Ada dua jenis manusia ketika menghadapi hidup.
Jenis pertama adalah mereka yang jika ditanya kabar akan
menjawab selama dua puluh menit, lengkap dengan grafik naik-turun ekonomi
keluarga, laporan cuaca, serta analisis hubungan diplomatik dengan tetangga
sebelah rumah.
Jenis kedua adalah Muhammad al-Dimani.
Beliau bahkan ketika menghadapi kematian hanya meninggalkan
dua bait syair.
Dua bait.
Bukan dua jilid.
Bukan dua ratus halaman.
Bukan pula utas media sosial sepanjang perjalanan
Jakarta–Surabaya.
Hanya dua bait.
Dan anehnya, dua bait itu justru lebih berat daripada banyak buku motivasi yang dijual dengan bonus tote bag.
Kisah ini berasal dari gurun Mauritania, tempat pasir
tampaknya lebih rajin bermeditasi daripada manusia modern. Di sana hidup
seorang penyair bernama Muhammad al-Dimani. Ketika beliau wafat, ditemukan dua
bait syair di dekat kepalanya. Bukan daftar aset. Bukan catatan utang-piutang.
Bukan pula password media sosial yang sering membuat keluarga panik setelah
seseorang meninggal.
Yang ditemukan adalah doa.
Sebuah doa yang pendek, tetapi padat seperti kurma yang
dijemur matahari gurun selama berbulan-bulan.
Syair itu dimulai dengan panggilan kepada Allah sebagai Dzat
Yang Maha Mengampuni dosa-dosa besar dan menutupi aib-aib hamba-Nya.
Menarik sekali.
Kebanyakan manusia modern justru lebih sibuk menutupi aib
dengan filter kamera daripada dengan taubat.
Padahal filter hanya bisa menghapus jerawat.
Ia tidak bisa menghapus kesombongan.
Ia tidak bisa menghilangkan iri hati.
Dan sejauh ini belum ada aplikasi yang mampu mempercantik
akhlak hanya dengan satu sentuhan layar.
Al-Dimani tampaknya memahami sesuatu yang sering kita lupakan: menjelang akhir perjalanan, yang paling kita butuhkan bukanlah pencitraan, melainkan pengampunan.
Lalu ia menyebut Allah sebagai Tuhan yang membuat para tiran
dan pembesar sombong menundukkan leher mereka.
Di sinilah letak humor kosmis kehidupan.
Di dunia, manusia sering berlomba menjadi besar.
Ada yang ingin besar jabatannya.
Ada yang ingin besar rekeningnya.
Ada yang ingin besar jumlah pengikutnya.
Kadang-kadang bahkan ada yang hanya ingin besar tanda
tangannya.
Namun kematian memiliki kebiasaan yang sangat demokratis.
Ia tidak pernah bertanya:
"Maaf, Bapak direktur atau satpam?"
"Maaf, Ibu selebgram atau penjual gorengan?"
"Maaf, pengusaha atau pengangguran?"
Di hadapannya, semua manusia masuk melalui pintu yang sama.
Maka para tiran yang sepanjang hidup membuat orang lain
menunduk, pada akhirnya ikut menundukkan kepala.
Bukan karena kalah dalam pemilu.
Bukan karena bangkrut.
Melainkan karena seluruh alam semesta memang tunduk kepada
Pemiliknya.
Kesombongan manusia ternyata seperti topi pesta ulang tahun: terlihat penting selama beberapa jam, lalu berakhir di tempat sampah sejarah.
Bagian yang paling menyentuh justru datang pada bait
berikutnya.
Al-Dimani berkata bahwa Allah telah memperlakukannya dengan
baik sejak awal kehidupannya.
Kalimat ini terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya sangat
sulit diucapkan.
Sebab manusia punya bakat luar biasa untuk mengingat satu
musibah dan melupakan seribu nikmat.
Kita bisa mengingat komentar pedas seseorang selama
bertahun-tahun.
Namun sering lupa bahwa selama puluhan tahun jantung kita
bekerja tanpa pernah meminta kenaikan gaji.
Kita mengeluh karena hujan turun saat akhir pekan.
Tetapi lupa bahwa hujan yang sama mengisi sawah, sungai, dan
gelas yang kita minum.
Kita seperti penumpang yang menikmati perjalanan gratis
ribuan kilometer lalu marah karena kursinya sedikit miring.
Al-Dimani melihat hidup dengan cara yang berbeda.
Ia memandang seluruh sejarah hidupnya sebagai rangkaian
kebaikan Allah.
Napas pertama adalah kebaikan.
Masa kecil adalah kebaikan.
Pertemuan dengan orang-orang baik adalah kebaikan.
Bahkan ujian dan kesedihan pun, setelah direnungkan, sering berubah menjadi guru yang diam-diam mendewasakan.
Puncak syair itu adalah permohonan yang sangat indah:
"Sebagaimana Engkau telah berbuat baik di awal, maka
lanjutkanlah hingga akhir."
Inilah doa seorang musafir yang hampir tiba di rumah.
Bayangkan seseorang yang telah menempuh perjalanan panjang
melintasi padang pasir. Ia tidak meminta kendaraan mewah menjelang tiba. Ia
hanya berharap tidak tersesat di kilometer terakhir.
Karena sering kali bagian paling menentukan dari sebuah
perjalanan justru berada di penghujungnya.
Pelari maraton tidak dikenang karena langkah pertama.
Mahasiswa tidak lulus karena semangat pada semester pertama.
Dan manusia tidak dinilai hanya dari bagaimana ia memulai
hidup, tetapi juga bagaimana ia menutupnya.
Maka permintaan Al-Dimani sesungguhnya sangat sederhana:
"Ya Allah, Engkau yang membawaku sejak awal. Jangan
tinggalkan aku ketika aku sudah hampir sampai."
Betapa lembutnya doa itu.
Betapa rendah hatinya.
Betapa berbeda dengan manusia modern yang kadang merasa seluruh keberhasilannya adalah hasil kerja keras dirinya sendiri, seolah-olah udara yang ia hirup setiap hari merupakan hasil produksi pribadinya.
Mungkin itulah sebabnya dua bait ini begitu menyentuh banyak
orang hingga sekarang.
Karena di balik segala teknologi, kecerdasan buatan, media
sosial, dan hiruk-pikuk dunia modern, pertanyaan manusia ternyata tidak banyak
berubah.
Kita tetap mencari jawaban yang sama:
Bagaimana cara pulang dengan baik?
Bagaimana cara mengakhiri perjalanan tanpa penyesalan?
Bagaimana cara berdiri di hadapan Allah dengan hati yang
tenang?
Muhammad al-Dimani tidak menjawab pertanyaan itu dengan
teori yang rumit.
Ia menjawabnya dengan dua bait.
Hanya dua bait.
Namun dua bait itu ibarat sebutir benih kurma yang kecil.
Ketika ditanam dalam hati, ia tumbuh menjadi pohon yang akarnya menembus
kesadaran dan cabangnya menaungi jiwa.
Barangkali pada akhirnya, hidup memang bukan soal seberapa
banyak kata yang kita tinggalkan.
Bukan pula seberapa panjang daftar pencapaian yang kita
kumpulkan.
Melainkan apakah ketika koper perjalanan dunia ini ditutup,
kita masih memiliki satu kalimat yang layak dibawa pulang:
"Ya Allah, sebagaimana Engkau telah baik kepadaku sejak
awal, maka baikilah aku hingga akhir."
Karena sesungguhnya, semua manusia sedang berjalan menuju
senja.
Dan yang paling beruntung bukanlah mereka yang memiliki
jalan paling ramai, melainkan mereka yang menemukan Tuhan menunggu di ujung
jalan itu.
abah-arul.blogspot.com., Juni 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.