Refleksi atas "Les Vieux" Karya Jacques Brel
Ada satu kenyataan hidup yang sering kita perlakukan seperti
notifikasi pembaruan sistem operasi: kita tahu itu akan datang, tetapi selalu
menekan tombol "ingatkan nanti".
Kenyataan itu bernama tua.
Kita membayangkan masa tua sebagai masa panen. Duduk santai
di teras, minum teh hangat, ditemani cucu yang lucu-lucu dan sesekali meminta
uang jajan. Namun Jacques Brel, penyair dan penyanyi Belgia yang terkenal
karena kemampuannya mengiris hati pendengar tanpa anestesi, datang membawa lagu
berjudul Les Vieux dan berkata, "Maaf, kenyataannya sedikit lebih
rumit."
Sedikit?
Kurang tepat. Lebih mirip "jauh lebih rumit."
Dalam lagu itu, masa tua digambarkan bukan sebagai taman
bunga yang damai, melainkan seperti perpustakaan tua yang perlahan kehilangan
pengunjung. Rak-raknya masih penuh cerita, tetapi semakin sedikit orang yang
mau membaca.
Dunia yang Mengecil Seukuran Ruang Tamu
Salah satu bagian paling menyentuh dalam Les Vieux
adalah bagaimana Brel menggambarkan gerak orang tua: dari tempat tidur ke
jendela, dari jendela ke kursi, lalu kembali ke tempat tidur.
Jika masa muda adalah petualangan lintas benua, maka masa
tua dalam lagu ini seperti ekspedisi harian mengelilingi tiga titik koordinat.
Ironisnya, perjalanan itu mungkin lebih panjang daripada
perjalanan keliling dunia.
Bukan karena jaraknya.
Melainkan karena setiap langkah membawa beban kenangan.
Jendela bukan lagi sekadar jendela. Ia menjadi televisi
kehidupan. Dari sana seseorang melihat dunia terus berlari sementara dirinya
mulai berjalan pelan. Kursi bukan sekadar kursi. Ia menjadi kantor pusat
perenungan nasional. Sedangkan tempat tidur perlahan berubah dari tempat
beristirahat menjadi ruang tunggu yang tidak pernah menjelaskan jadwal
keberangkatan.
Mungkin itulah sebabnya orang tua sering tampak diam.
Bukan karena mereka kehabisan cerita.
Justru karena cerita mereka terlalu banyak.
Ketika Jam Menjadi Makhluk Paling Aktif di Rumah
Dalam lagu ini terdapat tokoh yang sangat rajin bekerja:
sebuah jam meja perak.
Jam itu terus berdetak.
Tik.
Tak.
Tik.
Tak.
Sementara penghuni rumah semakin lambat bergerak, jam
tersebut justru tampil seperti pegawai teladan yang tidak pernah mengambil
cuti.
Lucunya, sepanjang hidup kita sering mengira kita sedang
mengejar waktu.
Padahal mungkin sebaliknya.
Waktu yang sedang mengejar kita.
Dan ia memiliki stamina yang jauh lebih baik.
Jam perak dalam lagu Brel bukan sekadar alat penunjuk waktu.
Ia seperti auditor kosmik yang terus mencatat setiap detik tanpa pernah
kehilangan data. Ia tidak peduli apakah kita sedang bahagia, sedih, jatuh
cinta, atau sedang mencari kacamata yang ternyata bertengger di atas kepala.
Tik.
Semua dicatat.
Tak.
Semua berlalu.
Cinta yang Tidak Lagi Membutuhkan Puisi
Ada sesuatu yang sangat indah dalam gambaran pasangan tua
yang saling menggenggam tangan.
Ketika masih muda, cinta sering tampil seperti konser rock.
Bising.
Penuh deklarasi.
Banyak janji.
Banyak drama.
Banyak foto.
Banyak status.
Namun setelah puluhan tahun bersama, cinta berubah menjadi
sesuatu yang lebih sunyi.
Ia menjadi seperti lampu kecil di sudut rumah yang hampir
tidak diperhatikan, tetapi ketika padam seluruh ruangan terasa berbeda.
Pasangan dalam Les Vieux tidak perlu lagi mengatakan
"aku mencintaimu" seratus kali sehari.
Mereka sudah menjadi kalimat itu sendiri.
Mereka berjalan perlahan sambil saling menopang, seperti dua
pohon tua yang akarnya telah bertaut jauh di bawah tanah.
Masalahnya, alam memiliki aturan yang tidak bisa
dinegosiasikan.
Cepat atau lambat salah satu pohon akan tumbang lebih
dahulu.
Dan di situlah tragedi sebenarnya dimulai.
Neraka Bernama Kursi Kosong
Brel tidak menggambarkan kematian sebagai ledakan dramatis
atau adegan sinematik.
Ia hanya mengatakan bahwa seseorang "tertidur terlalu
lama."
Kalimat yang sederhana.
Justru karena sederhana, ia terasa menghantam.
Kadang kehilangan terbesar tidak datang dengan suara keras.
Ia datang seperti senja.
Perlahan.
Hampir tidak terasa.
Sampai tiba-tiba kita sadar bahwa cahaya telah hilang.
Yang ditinggalkan kemudian harus hidup berdampingan dengan
benda-benda yang berubah menjadi museum kenangan.
Cangkir favorit.
Selimut lama.
Foto di meja.
Kursi kosong.
Aneh sekali.
Kursi kosong tidak berbicara.
Tetapi sering kali ia lebih berisik daripada televisi.
Kita Sedang Berjalan ke Arah yang Sama
Kehebatan Les Vieux adalah kemampuannya membuat kita
sadar bahwa lagu ini bukan tentang "mereka."
Ini tentang "kita."
Kita hanya sedang berada di antrean yang berbeda nomor.
Anak muda sering memandang orang tua seperti melihat foto
hitam-putih: menarik, tetapi terasa jauh.
Padahal foto itu adalah versi masa depan diri kita sendiri.
Suatu hari, kita juga akan mengeluh bahwa huruf di ponsel
semakin kecil.
Kita juga akan bercerita tentang masa lalu kepada orang yang
pura-pura mendengarkan.
Kita juga mungkin akan duduk dekat jendela, memandangi dunia
yang berlari lebih cepat daripada lutut kita.
Dan ketika hari itu tiba, kita berharap ada seseorang yang
tidak sekadar melihat keriput kita, tetapi juga membaca cerita di baliknya.
Sebelum Jam Itu Terlalu Banyak Berdetak
Pada akhirnya, Les Vieux bukan lagu tentang kematian.
Ia adalah lagu tentang perhatian.
Tentang meluangkan waktu sebelum waktu mengambil semuanya
kembali.
Karena setiap orang tua yang kita jumpai sebenarnya adalah
perpustakaan berjalan yang sedang perlahan kehilangan halaman.
Dan tragedi terbesar bukanlah ketika perpustakaan itu tutup.
Tragedi terbesar adalah ketika tidak ada seorang pun yang
sempat masuk dan membaca isinya.
Maka sebelum jam perak itu terus berdetak semakin jauh,
mungkin ada baiknya kita sesekali duduk bersama orang tua kita.
Mendengarkan cerita yang sudah pernah kita dengar lima puluh
kali.
Tertawa pada lelucon yang sudah tidak lucu.
Menemani mereka memandangi sore.
Sebab suatu hari nanti, ketika kita sendiri menjadi
"les vieux", kita akan mengerti bahwa hadiah paling berharga bukanlah
umur panjang.
Melainkan seseorang yang bersedia menemani panjangnya umur
itu.
abah-arul.blogspot.com., Juni 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.