Sabtu, 20 Juni 2026

Ketika Dunia Ribut, Jangan Ikut Menjadi Grup WhatsApp

Sebuah Renungan tentang Ketenangan, Rasulullah ﷺ, dan Kebiasaan Manusia Memelihara Kecemasan

Ada satu fenomena aneh dalam kehidupan modern: manusia hari ini memiliki teknologi yang mampu memotret galaksi berjarak jutaan tahun cahaya, tetapi masih panik karena status "sedang mengetik..." yang tidak kunjung berubah menjadi balasan.

Kita hidup di zaman yang sangat kaya informasi sekaligus sangat miskin ketenangan. Setiap pagi, sebelum sempat mengucapkan "Alhamdulillah", sebagian orang sudah mengonsumsi sarapan berupa berita krisis ekonomi, ancaman global, teori konspirasi, ramalan kiamat digital, dan video seseorang yang dengan penuh keyakinan menjelaskan bahwa dunia akan berubah total minggu depan. Minggu depannya? Ternyata dunia masih sama. Yang berubah hanya sumber kecemasannya.

Dalam situasi seperti itu, kajian tentang kemuliaan Rasulullah ﷺ dan kebersamaan Allah terasa seperti menemukan sumur di tengah gurun notifikasi.

Tasbih dan Kesalahan Besar Manusia

Kajian tersebut dimulai dengan kata yang sering kita ucapkan tanpa berpikir panjang: Subhanallah.

Biasanya kata ini keluar ketika melihat pemandangan indah, harga cabai yang turun, atau ketika seseorang berhasil parkir mundur sekali masuk tanpa mengulang.

Padahal para ulama menjelaskan bahwa Subhanallah jauh lebih dalam daripada sekadar ekspresi kagum. Ia adalah pengakuan bahwa Allah Mahasuci dari segala kekurangan, sementara seluruh makhluk hanyalah debu yang sedang berusaha terlihat penting.

Masalahnya, manusia sering mengalami gangguan optik spiritual. Kita melihat diri sendiri seperti tokoh utama film superhero, padahal di hadapan Allah kita lebih mirip figuran yang bahkan tidak tahu seluruh naskah cerita.

Karena itulah Imam Al-Ghazali berbicara tentang fanā': kesadaran bahwa ego manusia hanyalah lilin kecil di bawah matahari. Ia tidak perlu dipukul hingga padam; cukup disadarkan bahwa ada cahaya yang jauh lebih besar.

Ironisnya, banyak kecemasan lahir karena kita ingin menjadi sutradara, produser, penulis skenario, sekaligus pemeran utama kehidupan. Ketika satu adegan tidak berjalan sesuai rencana, kita protes kepada semesta.

Padahal kita bahkan tidak tahu adegan berikutnya.

Gua Tsur dan Psikologi Orang Panik

Salah satu bagian paling menarik dalam kajian adalah kisah Gua Tsur.

Bayangkan situasinya. Rasulullah ﷺ dan Abu Bakar bersembunyi. Musuh sedang mencari. Secara logika manusia, ini adalah momen yang sangat layak untuk panik.

Dan Abu Bakar memang cemas.

Ini kabar baik bagi kita.

Karena ternyata orang saleh pun bisa cemas. Kecemasan bukan dosa. Yang menjadi masalah adalah ketika kecemasan diangkat menjadi menteri utama dalam pemerintahan hati.

Saat itulah Rasulullah ﷺ mengucapkan kalimat yang mungkin menjadi salah satu terapi psikologis paling singkat namun paling dahsyat sepanjang sejarah:

"Jangan bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita."

Menariknya, beliau tidak berkata:

"Tenang, saya sudah membuat rencana cadangan."

Beliau juga tidak berkata:

"Tunggu sebentar, saya cek perkembangan situasi di media sosial."

Beliau mengarahkan perhatian kepada sesuatu yang jauh lebih besar daripada ancaman yang ada: kebersamaan Allah.

Di sinilah letak rahasia ketenangan.

Banyak orang ingin menghilangkan badai agar tenang.

Para nabi justru mengajarkan cara menjadi tenang meskipun badai masih ada.

Hobi Manusia Menghitung Makar

Kajian ini juga membahas tentang makar atau rekayasa musuh.

Dan harus diakui, manusia memang memiliki hobi unik: menghitung kekuatan musuh lebih rajin daripada menghitung pertolongan Allah.

Kita bisa menghafal daftar ancaman dengan sangat detail.

Tetapi ketika ditanya berapa kali Allah menyelamatkan kita dari masalah yang tidak kita sadari, kita mendadak kehilangan data.

Seolah-olah kita bekerja sebagai analis intelijen bagi kecemasan.

Padahal Al-Qur'an berulang kali mengingatkan bahwa sejarah bukanlah pertandingan antara manusia melawan manusia.

Sejarah adalah panggung tempat kehendak Allah bekerja melalui berbagai peristiwa.

Manusia membuat rencana.

Allah menciptakan realitas.

Perbedaannya cukup jauh.

Ibarat anak kecil menggambar perahu kertas lalu merasa sedang bersaing dengan samudra.

Al-Kawtsar dan Cara Allah Membalas Ejekan

Surah Al-Kawtsar adalah contoh lain yang menakjubkan.

Ketika musuh-musuh Nabi ﷺ menganggap beliau akan terlupakan, Allah justru memberikan kabar bahwa merekalah yang akan terputus.

Kalau dipikir-pikir, ini adalah bentuk humor ilahi yang sangat elegan.

Manusia sering sibuk mengukur kemenangan dengan ukuran yang pendek: jumlah pengikut, kekuasaan, popularitas, dan sorotan publik.

Allah menggunakan ukuran yang jauh lebih panjang: keberkahan.

Karena itu ada orang yang memiliki banyak hal tetapi tidak meninggalkan apa-apa.

Ada pula orang yang hidup sederhana namun jejaknya tetap mengalir ribuan tahun kemudian.

Rasulullah ﷺ adalah bukti terbesar bahwa keberkahan lebih kuat daripada propaganda.

Ketenangan Bukan Kasur Empuk

Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang ketenangan adalah menganggapnya sebagai kondisi tanpa masalah.

Padahal ketenangan bukanlah kasur empuk tempat kehidupan berbaring santai.

Ketenangan adalah kompas.

Ia tidak menghilangkan badai, tetapi membuat kapal tidak kehilangan arah.

Rasulullah ﷺ tetap berdakwah ketika ditolak.

Beliau tetap berjuang ketika dikepung.

Beliau tetap optimis ketika situasi tampak mustahil.

Artinya, sakinah bukan obat tidur spiritual.

Sakinah adalah tenaga tambahan untuk bergerak.

Jangan Menjadi Grup WhatsApp di Dalam Kepala

Mungkin pelajaran paling penting dari kajian ini adalah bahwa hati manusia tidak boleh berubah menjadi grup WhatsApp yang tidak pernah berhenti berbunyi.

Ada saatnya berita harus berhenti.

Ada saatnya analisis harus berhenti.

Ada saatnya ketakutan harus berhenti.

Lalu hati kembali mengingat kalimat sederhana yang pernah menguatkan Abu Bakar di dalam gua:

"Innallāha ma'anā."

Allah bersama kita.

Kalimat itu tidak membuat gua menjadi istana.

Tidak membuat musuh langsung menghilang.

Tidak membuat jalan perjuangan menjadi mudah.

Tetapi kalimat itu mengubah sesuatu yang lebih penting: cara memandang seluruh keadaan.

Dan sering kali, ketenangan tidak lahir karena dunia menjadi lebih ramah.

Ketenangan lahir ketika hati akhirnya sadar bahwa di balik seluruh keributan zaman, ada Dzat yang tidak pernah kehilangan kendali.

Maka jika suatu hari dunia kembali gaduh, berita kembali menakutkan, dan pikiran mulai berlarian ke segala arah, mungkin kita tidak perlu menjadi analis konspirasi paruh waktu.

Cukuplah menjadi hamba yang mengingat bahwa Allah masih menjadi Tuhan.

Dan sejauh ini, itu terbukti cukup.

abah-arul.blogspot.com., Juni 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.