Di dunia modern, ada banyak hal yang setengah-setengah. Kopi setengah gula, baterai ponsel setengah terisi, jalan raya setengah jadi, bahkan sinyal internet yang hanya muncul satu batang ketika kita sedang sangat membutuhkannya. Namun menurut pemikir besar Aljazair, Malik bin Nabi, ada satu jenis “setengah” yang jauh lebih berbahaya daripada semua itu: manusia setengah.
Bukan manusia yang tinggi badannya separuh atau yang hanya
muncul dari pinggang ke atas seperti hantu dalam film horor murahan. Yang
dimaksud Malik bin Nabi adalah manusia yang menuntut hak secara penuh, tetapi
melaksanakan kewajiban secara cicilan.
Kalau hak adalah menu prasmanan hotel bintang lima, ia
mengambil semua hidangan sampai piringnya menggunung. Namun ketika kewajiban
datang, ia mendadak menjalankan program diet ketat.
Fenomena ini sebenarnya sangat mudah ditemukan. Ia ada di
mana-mana. Kadang-kadang bahkan muncul di cermin kamar mandi setiap pagi.
Bayangkan seorang mahasiswa yang berapi-api menuntut
fasilitas kampus terbaik, jaringan Wi-Fi tercepat, ruang kelas ber-AC, dan
biaya pendidikan termurah. Semua tuntutan itu sah dan masuk akal. Masalah
muncul ketika mahasiswa yang sama menganggap perpustakaan sebagai tempat tidur
siang alternatif dan menganggap membaca buku sebagai aktivitas yang terlalu
ekstrem.
Ia ingin menjadi sarjana, tetapi tidak terlalu tertarik pada
ilmu.
Mirip seseorang yang ingin menjadi juara maraton dengan cara
menonton pertandingan atletik sambil makan gorengan.
Di dunia kerja, spesies manusia setengah juga berkembang
biak dengan subur. Mereka datang tepat waktu saat absen menggunakan sidik jari,
tetapi menghilang lebih cepat daripada ninja setelah jam masuk tercatat.
Ketika gaji terlambat satu hari, mereka mampu mengingat
seluruh pasal tentang hak pekerja. Namun ketika pekerjaan terlambat satu
minggu, ingatan mereka tiba-tiba mengalami gangguan teknis.
Hak dihafal seperti lagu favorit.
Kewajiban diperlakukan seperti syarat dan ketentuan aplikasi
yang langsung diklik "setuju" tanpa dibaca.
Malik bin Nabi melihat gejala ini bukan sekadar masalah
moral individu. Ia menganggapnya sebagai penyakit peradaban.
Ibarat sebuah kapal besar, bangsa tidak tenggelam hanya
karena badai dari luar. Kapal sering kali tenggelam karena lambungnya sudah
bocor sejak lama. Air masuk sedikit demi sedikit sampai akhirnya kapal yang
megah itu berubah menjadi akuarium raksasa.
Begitu pula sebuah masyarakat.
Kita sering menyalahkan kolonialisme, globalisasi,
kapitalisme, cuaca, zodiak, algoritma media sosial, atau apa saja yang tersedia
untuk disalahkan. Semua faktor itu mungkin memang berpengaruh. Namun Malik bin
Nabi mengajak kita melihat ke arah yang lebih tidak nyaman: ke dalam diri
sendiri.
Ia memperkenalkan gagasan tentang colonisability,
yaitu kondisi batin suatu masyarakat yang membuatnya mudah dijajah atau sulit
bangkit. Dengan kata lain, penjajahan tidak selalu dimulai dari kedatangan
orang asing. Kadang-kadang ia dimulai ketika masyarakat kehilangan disiplin,
etos kerja, tanggung jawab, dan semangat berprestasi.
Seperti rumah yang pintunya terbuka lebar. Pencuri memang
salah karena masuk. Tetapi pemilik rumah juga perlu bertanya mengapa ia
membiarkan pintunya terbuka selama bertahun-tahun.
Yang menarik, manusia setengah biasanya sangat pandai
berbicara tentang perubahan.
Ia menghadiri seminar tentang produktivitas, lalu pulang
untuk menunda pekerjaan.
Ia mengikuti pelatihan kepemimpinan, lalu kembali memimpin
grup WhatsApp menuju kekacauan.
Ia mengunggah kutipan motivasi setiap pagi, tetapi tetap
menunda target hidup sampai esok hari yang tidak pernah datang.
Ia mencintai gagasan besar, asalkan tidak perlu bekerja
keras untuk mewujudkannya.
Padahal sejarah peradaban menunjukkan bahwa kemajuan tidak
dibangun oleh manusia yang sempurna. Ia dibangun oleh manusia yang bersedia
menanggung kewajiban sebelum menikmati hak.
Seorang petani menanam jauh sebelum panen.
Seorang ilmuwan meneliti jauh sebelum mendapat penghargaan.
Seorang guru mengajar jauh sebelum melihat hasilnya.
Bahkan tukang bakso pun memahami hukum peradaban ini. Ia
harus mendorong gerobak terlebih dahulu sebelum menghitung keuntungan. Tidak
pernah ada orang yang memperoleh semangkuk bakso hanya dengan pidato tentang
pentingnya bakso bagi kemajuan bangsa.
Di sinilah kritik Malik bin Nabi terasa begitu relevan.
Kita hidup di zaman ketika semua orang memiliki mikrofon,
tetapi tidak semua orang memiliki kontribusi. Media sosial memberi kemampuan
untuk berbicara kepada ribuan orang, tetapi tidak otomatis memberi kemampuan
untuk menghasilkan sesuatu yang bernilai bagi ribuan orang.
Akibatnya, suara semakin keras, tetapi karya tidak selalu
bertambah.
Tuntutan semakin panjang, tetapi kontribusi sering kali
tetap pendek.
Karena itu, solusi yang ditawarkan Malik bin Nabi sebenarnya
sederhana sekaligus berat. Pendidikan harus kembali membentuk karakter, bukan
sekadar pencetak ijazah. Masyarakat harus lebih menghargai karya daripada
sekadar retorika. Dan setiap individu harus berani bertanya kepada dirinya
sendiri pertanyaan yang agak menyakitkan:
"Apakah saya sedang membangun peradaban, atau hanya
menjadi komentator peradaban?"
Pertanyaan itu memang tidak nyaman.
Namun seperti obat pahit, justru di situlah manfaatnya.
Pada akhirnya, kebangkitan bangsa tidak akan lahir dari
slogan, spanduk, seminar, atau unggahan media sosial semata. Ia lahir ketika
semakin banyak manusia yang berhenti menjadi setengah.
Sebab peradaban ibarat sebuah bangunan besar. Batu bata yang
setengah matang tidak akan menghasilkan rumah yang kokoh. Dan bangsa yang
dipenuhi manusia setengah akan sulit melahirkan peradaban yang utuh.
Mungkin itulah pesan terdalam Malik bin Nabi.
Sebelum kita sibuk bertanya mengapa peradaban belum bangkit,
ada baiknya kita bercermin terlebih dahulu.
Jangan-jangan masalahnya bukan karena kita kekurangan ide
besar.
Jangan-jangan kita hanya terlalu banyak mengoleksi hak,
tetapi terlalu sedikit mengangsur kewajiban.
abah-arul.blogspot.com., Juni 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.