahkan benda yang kita gunakan untuk mengeluh tentang dunia
di media sosial pun membutuhkannya.
Dan China menguasai sebagian besar pasokan tersebut.
Bayangkan sebuah warung bakso yang ternyata menguasai 90
persen stok mangkuk di seluruh kota.
Pada hari biasa tidak ada masalah.
Tetapi ketika pemilik warung mulai kesal, seluruh pedagang
bakso mendadak panik.
Itulah kira-kira posisi dunia terhadap rare earth China.
Greenland: Ketika Pulau Es Mendadak Menjadi Selebritas
Karena tidak ingin terlalu bergantung pada China, Jepang
mulai melirik Greenland.
Ini menarik.
Selama bertahun-tahun Greenland dikenal sebagai tempat yang
dingin, terpencil, dan lebih sering muncul di peta daripada dalam percakapan
sehari-hari.
Lalu tiba-tiba dunia menemukan bahwa di bawah lapisan esnya
terdapat berbagai mineral strategis.
Mendadak Greenland mengalami nasib seperti teman sekolah
yang dulu tidak pernah dilirik siapa pun, lalu setelah sukses membuka
perusahaan teknologi semua orang ingin berteman dengannya.
Jepang datang.
Eropa datang.
Amerika ikut datang.
Semua membawa senyum diplomatik dan kartu nama.
Masalahnya tetap ada.
Menemukan mineral ternyata hanya separuh pekerjaan.
Mengolahnya adalah cerita lain.
Ini seperti menemukan ladang kopi terbaik di dunia tetapi
mesin penggilingnya masih dimiliki tetangga.
Dunia Sedang Pindah Rumah
Selama tiga dekade setelah Perang Dingin, dunia relatif
sederhana.
Ada satu pusat gravitasi yang sangat kuat.
Semua planet berputar mengelilinginya.
Namun sekarang tata surya geopolitik mulai berubah.
China tumbuh.
India bangkit.
Negara-negara menengah semakin percaya diri.
Blok-blok baru bermunculan.
Aliansi lama mulai diperbarui.
Dunia sedang bergerak dari satu matahari menuju konstelasi
banyak bintang.
Inilah yang disebut multipolaritas.
Bagi sebagian orang, ini terdengar rumit.
Padahal sebenarnya sederhana.
Jika dunia unipolar seperti satu warung makan yang sangat
populer sehingga semua orang makan di sana, maka dunia multipolar adalah
munculnya banyak warung baru yang sama-sama ramai.
Tidak ada lagi satu tempat yang menentukan seluruh menu.
Pelajaran dari Sebuah Jabat Tangan
Jabat tangan Uni Eropa dan Jepang sesungguhnya bukan tentang
Eropa ataupun Jepang.
Ia adalah simbol.
Simbol bahwa negara-negara mulai belajar hidup dalam dunia
yang lebih rumit.
Dulu cukup berteman dengan satu kekuatan besar.
Sekarang semua orang mulai sadar bahwa menaruh seluruh telur
geopolitik dalam satu keranjang bukan ide yang bijaksana.
Karena keranjang bisa jatuh.
Karena pemilik keranjang bisa berubah pikiran.
Karena pasar bisa berubah arah.
Dan karena sejarah memiliki kebiasaan buruk: ia selalu
bergerak ketika manusia mengira semuanya sudah stabil.
Pada akhirnya, kerja sama Uni Eropa dan Jepang mengingatkan
kita pada satu pelajaran tua yang berlaku bukan hanya dalam politik
internasional, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari.
Ketika cuaca mulai tidak menentu, orang bijak tidak sibuk
mencari siapa yang harus disalahkan.
Ia mulai menyiapkan payung.
Dan tampaknya, di tengah badai geopolitik abad ke-21, Eropa
dan Jepang baru saja membeli payung yang sama.
abah-arul.blogspot.com., Juni 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.