Jumat, 05 Juni 2026

Islam Menjulang Bukan Karena Uang: Ketika Dompet Terlalu Percaya Diri

Ada satu makhluk yang sering salah paham tentang dirinya sendiri. Namanya dompet.

Begitu terisi beberapa lembar uang, ia mulai merasa menjadi pusat tata surya. Pemiliknya berjalan sedikit lebih tegak, senyumnya sedikit lebih lebar, dan kadang-kadang status media sosialnya berubah menjadi kumpulan foto kopi mahal dengan caption yang terdengar seperti wejangan filsafat Yunani.

Padahal, dompet hanyalah kantong. Ia diciptakan untuk membawa uang, bukan untuk membawa harga diri.

Sayangnya, peradaban modern sering mengajarkan hal yang sebaliknya.

Sejak kecil kita dijejali rumus kesuksesan yang sederhana: belajar supaya pintar, pintar supaya dapat kerja, kerja supaya dapat uang, dapat uang supaya bahagia. Rumus itu terdengar masuk akal, sampai kita bertemu orang yang punya uang banyak tetapi tetap sulit tidur tanpa bantuan obat atau orang yang rumahnya besar tetapi suasana hatinya lebih sempit daripada kamar kos mahasiswa.

Di sinilah kajian sufi "Islam Menjulang Bukan Karena Uang" datang seperti tamu yang mengetuk pintu kesadaran kita sambil berkata, "Maaf, mungkin ada kesalahan pada peta yang sedang Anda gunakan."

Salam Lebih Murah daripada Saham

Kajian tersebut dibuka dengan pesan Nabi yang sangat menarik. Jalan menuju surga tidak dibuka oleh saldo rekening, melainkan oleh iman. Dan iman tidak sempurna tanpa cinta.

Lalu Nabi memberikan resep yang sangat sederhana: sebarkan salam.

Menarik sekali. Jika seorang konsultan bisnis modern diminta membuat strategi membangun peradaban besar, mungkin ia akan membuat grafik, presentasi, dan analisis pasar setebal kitab kuning. Nabi justru menawarkan sesuatu yang jauh lebih sederhana:

"Ucapkan salam."

Bayangkan.

Di zaman ketika orang berlomba mengoleksi follower, Allah justru menyukai orang yang mengoleksi doa keselamatan untuk sesama.

Salam adalah bentuk investasi yang unik. Modalnya nol rupiah, tetapi dividen spiritualnya tidak pernah bangkrut.

Dunia: Wahana Bermain yang Sengaja Dibuat Tidak Stabil

Banyak orang menganggap hidup yang ideal adalah hidup tanpa masalah.

Pandangan sufi agak berbeda.

Menurut mereka, berharap hidup tanpa masalah itu seperti membeli tiket roller coaster lalu protes karena keretanya bergerak naik turun.

Justru itulah fungsi roller coaster.

Demikian pula dunia.

Hari ini dipuji, besok dicaci.

Hari ini sehat, besok masuk angin.

Hari ini merasa tampan, besok melihat foto lama lalu sadar bahwa kamera ternyata lebih jujur daripada cermin.

Dunia memang sengaja dibuat tidak stabil.

Allah seakan berkata, "Ini bukan rumahmu. Ini ruang ujianmu."

Karena itu para sufi tidak terlalu kaget ketika hidup berubah arah. Mereka tahu bahwa dunia memang memiliki hobi berganti kostum.

Cobaan: Surat Cinta yang Tulisannya Sulit Dibaca

Salah satu bagian paling menarik dalam kajian ini adalah cara memandang cobaan.

Bagi kebanyakan manusia, cobaan dianggap seperti surat tilang dari langit.

Begitu ada masalah, pertanyaan pertama yang muncul adalah:

"Saya salah apa?"

Padahal dalam tradisi para nabi dan wali, cobaan sering kali justru merupakan tanda perhatian khusus dari Allah.

Nabi Ibrahim mendapat gelar Khalilullah—Kekasih Allah—bukan setelah memenangkan undian berhadiah, melainkan setelah melalui serangkaian ujian yang membuat sebagian besar manusia mungkin langsung meminta pindah planet.

Di sisi lain ada Iblis.

Masalah utama Iblis bukan kurang ibadah.

Masalahnya adalah terlalu banyak "aku".

"Aku lebih baik."

"Aku lebih mulia."

"Aku lebih pantas."

Kata "aku" yang berlebihan ternyata mampu merusak makhluk yang pernah berada di barisan para ahli ibadah.

Ego, rupanya, adalah virus yang tidak terlihat tetapi sangat mematikan.

Ketika Uang Naik Pangkat Menjadi Tuhan Kecil

Peradaban modern memiliki kebiasaan aneh.

Ia sering memperlakukan uang seperti pisau, lalu lupa bahwa pisau dibuat untuk memotong sayur, bukan untuk dijadikan kepala keluarga.

Uang adalah alat.

Namun dalam praktiknya, banyak orang diam-diam mengangkatnya menjadi raja.

Akibatnya ukuran kesuksesan menjadi sangat sederhana:

Semakin tebal dompet, semakin tinggi martabat.

Padahal sejarah berkali-kali menunjukkan bahwa kemewahan yang tidak disertai kebijaksanaan sering berakhir seperti kembang api.

Meriah sebentar.

Gelap sesudahnya.

Kerajaan Romawi, Babilonia, dan banyak imperium besar lainnya pernah memiliki kekuatan ekonomi yang mengagumkan. Namun kesombongan membuat mereka seperti gedung megah yang fondasinya dimakan rayap.

Dari luar terlihat kokoh.

Dari dalam sudah keropos.

Kajian ini mengingatkan bahwa kejayaan Islam tidak dibangun oleh uang semata.

Kalau uang adalah faktor utama, maka bank-bank modern seharusnya menjadi pusat kewalian.

Kenyataannya tidak demikian.

Islam tumbuh karena akhlak, ilmu, kejujuran, keberanian, dan cinta kepada kebenaran.

Uang hanya kendaraan.

Yang menentukan arah tetap pengemudinya.

Penyakit "Aku Incorporated"

Para sufi sering berbicara tentang fana', yaitu memudarnya keakuan.

Ini bukan berarti seseorang kehilangan identitas lalu lupa alamat rumah.

Maksudnya adalah berhenti menganggap diri sebagai pusat alam semesta.

Banyak masalah hidup sebenarnya lahir dari perusahaan raksasa bernama "Aku Incorporated."

Aku ingin dipuji.

Aku ingin menang.

Aku ingin terlihat hebat.

Aku ingin lebih sukses daripada tetangga.

Akibatnya hidup berubah menjadi lomba maraton yang garis finisnya selalu bergeser.

Begitu sampai, muncul target baru.

Begitu tercapai, muncul kecemasan baru.

Orang yang terlalu memuja "aku" ibarat orang yang terus menambah garam ke dalam sup lalu heran mengapa rasanya makin tidak enak.

Sebaliknya, orang yang mengenal Allah memahami bahwa tidak semua nikmat adalah hadiah dan tidak semua kesulitan adalah musibah.

Ada nikmat yang menjauhkan.

Ada kesulitan yang mendekatkan.

Paradoks ini memang sulit dipahami oleh logika pasar, tetapi sangat masuk akal bagi logika cinta.

Jangan Jadikan ATM Sebagai Kiblat

Pesan utama kajian ini sebenarnya sederhana.

Islam tidak pernah memusuhi uang.

Yang dipersoalkan adalah ketika uang naik pangkat melebihi batas kewenangannya.

Kita tetap harus bekerja.

Tetap harus mencari nafkah.

Tetap harus membayar tagihan listrik yang dengan penuh istiqamah datang setiap bulan.

Namun hati tidak boleh bersandar kepada semua itu.

Karena uang adalah tamu.

Kadang datang.

Kadang pergi.

Kadang datang sebentar lalu pergi membawa teman-temannya.

Sedangkan Allah adalah satu-satunya yang tidak pernah meninggalkan hamba-Nya.

Mungkin itulah sebabnya para sufi tampak tenang di tengah dunia yang gelisah.

Mereka tidak menggantungkan kebahagiaan pada sesuatu yang bisa hilang.

Mereka menggantungkan hati kepada Yang Maha Kekal.

Dan ketika itu terjadi, seseorang bisa tetap tersenyum meskipun saldo rekeningnya sedang menjalani khalwat yang sangat mendalam.


 abah-arul.blogspot.com., Juni 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.