Kamis, 25 Juni 2026

Umur Hanya Angka, Tapi Tagihan Listrik Tetap Nyata

Catatan tentang Orang Tua yang Kekanak-kanakan dan Anak Muda yang Tua Sebelum Waktunya

Ada satu kebiasaan manusia yang sangat menarik: kita suka menghitung umur seolah-olah sedang menghitung pahala arisan.

Begitu bertemu teman lama, pertanyaan yang muncul biasanya bukan, "Sudah sejauh mana kebijaksanaanmu berkembang?" melainkan, "Sekarang umur berapa?"

Seakan-akan angka adalah bukti kematangan.

Padahal kenyataannya tidak selalu demikian.

Ada orang yang sudah berumur enam puluh tahun, rambutnya putih seperti kapas premium, tetapi kalau kalah debat masih ngambek tiga hari tiga malam. Ada pula anak muda usia dua puluh tahun yang kalau berbicara membuat kita merasa sedang dinasihati oleh perpustakaan berjalan.

Shams al-Tabrizi, guru spiritual Jalaluddin Rumi, tampaknya sudah menyadari fenomena ini jauh sebelum media sosial ditemukan. Ia mengingatkan bahwa usia hanyalah angka. Hakikat manusia tidak ditentukan oleh berapa lama ia hidup, melainkan oleh seberapa dalam ia memahami kehidupan.

Kalau dipikir-pikir, memang aneh. Kita menganggap umur sebagai ukuran kedewasaan, padahal umur bekerja seperti kalender di dinding. Kalender tahu tanggal, tetapi tidak otomatis menjadi bijaksana.

Buku catatan yang tergantung selama sepuluh tahun di tembok tetaplah buku kosong jika tidak pernah ditulisi.

Begitu pula manusia.

Ada yang setiap tahun hanya menambah angka. Ada pula yang setiap tahun menambah pemahaman.

Perbedaannya sangat besar.

Yang pertama seperti ponsel lama yang hanya bertambah panas seiring waktu.

Yang kedua seperti sistem operasi yang terus diperbarui.

Secara fisik sama-sama menua, tetapi kualitas kerjanya berbeda.

Shams menggunakan gambaran yang sangat indah. Ada orang yang dilewati waktu, dan ada orang yang ditembus waktu.

Orang yang hanya dilewati waktu ibarat batu di pinggir sungai. Air mengalir bertahun-tahun di sekitarnya, tetapi batunya tetap keras dan tidak berubah.

Sementara orang yang membiarkan waktu mengalir melalui dirinya seperti tanah yang subur. Hujan pengalaman masuk, meresap, lalu menumbuhkan sesuatu.

Masalahnya, banyak dari kita lebih mirip batu daripada tanah.

Kita mengalami kegagalan berkali-kali, tetapi tidak belajar apa-apa selain cara menyalahkan keadaan dengan lebih kreatif.

Kita pernah kecewa, tetapi yang tumbuh bukan kebijaksanaan melainkan koleksi dendam.

Kita pernah sukses, tetapi yang berkembang bukan rasa syukur melainkan rasa sok penting.

Akibatnya, umur bertambah, tetapi karakter tetap berada di kelas yang sama.

Seperti siswa yang terlalu betah tinggal kelas karena merasa bangkunya sudah nyaman.

Dalam psikologi modern, keadaan ini dikenal sebagai ketidakmatangan emosional. Dalam bahasa sehari-hari, mungkin lebih mudah disebut "badan dewasa, software masih versi anak-anak."

Tubuhnya sudah memikirkan asam urat.

Jiwanya masih berebut perhatian.

Wajahnya sudah meminta krim anti-penuaan.

Egonya masih balita.

Sebaliknya, ada orang yang usianya relatif muda tetapi tampak matang. Bukan karena hidupnya mudah, melainkan karena ia mengolah setiap pengalaman seperti koki yang mengubah bahan sederhana menjadi hidangan istimewa.

Kegagalan menjadi guru.

Kesedihan menjadi cermin.

Kesalahan menjadi kompas.

Luka menjadi jendela.

Ia tidak sekadar mengalami hidup; ia mencerna hidup.

Dalam tradisi tasawuf, kematangan semacam ini disebut sebagai berkembangnya basirah, mata hati.

Mata fisik hanya melihat kerutan.

Mata hati melihat pelajaran di balik kerutan.

Mata fisik melihat rambut memutih.

Mata hati melihat ego yang mulai meluruh.

Karena itu, ketuaan sejati bukanlah soal jumlah lilin di atas kue ulang tahun.

Jika demikian, toko kue adalah lembaga pendidikan paling bijaksana di dunia.

Ketuaan sejati adalah kemampuan memahami apa yang sebenarnya penting dan apa yang hanya kebisingan sesaat.

Di zaman media sosial, pesan Shams terasa semakin relevan. Kita hidup dalam perlombaan angka yang tidak pernah selesai.

Jumlah pengikut.

Jumlah suka.

Jumlah komentar.

Jumlah pencapaian sebelum usia tertentu.

Kadang-kadang kita begitu sibuk menghitung angka hingga lupa menghitung makna.

Kita tahu berapa umur kita.

Tetapi tidak tahu sudah berapa kali kita benar-benar belajar dari kesalahan.

Kita tahu tanggal lahir.

Tetapi tidak tahu kapan kesadaran kita mulai lahir.

Padahal mungkin itulah pertanyaan yang lebih penting.

Pada akhirnya, hidup bukanlah perlombaan siapa yang paling cepat menua. Semua orang akan menang dalam perlombaan itu.

Setiap detik, seluruh umat manusia sedang bergerak menuju garis finis yang sama.

Pertanyaannya bukan apakah umur kita bertambah.

Itu pasti.

Pertanyaannya adalah: apakah hati kita ikut tumbuh?

Karena ada orang yang hidup enam puluh tahun dan hanya mengumpulkan kalender.

Ada pula yang hidup dua puluh tahun tetapi berhasil mengumpulkan hikmah.

Dan jika harus memilih, barangkali lebih baik menjadi jiwa yang matang di tubuh yang muda daripada menjadi anak kecil yang kebetulan sudah memiliki cucu.

Sebab umur hanyalah angka.

Tetapi kesadaran adalah cerita.

Dan pada akhirnya, bukan angka yang akan dikenang orang, melainkan cerita yang berhasil kita tulis di dalamnya.

abah-arul.blogspot.com., Juni 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.