Ada masa ketika menjadi pintar adalah keuntungan. Orang-orang rajin membaca buku tebal, menghafal rumus yang panjangnya seperti silsilah keluarga kerajaan, dan merasa bangga jika bisa menjelaskan sesuatu yang membuat orang lain mengernyitkan dahi.
Hari ini situasinya agak berbeda.
Kini, jika seseorang berbicara terlalu rumit, yang
mengernyitkan dahi bukan lagi karena kagum, melainkan karena sedang mencari
tombol "skip".
Mikhail Zhvanetsky, satiris legendaris Rusia, pernah
melontarkan kalimat yang terdengar seperti lelucon tetapi terasa seperti
tagihan listrik: "Dulu orang bodoh yang menderita. Sekarang orang
pintar yang menderita."
Kalimat itu singkat, tetapi dampaknya seperti sandal jepit
yang terbang tepat mengenai kesadaran kolektif kita.
Dunia yang Terbalik Seperti Payung Kena Angin
Bayangkan sebuah sekolah pada masa lalu.
Seorang murid mendapat nilai buruk.
Guru berkata, "Belajar lagi."
Orang tua berkata, "Belajar lagi."
Tetangga berkata, "Belajar lagi."
Bahkan ayam peliharaan di halaman mungkin ikut berkokok,
"Belajar lagi."
Pendeknya, dunia sepakat bahwa ketidaktahuan adalah masalah
yang harus diperbaiki.
Sekarang bayangkan situasi yang sama di era digital.
Murid mendapat nilai buruk.
Guru disalahkan karena soal terlalu sulit.
Sekolah disalahkan karena kurang ramah.
Kurikulum disalahkan karena terlalu berat.
Internet disalahkan karena terlalu banyak gangguan.
Yang tidak disalahkan justru muridnya.
Kita seperti berada dalam pertandingan sepak bola di mana
gawang terus diperlebar agar semua orang bisa mencetak gol. Masalahnya, ketika
semua orang menjadi pencetak gol, tidak ada lagi yang tahu bagaimana cara
bermain sepak bola.
Demokrasi dan Kerajaan Jempol
Zhvanetsky melihat satu gejala menarik: jumlah orang biasa
selalu lebih banyak daripada jumlah ahli.
Itu bukan masalah.
Masalah muncul ketika jumlah mulai dianggap lebih penting
daripada kualitas.
Di media sosial, misalnya, sebuah video berjudul
"Rahasia Alam Semesta yang Disembunyikan Para Ilmuwan!" bisa
mendapatkan jutaan penonton.
Sementara itu, seorang profesor fisika menjelaskan
penelitian selama dua puluh tahun dan ditonton oleh tujuh orang.
Tiga di antaranya adalah mahasiswa yang salah masuk kanal.
Algoritma modern bekerja seperti pelayan restoran yang hanya
melayani makanan paling laris.
Jika banyak orang memesan permen, maka seluruh menu akhirnya
berubah menjadi toko permen.
Sayangnya, otak manusia tidak selalu tumbuh sehat hanya
dengan gula informasi.
Nasib Orang Pintar di Negeri Serba Cepat
Penderitaan orang pintar hari ini bukan karena mereka kurang
tahu.
Justru karena mereka terlalu tahu.
Mereka tahu bahwa masalah ekonomi tidak bisa dijelaskan
dalam satu kalimat.
Mereka tahu bahwa sejarah tidak sesederhana meme.
Mereka tahu bahwa dunia penuh nuansa.
Namun internet menyukai sesuatu yang sederhana.
Akibatnya, seorang ahli harus menjelaskan persoalan yang
rumit dalam durasi yang bahkan lebih pendek daripada waktu merebus mi instan.
Bayangkan seorang astronom yang menghabiskan hidup
mempelajari galaksi.
Lalu seseorang bertanya:
"Jadi intinya apa?"
Jika ia menjawab dengan lengkap, audiens pergi.
Jika ia menjawab terlalu singkat, ilmunya hilang.
Orang pintar akhirnya hidup seperti koki yang dipaksa
mengubah hidangan tujuh belas bahan menjadi biskuit rasa universal.
Universitas dan Festival Kemudahan
Dunia pendidikan juga tidak luput dari gejala ini.
Ada kecenderungan aneh untuk membuat segala sesuatu semakin
mudah.
Tentu, pendidikan harus inklusif.
Tetapi kadang-kadang kita bertindak seolah-olah cara terbaik
membantu seseorang mendaki gunung adalah dengan memotong puncak gunungnya.
Hasilnya memang semua orang berhasil sampai ke atas.
Masalah kecilnya: tidak ada lagi gunung yang didaki.
Standar diturunkan demi kenyamanan.
Tugas disederhanakan demi kebahagiaan.
Ujian dipermudah demi statistik.
Kita seperti tukang kayu yang begitu ingin semua papan
terlihat rata hingga akhirnya memotong papan yang paling tinggi.
Kebodohan yang Bahagia
Ironi terbesar dalam satire Zhvanetsky adalah gagasan bahwa
penderitaan berkurang karena semakin sedikit orang yang sadar ada masalah.
Ini seperti kapal yang perlahan bocor.
Orang yang mengerti teknik perkapalan panik.
Orang yang tidak mengerti justru sedang pesta karaoke di dek
atas.
Dari sudut pandang statistik kebahagiaan, pesta karaoke
memang tampak lebih sukses.
Sampai air mulai masuk ke ruang mesin.
Tetapi bahkan saat itu mungkin masih ada yang berkata,
"Jangan negatif, nikmati saja ombaknya."
Haruskah Kita Putus Asa?
Belum tentu.
Satire yang baik bukanlah ramalan kiamat.
Ia lebih mirip alarm pagi.
Fungsinya bukan membuat kita takut, melainkan membangunkan
kita.
Masalahnya, sebagian orang justru memukul alarm itu lalu
tidur lagi.
Pelajaran terbesar dari Zhvanetsky mungkin bukan bahwa orang
bodoh sedang menang.
Melainkan bahwa masyarakat sehat membutuhkan keberanian
untuk menghargai keunggulan tanpa merasa terancam olehnya.
Kita membutuhkan guru yang berani menuntut.
Kita membutuhkan pemikir yang berani berbeda.
Kita membutuhkan ruang di mana ide tidak diukur dari jumlah
"like", melainkan dari kualitasnya.
Karena peradaban tidak runtuh saat orang berhenti tahu.
Peradaban runtuh saat orang berhenti menghargai pengetahuan.
Tawa Terakhir di Warung Peradaban
Mungkin Zhvanetsky sedang tertawa melihat kita dari
kejauhan.
Bukan tawa kemenangan.
Lebih mirip tawa seorang dokter yang melihat pasien tetap
memakan gorengan setelah hasil cek kesehatan keluar.
Ia tahu apa yang sedang terjadi.
Pasien juga tahu.
Tetapi gorengannya terlalu nikmat untuk ditolak.
Begitulah peradaban modern.
Kita hidup di zaman ketika informasi melimpah seperti hujan,
tetapi kebijaksanaan kadang lebih langka daripada payung.
Dan di tengah derasnya hujan itu, banyak orang memilih
menadah ember, sementara hanya sedikit yang bertanya dari mana awan itu datang.
Barangkali itulah ironi terbesar zaman kita: bukan bahwa
kebodohan ada di mana-mana, melainkan bahwa kebodohan sering datang dengan rasa
percaya diri yang luar biasa.
Dan seperti kata pepatah yang belum pernah ditulis siapa
pun: ketika orang yang tidak tahu apa-apa mulai memberi petunjuk arah,
perjalanan peradaban menjadi sangat menarik—meskipun belum tentu menuju tujuan
yang benar.
abah-arul.blogspot.com., Juni 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.