Catatan tentang Orang Tua yang Kekanak-kanakan dan Anak Muda yang Tua Sebelum Waktunya
Ada satu kebiasaan manusia yang sangat menarik: kita suka
menghitung umur seolah-olah sedang menghitung pahala arisan.
Begitu bertemu teman lama, pertanyaan yang muncul biasanya
bukan, "Sudah sejauh mana kebijaksanaanmu berkembang?" melainkan,
"Sekarang umur berapa?"
Seakan-akan angka adalah bukti kematangan.
Padahal kenyataannya tidak selalu demikian.
Ada orang yang sudah berumur enam puluh tahun, rambutnya
putih seperti kapas premium, tetapi kalau kalah debat masih ngambek tiga hari
tiga malam. Ada pula anak muda usia dua puluh tahun yang kalau berbicara
membuat kita merasa sedang dinasihati oleh perpustakaan berjalan.
Shams al-Tabrizi, guru spiritual Jalaluddin Rumi, tampaknya
sudah menyadari fenomena ini jauh sebelum media sosial ditemukan. Ia
mengingatkan bahwa usia hanyalah angka. Hakikat manusia tidak ditentukan oleh
berapa lama ia hidup, melainkan oleh seberapa dalam ia memahami kehidupan.
Kalau dipikir-pikir, memang aneh. Kita menganggap umur
sebagai ukuran kedewasaan, padahal umur bekerja seperti kalender di dinding.
Kalender tahu tanggal, tetapi tidak otomatis menjadi bijaksana.
Buku catatan yang tergantung selama sepuluh tahun di tembok
tetaplah buku kosong jika tidak pernah ditulisi.
Begitu pula manusia.
Ada yang setiap tahun hanya menambah angka. Ada pula yang
setiap tahun menambah pemahaman.
Perbedaannya sangat besar.
Yang pertama seperti ponsel lama yang hanya bertambah panas
seiring waktu.
Yang kedua seperti sistem operasi yang terus diperbarui.
Secara fisik sama-sama menua, tetapi kualitas kerjanya
berbeda.
Shams menggunakan gambaran yang sangat indah. Ada orang yang
dilewati waktu, dan ada orang yang ditembus waktu.
Orang yang hanya dilewati waktu ibarat batu di pinggir
sungai. Air mengalir bertahun-tahun di sekitarnya, tetapi batunya tetap keras
dan tidak berubah.
Sementara orang yang membiarkan waktu mengalir melalui
dirinya seperti tanah yang subur. Hujan pengalaman masuk, meresap, lalu
menumbuhkan sesuatu.
Masalahnya, banyak dari kita lebih mirip batu daripada
tanah.
Kita mengalami kegagalan berkali-kali, tetapi tidak belajar
apa-apa selain cara menyalahkan keadaan dengan lebih kreatif.
Kita pernah kecewa, tetapi yang tumbuh bukan kebijaksanaan
melainkan koleksi dendam.
Kita pernah sukses, tetapi yang berkembang bukan rasa syukur
melainkan rasa sok penting.
Akibatnya, umur bertambah, tetapi karakter tetap berada di
kelas yang sama.
Seperti siswa yang terlalu betah tinggal kelas karena merasa
bangkunya sudah nyaman.
Dalam psikologi modern, keadaan ini dikenal sebagai
ketidakmatangan emosional. Dalam bahasa sehari-hari, mungkin lebih mudah
disebut "badan dewasa, software masih versi anak-anak."
Tubuhnya sudah memikirkan asam urat.
Jiwanya masih berebut perhatian.
Wajahnya sudah meminta krim anti-penuaan.
Egonya masih balita.
Sebaliknya, ada orang yang usianya relatif muda tetapi
tampak matang. Bukan karena hidupnya mudah, melainkan karena ia mengolah setiap
pengalaman seperti koki yang mengubah bahan sederhana menjadi hidangan
istimewa.
Kegagalan menjadi guru.
Kesedihan menjadi cermin.
Kesalahan menjadi kompas.
Luka menjadi jendela.
Ia tidak sekadar mengalami hidup; ia mencerna hidup.
Dalam tradisi tasawuf, kematangan semacam ini disebut
sebagai berkembangnya basirah, mata hati.
Mata fisik hanya melihat kerutan.
Mata hati melihat pelajaran di balik kerutan.
Mata fisik melihat rambut memutih.
Mata hati melihat ego yang mulai meluruh.
Karena itu, ketuaan sejati bukanlah soal jumlah lilin di
atas kue ulang tahun.
Jika demikian, toko kue adalah lembaga pendidikan paling
bijaksana di dunia.
Ketuaan sejati adalah kemampuan memahami apa yang sebenarnya
penting dan apa yang hanya kebisingan sesaat.
Di zaman media sosial, pesan Shams terasa semakin relevan.
Kita hidup dalam perlombaan angka yang tidak pernah selesai.
Jumlah pengikut.
Jumlah suka.
Jumlah komentar.
Jumlah pencapaian sebelum usia tertentu.
Kadang-kadang kita begitu sibuk menghitung angka hingga lupa
menghitung makna.
Kita tahu berapa umur kita.
Tetapi tidak tahu sudah berapa kali kita benar-benar belajar
dari kesalahan.
Kita tahu tanggal lahir.
Tetapi tidak tahu kapan kesadaran kita mulai lahir.
Padahal mungkin itulah pertanyaan yang lebih penting.
Pada akhirnya, hidup bukanlah perlombaan siapa yang paling
cepat menua. Semua orang akan menang dalam perlombaan itu.
Setiap detik, seluruh umat manusia sedang bergerak menuju
garis finis yang sama.
Pertanyaannya bukan apakah umur kita bertambah.
Itu pasti.
Pertanyaannya adalah: apakah hati kita ikut tumbuh?
Karena ada orang yang hidup enam puluh tahun dan hanya
mengumpulkan kalender.
Ada pula yang hidup dua puluh tahun tetapi berhasil
mengumpulkan hikmah.
Dan jika harus memilih, barangkali lebih baik menjadi jiwa
yang matang di tubuh yang muda daripada menjadi anak kecil yang kebetulan sudah
memiliki cucu.
Sebab umur hanyalah angka.
Tetapi kesadaran adalah cerita.
Dan pada akhirnya, bukan angka yang akan dikenang orang,
melainkan cerita yang berhasil kita tulis di dalamnya.
abah-arul.blogspot.com., Juni 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.