Jumat, 05 Juni 2026

Raja, Notifikasi, dan Tiga Pertanyaan yang Terlalu Sulit untuk Google

Sebuah Renungan  atas Kisah Leo Tolstoy

Ada satu penyakit yang tampaknya tidak pernah berhasil disembuhkan oleh kemajuan peradaban. Penyakit itu bukan flu, bukan kolesterol, dan bukan pula kecanduan kopi susu gula aren. Penyakit itu adalah kebiasaan manusia bertanya tentang masa depan sambil mengabaikan apa yang sedang terjadi tepat di depan hidungnya.

Leo Tolstoy sudah mengetahui penyakit ini lebih dari seratus tahun lalu. Karena itu ia menulis sebuah cerita sederhana berjudul The Three Questions. Sederhana, tetapi daya hantamnya seperti sandal jepit yang dilempar ibu dari jarak dua puluh meter: terlihat ringan, tetapi tepat sasaran.

Kisahnya bermula dari seorang raja yang gelisah. Ia ingin mengetahui tiga hal paling penting dalam hidup.

Pertama, kapan waktu terbaik untuk melakukan sesuatu?

Kedua, siapa orang paling penting?

Ketiga, apa hal paling penting yang harus dilakukan?

Pertanyaan ini terdengar seperti materi seminar motivasi dengan tiket VIP lima juta rupiah. Bedanya, raja ini tidak membuat webinar. Ia benar-benar mencari jawaban.

Ia bertanya kepada para ilmuwan, penasihat, dan orang-orang pintar di kerajaannya. Sayangnya, semakin banyak jawaban yang ia dengar, semakin pusing kepalanya.

Ini memang nasib abadi manusia. Jika bertanya kepada satu ahli, kita mendapat satu jawaban. Jika bertanya kepada sepuluh ahli, kita mendapat sebelas jawaban. Dan jika bertanya di media sosial, kita mendapat seribu jawaban plus pertengkaran gratis di kolom komentar.

Karena frustrasi, sang raja mendatangi seorang pertapa tua di hutan.

Di sinilah Tolstoy mulai bermain-main dengan kebijaksanaan.

Sang pertapa tidak memberikan kuliah filsafat. Ia tidak mengeluarkan diagram. Ia juga tidak menyuruh raja membeli buku pengembangan diri.

Ia hanya sedang menggali tanah.

Bayangkan betapa kecewanya raja. Ia datang membawa pertanyaan besar tentang makna kehidupan, tetapi yang ditemuinya hanyalah seorang kakek berkeringat bersama cangkul.

Namun justru di situlah letak jebakan Tolstoy.

Karena kasihan melihat pertapa yang kelelahan, raja ikut membantu menggali.

Lalu datang seorang pria terluka parah.

Raja berhenti menggali dan merawat orang itu semalaman.

Baru keesokan harinya terungkap bahwa pria tersebut sebenarnya adalah musuh yang hendak membunuhnya.

Bayangkan ironi yang indah itu.

Seseorang datang membawa niat membunuh, tetapi pulang membawa rasa terima kasih.

Sementara sang raja yang tadinya mencari jawaban, justru menemukan jawaban ketika berhenti mencarinya.

Mirip orang yang panik mencari kacamata selama setengah jam, lalu sadar bahwa kacamata itu sedang bertengger di kepalanya.

Pertapa kemudian menjelaskan.

Waktu yang paling penting adalah sekarang.

Orang yang paling penting adalah orang yang sedang berada di hadapanmu.

Dan pekerjaan yang paling penting adalah berbuat baik kepada orang itu.

Selesai.

Hanya tiga kalimat.

Tidak ada presentasi PowerPoint.

Tidak ada grafik pertumbuhan pribadi.

Tidak ada paket premium.

Namun tiga kalimat itu diam-diam mengguncang seluruh cara kita memandang hidup.

Masalahnya, manusia modern justru ahli melakukan kebalikan dari ketiga nasihat tersebut.

Kita makan malam bersama keluarga sambil memikirkan rapat besok.

Kita sedang berlibur tetapi sibuk mengunggah foto agar orang lain tahu bahwa kita sedang berlibur.

Kita berbicara dengan teman sambil melirik notifikasi.

Tubuh berada di satu tempat, pikiran berada di tempat lain, dan perhatian entah sedang tersesat di mana.

Seolah-olah hidup adalah ruang tunggu menuju masa depan.

Padahal, menurut Tolstoy, masa depan itu seperti paket kiriman yang statusnya masih "dalam perjalanan". Kita tidak pernah benar-benar tahu kapan datangnya.

Yang ada hanyalah saat ini.

Bahkan gagasan tentang "orang paling penting" juga sering kita salah pahami.

Kita mengira orang penting adalah presiden, miliarder, influencer, atau tokoh terkenal.

Padahal ketika anak kecil menarik lengan baju kita untuk menunjukkan gambar buatannya, pada saat itu dialah orang paling penting.

Ketika seorang teman membutuhkan telinga untuk mendengar keluhannya, pada saat itu dialah orang paling penting.

Ketika seorang tukang parkir memberikan senyum tulus setelah hari yang melelahkan, pada saat itu dialah orang paling penting.

Kehidupan ternyata tidak dibangun oleh peristiwa-peristiwa raksasa.

Ia dibangun oleh ribuan momen kecil yang sering lolos dari perhatian kita.

Tolstoy seperti sedang berbisik, "Jangan terlalu sibuk mencari makna hidup sampai lupa menjalani hidup yang sedang berlangsung."

Dan mungkin itulah bagian paling lucu dari manusia.

Kita ingin mengetahui rahasia alam semesta, tetapi sering lupa menjawab pesan ibu.

Kita ingin mengubah dunia, tetapi kesulitan bersikap ramah kepada tetangga.

Kita ingin menjadi orang hebat, tetapi lupa menjadi orang baik.

Padahal bisa jadi Tuhan tidak selalu menilai hidup dari seberapa jauh kita melangkah, melainkan dari seberapa hadir kita dalam setiap langkah itu.

Maka kisah sang raja sesungguhnya bukan tentang seorang penguasa di masa lalu.

Ia adalah cerita tentang kita semua.

Tentang manusia yang sibuk mengejar besok sambil kehilangan hari ini.

Tentang manusia yang mencari kebijaksanaan di tempat-tempat tinggi, padahal kadang-kadang ia sedang menggali tanah tepat di depan kaki kita.

Dan tentang sebuah rahasia sederhana yang terus relevan dari abad ke abad:

Jika ingin tahu kapan saat terbaik untuk hidup, jawabannya adalah sekarang.

Jika ingin tahu siapa yang paling penting, lihatlah siapa yang sedang berada di depanmu.

Dan jika ingin tahu apa yang paling berarti untuk dilakukan, mungkin jawabannya tidak serumit yang kita kira:

Berbuat baiklah.

Sebelum notifikasi berikutnya datang.

abah-arul.blogspot.com.,Juni 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.