Media sosial telah mengubah dakwah seperti warung kopi yang
tiba-tiba berubah menjadi stadion. Semua orang bisa berbicara, semua orang bisa
mendengar, dan yang paling bersemangat sering kali bukan pembicara maupun
pendengar, melainkan kolom komentar.
Di tengah suasana itulah muncul tulisan tentang tiga etika
Qur'ani bagi ustadzah di media sosial. Tulisan tersebut mengajak kita
merenungkan sebuah pertanyaan yang sangat modern sekaligus sangat kuno:
bagaimana cara menyampaikan kebenaran tanpa berubah menjadi tontonan?
Dakwah di Era Algoritma: Ketika Hikmah Bertemu Hashtag
Masalahnya bukan karena dakwah berpindah ke TikTok.
Masalahnya adalah TikTok tidak dirancang untuk mencari hikmah.
Algoritma media sosial ibarat pedagang pasar yang cerewet.
Ia tidak bertanya, "Apakah ini benar?" Ia hanya bertanya,
"Apakah ini menarik?"
Akibatnya, konten yang tenang sering tenggelam, sementara
konten yang heboh melambung. Video yang menjelaskan hukum mad wajib muttashil
selama lima menit kalah populer dibanding video kucing yang terkejut melihat
mentimun.
Dalam dunia seperti ini, para pendakwah menghadapi dilema
yang unik. Jika terlalu datar, tidak ditonton. Jika terlalu ekspresif, dituduh
mencari perhatian. Jika tersenyum, ada yang protes. Jika tidak tersenyum, ada
yang bilang galak. Seolah-olah sebagian netizen menginginkan ustadzah yang
mampu menarik perhatian semua orang sambil secara ajaib tidak menarik perhatian
siapa pun.
Tiga Etika dan Seni Mengemudikan Suara
Tulisan tersebut mengambil inspirasi dari Surat Al-Ahzab
ayat 32 yang menekankan tiga hal: menjaga nada suara, menjaga gestur, dan
menggunakan perkataan yang baik.
Secara sederhana, pesan ini mirip nasihat orang tua ketika
melepas anaknya ke pesta pernikahan:
"Silakan datang, silakan bergaul, silakan berbicara,
tapi jangan sampai pulang membawa masalah."
Nada suara, gestur, dan kata-kata memang bukan perkara
sepele. Dalam komunikasi, isi pesan sering kalah berpengaruh dibanding cara
pesan itu disampaikan. Satu kalimat yang sama bisa terdengar seperti nasihat,
candaan, sindiran, atau ancaman tergantung intonasinya.
Masalahnya, media sosial adalah panggung yang aneh. Kamera
memperbesar hal-hal kecil. Gerakan yang biasa saja bisa tampak berlebihan.
Senyum yang sekadar ramah bisa ditafsirkan sebagai sesuatu yang lain. Bahkan
jeda dua detik terkadang cukup untuk melahirkan seratus teori konspirasi di
kolom komentar.
Karena itu, ajakan menjaga etika sebenarnya cukup masuk
akal. Bukan karena perempuan adalah sumber masalah, melainkan karena internet
adalah pabrik kesalahpahaman yang bekerja tanpa libur.
Netizen: Makhluk yang Selalu Merasa Menjadi Dewan Juri
Menariknya, tulisan tersebut tidak hanya menasihati
ustadzah. Penonton laki-laki juga diingatkan agar menjaga adab.
Ini penting.
Sebab kadang-kadang kita berbicara tentang fitnah
seolah-olah fitnah adalah makhluk gaib yang muncul dari udara. Padahal sering
kali fitnah lahir karena ada orang yang sengaja memeliharanya.
Bayangkan seseorang menonton video kajian tajwid selama lima
belas menit, lalu kesimpulan yang ia dapatkan bukan hukum bacaan Al-Qur'an,
melainkan analisis mendalam tentang ekspresi wajah pengajarnya.
Itu seperti datang ke toko buku lalu pulang dengan
kesimpulan bahwa rak bukunya menarik.
Tulisan tersebut secara halus mengingatkan bahwa penyakit
hati bukan hanya urusan orang yang berbicara, tetapi juga urusan orang yang
mendengar. Kamera memang menyorot satu orang, tetapi akhlak diuji pada kedua
sisi layar.
Ketika Al-Ahzab Bertemu Algoritma
Di sinilah diskusi menjadi menarik.
Ayat Al-Ahzab turun pada zaman yang tidak mengenal Wi-Fi,
ring light, maupun tombol "like". Namun manusia yang hidup di zaman
itu dan manusia yang hidup di zaman sekarang ternyata memiliki kesamaan yang
mengejutkan: sama-sama mudah tergoda oleh hal-hal yang memalingkan perhatian
dari substansi.
Perbedaannya hanya pada teknologi.
Dahulu orang terganggu oleh pasar yang ramai. Sekarang orang
terganggu oleh notifikasi yang berbunyi setiap tiga puluh detik.
Karena itu, tantangan terbesar bukan sekadar menerapkan ayat
ke dunia digital, melainkan menerjemahkan semangatnya. Bagaimana menjaga
martabat tanpa kehilangan efektivitas? Bagaimana menarik perhatian tanpa
menjual perhatian? Bagaimana berdakwah di panggung yang dirancang untuk hiburan
tanpa ikut berubah menjadi hiburan?
Ini bukan pertanyaan yang mudah.
Ustadzah dan Ustadz Sama-Sama Berisiko Menjadi Influencer
Satu catatan yang layak direnungkan adalah bahwa etika
digital seharusnya tidak berhenti pada ustadzah.
Ustadz laki-laki juga hidup di bawah algoritma yang sama.
Ada ustadz yang menjual kemarahan karena kemarahan
meningkatkan engagement. Ada yang menjual sensasi karena sensasi meningkatkan
jumlah penonton. Ada pula yang mengubah mimbar menjadi arena gulat verbal demi
memperoleh potongan video viral.
Jika suara lembut bisa menjadi fitnah, suara yang gemar
berteriak juga bisa menjadi fitnah.
Jika gestur yang terlalu manis berisiko mengaburkan pesan,
gestur yang terlalu arogan juga mampu merusak dakwah.
Pendek kata, algoritma tidak pilih kasih. Ia bisa menggoda
siapa saja. Baik ustadzah maupun ustadz, semua berpotensi berubah dari
penyampai ilmu menjadi pemburu statistik.
Antara Cahaya Ring Light dan Cahaya Hikmah
Pada akhirnya, persoalan ini bukan sekadar tentang suara
perempuan, gestur tubuh, atau teknik berbicara di depan kamera.
Persoalan yang lebih besar adalah bagaimana menjaga niat
ketika dakwah berubah menjadi konten.
Ring light dapat menerangi wajah, tetapi tidak otomatis
menerangi hati. Mikrofon dapat memperkeras suara, tetapi tidak otomatis
memperkuat hikmah. Dan jutaan penonton tidak selalu berarti jutaan keberkahan.
Mungkin pelajaran terpenting dari diskusi ini sederhana
saja: media sosial adalah kendaraan, bukan tujuan. Ia seperti perahu. Yang
menentukan arah bukan perahunya, melainkan nahkodanya.
Karena itu, tantangan para pendakwah hari ini bukan memilih
antara Al-Ahzab atau algoritma. Tantangannya adalah bagaimana membuat algoritma
menjadi kendaraan bagi nilai-nilai Al-Ahzab.
Sebab jika dakwah kehilangan etika, ia berubah menjadi
pertunjukan. Namun jika dakwah kehilangan efektivitas, ia berubah menjadi
bisikan yang tak pernah sampai kepada siapa pun.
Di antara dua kutub itulah para pendakwah digital sedang
berlayar—berusaha menjaga keseimbangan antara cahaya hikmah dan godaan jumlah
viewers.
Dan seperti biasa, kolom komentar tetap menjadi ujian paling
berat.
abah-arul.blogspot.com., Juni 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.