Ada masa ketika Indonesia dalam panggung ekonomi global lebih mirip penonton sepak bola yang datang lebih awal, membeli popcorn terbesar, lalu duduk manis menyaksikan negara lain mencetak gol investasi. Kita punya stadion, punya suporter, bahkan punya pemain berbakat, tetapi papan skor global sering kali ditentukan oleh orang lain.
Lalu lahirlah Danantara.
Namanya terdengar seperti gabungan antara tokoh pewayangan,
kerajaan fantasi, dan nama satelit masa depan. Namun di balik nama yang
terdengar megah itu, tersimpan ambisi yang lebih besar lagi: mengelola kekayaan
negara dengan cara yang membuat dunia berhenti sejenak, menyesap kopinya, lalu
bertanya, "Sebentar, Indonesia sedang melakukan apa?"
Dalam satu tahun, Danantara berhasil masuk jajaran enam dana
kekayaan negara terbesar di dunia dengan aset mendekati US$1 triliun. Angka ini
begitu besar sehingga bagi sebagian orang, nol-nya lebih banyak daripada jumlah
kontak yang tersimpan di ponsel mereka.
Tetapi sebagaimana orang bijak berkata, ukuran dompet tidak
selalu menunjukkan kecerdasan pengelolanya. Karena itu, keberhasilan Danantara
tidak terletak pada besarnya aset semata, melainkan pada pertanyaan yang lebih
penting: apakah gunung emas itu bisa ditambang dengan akal sehat?
Dari Gudang Menjadi Ruang Kendali
Bayangkan Indonesia memiliki ribuan aset negara yang selama
ini tersebar seperti koleksi barang di gudang rumah yang diwariskan
turun-temurun. Ada yang berfungsi baik, ada yang berdebu, ada yang bahkan
pemiliknya sendiri lupa keberadaannya.
Danantara hadir seperti anggota keluarga yang tiba-tiba
membawa spreadsheet, mengenakan kacamata, lalu berkata, "Mari kita hitung
semuanya."
Sebagian orang langsung gugup.
Namun memang itulah tugasnya. Danantara bukan sekadar
menyimpan aset, melainkan mengubah aset menjadi mesin yang bekerja. Jika
sebelumnya banyak BUMN berdiri sendiri-sendiri seperti pemain orkestra yang
memainkan lagu berbeda, maka Danantara berusaha menjadikan mereka sebuah
simfoni.
Tentu simfoni ini tidak selalu merdu. Kadang ada pemain
trompet yang merasa dirinya drummer. Kadang ada pemain biola yang lupa notasi.
Tetapi setidaknya sekarang ada dirigen yang memegang tongkat.
Diet Korporasi Tanpa Menyentuh Nasi Padang
Salah satu pencapaian yang paling menarik adalah
penyederhanaan jumlah entitas dari 1.077 menjadi sekitar 200.
Secara korporasi, ini disebut restrukturisasi.
Secara awam, ini mirip kegiatan membersihkan lemari setelah
bertahun-tahun menumpuk barang dengan kalimat sakti: "Nanti juga
dipakai."
Yang menarik, proses ini dilakukan tanpa PHK massal. Ini
seperti berhasil membuat seseorang turun berat badan puluhan kilogram tanpa
menyuruhnya berhenti makan. Sebuah prestasi yang jika diterapkan pada manusia
mungkin sudah memenangkan hadiah Nobel bidang kebugaran.
Efisiensi meningkat empat kali lipat. Return on assets
melonjak lebih dari 300 persen. Angka-angka itu menunjukkan bahwa terkadang
masalah bukan pada kurangnya sumber daya, melainkan pada bagaimana sumber daya
tersebut disusun. Batu bata yang sama bisa menjadi tumpukan berantakan atau
menjadi istana. Perbedaannya terletak pada arsiteknya.
Berkenalan dengan Para Sultan Dunia
Dalam dunia investasi global, Danantara juga mulai
berkenalan dengan para "sultan" ekonomi internasional.
Ada Qatar Investment Authority, Future Fund Australia, China
Investment Corporation, hingga pembicaraan dengan BlackRock. Daftar ini
terdengar seperti tamu undangan dalam pesta yang penjaga keamanannya memakai
jas lebih mahal daripada harga sebuah rumah.
Kemitraan senilai ratusan triliun rupiah menunjukkan bahwa
Indonesia mulai dipandang bukan hanya sebagai pasar, tetapi sebagai mitra.
Perbedaannya besar.
Pasar adalah tempat orang datang untuk menjual barang.
Mitra adalah orang yang diajak duduk di meja yang sama untuk
menentukan ke mana kapal akan berlayar.
Dan dalam geopolitik ekonomi modern, kursi di meja sering
kali lebih berharga daripada tiket masuk ke ruangan.
Hilirisasi: Berhenti Menjual Pisang, Mulai Menjual
Keripik
Salah satu misi utama Danantara adalah hilirisasi.
Konsepnya sederhana. Jika kita punya pisang, jangan hanya
menjual pisangnya. Jadikan keripik. Kalau bisa, jadikan merek keripik terkenal.
Kalau bisa lagi, jadikan jaringan restoran. Kalau bisa lebih jauh lagi, jadikan
perusahaan global yang membeli kebun pisang di negara lain.
Itulah logika nilai tambah.
Karena sejarah ekonomi modern sering kali ditulis oleh
mereka yang mengolah bahan mentah, bukan hanya mengekspornya.
Maka proyek-proyek alumina, bioetanol, bioavtur, industri
pangan, dan garam industri bukan sekadar proyek fisik. Mereka adalah upaya
mengubah Indonesia dari penjual bahan baku menjadi produsen nilai tambah.
Dengan kata lain, berhenti menjadi dapur yang memasok bahan
mentah dan mulai menjadi koki yang menjual hidangan jadi.
Ujian yang Selalu Menunggu: Transparansi
Namun sebagaimana semua kisah sukses, ada bab yang selalu
menunggu untuk ditulis: bab tentang godaan.
Uang dalam jumlah besar memiliki gravitasi moral yang unik.
Ia mampu menarik perhatian politisi, birokrat, pelobi, oportunis, bahkan mereka
yang tiba-tiba merasa menjadi pakar investasi setelah menonton tiga video
motivasi di internet.
Karena itu, tantangan terbesar Danantara bukanlah mencari
uang.
Tantangan terbesar adalah menjaga kepercayaan.
Di dunia keuangan, kepercayaan ibarat oksigen. Ketika
tersedia, tidak ada yang membicarakannya. Ketika hilang, semua orang panik.
Sejarah telah menunjukkan bagaimana lembaga yang kaya dapat
runtuh bukan karena kekurangan aset, melainkan karena kekurangan integritas.
Karena itulah transparansi, audit independen, dan akuntabilitas bukan aksesori
birokrasi. Mereka adalah sabuk pengaman.
Tidak ada yang membeli mobil hanya untuk menguji tabrakan.
Namun sabuk pengaman tetap dipasang karena manusia belajar dari sejarah yang
mahal.
Optimisme yang Membawa Senter
Pada akhirnya, Danantara adalah cerita tentang optimisme
Indonesia.
Tetapi optimisme yang sehat bukanlah optimisme yang berjalan
sambil menutup mata. Ia adalah optimisme yang membawa senter.
Kita boleh bangga bahwa Indonesia kini mulai diperhitungkan
dalam percaturan investasi global. Kita boleh bersyukur bahwa aset negara
dikelola lebih profesional. Kita boleh berharap bahwa keuntungan yang
dihasilkan akan mengalir menjadi lapangan kerja, pendidikan yang lebih baik,
layanan kesehatan yang lebih kuat, dan kesejahteraan yang lebih merata.
Namun pada saat yang sama, kita harus terus menyalakan lampu
pengawasan.
Sebab lembaga sebesar Danantara pada akhirnya bukan sekadar
kumpulan aset triliunan rupiah. Ia adalah ujian kedewasaan sebuah bangsa dalam
mengelola kekayaan bersama.
Jika fondasinya tetap kokoh, tata kelolanya tetap bersih,
dan orientasinya tetap berpihak pada kepentingan publik, maka suatu hari nanti
sejarah mungkin akan mencatat bahwa Danantara bukan hanya lembaga investasi.
Ia adalah momen ketika Indonesia berhenti membawa popcorn,
turun ke lapangan, dan mulai ikut menentukan skor pertandingan.
abah-arul.blogspot.com., Juni 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.