Sabtu, 06 Juni 2026

Kemuliaan di Era Tombol Like: Kisah Manusia yang Haus Tepuk Tangan

Ada satu penyakit modern yang aneh. Penyakit ini tidak membuat demam, tidak menyebabkan batuk, dan tidak bisa dideteksi melalui tes darah. Namun gejalanya terlihat di mana-mana.

Penderitanya akan membuka ponsel lima menit sekali untuk memeriksa apakah unggahannya sudah mendapat tambahan "like". Jika angka pengikut naik tiga orang, ia merasa seperti sultan. Jika turun dua orang, ia merasa seperti kerajaan yang baru saja dijajah.

Penyakit itu bernama: ketergantungan pada tepuk tangan.

Dulu manusia berburu rusa. Sekarang manusia berburu validasi.

Kalau nenek moyang kita berlari mengejar kijang untuk makan malam, manusia modern berlari mengejar notifikasi untuk sarapan, makan siang, dan makan malam sekaligus.

Masalahnya, validasi itu mirip kerupuk. Berisik ketika digigit, tetapi tidak terlalu mengenyangkan.

Dalam salah satu hikmah besar Ibnu Athaillah As-Sakandari terdapat peringatan yang sangat sederhana:

"Barangsiapa menginginkan kemuliaan yang tidak pernah sirna, janganlah mencari kemuliaan melalui sesuatu yang sirna."

Kalimat ini terdengar biasa saja sampai kita menyadari bahwa hampir seluruh industri modern berdiri di atas kebalikan nasihat tersebut.

Kita mencari harga diri dari pekerjaan yang bisa hilang.

Kita mencari kehormatan dari jabatan yang bisa dicopot.

Kita mencari kebahagiaan dari kekayaan yang bisa habis.

Kita mencari rasa aman dari popularitas yang bisa berubah menjadi hujatan hanya dalam semalam.

Padahal itu semua seperti membangun rumah di atas es batu. Selama cuaca dingin, rumah tampak kokoh. Begitu matahari datang, fondasinya mulai meleleh.

Ironisnya, manusia sering kali marah kepada matahari, padahal masalahnya bukan matahari. Masalahnya adalah fondasi yang salah.

Para sufi menyebut semua itu sebagai fatamorgana.

Fatamorgana adalah penipu paling sopan di dunia. Ia tidak pernah memaksa. Ia hanya berbisik:

"Sedikit lagi..."

Saat kita memiliki seratus ribu pengikut, ia berkata, "Kurang sedikit lagi."

Saat kita memiliki satu juta pengikut, ia berkata, "Masih kurang sedikit lagi."

Saat kita terkenal di satu kota, ia berkata, "Cobalah terkenal satu negara."

Saat sudah terkenal satu negara, ia menyarankan untuk terkenal satu dunia.

Fatamorgana selalu menjanjikan garis akhir yang tidak pernah ada.

Ia seperti pedagang yang menjual peta menuju kebahagiaan, tetapi setiap kali pembeli tiba di tujuan, ia memberikan peta baru.

Di sinilah tasawuf datang membawa kabar yang terdengar aneh bagi telinga zaman modern.

Para sufi mengatakan bahwa kemuliaan justru lahir dari kesadaran akan kehinaan diri.

Bagi logika dunia, ini terdengar seperti iklan yang salah cetak.

Bagaimana mungkin seseorang menjadi mulia dengan merasa hina?

Bukankah manusia diajarkan untuk percaya diri?

Bukankah kita diminta membangun citra diri yang kuat?

Bukankah seminar motivasi selalu mengajarkan bahwa kita luar biasa?

Ya, benar.

Tetapi para sufi tidak sedang berbicara tentang minder. Mereka berbicara tentang kejujuran eksistensial.

Mereka hanya mengingatkan bahwa manusia adalah makhluk yang aneh: bisa sakit oleh virus yang bahkan tidak terlihat, bisa tumbang oleh satu gigi yang nyeri, dan bisa kehilangan tidur karena pesan WhatsApp yang belum dibalas.

Dengan kondisi seperti itu, terlalu banyak merasa hebat memang agak berisiko.

Seseorang yang sadar akan kelemahannya justru lebih dekat kepada kebenaran.

Ia tidak perlu berpura-pura menjadi raksasa ketika kenyataannya semua manusia sama-sama penumpang di kapal bernama kehidupan.

Syeikh Abul Hasan Asy-Syadzili pernah berkata:

"Aku tidak melihat kemuliaan kecuali dalam kehinaan."

Kalimat ini bukan ajakan menjadi keset yang diinjak orang.

Bukan pula undangan untuk membenci diri sendiri.

Ini lebih mirip cara membersihkan kaca.

Selama kaca dipenuhi debu keakuan, kita tidak bisa melihat cahaya.

Ketika debu itu disapu, cahaya yang sejak tadi ada menjadi terlihat.

Begitu pula hati manusia.

Kadang yang menghalangi kemuliaan bukan kurangnya cahaya Allah, melainkan terlalu tebalnya rasa "aku hebat".

Yang menarik, tasawuf menawarkan strategi yang sangat hemat energi.

Dunia berkata:

"Kejarlah cinta manusia."

Tasawuf berkata:

"Carilah cinta Allah."

Dunia berkata:

"Buat semua orang menyukaimu."

Tasawuf berkata:

"Perbaikilah hubunganmu dengan Tuhan."

Dunia berkata:

"Bangun citra."

Tasawuf berkata:

"Bangun jiwa."

Perbedaannya seperti mengejar bayangan dibanding berjalan menuju matahari.

Semakin kita mengejar bayangan, semakin ia menjauh.

Tetapi ketika kita berjalan menuju matahari, bayangan akan mengikuti dari belakang tanpa diminta.

Demikian pula penghormatan manusia.

Semakin diburu, semakin sulit diperoleh.

Semakin tidak diburu dan diserahkan kepada Allah, sering kali justru datang sendiri.

Hadits qudsi yang menjelaskan bahwa Allah mencintai seorang hamba, lalu Jibril mencintainya, kemudian para malaikat mencintainya, dan akhirnya manusia pun mencintainya, menunjukkan satu rahasia besar.

Kemuliaan sejati bukan hasil kampanye.

Ia adalah efek samping.

Ia bukan tujuan utama, melainkan buah.

Seperti harum bunga.

Bunga tidak sibuk mengejar kupu-kupu.

Ia hanya mekar dengan sempurna.

Kupu-kupu datang sendiri.

Masalah manusia modern adalah kita sering ingin menjadi kupu-kupu yang mengejar kupu-kupu lain.

Akhirnya semua lelah dan tidak ada yang benar-benar mekar.

Inilah mengapa zuhud begitu penting.

Zuhud bukan berarti membenci dunia.

Kalau ada orang mengira zuhud berarti harus hidup kumal, maka mungkin ia sedang salah alamat.

Zuhud bukan soal isi dompet.

Zuhud adalah soal isi hati.

Seseorang bisa memiliki rumah besar tetapi tidak diperbudak rumahnya.

Sebaliknya, seseorang bisa tinggal di kamar kecil tetapi pikirannya diperbudak oleh komentar orang lain.

Yang pertama mungkin zuhud.

Yang kedua belum tentu.

Zuhud adalah kebebasan.

Ia seperti memiliki ponsel tanpa diperintah oleh ponsel.

Menggunakan media sosial tanpa dijadikan budak algoritma.

Memiliki dunia di tangan tanpa menyimpannya di hati.

Pada akhirnya, pesan para sufi sangat sederhana.

Jika engkau mencari kemuliaan dari sesuatu yang akan mati, bersiaplah ikut berduka ketika ia mati.

Jika engkau menggantungkan harga dirimu pada pujian manusia, bersiaplah kehilangan kedamaian ketika pujian itu berubah menjadi celaan.

Tetapi jika engkau menggantungkan dirimu kepada Allah Yang Maha Hidup, engkau sedang menautkan perahumu pada tiang yang tidak akan roboh.

Di tengah dunia yang terus berteriak, "Lihat aku! Lihat aku!", tasawuf berbisik pelan:

"Tidak perlu menjadi pusat perhatian semesta. Cukup jadilah hamba yang dikenal oleh Tuhan."

Dan mungkin, di situlah kemuliaan paling tenang ditemukan.

Bukan ketika seluruh dunia mengenal nama kita.

Melainkan ketika hati kita akhirnya mengenal Tuhannya.

abah-arul.blogspot.com., Juni 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.