Minggu, 07 Juni 2026

Merajuk kepada Tuhan: Seni Ngambek yang Justru Dianjurkan

Ada banyak jenis merajuk di dunia ini.

Anak kecil merajuk karena tidak dibelikan es krim.

Remaja merajuk karena pesan WhatsApp-nya hanya dibalas dengan stiker jempol.

Suami merajuk karena istrinya lebih antusias menyambut paket belanja online daripada menyambut dirinya pulang kerja.

Tetapi ada satu jenis merajuk yang aneh, mulia, dan justru dianjurkan para sufi: merajuk kepada Allah.

Ini mungkin terdengar janggal. Bukankah merajuk identik dengan kekanak-kanakan? Bukankah orang yang merajuk biasanya sedang kecewa?

Tidak selalu.

Dalam dunia tasawuf, merajuk justru bisa menjadi tanda cinta yang sangat dalam. Sebab hanya kepada pihak yang kita yakini mencintai kitalah kita berani merajuk.

Tidak ada orang yang merajuk kepada mesin ATM.

Tidak ada orang yang ngambek kepada kalkulator.

Tidak ada orang yang menangis di depan dispenser sambil berkata, "Mengapa engkau tidak memahami perasaanku?"

Kita hanya merajuk kepada yang kita yakini memiliki kasih sayang.

Dan itulah inti dari munajat yang dijelaskan  dalam kajian tentang Al-Hikam.

Gugatan yang Sebenarnya Bukan Gugatan

Munajat itu dipenuhi pertanyaan yang diawali kata Kaifa.

"Bagaimana mungkin aku diserahkan kepada diriku sendiri?"

"Bagaimana mungkin aku terlantar?"

"Bagaimana mungkin harapanku sia-sia?"

Sekilas terdengar seperti surat protes pelanggan kepada layanan konsumen langit.

Namun jika diperhatikan lebih dalam, ini bukan gugatan. Ini justru pujian yang menyamar sebagai pertanyaan.

Seorang hamba berkata:

"Ya Allah, aku tahu Engkau terlalu baik untuk meninggalkanku."

"Ya Allah, aku tahu Engkau terlalu penyayang untuk membiarkanku tersesat."

"Ya Allah, aku tahu Engkau terlalu lembut untuk mengecewakanku."

Seperti seorang anak kecil yang tersesat di pasar lalu berkata kepada ayahnya:

"Ayah pasti tidak akan meninggalkanku, kan?"

Kalimat itu bukan pertanyaan.

Itu adalah keyakinan yang sedang mencari pelukan.

Masalah Utama Manusia: Terlalu Percaya pada Diri Sendiri

Di zaman modern, manusia diajarkan untuk percaya diri.

Percaya pada kemampuan sendiri.

Percaya pada potensi diri.

Percaya pada kekuatan diri.

Akibatnya banyak orang yang akhirnya memperlakukan dirinya seperti aplikasi serba bisa.

Mereka mengira diri mereka Google Maps, psikolog, penasihat keuangan, motivator, konsultan karier, sekaligus peramal masa depan.

Lalu ketika hidup berbelok sedikit saja, sistem langsung error.

Tasawuf datang membawa kabar yang mengejutkan:

Masalahmu bukan karena terlalu lemah.

Masalahmu justru karena terlalu yakin bahwa dirimu kuat.

Para sufi menyebut obatnya dengan nama faqr — kefakiran.

Namun jangan bayangkan kefakiran sebagai dompet kosong atau rekening yang menangis setiap akhir bulan.

Kefakiran yang dimaksud adalah kesadaran bahwa seluruh keberadaan kita bergantung kepada Allah.

Kita ini seperti lampu.

Cahaya lampu memang indah.

Tetapi jangan sampai lampu lupa bahwa sumber energinya bukan dirinya sendiri.

Begitu colokan dicabut, semua kesombongan watt akan berakhir.

Berhala yang Tidak Disembah, Tapi Dipelihara

Bagian paling lucu sekaligus paling menampar dalam penjelasannya  adalah kisah tentang orang yang bangga dengan kefakirannya.

Ini seperti seseorang yang berhasil mengalahkan kesombongan, lalu menjadi sombong karena berhasil mengalahkan kesombongan.

Ironis sekali.

Ego manusia memang kreatif.

Ia bisa menyamar menjadi apa saja.

Bahkan menjadi kerendahan hati.

Seseorang bisa berkata:

"Saya ini orang kecil."

Tetapi dalam hati diam-diam berharap semua orang mengagumi betapa kecilnya dirinya.

Seseorang bisa berkata:

"Saya tidak punya apa-apa."

Tetapi diam-diam bangga karena merasa lebih zuhud daripada tetangganya.

Ego itu seperti pencopet profesional.

Ketika pintu depan ditutup, ia masuk lewat jendela.

Ketika jendela ditutup, ia masuk lewat ventilasi.

Ketika ventilasi ditutup, ia menyamar menjadi penghuni rumah.

Karena itu guru Syekh Abul Hasan asy-Syadzili mengingatkan bahwa seseorang bisa saja menjadikan kefakirannya sendiri sebagai berhala.

Bukan lagi Allah yang menjadi sandaran.

Melainkan status dirinya sebagai "orang yang merasa fakir".

Betapa licinnya ego manusia.

Bahkan saat beribadah, ia masih sempat-sempatnya mencari panggung.

Kelembutan Allah Tidak Selalu Berbentuk Diskon

Kebanyakan manusia memiliki definisi sederhana tentang kasih sayang Tuhan.

Jika keinginan terkabul: Allah sayang.

Jika bisnis lancar: Allah sayang.

Jika badan sehat: Allah sayang.

Jika dapat bonus: Allah sayang.

Seolah-olah kasih sayang Ilahi harus selalu tampil seperti promo akhir tahun.

Padahal para sufi memiliki pandangan yang berbeda.

Mereka percaya bahwa kelembutan Allah sering datang dengan penyamaran yang sangat canggih.

Kadang ia bernama kegagalan.

Kadang ia bernama kehilangan.

Kadang ia bernama sakit.

Kadang ia bernama pintu yang tertutup.

Kita sering mengira hidup seperti supermarket: semua yang kita inginkan harus tersedia di rak.

Padahal Allah lebih sering bertindak seperti dokter daripada pelayan restoran.

Dokter yang baik tidak selalu memberikan apa yang diminta pasien.

Ia memberikan apa yang dibutuhkan pasien.

Pasien meminta es krim.

Dokter memberikan obat pahit.

Pasien mengeluh.

Dokter tersenyum.

Lima tahun kemudian pasien baru mengerti.

Ngambek yang Paling Dewasa

Pada akhirnya, merajuk dalam tasawuf bukanlah perilaku kekanak-kanakan.

Justru inilah bentuk kedewasaan spiritual yang paling tinggi.

Sebab orang yang merajuk kepada Allah sebenarnya sedang mengakui dua hal sekaligus.

Pertama, dirinya tidak berdaya.

Kedua, Allah Maha Berdaya.

Ia sadar dirinya hanyalah setetes air.

Tetapi ia juga yakin bahwa lautan tempat ia kembali tidak pernah kering.

Di situlah letak keindahan munajat para sufi.

Mereka menangis, tetapi optimis.

Mereka merasa lemah, tetapi tidak putus asa.

Mereka mengaku tidak memiliki apa-apa, tetapi justru merasa memiliki segalanya karena memiliki Allah.

Mungkin itulah rahasia terbesar para pecinta Tuhan.

Mereka berani merajuk bukan karena merasa diabaikan.

Mereka berani merajuk justru karena terlalu yakin bahwa mereka dicintai.

Dan hanya orang yang benar-benar yakin dicintai yang berani berkata:

"Ya Allah, bagaimana mungkin Engkau meninggalkanku?"

Sebab jauh di dalam pertanyaan itu, sebenarnya sudah tersembunyi jawabannya:

"Tidak mungkin."

 abah-arul.blogspot.com., Juni 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.