Sebuah Renungan tentang Mengapa Akhlak Selalu Lebih Tua daripada Undang-Undang
Ada sebuah keyakinan modern yang cukup menghibur: jika suatu
masalah belum selesai, berarti kita kurang membuat peraturan.
Korupsi merajalela? Tambah undang-undang.
Anak-anak nakal? Tambah tata tertib.
Jalanan macet? Tambah rambu.
Pegawai malas? Tambah absensi digital, sidik jari, pemindai
retina, dan jika perlu pasang satelit pribadi di atas kepala mereka.
Logikanya sederhana. Jika manusia sulit diatur, maka yang
perlu ditambah adalah alat pengaturnya.
Masalahnya, manusia sering kali lebih kreatif daripada alat
yang dibuat untuk mengaturnya.
Sejarah peradaban sebenarnya adalah perlombaan panjang
antara pembuat aturan dan pencari celah aturan. Yang satu sibuk membangun
pagar, yang lain sibuk belajar lompat galah.
Karena itulah sebuah kalimat sederhana dari laman WorldWAdab
terasa seperti tamparan yang sopan namun keras:
"Hukum bukanlah timbangan moral. Moralitaslah yang
memberi makna kepada hukum."
Kalimat ini mengingatkan kita bahwa hukum ibarat kerangka
payung. Ia penting. Ia berguna. Ia melindungi.
Tetapi kerangka payung tanpa kain hanyalah sekumpulan besi
yang membuat kita tetap kehujanan.
Begitulah hukum tanpa akhlak.
Ketika CCTV Menjadi Tuhan Kecil
Coba perhatikan perilaku manusia modern.
Di sebuah ruangan yang dipasang kamera pengawas, semua orang
mendadak menjadi malaikat kontrak.
Mereka bekerja rapi.
Mereka tersenyum.
Mereka disiplin.
Mereka tampak seperti kandidat penghuni surga jalur
prestasi.
Namun begitu kamera dimatikan, sebagian berubah seperti
siswa yang baru mengetahui guru piket sedang rapat.
Ternyata yang mengendalikan perilaku bukan hati nurani,
melainkan lensa kamera.
Seolah-olah dosa baru sah disebut dosa setelah direkam HD
1080p.
Padahal integritas tidak pernah bergantung pada keberadaan
saksi.
Integritas adalah kemampuan untuk tetap jujur bahkan ketika satu-satunya makhluk yang melihat hanyalah nyamuk di sudut ruangan.
Dua Jenis Manusia di Muka Bumi
Jika disederhanakan, dunia ini dihuni oleh dua kelompok
besar.
Kelompok pertama adalah manusia yang baik bahkan ketika
tidak ada aturan.
Mereka mengembalikan uang kembalian yang berlebih.
Mereka tidak mengambil hak orang lain.
Mereka tidak memark-up anggaran meskipun punya kesempatan.
Bagi mereka, hati nurani sudah berfungsi seperti GPS
spiritual.
Tanpa sinyal internet pun tetap menunjukkan arah.
Kelompok kedua adalah manusia yang memandang aturan seperti
teka-teki silang.
Semakin rumit regulasi dibuat, semakin bersemangat mereka
mempelajarinya.
Bukan untuk dipatuhi.
Tetapi untuk dicari celahnya.
Mereka membaca undang-undang seperti perampok membaca denah
bank.
Teliti, tekun, dan penuh dedikasi.
Akibatnya muncul fenomena yang sangat modern: orang yang
legal tetapi tidak bermoral.
Secara administrasi bersih.
Secara prosedur sempurna.
Secara etika membuat malaikat pencatat amal mengelus dada.
Penyakit Bernama Legalisme
Peradaban modern memiliki hobi unik.
Setiap masalah diselesaikan dengan formulir.
Jika formulir gagal, buat formulir baru.
Jika masih gagal, bentuk komisi.
Jika komisi gagal, bentuk badan pengawas.
Jika badan pengawas gagal, bentuk badan pengawas untuk
mengawasi badan pengawas.
Tidak ada yang lebih subur daripada birokrasi yang sedang
panik.
Kita sering percaya bahwa semakin tebal buku peraturan,
semakin baik masyarakatnya.
Padahal kadang yang terjadi justru sebaliknya.
Semakin banyak aturan, semakin sedikit ruang untuk
kebijaksanaan.
Semakin banyak pasal, semakin jarang orang bertanya,
"Apa yang benar?"
Mereka hanya bertanya, "Apa yang masih boleh dilakukan
tanpa tertangkap?"
Perubahan pertanyaan ini tampak sepele.
Padahal di situlah tragedi bermula.
Mengapa Para Filsuf Tidak Terlalu Percaya pada Pasal
Plato sudah lama curiga bahwa negara tidak akan selamat
hanya dengan hukum.
Sokrates bahkan rela mati demi mempertahankan integritas
moralnya.
Aristoteles berulang kali menekankan bahwa karakter lebih
penting daripada aturan.
Al-Ghazali mengingatkan bahwa kerusakan hati dapat membuat
amal hanya menjadi gerakan tanpa ruh.
Ibn Khaldun melihat bahwa peradaban runtuh bukan karena
kekurangan regulasi, melainkan karena kerusakan watak.
Bahkan Kant yang terkenal rasional pun akhirnya tiba pada
kesimpulan yang sama: tindakan yang bernilai adalah tindakan yang lahir dari
niat baik.
Lucunya, para pemikir yang hidup terpisah ribuan kilometer
dan ratusan tahun itu seperti sedang menghadiri grup WhatsApp yang sama.
Mereka berbeda bahasa, berbeda budaya, berbeda zaman.
Tetapi kesimpulannya seragam:
"Kalau manusianya rusak, jangan berharap pasal bisa menjadi mukjizat."
Bangsa yang Terlalu Sibuk Membuat Pagar
Kadang kita seperti petani yang panik melihat kambing keluar
kandang.
Solusinya bukan melatih kambing.
Bukan memperbaiki kebiasaan.
Bukan meningkatkan kualitas penggembala.
Melainkan membangun pagar yang lebih tinggi.
Ketika kambing berhasil melompatinya, kita bangun pagar yang
lebih tinggi lagi.
Begitu terus sampai akhirnya seluruh energi habis untuk
membuat pagar, sementara kambing sudah belajar terbang.
Begitulah yang terjadi ketika pendidikan karakter kalah
penting dibanding produksi regulasi.
Kita sibuk memperkuat sistem, tetapi lupa memperkuat
manusia.
Padahal sistem terbaik sekalipun akan lumpuh jika dijalankan
oleh karakter yang buruk.
Sebaliknya, manusia yang baik sering mampu membuat sistem yang sederhana bekerja dengan luar biasa.
Hati Nurani: Polisi yang Tidak Pernah Tidur
Sesungguhnya pengawas paling murah di dunia bukanlah kamera.
Bukan aplikasi.
Bukan lembaga.
Bukan pula algoritma kecerdasan buatan.
Pengawas paling murah adalah hati nurani yang hidup.
Ia tidak memerlukan listrik.
Tidak perlu anggaran negara.
Tidak membutuhkan gedung bertingkat.
Tidak perlu seragam.
Ia bekerja dua puluh empat jam sehari.
Masalahnya hanya satu.
Banyak orang memecatnya dari pekerjaannya.
Mereka menggantinya dengan kalkulator untung-rugi.
Ketika itu terjadi, hukum berubah menjadi permainan.
Etika berubah menjadi formalitas.
Dan keadilan berubah menjadi slogan yang dicetak di spanduk.
Ketika Lampu Padam
Bayangkan suatu malam seluruh CCTV di dunia mati.
Semua pengawas pulang.
Semua aturan disimpan di lemari.
Semua hakim sedang tidur.
Pertanyaan pentingnya bukanlah apakah masyarakat masih
memiliki hukum.
Pertanyaannya adalah: apakah masyarakat masih memiliki
akhlak?
Karena pada akhirnya, peradaban tidak berdiri di atas
pasal-pasal.
Ia berdiri di atas manusia-manusia yang memilih jujur ketika
bisa berbohong, memilih amanah ketika bisa berkhianat, dan memilih lurus ketika
jalan tikus terbuka lebar.
Hukum memang penting.
Tetapi hukum hanyalah tongkat.
Akhlak adalah kaki.
Dan sejarah berkali-kali membuktikan bahwa tongkat terbaik
pun tidak akan banyak membantu jika kaki yang menopangnya sudah enggan berjalan
menuju kebaikan.
Maka mungkin tugas terbesar sebuah bangsa bukanlah
memperbanyak undang-undang.
Melainkan memperbanyak manusia yang tetap jujur meskipun
tidak ada yang melihat.
Sebab dunia tidak kekurangan peraturan.
Dunia hanya sesekali kekurangan orang yang mau mematuhinya
ketika lampu sedang padam.
abah-arul.blogspot.com., Juni 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.