Jumat, 26 Juni 2026

Ketika Kebodohan Menjadi Mayoritas: Catatan Santai dari Ujung Peradaban

Ada masa ketika menjadi pintar adalah keuntungan. Orang-orang rajin membaca buku tebal, menghafal rumus yang panjangnya seperti silsilah keluarga kerajaan, dan merasa bangga jika bisa menjelaskan sesuatu yang membuat orang lain mengernyitkan dahi.

Hari ini situasinya agak berbeda.

Kini, jika seseorang berbicara terlalu rumit, yang mengernyitkan dahi bukan lagi karena kagum, melainkan karena sedang mencari tombol "skip".

Mikhail Zhvanetsky, satiris legendaris Rusia, pernah melontarkan kalimat yang terdengar seperti lelucon tetapi terasa seperti tagihan listrik: "Dulu orang bodoh yang menderita. Sekarang orang pintar yang menderita."

Kalimat itu singkat, tetapi dampaknya seperti sandal jepit yang terbang tepat mengenai kesadaran kolektif kita.

Dunia yang Terbalik Seperti Payung Kena Angin

Bayangkan sebuah sekolah pada masa lalu.

Seorang murid mendapat nilai buruk.

Guru berkata, "Belajar lagi."

Orang tua berkata, "Belajar lagi."

Tetangga berkata, "Belajar lagi."

Bahkan ayam peliharaan di halaman mungkin ikut berkokok, "Belajar lagi."

Pendeknya, dunia sepakat bahwa ketidaktahuan adalah masalah yang harus diperbaiki.

Sekarang bayangkan situasi yang sama di era digital.

Murid mendapat nilai buruk.

Guru disalahkan karena soal terlalu sulit.

Sekolah disalahkan karena kurang ramah.

Kurikulum disalahkan karena terlalu berat.

Internet disalahkan karena terlalu banyak gangguan.

Yang tidak disalahkan justru muridnya.

Kita seperti berada dalam pertandingan sepak bola di mana gawang terus diperlebar agar semua orang bisa mencetak gol. Masalahnya, ketika semua orang menjadi pencetak gol, tidak ada lagi yang tahu bagaimana cara bermain sepak bola.

Demokrasi dan Kerajaan Jempol

Zhvanetsky melihat satu gejala menarik: jumlah orang biasa selalu lebih banyak daripada jumlah ahli.

Itu bukan masalah.

Masalah muncul ketika jumlah mulai dianggap lebih penting daripada kualitas.

Di media sosial, misalnya, sebuah video berjudul "Rahasia Alam Semesta yang Disembunyikan Para Ilmuwan!" bisa mendapatkan jutaan penonton.

Sementara itu, seorang profesor fisika menjelaskan penelitian selama dua puluh tahun dan ditonton oleh tujuh orang.

Tiga di antaranya adalah mahasiswa yang salah masuk kanal.

Algoritma modern bekerja seperti pelayan restoran yang hanya melayani makanan paling laris.

Jika banyak orang memesan permen, maka seluruh menu akhirnya berubah menjadi toko permen.

Sayangnya, otak manusia tidak selalu tumbuh sehat hanya dengan gula informasi.

Nasib Orang Pintar di Negeri Serba Cepat

Penderitaan orang pintar hari ini bukan karena mereka kurang tahu.

Justru karena mereka terlalu tahu.

Mereka tahu bahwa masalah ekonomi tidak bisa dijelaskan dalam satu kalimat.

Mereka tahu bahwa sejarah tidak sesederhana meme.

Mereka tahu bahwa dunia penuh nuansa.

Namun internet menyukai sesuatu yang sederhana.

Akibatnya, seorang ahli harus menjelaskan persoalan yang rumit dalam durasi yang bahkan lebih pendek daripada waktu merebus mi instan.

Bayangkan seorang astronom yang menghabiskan hidup mempelajari galaksi.

Lalu seseorang bertanya:

"Jadi intinya apa?"

Jika ia menjawab dengan lengkap, audiens pergi.

Jika ia menjawab terlalu singkat, ilmunya hilang.

Orang pintar akhirnya hidup seperti koki yang dipaksa mengubah hidangan tujuh belas bahan menjadi biskuit rasa universal.

Universitas dan Festival Kemudahan

Dunia pendidikan juga tidak luput dari gejala ini.

Ada kecenderungan aneh untuk membuat segala sesuatu semakin mudah.

Tentu, pendidikan harus inklusif.

Tetapi kadang-kadang kita bertindak seolah-olah cara terbaik membantu seseorang mendaki gunung adalah dengan memotong puncak gunungnya.

Hasilnya memang semua orang berhasil sampai ke atas.

Masalah kecilnya: tidak ada lagi gunung yang didaki.

Standar diturunkan demi kenyamanan.

Tugas disederhanakan demi kebahagiaan.

Ujian dipermudah demi statistik.

Kita seperti tukang kayu yang begitu ingin semua papan terlihat rata hingga akhirnya memotong papan yang paling tinggi.

Kebodohan yang Bahagia

Ironi terbesar dalam satire Zhvanetsky adalah gagasan bahwa penderitaan berkurang karena semakin sedikit orang yang sadar ada masalah.

Ini seperti kapal yang perlahan bocor.

Orang yang mengerti teknik perkapalan panik.

Orang yang tidak mengerti justru sedang pesta karaoke di dek atas.

Dari sudut pandang statistik kebahagiaan, pesta karaoke memang tampak lebih sukses.

Sampai air mulai masuk ke ruang mesin.

Tetapi bahkan saat itu mungkin masih ada yang berkata, "Jangan negatif, nikmati saja ombaknya."

Haruskah Kita Putus Asa?

Belum tentu.

Satire yang baik bukanlah ramalan kiamat.

Ia lebih mirip alarm pagi.

Fungsinya bukan membuat kita takut, melainkan membangunkan kita.

Masalahnya, sebagian orang justru memukul alarm itu lalu tidur lagi.

Pelajaran terbesar dari Zhvanetsky mungkin bukan bahwa orang bodoh sedang menang.

Melainkan bahwa masyarakat sehat membutuhkan keberanian untuk menghargai keunggulan tanpa merasa terancam olehnya.

Kita membutuhkan guru yang berani menuntut.

Kita membutuhkan pemikir yang berani berbeda.

Kita membutuhkan ruang di mana ide tidak diukur dari jumlah "like", melainkan dari kualitasnya.

Karena peradaban tidak runtuh saat orang berhenti tahu.

Peradaban runtuh saat orang berhenti menghargai pengetahuan.

Tawa Terakhir di Warung Peradaban

Mungkin Zhvanetsky sedang tertawa melihat kita dari kejauhan.

Bukan tawa kemenangan.

Lebih mirip tawa seorang dokter yang melihat pasien tetap memakan gorengan setelah hasil cek kesehatan keluar.

Ia tahu apa yang sedang terjadi.

Pasien juga tahu.

Tetapi gorengannya terlalu nikmat untuk ditolak.

Begitulah peradaban modern.

Kita hidup di zaman ketika informasi melimpah seperti hujan, tetapi kebijaksanaan kadang lebih langka daripada payung.

Dan di tengah derasnya hujan itu, banyak orang memilih menadah ember, sementara hanya sedikit yang bertanya dari mana awan itu datang.

Barangkali itulah ironi terbesar zaman kita: bukan bahwa kebodohan ada di mana-mana, melainkan bahwa kebodohan sering datang dengan rasa percaya diri yang luar biasa.

Dan seperti kata pepatah yang belum pernah ditulis siapa pun: ketika orang yang tidak tahu apa-apa mulai memberi petunjuk arah, perjalanan peradaban menjadi sangat menarik—meskipun belum tentu menuju tujuan yang benar.

abah-arul.blogspot.com., Juni 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.