Minggu, 07 Juni 2026

Ustadzah, Algoritma, dan Surat Al-Ahzab: Ketika Dakwah Bertemu Mesin Pencari Perhatian

Dahulu, seorang ustadzah cukup datang ke mushala, duduk di depan ibu-ibu pengajian, lalu menjelaskan hukum tajwid sambil sesekali mengingatkan bahwa huruf "ض" bukan saudara kandung huruf "د". Hari ini situasinya berbeda. Seorang ustadzah bisa mengajar dari ruang tamu, disaksikan ribuan orang, dikomentari jutaan akun, dan dihakimi oleh netizen yang bahkan belum tamat membaca caption.

Media sosial telah mengubah dakwah seperti warung kopi yang tiba-tiba berubah menjadi stadion. Semua orang bisa berbicara, semua orang bisa mendengar, dan yang paling bersemangat sering kali bukan pembicara maupun pendengar, melainkan kolom komentar.

Di tengah suasana itulah muncul tulisan tentang tiga etika Qur'ani bagi ustadzah di media sosial. Tulisan tersebut mengajak kita merenungkan sebuah pertanyaan yang sangat modern sekaligus sangat kuno: bagaimana cara menyampaikan kebenaran tanpa berubah menjadi tontonan?

Dakwah di Era Algoritma: Ketika Hikmah Bertemu Hashtag

Masalahnya bukan karena dakwah berpindah ke TikTok. Masalahnya adalah TikTok tidak dirancang untuk mencari hikmah.

Algoritma media sosial ibarat pedagang pasar yang cerewet. Ia tidak bertanya, "Apakah ini benar?" Ia hanya bertanya, "Apakah ini menarik?"

Akibatnya, konten yang tenang sering tenggelam, sementara konten yang heboh melambung. Video yang menjelaskan hukum mad wajib muttashil selama lima menit kalah populer dibanding video kucing yang terkejut melihat mentimun.

Dalam dunia seperti ini, para pendakwah menghadapi dilema yang unik. Jika terlalu datar, tidak ditonton. Jika terlalu ekspresif, dituduh mencari perhatian. Jika tersenyum, ada yang protes. Jika tidak tersenyum, ada yang bilang galak. Seolah-olah sebagian netizen menginginkan ustadzah yang mampu menarik perhatian semua orang sambil secara ajaib tidak menarik perhatian siapa pun.

Tiga Etika dan Seni Mengemudikan Suara

Tulisan tersebut mengambil inspirasi dari Surat Al-Ahzab ayat 32 yang menekankan tiga hal: menjaga nada suara, menjaga gestur, dan menggunakan perkataan yang baik.

Secara sederhana, pesan ini mirip nasihat orang tua ketika melepas anaknya ke pesta pernikahan:

"Silakan datang, silakan bergaul, silakan berbicara, tapi jangan sampai pulang membawa masalah."

Nada suara, gestur, dan kata-kata memang bukan perkara sepele. Dalam komunikasi, isi pesan sering kalah berpengaruh dibanding cara pesan itu disampaikan. Satu kalimat yang sama bisa terdengar seperti nasihat, candaan, sindiran, atau ancaman tergantung intonasinya.

Masalahnya, media sosial adalah panggung yang aneh. Kamera memperbesar hal-hal kecil. Gerakan yang biasa saja bisa tampak berlebihan. Senyum yang sekadar ramah bisa ditafsirkan sebagai sesuatu yang lain. Bahkan jeda dua detik terkadang cukup untuk melahirkan seratus teori konspirasi di kolom komentar.

Karena itu, ajakan menjaga etika sebenarnya cukup masuk akal. Bukan karena perempuan adalah sumber masalah, melainkan karena internet adalah pabrik kesalahpahaman yang bekerja tanpa libur.

Netizen: Makhluk yang Selalu Merasa Menjadi Dewan Juri

Menariknya, tulisan tersebut tidak hanya menasihati ustadzah. Penonton laki-laki juga diingatkan agar menjaga adab.

Ini penting.

Sebab kadang-kadang kita berbicara tentang fitnah seolah-olah fitnah adalah makhluk gaib yang muncul dari udara. Padahal sering kali fitnah lahir karena ada orang yang sengaja memeliharanya.

Bayangkan seseorang menonton video kajian tajwid selama lima belas menit, lalu kesimpulan yang ia dapatkan bukan hukum bacaan Al-Qur'an, melainkan analisis mendalam tentang ekspresi wajah pengajarnya.

Itu seperti datang ke toko buku lalu pulang dengan kesimpulan bahwa rak bukunya menarik.

Tulisan tersebut secara halus mengingatkan bahwa penyakit hati bukan hanya urusan orang yang berbicara, tetapi juga urusan orang yang mendengar. Kamera memang menyorot satu orang, tetapi akhlak diuji pada kedua sisi layar.

Ketika Al-Ahzab Bertemu Algoritma

Di sinilah diskusi menjadi menarik.

Ayat Al-Ahzab turun pada zaman yang tidak mengenal Wi-Fi, ring light, maupun tombol "like". Namun manusia yang hidup di zaman itu dan manusia yang hidup di zaman sekarang ternyata memiliki kesamaan yang mengejutkan: sama-sama mudah tergoda oleh hal-hal yang memalingkan perhatian dari substansi.

Perbedaannya hanya pada teknologi.

Dahulu orang terganggu oleh pasar yang ramai. Sekarang orang terganggu oleh notifikasi yang berbunyi setiap tiga puluh detik.

Karena itu, tantangan terbesar bukan sekadar menerapkan ayat ke dunia digital, melainkan menerjemahkan semangatnya. Bagaimana menjaga martabat tanpa kehilangan efektivitas? Bagaimana menarik perhatian tanpa menjual perhatian? Bagaimana berdakwah di panggung yang dirancang untuk hiburan tanpa ikut berubah menjadi hiburan?

Ini bukan pertanyaan yang mudah.

Ustadzah dan Ustadz Sama-Sama Berisiko Menjadi Influencer

Satu catatan yang layak direnungkan adalah bahwa etika digital seharusnya tidak berhenti pada ustadzah.

Ustadz laki-laki juga hidup di bawah algoritma yang sama.

Ada ustadz yang menjual kemarahan karena kemarahan meningkatkan engagement. Ada yang menjual sensasi karena sensasi meningkatkan jumlah penonton. Ada pula yang mengubah mimbar menjadi arena gulat verbal demi memperoleh potongan video viral.

Jika suara lembut bisa menjadi fitnah, suara yang gemar berteriak juga bisa menjadi fitnah.

Jika gestur yang terlalu manis berisiko mengaburkan pesan, gestur yang terlalu arogan juga mampu merusak dakwah.

Pendek kata, algoritma tidak pilih kasih. Ia bisa menggoda siapa saja. Baik ustadzah maupun ustadz, semua berpotensi berubah dari penyampai ilmu menjadi pemburu statistik.

Antara Cahaya Ring Light dan Cahaya Hikmah

Pada akhirnya, persoalan ini bukan sekadar tentang suara perempuan, gestur tubuh, atau teknik berbicara di depan kamera.

Persoalan yang lebih besar adalah bagaimana menjaga niat ketika dakwah berubah menjadi konten.

Ring light dapat menerangi wajah, tetapi tidak otomatis menerangi hati. Mikrofon dapat memperkeras suara, tetapi tidak otomatis memperkuat hikmah. Dan jutaan penonton tidak selalu berarti jutaan keberkahan.

Mungkin pelajaran terpenting dari diskusi ini sederhana saja: media sosial adalah kendaraan, bukan tujuan. Ia seperti perahu. Yang menentukan arah bukan perahunya, melainkan nahkodanya.

Karena itu, tantangan para pendakwah hari ini bukan memilih antara Al-Ahzab atau algoritma. Tantangannya adalah bagaimana membuat algoritma menjadi kendaraan bagi nilai-nilai Al-Ahzab.

Sebab jika dakwah kehilangan etika, ia berubah menjadi pertunjukan. Namun jika dakwah kehilangan efektivitas, ia berubah menjadi bisikan yang tak pernah sampai kepada siapa pun.

Di antara dua kutub itulah para pendakwah digital sedang berlayar—berusaha menjaga keseimbangan antara cahaya hikmah dan godaan jumlah viewers.

Dan seperti biasa, kolom komentar tetap menjadi ujian paling berat.

abah-arul.blogspot.com., Juni 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.