Manusia adalah makhluk yang sangat kreatif. Bukan hanya kreatif membuat teknologi, puisi, atau resep sambal. Kita juga sangat kreatif dalam mencari kambing hitam.
Ketika bisnis gagal, kita menyalahkan keadaan. Ketika
hubungan kandas, kita menyalahkan pasangan. Ketika dompet tipis di akhir bulan,
kita menyalahkan inflasi, zodiak, cuaca, atau kombinasi ketiganya. Lalu, ketika
sudah kehabisan tersangka, muncullah terdakwa terakhir yang paling praktis:
takdir.
"Memang nasib saya begini."
Kalimat itu sering dipakai seperti payung darurat. Begitu
hujan masalah turun, payung bernama "takdir" langsung dibuka.
Praktis, ringan, dan tidak perlu introspeksi.
Namun Carl Gustav Jung, psikoanalis Swiss yang gemar
menjelajahi lorong-lorong jiwa manusia, datang membawa kabar yang agak
mengganggu kenyamanan. Ia berkata bahwa apa yang kita sebut sebagai takdir
sering kali hanyalah ketidaksadaran yang sedang bekerja lembur.
Dengan kata lain, mungkin bukan semesta yang sedang
mengerjai kita. Mungkin justru ada "pegawai bawah sadar" di dalam
diri yang diam-diam menekan tombol-tombol kehidupan tanpa izin dari manajemen
pusat.
Bayangkan diri kita seperti sebuah rumah tua.
Ruang tamu adalah kesadaran. Di situlah kita menerima tamu,
memasang senyum terbaik, dan memamerkan versi diri yang paling rapi. Namun di
bawah rumah itu ada ruang bawah tanah yang jarang dibuka. Di sana tersimpan
kardus-kardus tua berisi trauma, ketakutan, kemarahan, ambisi, iri hati, dan
berbagai barang psikologis yang pernah kita dorong masuk sambil berkata,
"Nanti saja dibereskan."
Masalahnya, barang-barang itu tidak diam.
Mereka seperti penghuni kos yang tidak pernah membayar sewa
tetapi merasa memiliki rumah.
Ketika kita mengabaikannya terlalu lama, mereka mulai naik
ke atas. Kadang menyamar menjadi ledakan emosi. Kadang berubah menjadi
kebiasaan merusak diri. Kadang tampil dalam bentuk pilihan hidup yang aneh dan
berulang.
Lalu kita bingung.
"Mengapa saya selalu jatuh cinta pada orang yang
salah?"
"Mengapa saya selalu bertengkar dengan tipe atasan yang
sama?"
"Mengapa setiap kali hidup mulai membaik, saya justru
membuat masalah baru?"
Jung mungkin akan menjawab dengan tenang, "Karena ruang
bawah tanahmu sedang mengatur dekorasi ruang tamu."
Inilah gagasan besar Jung yang terasa seperti tamparan halus
tetapi akurat. Takdir bukan selalu sesuatu yang datang dari luar. Kadang ia
muncul dari dalam, dari bagian diri yang tidak kita kenal.
Dalam bahasa Jung, ada yang disebut Shadow atau
bayangan.
Bayangan ini bukan monster bertanduk yang tinggal di hutan
gelap. Ia jauh lebih dekat dan lebih merepotkan. Bayangan adalah segala sesuatu
tentang diri kita yang tidak ingin kita akui.
Orang yang paling keras mengutuk kesombongan kadang
diam-diam haus pengakuan.
Orang yang paling sering menuduh orang lain egois kadang
sedang berjuang melawan egonya sendiri.
Bayangan bekerja seperti aplikasi latar belakang di telepon
genggam. Kita tidak melihatnya, tetapi baterai kehidupan terus terkuras
karenanya.
Karena itu, perjalanan spiritual maupun psikologis sering
kali tidak dimulai dengan mencari sesuatu yang baru. Justru dimulai dengan
menemukan apa yang selama ini kita sembunyikan.
Ironisnya, manusia rela menghabiskan waktu berjam-jam
mengamati kehidupan artis, politisi, tetangga, mantan, bahkan kucing viral di
internet, tetapi lima menit menatap dirinya sendiri terasa seperti hukuman
penjara.
Padahal menurut Jung, kebebasan sejati lahir dari keberanian
melakukan audit internal.
Bukan audit pajak.
Audit jiwa.
Pertanyaannya bukan lagi, "Mengapa dunia memperlakukan
saya seperti ini?"
Melainkan, "Pola apa yang terus saya ulang?"
Bukan, "Siapa yang harus saya salahkan?"
Melainkan, "Bagian diri mana yang belum saya
kenali?"
Di sinilah pemikiran Jung terasa sangat relevan di zaman
media sosial. Kita hidup di era ketika semua orang sibuk mengedit foto, tetapi
sedikit yang mengedit kesadaran.
Kita memberi filter pada wajah, tetapi jarang memberi cahaya
pada ruang bawah sadar.
Akibatnya, kita sering menjadi seperti sopir yang
marah-marah karena mobil terus berbelok ke kiri, padahal tangannya sendiri yang
memutar setir.
Kesimpulannya, Jung tidak sedang menghapus konsep takdir. Ia
hanya mengajak kita melihat bahwa sebagian dari apa yang kita sebut takdir
mungkin sebenarnya adalah kebiasaan, luka, ketakutan, dan bayangan yang belum
disadari.
Takdir, dalam pengertian ini, bukanlah penjara yang terkunci
rapat. Ia lebih mirip ruangan gelap yang belum dinyalakan lampunya.
Dan barangkali pekerjaan terbesar manusia bukanlah mengubah
seluruh dunia, melainkan mencari senter.
Sebab sering kali monster yang kita takutkan ternyata
hanyalah tumpukan kardus lama yang belum pernah kita buka.
Tetapi untuk mengetahui itu, kita harus berani turun ke
ruang bawah tanah terlebih dahulu.
Tokoh sentral dalam esai ini adalah Carl Gustav Jung, yang
terkenal dengan gagasan tentang Shadow, ketidaksadaran, dan proses
individuasi.
abah-arul.blogspot.com., Juni 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.