Selasa, 02 Juni 2026

Belajar sebagai Benteng Terakhir

Atau: Mengapa Membaca Buku Lebih Murah daripada Mengamuk di Kolom Komentar

Ada satu ironi besar dalam hidup modern: manusia sekarang bisa mengetahui perang di belahan dunia lain hanya dalam tiga detik, tetapi tidak tahu cara menenangkan pikirannya sendiri selama tiga menit.

Kita hidup di zaman ketika notifikasi lebih rajin mengetuk pintu jiwa dibanding tetangga. Pagi hari baru buka mata, sudah disambut harga saham turun, politik gaduh, artis cerai, ekonomi goyah, perang pecah, dan seorang influencer marah karena kopinya kurang estetik. Dunia terasa seperti grup WhatsApp keluarga besar yang tidak pernah sepi dan semua orang merasa wajib mengirim pesan berantai.

Di tengah keributan itu, Marguerite Yourcenar datang seperti seorang nenek bijak yang duduk tenang di pojok perpustakaan sambil berkata:

“Obat terbaik untuk gejolak jiwa adalah belajar. Itu satu-satunya hal yang tidak pernah gagal.”

Kalimat itu terdengar sederhana. Tapi justru seperti sambal yang tampaknya kecil, efeknya bisa membuat mata batin berkaca-kaca.

Yourcenar memahami sesuatu yang sering dilupakan manusia modern: dunia luar memang hobi berantakan. Dari dulu memang begitu. Bedanya, sekarang kekacauan punya koneksi internet.

Ia menyebut berbagai penderitaan manusia dengan sangat jujur: tubuh menua, cinta hilang, uang raib, dunia dipenuhi orang-orang gila yang memegang mikrofon, dan kehormatan dilempar ke selokan opini publik. Membaca daftar itu rasanya seperti membaca rangkuman berita mingguan.

Dan menariknya, Yourcenar tidak berkata:
“Tenang, semua akan baik-baik saja.”

Tidak.

Ia terlalu cerdas untuk menjual motivasi murahan seperti biskuit diskon minimarket.

Ia justru mengatakan sesuatu yang lebih realistis sekaligus lebih kuat: banyak hal memang bisa hancur. Tetapi pikiran yang terus belajar punya daya tahan seperti termos baja di warung kopi pesantren—jatuh berkali-kali, tetap utuh, paling-paling cuma penyok sedikit.

Belajar, bagi Yourcenar, bukan sekadar menghafal rumus sambil panik menjelang ujian. Belajar adalah menjaga api kesadaran agar tidak padam oleh kebisingan dunia. Membaca buku, memahami sejarah, mempelajari filsafat, merenungi hidup—semuanya adalah cara manusia membangun benteng dalam dirinya.

Karena dunia modern punya satu penyakit aneh: orang makin banyak informasi, tapi makin sedikit pemahaman.

Kita tahu gosip geopolitik, tetapi tidak tahu mengapa hati sendiri mudah iri. Kita hafal drama politik internasional, tetapi lupa cara duduk tenang tanpa membuka ponsel selama lima menit. Pikiran manusia sekarang seperti browser dengan 97 tab terbuka—berisik, panas, dan sebentar lagi hang.

Di sinilah belajar menjadi semacam “vitamin jiwa.”

Lucunya, banyak orang mengira belajar itu aktivitas berat dan serius. Padahal belajar sering kali justru menyelamatkan manusia dari kebodohan emosionalnya sendiri.

Orang yang belajar sejarah tidak mudah panik setiap melihat dunia kacau, sebab ia tahu manusia sudah ribut sejak zaman sandal masih terbuat dari kulit kambing.

Orang yang belajar filsafat tidak gampang tersinggung, sebab ia sadar ego manusia itu seperti balon ulang tahun: besar bentuknya, kecil isinya.

Orang yang membaca sastra lebih tahan menghadapi hidup, sebab novel-novel besar mengajarkan satu hal penting: semua manusia diam-diam sedang bertarung dengan kekacauannya masing-masing.

Sementara itu, media sosial sering mendorong manusia ke arah sebaliknya. Semua orang dipancing untuk bereaksi cepat, marah cepat, tersinggung cepat, lalu lupa cepat. Algoritma modern tampaknya percaya bahwa manusia paling produktif jika sedang emosi seperti wajan berisi minyak panas.

Yourcenar menawarkan pemberontakan yang elegan:
jangan ikut gaduh.
Belajarlah.

Saat dunia berteriak, buka buku.
Saat orang saling hina, pelajari sejarah.
Saat media sosial membuat jiwa sesak, baca puisi.
Saat hidup terasa absurd, pelajari filsafat Stoik.

Karena membaca Marcus Aurelius jauh lebih menenangkan daripada membaca komentar anonim yang fotonya masih karakter anime.

Ada sesuatu yang sangat mulia dalam aktivitas belajar. Ketika seseorang membaca buku di tengah dunia yang kacau, ia sedang berkata kepada semesta:

“Aku menolak menjadi dungu hanya karena dunia sedang ribut.”

Dan mungkin itulah makna terdalam dari pesan Yourcenar. Belajar bukan pelarian dari realitas. Belajar adalah cara menjaga martabat agar tidak ikut tenggelam dalam lumpur kepanikan massal.

Sebab pada akhirnya, manusia memang tidak bisa mengendalikan banyak hal. Ekonomi bisa jatuh. Reputasi bisa hancur. Cinta bisa pergi. Politik bisa gila. Bahkan sinyal Wi-Fi pun bisa mengkhianati.

Tetapi selama seseorang masih mau belajar, ia belum benar-benar kalah.

Karena orang yang terus belajar ibarat lilin kecil di tengah badai: mungkin cahayanya tidak besar, tetapi cukup untuk membuat kegelapan tidak sepenuhnya menang.

Dan di zaman ketika banyak orang sibuk menjadi viral, mungkin tindakan paling revolusioner justru sederhana:

duduk diam,
membuka buku,
dan berpikir.

 abah-arul.blogspot.com., Mei 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.