Ada satu jenis penyakit yang aneh di dunia ini. Ia tidak membuat suhu tubuh naik, tidak menyebabkan batuk, dan tidak memerlukan tes darah. Bahkan, sering kali penderitanya terlihat sehat, tersenyum di depan kamera, rajin beribadah, dan aktif memberi nasihat kepada orang lain. Namun diam-diam, penyakit itu menggerogoti dirinya dari dalam seperti rayap yang sedang pesta prasmanan di dalam lemari jati.
Penyakit itu bernama: penyakit hati.
Menariknya, penyakit hati memiliki
karakter yang berbeda dari penyakit fisik. Orang yang terkena flu biasanya
mengaku sedang flu. Orang yang sakit gigi akan mengeluh kepada siapa saja yang
mau mendengar. Tetapi orang yang terkena iri, dengki, atau sombong justru
sering merasa dirinya paling sehat.
Inilah mungkin satu-satunya penyakit di
dunia yang membuat penderitanya merasa bahwa semua orang lainlah yang sakit.
Seorang kyai dalam sebuah nasihat
singkat pernah menggambarkan iri dan dengki sebagai kanker batin. Analogi ini
terasa tepat. Kanker berbahaya bukan hanya karena ia tumbuh diam-diam,
melainkan karena sering terlambat disadari. Begitu pula iri hati. Ia jarang
datang membawa papan nama bertuliskan, "Halo, saya iri." Ia lebih
suka menyamar sebagai kritik, analisis objektif, atau bahkan kepedulian sosial.
Kita berkata, "Saya hanya
mengingatkan."
Padahal yang sedang berbicara mungkin
bukan kebijaksanaan, melainkan kecemburuan yang memakai jas akademik.
Kita hidup di zaman yang sangat pandai
merawat badan. Ada vitamin untuk meningkatkan daya tahan tubuh, aplikasi untuk
menghitung kalori, jam tangan pintar yang mengawasi detak jantung, dan klinik
kecantikan yang menjanjikan wajah awet muda.
Namun belum pernah ada iklan berbunyi:
"Apakah Anda sering kesal melihat
kesuksesan orang lain? Minumlah Sirup Anti Dengki tiga kali sehari sesudah
makan."
Padahal kebutuhan terhadap obat semacam
itu mungkin lebih mendesak daripada suplemen penambah stamina.
Masalahnya, hati tidak bisa difoto
menggunakan rontgen. Tidak ada hasil laboratorium yang menunjukkan kadar
kesombongan mencapai angka kritis. Tidak ada dokter yang menuliskan diagnosis:
"Pasien mengalami pembengkakan ego
stadium tiga dan komplikasi iri kronis."
Karena itu, manusia sering sibuk
memperbaiki tampilan luar sambil membiarkan ruang batinnya berdebu.
Bayangkan hati seperti sebuah cermin.
Ketika baru diciptakan, ia bening dan memantulkan cahaya dengan sempurna. Namun
setiap dosa, kebencian, iri hati, dan kesombongan meninggalkan bercak kecil di
permukaannya.
Awalnya hanya setitik.
Lalu dua titik.
Kemudian sepuluh.
Lalu seratus.
Sampai akhirnya cermin itu lebih mirip
wajan gosong daripada alat pemantul cahaya.
Ketika hati sudah seperti itu, dunia
terlihat berbeda. Kesuksesan orang lain terasa seperti penghinaan pribadi.
Kebahagiaan tetangga terasa seperti ancaman nasional. Pujian untuk orang lain
terdengar seperti kritik untuk diri sendiri.
Masalahnya bukan pada dunia.
Masalahnya ada pada kacanya.
Kyai tersebut menawarkan resep yang
terdengar sederhana tetapi sangat sulit dipraktikkan: mengingat kematian.
Di telinga modern, nasihat ini kadang
terdengar kurang populer. Kita lebih senang mengingat target investasi lima
tahun ke depan daripada mengingat kemungkinan dipanggil menghadap Allah lima
menit lagi.
Padahal mengingat kematian bukanlah
latihan pesimisme. Ia lebih mirip tombol reset bagi sistem operasi jiwa.
Ketika seseorang benar-benar sadar bahwa
hidup memiliki batas waktu, banyak hal yang selama ini tampak sangat penting
tiba-tiba mengecil ukurannya.
Jabatan yang diperebutkan mati-matian
mulai terlihat seperti kursi tunggu bandara: nyaman diduduki sebentar, tetapi
tidak bisa dibawa pulang.
Harta yang dikumpulkan bertahun-tahun
tampak seperti koper besar yang hanya boleh ditinggalkan di ruang
keberangkatan.
Popularitas yang dikejar habis-habisan
ternyata hanya seperti tulisan di pasir pantai. Sekali ombak datang, hilang
tanpa bekas.
Kesadaran semacam ini tidak membuat
manusia malas berusaha. Justru sebaliknya. Ia membuat manusia memahami mana
yang kendaraan dan mana yang tujuan.
Masalah terbesar manusia modern mungkin
bukan kurang informasi.
Kita sudah tahu terlalu banyak.
Kita tahu berita dari seluruh dunia
dalam hitungan detik.
Kita tahu harga saham, cuaca, skor
pertandingan, dan gosip selebritas.
Yang sering tidak kita ketahui adalah
kondisi hati sendiri.
Kita mampu melacak posisi paket yang
dikirim dari luar negeri, tetapi tidak mampu melacak kapan kesombongan mulai
masuk ke dalam diri.
Kita dapat mengetahui baterai ponsel
tinggal 7 persen, tetapi tidak sadar bahwa stok keikhlasan sudah lama berada di
zona merah.
Karena itu, muhasabah menjadi pekerjaan
yang semakin penting. Ia ibarat membersihkan kaca jendela rumah. Jika tidak
dibersihkan, bukan matahari yang hilang, melainkan kemampuan kita untuk melihat
cahaya.
Pada akhirnya, kebahagiaan bukanlah soal
siapa yang memiliki rumah terbesar, rekening tertebal, atau jumlah pengikut
terbanyak di media sosial.
Kebahagiaan adalah kemampuan menikmati
nikmat tanpa iri kepada yang lebih tinggi, dan kemampuan bersyukur tanpa
meremehkan yang lebih rendah.
Hati yang bersih ibarat gelas bening.
Air sedikit pun terlihat indah di dalamnya.
Sebaliknya, hati yang keruh ibarat gelas
berlumpur. Bahkan jika diisi madu, rasanya tetap tidak nikmat.
Mungkin itulah pelajaran paling penting
dari nasihat sang kyai. Bahwa perjuangan terbesar manusia bukanlah menaklukkan
dunia, melainkan menaklukkan dirinya sendiri. Sebab musuh yang paling sulit
dikalahkan bukanlah yang berada di luar rumah, melainkan yang diam-diam tinggal
di dalam dada.
Dan kabar baiknya, tidak seperti harga
emas atau kurs mata uang, obat untuk penyakit hati masih tersedia gratis:
taubat, zikir, tawadhu', dan kesediaan untuk sesekali bercermin sebelum sibuk
menilai wajah orang lain.
abah-arul.blogspot.com., Juni 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.