Jumat, 05 Juni 2026

Cinta, Keriput, dan Saint-Germain: Ketika Hati Masih Musim Semi tetapi Lutut Sudah Musim Hujan

Ada banyak jenis lagu cinta di dunia.

Ada lagu yang membuat orang ingin menikah.

Ada lagu yang membuat orang ingin putus.

Ada pula lagu yang membuat orang tiba-tiba menatap jendela saat hujan turun, lalu berpikir, "Mengapa hidup begini rumit?"

"Il suffirait de presque rien" karya Serge Reggiani termasuk golongan ketiga.

Judulnya sendiri sudah terdengar seperti keluhan seorang filsuf yang sedang diskon harapan: "Hanya perlu hampir tidak ada."

Masalahnya, dalam hidup, "hampir tidak ada" sering kali justru menjadi jurang terbesar.

Bayangkan seorang pria tua jatuh cinta pada seorang wanita muda.

Secara teori, jaraknya cuma sepuluh tahun.

Secara matematika, itu hanya 3.650 hari.

Tetapi secara psikologis, sosial, biologis, dan terutama ortopedis, jaraknya bisa terasa seperti dari Paris ke Pluto.

Pria dalam lagu ini tahu itu.

Ia tidak sedang berhalusinasi seperti tokoh film romantis yang percaya bahwa cinta mampu mengalahkan segalanya.

Ia tidak berkata:

"Aku akan menaklukkan dunia demi dirimu."

Ia malah berkata kurang lebih:

"Nak, coba lihat keriputku dulu sebelum kita membuat keputusan gegabah."

Sungguh romantis sekaligus menyedihkan.

Di era sekarang, banyak orang berusaha tampak lebih muda daripada usianya.

Ada yang mewarnai rambut.

Ada yang operasi plastik.

Ada yang menggunakan filter kamera sampai wajahnya terlihat seperti bayi yang baru lulus S2.

Tetapi tokoh dalam lagu ini memilih jalan yang berbeda.

Ia melakukan sesuatu yang sangat langka dalam sejarah percintaan manusia:

Ia jujur.

Ia tidak menjual ilusi.

Ia tidak menyamar sebagai pemuda.

Ia tidak mencoba menjadi badut tua yang masih memaksa jungkir balik di panggung kehidupan.

Metafora "badut tua" dalam lagu ini begitu tragis sekaligus lucu.

Karena sesungguhnya banyak manusia menjalani hidup seperti itu.

Mereka menolak menerima musim yang sedang mereka jalani.

Padahal alam memiliki kebijaksanaan yang tidak dimiliki media sosial.

Musim semi tidak iri kepada musim gugur.

Musim hujan tidak mencoba menjadi musim kemarau.

Hanya manusia yang kadang-kadang memaksa dirinya menjadi sesuatu yang sudah lewat jadwalnya.

Lagu ini menggambarkan keadaan dengan kalimat yang sederhana namun menghantam seperti tagihan listrik:

"Dia di musim semi. Aku di musim dingin."

Selesai.

Tidak perlu seminar tiga hari dua malam.

Tidak perlu podcast lima episode.

Satu kalimat itu sudah cukup menjelaskan seluruh tragedi.

Yang satu sedang menanam bunga.

Yang satu sedang mencari selimut.

Yang satu baru belajar mengejar mimpi.

Yang satu mulai mencari kacamata yang tadi diletakkan di atas kepala sendiri.

Namun justru di situlah keindahan lagu ini.

Ini bukan kisah tentang cinta yang berhasil.

Ini kisah tentang cinta yang mengerti dirinya sendiri.

Di zaman modern, kita sering mendengar slogan:

"Kalau cinta, perjuangkan!"

Padahal kadang-kadang hidup lebih rumit.

Ada cinta yang harus diperjuangkan.

Ada pula cinta yang harus diparkir dengan rapi lalu ditinggalkan.

Tidak semua keberanian berbentuk maju menyerbu.

Kadang keberanian terbesar justru berbentuk mundur satu langkah.

Seperti seorang pemain catur yang rela kehilangan ratunya agar permainan tidak hancur total.

Tokoh dalam lagu ini tampaknya menyadari sesuatu yang sering dilupakan manusia:

Mencintai seseorang tidak otomatis memberi kita hak untuk memilikinya.

Ini pelajaran yang pahit.

Karena ego manusia selalu berbisik:

"Kalau aku mencintainya, maka dia harus bersamaku."

Sementara cinta yang matang berbisik lebih pelan:

"Kalau aku mencintainya, aku ingin dia bahagia. Bahkan bila kebahagiaan itu tidak menyertakan aku."

Kalimat kedua terdengar lebih mulia.

Sayangnya juga jauh lebih menyakitkan.

Lagu ini juga mengingatkan kita tentang satu musuh besar semua kisah cinta: waktu.

Waktu adalah makhluk paling aneh di alam semesta.

Ia tidak pernah marah.

Tidak pernah berteriak.

Tidak pernah berdebat.

Ia hanya berjalan.

Dan entah bagaimana, ia selalu menang.

Kita bisa bernegosiasi dengan manusia.

Kita bisa berdebat dengan tetangga.

Kita bahkan bisa memblokir orang di media sosial.

Tetapi kita tidak bisa memblokir waktu.

Ia tetap datang membawa uban, keriput, dan kebutuhan membaca menu restoran dengan tangan dijauhkan sejauh mungkin dari mata.

Karena itu, lagu ini terasa begitu manusiawi.

Ia tidak menawarkan solusi.

Ia tidak memberi motivasi.

Ia tidak menjanjikan akhir bahagia.

Ia hanya duduk bersama kita, seperti sahabat tua di sebuah kafe Paris, lalu berkata:

"Beginilah hidup. Kadang yang kurang hanya sedikit. Tetapi sedikit itu ternyata segalanya."

Dan mungkin di situlah kekuatan terbesar "Il suffirait de presque rien".

Ia mengajarkan bahwa cinta bukan hanya soal mendapatkan.

Cinta juga soal memahami batas.

Bahwa tidak semua bunga harus dipetik.

Tidak semua kereta harus dinaiki.

Dan tidak semua perasaan harus berakhir menjadi hubungan.

Kadang-kadang cinta mencapai bentuknya yang paling dewasa justru ketika ia berkata:

"Aku ingin tinggal. Tetapi aku memilih pergi."

Sedih?

Tentu.

Tetapi seperti kopi pahit di pagi hari, ada kebenaran yang hanya bisa dinikmati setelah membuat wajah sedikit meringis.

Dan lagu ini adalah secangkir kopi semacam itu: pahit, hangat, jujur, dan sulit dilupakan.

 abah-arul.blogspot.com., Mei 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.