Catatan Santai tentang Orang Bijak, Kolom Komentar, dan Nafsu Membalas
Di zaman modern, manusia akhirnya berhasil menciptakan
teknologi paling canggih dalam sejarah: kolom komentar.
Sayangnya, seperti banyak penemuan besar lainnya, ia segera dipakai untuk
berkelahi.
Dulu para filsuf Yunani berdiskusi di agora sambil
mengenakan jubah. Sekarang orang bertengkar di internet sambil mengenakan foto
profil anime, akun telur, atau nama samaran seperti MacanGalau_77.
Peradaban memang bergerak maju, tetapi kadang seperti keledai naik eskalator:
bergerak, iya — elegan, belum tentu.
Di tengah hiruk-pikuk itu, muncullah sebuah falsafah viral:
“Si burro patea, el sabio calla.”
“Ketika keledai menendang, orang bijak memilih diam.”
Kalimat ini menyebar seperti gorengan gratis di rapat RT.
Orang-orang membagikannya dengan penuh ketenangan spiritual, biasanya setelah
bertengkar tiga jam di Facebook.
Konon, kutipan itu berasal dari Socrates.
Padahal kemungkinan besar Socrates sendiri kalau hidup hari ini akan berkata:
“Saya tidak pernah bilang begitu. Tolong berhenti mencatut
nama saya demi caption Instagram.”
Namun begitulah nasib filsuf. Ketika wafat, mereka bukan
hanya kehilangan hidup, tetapi juga kehilangan hak cipta.
Meski demikian, metafora “keledai” ini memang ampuh.
Bayangkan seekor keledai menendang Anda. Apakah Anda akan menendangnya balik?
Tentu tidak. Selain tidak elegan, itu juga cara tercepat terlihat sama
bodohnya.
Di situlah letak inti kebijaksanaan digital modern:
tidak semua suara harus dijawab.
Kadang hidup ini seperti warung kopi pinggir jalan. Akan
selalu ada satu orang yang berbicara paling keras padahal paling sedikit
membaca. Ia membahas geopolitik dunia dengan percaya diri luar biasa sambil
salah menyebut nama negara. Jika semua orang menanggapinya serius, maka malam
itu akan berakhir dengan debat tentang apakah Atlantis pernah ikut Piala Dunia.
Orang bijak memahami satu hal penting: energi mental itu
seperti kuota internet — terbatas. Kalau dihabiskan meladeni provokasi receh,
nanti saat ada persoalan penting, yang tersisa hanya mode hemat daya.
Karena itu, banyak orang menyukai falsafah “keledai
menendang” ini. Ia memberi rasa damai. Semacam balsem spiritual bagi jiwa-jiwa
yang lelah bertempur di medan komentar.
Namun masalahnya, manusia sering mengubah nasihat bijak
menjadi alasan malas.
Sedikit-sedikit bilang:
“Biarlah, saya memilih diam.”
Padahal kadang ia bukan sedang bijak. Ia cuma tidak punya
argumen.
Ini jebakan yang lucu. Sebab diam memang bisa menjadi tanda
kedewasaan, tetapi juga bisa menjadi tanda sinyal internet putus.
Tidak semua tendangan boleh diabaikan. Kalau ada
ketidakadilan, fitnah, atau penindasan, lalu semua orang memilih “diam seperti
orang bijak”, dunia akhirnya akan diurus oleh orang-orang paling berisik.
Bayangkan jika petugas pemadam kebakaran berkata:
“Saya memilih tidak bereaksi terhadap api.”
Itu bukan stoisisme. Itu promosi besar-besaran bagi
kebakaran.
Karena itu, kebijaksanaan sejati bukan sekadar diam.
Kebijaksanaan adalah kemampuan membedakan:
mana gonggongan yang cukup dilewati,
dan mana alarm kebakaran yang harus ditanggapi.
Dalam tasawuf, ini mirip latihan mengendalikan nafsu. Tidak
setiap provokasi harus masuk ke hati. Hati manusia itu seperti ruang tamu.
Kalau semua orang dibiarkan masuk sambil membawa lumpur emosi, lama-lama jiwa
kita berubah jadi terminal bus saat musim mudik.
Para sufi memahami bahwa reaksi berlebihan sering kali lahir
dari ego yang lapar pengakuan. Ego ingin selalu menang, selalu membalas, selalu
menjadi komentator terakhir.
Padahal kedamaian batin sering lahir justru ketika kita
berhenti merasa wajib memenangkan semua pertengkaran.
Seekor keledai menendang karena memang itu kemampuan
terbaiknya.
Sebagian manusia juga demikian — hanya saja mereka kini punya Wi-Fi.
Akhirnya, falsafah “Si burro patea, el sabio calla” tetap
memiliki nilai penting di zaman digital yang bising ini. Ia mengingatkan kita
bahwa tidak semua kebodohan layak diberi panggung.
Tetapi kebijaksanaan sejati juga menuntut keberanian.
Kadang kita harus diam.
Kadang kita harus bicara.
Dan seni hidup yang paling sulit adalah mengetahui perbedaan
keduanya.
Sebab hidup bukan sekadar menghindari tendangan keledai.
Kadang kita juga harus memastikan bahwa diam kita tidak
membuat kandang dikuasai para keledai.
abah-arul.blogspot.com., Mei 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.