Ada dua jenis manusia di dunia ini.
Jenis pertama adalah mereka yang selalu berkata, “Tidak
apa-apa, biar saya saja.” Mereka mengangkat kursi, mengantar teman pindahan
rumah, menjadi panitia acara, menjadi tempat curhat, menjadi sopir dadakan,
menjadi konsultan gratis, bahkan kadang menjadi korban yang ikhlas. Mereka
begitu rajin membantu sampai-sampai kalau ada lomba pengorbanan, mereka mungkin
menjadi juara, lalu meminta maaf karena telah menang.
Jenis kedua adalah mereka yang melihat pesan WhatsApp masuk
lalu berpikir, “Kalau saya diam lima menit, mungkin masalah ini selesai
sendiri.”
Di antara dua kutub itulah Leo Tolstoy dan Franz Kafka
berdiri seperti dua papan penunjuk jalan yang mengarah ke arah berbeda, tetapi
sama-sama membuat kita menggaruk kepala.
Tolstoy berkata bahwa ketika ia hidup untuk orang lain,
hidupnya berantakan. Ketika ia mulai hidup untuk dirinya sendiri, barulah ia
menemukan kedamaian.
Kafka, sebaliknya, mengaku bahwa dalam setiap hubungan
sosial ada sebagian kecil dirinya yang ingin mendekat, tetapi sebagian besar
dirinya ingin kabur seperti kucing yang mendengar suara vacuum cleaner.
Keduanya terdengar bertentangan. Namun semakin dipikirkan,
semakin terasa bahwa mereka sebenarnya sedang mengeluhkan penyakit yang sama:
terlalu banyak manusia lain.
Kutukan Menjadi Orang Baik
Sejak kecil, kita diajari untuk peduli kepada orang lain.
Nasihat itu tentu baik. Masalahnya, sebagian orang
menjalankannya seperti mahasiswa baru yang salah membaca jadwal kuliah: terlalu
bersemangat.
Mereka membantu semua orang.
Teman meminjam uang? Boleh.
Tetangga meminta bantuan? Siap.
Kerabat mengundang rapat keluarga? Datang.
Grup WhatsApp meminta sukarelawan? Angkat tangan.
Akhirnya hidup mereka menyerupai terminal bus saat musim
mudik: ramai, sesak, dan tidak jelas siapa sebenarnya yang mengelola semuanya.
Mungkin inilah yang akhirnya dirasakan Tolstoy.
Ia mengabdikan diri kepada banyak orang, memperjuangkan
berbagai cita-cita mulia, mencoba menyelamatkan dunia. Namun dunia, sebagaimana
kebiasaannya sejak zaman dahulu, tidak pernah mengirim surat ucapan terima
kasih.
Dunia justru menambahkan pekerjaan baru.
Ada ironi yang lucu di sini. Banyak orang bermimpi menjadi
penyelamat dunia, padahal yang paling membutuhkan pertolongan sering kali
adalah dirinya sendiri.
Seperti seseorang yang sibuk menyiram tanaman tetangga
sementara bunga di halaman rumahnya sendiri sudah berubah menjadi keripik.
Kafka dan Seni Menghindar yang Elegan
Kalau Tolstoy tampak kelelahan karena terlalu dekat dengan
manusia, Kafka tampak lelah hanya dengan membayangkan keberadaan manusia.
Kafka seperti perwakilan resmi kaum introvert sedunia.
Ia ingin berteman, tetapi juga ingin sendirian.
Ia ingin dicintai, tetapi juga ingin pintu kamar terkunci.
Ia ingin hadir di pesta, tetapi lima menit setelah sampai ia
mulai menghitung berapa lama lagi boleh pulang tanpa dianggap tidak sopan.
Dan jujur saja, siapa yang tidak pernah merasakan hal itu?
Banyak dari kita mengalami konflik batin yang sama.
Ketika sendirian terlalu lama, kita merasa kesepian.
Ketika bersama orang lain terlalu lama, kita merasa
kelelahan.
Kita haus akan hubungan, tetapi juga haus akan kesunyian.
Manusia rupanya adalah makhluk yang unik. Ia seperti
penggemar hujan yang mengeluh saat kehujanan.
Media Sosial: Arena Gladiator Modern
Di zaman Tolstoy, seseorang cukup menghadapi keluarga dan
tetangga.
Di zaman Kafka, seseorang cukup menghadapi surat-menyurat
dan beberapa kenalan.
Hari ini?
Kita menghadapi seluruh dunia sebelum sarapan.
Begitu membuka ponsel, kita langsung disambut pendapat
politik, foto liburan teman, promosi diskon, motivasi sukses, kabar perceraian
artis, dan video kucing yang entah bagaimana lebih produktif daripada kita.
Media sosial menciptakan ilusi bahwa kita harus selalu
hadir.
Harus selalu merespons.
Harus selalu peduli.
Harus selalu terlihat.
Akibatnya banyak orang menjadi semacam satpam emosional yang
berjaga dua puluh empat jam sehari.
Ketika orang lain sedih, ia ikut sedih.
Ketika orang lain marah, ia ikut marah.
Ketika orang lain bahagia, ia ikut membandingkan diri.
Baterai ponselnya mungkin masih seratus persen, tetapi
baterai jiwanya sudah berkedip merah sejak pagi.
Seni Memasang Pagar
Pelajaran paling menarik dari Tolstoy dan Kafka bukanlah
bahwa kita harus menjadi egois atau antisosial.
Mereka justru mengajarkan pentingnya pagar.
Bukan pagar rumah.
Bukan pagar betis.
Melainkan pagar batin.
Pagar adalah tanda bahwa sesuatu berharga.
Kita memasang pagar di taman karena bunga itu penting.
Kita memasang pagar di halaman karena rumah itu berharga.
Maka sesekali kita juga perlu memasang pagar pada waktu,
energi, dan kesehatan mental kita.
Tidak semua permintaan harus dijawab dengan "ya."
Tidak semua undangan harus dihadiri.
Tidak semua perdebatan internet harus dimenangkan.
Sebagian pertempuran memang lebih bijak ditinggalkan,
terutama jika hadiahnya hanya sakit kepala.
Menjadi Manusia Secukupnya
Pada akhirnya, hidup mungkin bukan soal memilih menjadi
Tolstoy atau Kafka.
Bukan soal mengorbankan diri sampai habis, dan bukan pula
mengurung diri sampai berdebu.
Kebijaksanaan mungkin terletak pada kemampuan menjadi
manusia secukupnya.
Membantu orang lain tanpa kehilangan diri sendiri.
Menikmati kesendirian tanpa membenci kebersamaan.
Mendengarkan orang lain tanpa mematikan suara hati sendiri.
Karena hidup yang baik bukanlah hidup yang sepenuhnya
diberikan kepada orang lain, juga bukan hidup yang sepenuhnya ditarik dari
orang lain.
Hidup yang baik adalah seperti secangkir teh yang pas: tidak
terlalu panas hingga membakar lidah, tidak terlalu dingin hingga kehilangan
rasa.
Dan seperti teh yang baik, keseimbangan itu tidak datang
dari resep yang sama untuk semua orang.
Setiap orang harus meraciknya sendiri.
Tolstoy menemukannya setelah kelelahan.
Kafka menemukannya di tengah kegelisahan.
Kita pun mungkin akan menemukannya setelah cukup lama
menjadi korban grup WhatsApp keluarga.
abah-arul.blospot.com., Juni 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.