Ada dua cara orang Indonesia memahami ekonomi.
Cara pertama adalah membuka laporan Badan Pusat Statistik,
membaca ribuan tabel, grafik, dan indikator, lalu menyimpulkan keadaan bangsa
dengan pendekatan ilmiah.
Cara kedua adalah duduk di warung kopi, memesan kopi sachet,
lalu berkata, "Ekonomi lagi susah, Bang."
Menariknya, kedua metode ini sama-sama populer.
Di tengah perdebatan antara tabel Excel dan meja warung,
Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, hadir membawa kabar bahwa ekonomi
Indonesia pada Triwulan I-2026 tumbuh 5,61 persen. Angka ini muncul bukan dari
ramalan bintang, bisikan leluhur, atau hasil polling grup WhatsApp keluarga,
melainkan dari ribuan indikator yang dikumpulkan secara sistematis dari seluruh
Indonesia.
BPS menghitung 2.719 indikator dari sisi pengeluaran dan 841
indikator dari sisi produksi. Jumlahnya begitu banyak sehingga jika dicetak
menjadi kertas dan ditumpuk, mungkin bisa dijadikan menara pengawas untuk
melihat masa depan ekonomi nasional.
Pesan yang ingin disampaikan sederhana: ekonomi tidak boleh
hanya diukur dari perasaan.
Karena perasaan manusia memang unik. Ketika harga cabai naik seribu rupiah, seseorang bisa merasa negara sedang menuju kiamat. Sebaliknya, ketika gajinya naik sepuluh persen, ia merasa ekonomi dunia sedang memasuki zaman keemasan.
Pertumbuhan 5,61 persen itu ditopang oleh tiga mesin utama:
konsumsi rumah tangga, investasi, dan belanja pemerintah.
Konsumsi rumah tangga masih menjadi raksasa yang menggendong
ekonomi Indonesia. Lebih dari separuh ekonomi nasional berasal dari aktivitas
masyarakat membeli barang dan jasa. Kita memang bangsa yang memiliki bakat luar
biasa dalam mengubah uang menjadi pengalaman.
Dulu orang menabung untuk membeli lemari.
Sekarang orang menabung untuk membeli tiket konser yang
berlangsung tiga jam.
Dulu orang bangga memiliki ruang tamu besar.
Sekarang orang bangga memiliki foto di lokasi wisata yang
tampak mahal.
Ekonomi pun mengikuti perubahan ini. BPS menemukan adanya
pergeseran dari konsumsi barang menuju konsumsi pengalaman. Hotel, restoran,
perjalanan wisata, dan berbagai aktivitas rekreasi tumbuh semakin penting.
Tampaknya generasi muda telah mengajarkan sebuah teori
ekonomi baru: kenangan lebih ringan dibawa pulang daripada kulkas.
Fenomena ini diperkuat oleh dominasi Milenial, Gen Z, dan
Post-Gen Z yang mencapai sekitar 68 persen populasi. Mereka adalah generasi
yang lebih cepat mengeluarkan ponsel daripada dompet, lebih akrab dengan QRIS
daripada uang receh, dan lebih hafal promo aplikasi dibandingkan jadwal rapat
RT.
Tidak mengherankan jika transaksi QRIS melonjak lebih dari
111 persen dan transaksi e-commerce tumbuh hampir 28 persen.
Jika dahulu suara ekonomi adalah denting mesin kasir, kini ia lebih mirip bunyi "ting!" notifikasi pembayaran berhasil.
Di sisi lain, pemerintah ikut menjadi pemain penting dalam
pertandingan ini.
Belanja pemerintah tumbuh lebih dari 21 persen. Angka ini
begitu tinggi sehingga dapat diibaratkan seperti pemain cadangan yang tiba-tiba
masuk lapangan lalu mencetak hattrick.
Namun di sinilah letak pertanyaan menariknya.
Apakah lonjakan ini akan menjadi energi berkelanjutan atau
sekadar suntikan adrenalin sesaat?
Dalam dunia ekonomi, belanja pemerintah mirip kopi hitam
saat lembur. Ia sangat membantu ketika dibutuhkan. Tetapi tidak ada yang ingin
hidup selamanya dengan empat belas cangkir kopi sehari.
Karena cepat atau lambat tubuh akan bertanya, "Baiklah,
setelah ini apa?"
Pertanyaan yang sama berlaku bagi fiskal negara.
Bagian paling menarik dari pidato tersebut mungkin adalah
pembahasan soal PHK.
Di media sosial, PHK sering tampil seperti tokoh antagonis
dalam sinetron. Judul-judul berita berlomba-lomba menampilkan angka pemutusan
kerja yang besar dan mengkhawatirkan.
Padahal realitas ekonomi sering kali lebih rumit daripada
judul berita.
BPS menunjukkan bahwa meskipun ada 196 ribu PHK, lebih dari
separuhnya telah kembali bekerja. Selain itu, penyerapan tenaga kerja mencapai
sekitar 1,9 juta orang.
Ini bukan berarti masalah selesai.
Tetapi ini mengingatkan bahwa ekonomi bukan foto statis
melainkan film yang terus bergerak.
Kadang kita terlalu fokus pada orang yang keluar dari pintu, sampai lupa memperhatikan berapa banyak yang sedang masuk melalui pintu lainnya.
Tentu saja, optimisme bukan berarti menutup mata.
Pertumbuhan 5,61 persen memang baik, tetapi belum mencapai
ambisi yang lebih tinggi. Beberapa sektor masih tertatih-tatih. Efek Ramadan
dan Lebaran juga memberi dorongan musiman yang tidak selalu hadir sepanjang
tahun.
Ekonomi ibarat pelari maraton.
Lari cepat di kilometer pertama memang menyenangkan, tetapi
yang lebih penting adalah apakah napas masih teratur di kilometer ke-30.
Karena sejarah ekonomi dipenuhi negara-negara yang pandai berlari cepat namun kehabisan tenaga sebelum mencapai garis akhir.
Pada akhirnya, pidato Amalia bukan hanya tentang angka 5,61
persen.
Ia adalah pengingat bahwa di balik setiap grafik terdapat
jutaan manusia yang bekerja, berbelanja, berinvestasi, bertani, berdagang, dan
bermimpi. Angka hanyalah bayangan di dinding; kehidupan nyata adalah benda yang
menghasilkan bayangan itu.
Namun bayangan tetap penting.
Tanpa data, negara ibarat sopir yang mengemudi pada malam
hari tanpa lampu. Ia mungkin tetap bergerak maju, tetapi lebih karena
keberuntungan daripada arah.
Maka ketika BPS mengajak masyarakat berpartisipasi dalam
Sensus Ekonomi 2026, sesungguhnya mereka sedang mengajak bangsa ini bercermin.
Bukan untuk mengagumi diri sendiri, melainkan untuk mengetahui apakah rambut
ekonomi kita benar-benar rapi atau hanya terlihat rapi dari kejauhan.
Dan mungkin itulah pelajaran terbesar dari angka 5,61
persen.
Bahwa ekonomi yang sehat bukanlah ekonomi yang selalu
dipuji, melainkan ekonomi yang cukup jujur untuk diukur, cukup berani untuk
dievaluasi, dan cukup rendah hati untuk mengakui bahwa di balik setiap angka
selalu ada cerita yang lebih besar daripada statistik itu sendiri.
abah-arul.blogspot.com., Juni 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.