Di internet, ada satu hukum alam yang tampaknya lebih kuat daripada gravitasi Newton: semakin manis sebuah kutipan, semakin sedikit orang yang memeriksa apakah kutipan itu benar-benar asli.
Salah satu korban terbaru dari hukum alam ini adalah nama
William Golding, penulis novel terkenal Lord of the Flies. Di media sosial,
beredar kutipan yang sangat romantis tentang perempuan. Isinya kurang lebih
mengatakan bahwa perempuan jauh lebih unggul daripada laki-laki karena mampu
mengubah sperma menjadi anak, rumah menjadi tempat yang nyaman, makanan menjadi
hidangan istimewa, dan senyuman menjadi hati.
Kutipan ini biasanya dibagikan dengan iringan musik sendu,
foto bunga, atau gambar secangkir kopi yang entah mengapa selalu berasap
meskipun sudah tiga jam diunggah.
Masalahnya, seperti banyak kisah cinta di internet, hubungan
antara Golding dan kutipan tersebut ternyata tidak sepenuhnya resmi.
Kalimat pertama memang berasal dari Golding:
"Saya pikir perempuan bodoh jika berpura-pura setara
dengan laki-laki. Mereka jauh lebih unggul dan selalu begitu."
Tetapi bagian panjang tentang sperma, rumah, makanan, dan
senyuman ternyata merupakan tambahan kreatif yang muncul belakangan. Dengan
kata lain, Golding hanya menyediakan bibit. Internetlah yang membangun rumah,
memasang pagar, menanam bunga, dan menjualnya sebagai kompleks perumahan siap
huni.
Fenomena ini menarik karena menunjukkan betapa manusia
menyukai pujian yang terdengar indah. Bahkan ketika pujian itu sebenarnya
membawa syarat dan ketentuan tersembunyi.
Bayangkan seseorang berkata:
"Kamu luar biasa. Kamu hebat sekali. Kamu sangat
spesial. Tugasmu hanya memasak, membersihkan rumah, merawat anak, menenangkan
suami, dan tersenyum sepanjang waktu."
Sekilas terdengar seperti penghargaan.
Namun setelah dipikir-pikir, itu mirip iklan lowongan kerja
yang menawarkan status "karyawan terbaik" dengan gaji berupa ucapan
terima kasih.
Di sinilah letak paradoks kutipan tersebut.
Ia mengangkat perempuan ke atas singgasana, tetapi
singgasananya ditempatkan di satu ruangan yang sangat sempit.
Perempuan dipuji sebagai makhluk luar biasa, tetapi
kehebatan mereka didefinisikan secara sangat spesifik: mengurus rumah, mengasuh
anak, dan menghangatkan suasana.
Seolah-olah dunia adalah sebuah restoran, dan perempuan
hanya boleh menjadi koki. Tidak masalah jika ia memiliki kemampuan menjadi
arsitek, ilmuwan, hakim, pilot, filsuf, atau presiden. Yang penting supnya
enak.
Ironisnya, pujian semacam ini sering terasa lebih sulit
dikenali daripada hinaan langsung.
Kalau seseorang berkata, "Perempuan tidak mampu,"
kita segera tahu itu merendahkan.
Tetapi kalau seseorang berkata, "Perempuan begitu luar
biasa sehingga tugas mereka hanyalah melakukan lima belas pekerjaan tanpa
digaji," banyak orang justru bertepuk tangan.
Ini seperti memberi seseorang mahkota emas sambil diam-diam
mengunci pintunya dari luar.
Tentu saja, bukan berarti peran domestik tidak penting.
Justru sebaliknya.
Membesarkan anak, merawat keluarga, menjaga rumah tetap
hidup—semua itu adalah pekerjaan besar yang sering diremehkan masyarakat
modern.
Masalahnya bukan pada penghargaan terhadap peran tersebut.
Masalahnya muncul ketika peran itu dianggap sebagai
satu-satunya definisi yang sah bagi perempuan.
Seorang perempuan yang memilih menjadi ibu rumah tangga
patut dihormati.
Seorang perempuan yang memilih menjadi ilmuwan juga patut
dihormati.
Begitu pula yang menjadi guru, pengusaha, seniman, dokter,
petani, programmer, atau bahkan pengangguran yang sedang mencari arah hidup
sambil minum kopi dan mempertanyakan makna keberadaan manusia.
Nilai seseorang tidak lahir dari seberapa cocok ia dengan
stereotip.
Nilai seseorang lahir dari kemanusiaannya.
Yang menarik, respons warganet sering kali jauh lebih jenaka
daripada kutipan aslinya.
Ada yang berkomentar:
"Kalau laki-laki memberi sampah, perempuan juga bisa
mengembalikan satu ton sampah."
Komentar ini mengingatkan kita bahwa kemampuan mengubah
sesuatu menjadi lebih besar bukan hanya berlaku untuk hal-hal baik. Inflasi,
utang, dan grup WhatsApp keluarga juga berkembang dengan prinsip yang sama.
Pada akhirnya, viralnya kutipan ini menunjukkan kerinduan
manusia terhadap cerita sederhana di tengah dunia yang rumit.
Kita menyukai kalimat yang membagi dunia menjadi dua kotak
rapi: laki-laki begini, perempuan begitu.
Padahal manusia jauh lebih berantakan daripada itu.
Manusia bukan lemari pakaian yang bisa diberi label
permanen.
Mereka adalah perpustakaan yang terus bertambah raknya.
Hari ini seseorang menjadi ibu.
Besok menjadi pemimpin.
Lusa menjadi penulis.
Minggu depan menjadi mahasiswa lagi.
Dan sepanjang hidupnya, ia mungkin berganti peran
berkali-kali.
Karena itu, penghargaan terbaik terhadap perempuan bukanlah
mengatakan bahwa mereka lebih rendah atau lebih tinggi daripada laki-laki.
Bukan pula mengurung mereka dalam definisi
"superior" yang sudah ditentukan.
Penghargaan terbaik adalah mengakui bahwa mereka, seperti
laki-laki, memiliki kemungkinan yang luas, rumit, dan sering kali mengejutkan.
Sebab manusia bukan makhluk yang diciptakan untuk hidup di
dalam kutipan viral.
Mereka diciptakan untuk hidup di dunia nyata—yang jauh lebih
besar daripada 280 karakter dan jauh lebih rumit daripada gambar bunga dengan
tulisan motivasi.
abah-arul.blogspot.com., Juni 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.