Atau: Mengapa Membaca Buku Lebih Murah daripada Mengamuk di Kolom Komentar
Ada satu ironi besar dalam hidup modern: manusia sekarang
bisa mengetahui perang di belahan dunia lain hanya dalam tiga detik, tetapi
tidak tahu cara menenangkan pikirannya sendiri selama tiga menit.
Kita hidup di zaman ketika notifikasi lebih rajin mengetuk
pintu jiwa dibanding tetangga. Pagi hari baru buka mata, sudah disambut harga
saham turun, politik gaduh, artis cerai, ekonomi goyah, perang pecah, dan
seorang influencer marah karena kopinya kurang estetik. Dunia terasa seperti
grup WhatsApp keluarga besar yang tidak pernah sepi dan semua orang merasa
wajib mengirim pesan berantai.
Di tengah keributan itu, Marguerite Yourcenar datang seperti
seorang nenek bijak yang duduk tenang di pojok perpustakaan sambil berkata:
“Obat terbaik untuk gejolak jiwa adalah belajar. Itu
satu-satunya hal yang tidak pernah gagal.”
Kalimat itu terdengar sederhana. Tapi justru seperti sambal
yang tampaknya kecil, efeknya bisa membuat mata batin berkaca-kaca.
Yourcenar memahami sesuatu yang sering dilupakan manusia
modern: dunia luar memang hobi berantakan. Dari dulu memang begitu. Bedanya,
sekarang kekacauan punya koneksi internet.
Ia menyebut berbagai penderitaan manusia dengan sangat
jujur: tubuh menua, cinta hilang, uang raib, dunia dipenuhi orang-orang gila
yang memegang mikrofon, dan kehormatan dilempar ke selokan opini publik.
Membaca daftar itu rasanya seperti membaca rangkuman berita mingguan.
Tidak.
Ia terlalu cerdas untuk menjual motivasi murahan seperti
biskuit diskon minimarket.
Ia justru mengatakan sesuatu yang lebih realistis sekaligus
lebih kuat: banyak hal memang bisa hancur. Tetapi pikiran yang terus belajar
punya daya tahan seperti termos baja di warung kopi pesantren—jatuh
berkali-kali, tetap utuh, paling-paling cuma penyok sedikit.
Belajar, bagi Yourcenar, bukan sekadar menghafal rumus
sambil panik menjelang ujian. Belajar adalah menjaga api kesadaran agar tidak
padam oleh kebisingan dunia. Membaca buku, memahami sejarah, mempelajari
filsafat, merenungi hidup—semuanya adalah cara manusia membangun benteng dalam
dirinya.
Karena dunia modern punya satu penyakit aneh: orang makin
banyak informasi, tapi makin sedikit pemahaman.
Kita tahu gosip geopolitik, tetapi tidak tahu mengapa hati
sendiri mudah iri. Kita hafal drama politik internasional, tetapi lupa cara
duduk tenang tanpa membuka ponsel selama lima menit. Pikiran manusia sekarang
seperti browser dengan 97 tab terbuka—berisik, panas, dan sebentar lagi hang.
Di sinilah belajar menjadi semacam “vitamin jiwa.”
Lucunya, banyak orang mengira belajar itu aktivitas berat
dan serius. Padahal belajar sering kali justru menyelamatkan manusia dari
kebodohan emosionalnya sendiri.
Orang yang belajar sejarah tidak mudah panik setiap melihat
dunia kacau, sebab ia tahu manusia sudah ribut sejak zaman sandal masih terbuat
dari kulit kambing.
Orang yang belajar filsafat tidak gampang tersinggung, sebab
ia sadar ego manusia itu seperti balon ulang tahun: besar bentuknya, kecil
isinya.
Orang yang membaca sastra lebih tahan menghadapi hidup,
sebab novel-novel besar mengajarkan satu hal penting: semua manusia diam-diam
sedang bertarung dengan kekacauannya masing-masing.
Sementara itu, media sosial sering mendorong manusia ke arah
sebaliknya. Semua orang dipancing untuk bereaksi cepat, marah cepat,
tersinggung cepat, lalu lupa cepat. Algoritma modern tampaknya percaya bahwa
manusia paling produktif jika sedang emosi seperti wajan berisi minyak panas.
Karena membaca Marcus Aurelius jauh lebih menenangkan
daripada membaca komentar anonim yang fotonya masih karakter anime.
Ada sesuatu yang sangat mulia dalam aktivitas belajar.
Ketika seseorang membaca buku di tengah dunia yang kacau, ia sedang berkata
kepada semesta:
“Aku menolak menjadi dungu hanya karena dunia sedang ribut.”
Dan mungkin itulah makna terdalam dari pesan Yourcenar.
Belajar bukan pelarian dari realitas. Belajar adalah cara menjaga martabat agar
tidak ikut tenggelam dalam lumpur kepanikan massal.
Sebab pada akhirnya, manusia memang tidak bisa mengendalikan
banyak hal. Ekonomi bisa jatuh. Reputasi bisa hancur. Cinta bisa pergi. Politik
bisa gila. Bahkan sinyal Wi-Fi pun bisa mengkhianati.
Tetapi selama seseorang masih mau belajar, ia belum
benar-benar kalah.
Karena orang yang terus belajar ibarat lilin kecil di tengah
badai: mungkin cahayanya tidak besar, tetapi cukup untuk membuat kegelapan
tidak sepenuhnya menang.
Dan di zaman ketika banyak orang sibuk menjadi viral,
mungkin tindakan paling revolusioner justru sederhana:

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.