Minggu, 14 Juni 2026

Rousseau, Marx, dan Gramsci Naik Angkot: Sebuah Perjalanan Menuju Kiri Modern

Ada kalanya memahami politik modern terasa seperti membuka lemari tua milik kakek yang sudah meninggal. Kita mencari kaus kaki, tetapi yang ditemukan justru surat cinta tahun 1953, foto hitam-putih tanpa nama, dan kuitansi pembelian kambing yang entah mengapa masih tersimpan rapi.

Begitulah nasib banyak orang ketika mencoba memahami fenomena seperti woke culture, politik identitas, cancel culture, atau berbagai perdebatan budaya yang memenuhi media sosial. Mereka mengira sedang menyaksikan pertengkaran baru, padahal sesungguhnya sedang melihat episode terbaru dari serial yang naskahnya ditulis berabad-abad lalu.

Jika mengikuti kerangka yang ditawarkan sebagian pengamat, serial itu memiliki tiga tokoh utama: Rousseau, Marx, dan Gramsci. Bayangkan ketiganya naik satu angkot yang sama. Rousseau duduk di depan sambil mengeluh tentang kondisi jalan. Marx duduk di tengah sambil menjelaskan mengapa sopir angkot mengeksploitasi penumpang. Sementara Gramsci duduk paling belakang sambil diam-diam menguasai pengeras suara dan memilih lagu yang diputar sepanjang perjalanan.

Rousseau: Ketika Semua Masalah Berawal dari Pagar Rumah

Jean-Jacques Rousseau mungkin adalah orang pertama yang memandang peradaban dengan ekspresi seperti pelanggan restoran yang baru menyadari ada lalat di dalam supnya.

Menurut Rousseau, manusia pada dasarnya baik. Masalah muncul ketika seseorang mulai menunjuk sebidang tanah dan berkata, “Ini milik saya.”

Sejak saat itu, menurutnya, dimulailah parade panjang ketimpangan, keserakahan, dan berbagai bentuk ketidakadilan.

Bila Rousseau hidup hari ini, mungkin ia akan melihat kompleks perumahan berpagar tinggi lalu bergumam, “Nah, ini dia sumber masalahnya.”

Pemikiran Rousseau memiliki daya tarik yang luar biasa karena menyentuh intuisi moral manusia. Hampir semua orang pernah merasa bahwa ada sesuatu yang tidak beres dalam masyarakat. Ada yang bekerja keras tetapi tetap miskin, ada yang melakukan kesalahan tetapi tetap kaya. Dunia kadang terasa seperti permainan monopoli yang sudah dimenangkan orang lain sebelum kita mulai melempar dadu.

Rousseau memberi bahasa bagi perasaan itu.

Namun seperti semua filsuf besar, ia juga meninggalkan warisan yang ambigu. Ketika "kehendak umum" ditempatkan di atas individu, muncul pertanyaan yang cukup mengganggu: siapa yang menentukan apa sebenarnya kehendak umum itu?

Masalahnya mirip rapat keluarga besar. Semua orang mengaku berbicara demi kepentingan bersama, tetapi entah mengapa menu makan siang akhirnya selalu dipilih oleh paman yang paling keras suaranya.

Marx: Akuntan yang Menemukan Revolusi

Jika Rousseau adalah penyair yang mengeluh tentang hujan, Marx adalah insinyur yang datang membawa diagram saluran air.

Marx membaca keluhan-keluhan moral Rousseau lalu berkata, “Baiklah, mari kita lihat mesin di balik semua ini.”

Baginya, masalah bukan sekadar ketidakadilan abstrak. Masalahnya ada pada struktur ekonomi.

Marx seperti mekanik yang membuka kap mobil masyarakat lalu menunjukkan bahwa bunyi aneh yang selama ini didengar ternyata berasal dari mesin yang memang dirancang dengan cara tertentu.

Menurutnya, sejarah bergerak melalui konflik kelas. Kaum pekerja dan kaum pemilik modal bukan sekadar kelompok sosial, melainkan dua kubu dalam pertandingan panjang yang menentukan arah peradaban.

Marx menawarkan sesuatu yang tidak dimiliki Rousseau: sebuah teori besar yang tampak ilmiah.

Dan manusia memang menyukai teori besar.

Kita lebih nyaman mendengar bahwa ada satu penyebab utama di balik semua masalah daripada menerima kenyataan bahwa dunia sering kali berantakan karena seribu sebab kecil yang saling bertabrakan seperti motor di perempatan tanpa lampu lalu lintas.

Di sinilah daya pikat Marx berada. Ia memberikan peta. Dan manusia selalu menyukai peta, terutama ketika sedang tersesat.

Masalahnya, sejarah memiliki kebiasaan buruk: ia jarang mengikuti peta yang dibuat oleh para filsuf.

Gramsci: Ketika Pertempuran Pindah ke Ruang Tamu

Antonio Gramsci datang membawa pengamatan yang sederhana namun tajam.

Ia melihat bahwa kapitalisme ternyata tidak runtuh sebagaimana diprediksi banyak orang.

Lalu ia bertanya, “Mengapa?”

Jawabannya menurut Gramsci cukup mengejutkan.

Masyarakat tidak hanya hidup dari roti, gaji, dan pabrik. Mereka juga hidup dari cerita, simbol, sekolah, lagu, film, buku, dan nilai-nilai yang mereka anggap normal.

Dengan kata lain, manusia bukan hanya makhluk ekonomi. Mereka juga makhluk narasi.

Bayangkan sebuah pertandingan sepak bola.

Jika Marx sibuk merebut stadion, Gramsci justru tertarik pada siapa yang menulis aturan permainan, siapa yang memilih komentator, dan siapa yang menentukan mengapa sebuah gol dianggap sah.

Inilah yang kemudian dikenal sebagai hegemoni budaya.

Menurut Gramsci, kekuasaan sejati tidak selalu datang dari polisi atau tentara. Kadang ia datang dari buku pelajaran, acara televisi, dan obrolan santai saat makan malam.

Karena itulah medan pertempuran bergeser.

Dulu orang berdebat tentang pabrik.

Sekarang orang berdebat tentang kurikulum.

Dulu orang bertengkar tentang kepemilikan tanah.

Sekarang orang bertengkar tentang kata ganti orang.

Perang tidak berhenti. Ia hanya pindah alamat.

Masalah dengan Peta yang Terlalu Sederhana

Kerangka Rousseau-Marx-Gramsci memang menarik.

Ia seperti peta wisata yang membantu kita memahami kota besar hanya dalam satu lembar brosur.

Masalahnya, kota yang sebenarnya jauh lebih rumit.

Di antara Rousseau dan Gramsci terdapat puluhan pemikir lain yang ikut menyumbang batu bata pada bangunan kiri modern. Ada Hegel, Nietzsche, Adorno, Marcuse, Foucault, Derrida, dan banyak nama lain yang membuat mahasiswa filsafat kehilangan waktu tidur menjelang ujian.

Selain itu, tidak semua orang progresif membaca Gramsci sebelum sarapan.

Banyak gerakan sosial lahir bukan dari buku filsafat, melainkan dari pengalaman nyata manusia menghadapi diskriminasi, ketimpangan, atau ketidakadilan.

Menganggap semua fenomena budaya modern sebagai hasil konspirasi intelektual tunggal sama naifnya dengan menganggap seluruh masakan Indonesia berasal dari satu resep nasi goreng.

Menelusuri Silsilah Gagasan

Pada akhirnya, memahami sejarah pemikiran politik mirip menelusuri silsilah keluarga.

Semakin jauh kita mundur ke belakang, semakin kita sadar bahwa banyak kebiasaan hari ini ternyata memiliki leluhur yang sangat tua.

Rousseau mengajarkan kecurigaan terhadap masyarakat.

Marx mengajarkan kecurigaan terhadap ekonomi.

Gramsci mengajarkan kecurigaan terhadap budaya.

Dan manusia modern mewarisi ketiganya sekaligus.

Akibatnya, kita hidup di zaman ketika orang bisa curiga terhadap sistem, pasar, media, sekolah, keluarga, bahkan terhadap cara menu nasi padang disusun di etalase.

Namun di balik semua perdebatan itu terdapat pelajaran yang lebih penting.

Gagasan-gagasan besar tidak pernah benar-benar mati. Mereka hanya berganti pakaian, mengganti istilah, dan membuat akun media sosial baru.

Karena itu, mempelajari Rousseau, Marx, dan Gramsci bukan berarti harus setuju dengan mereka. Sama seperti mempelajari silsilah keluarga bukan berarti kita harus mewarisi semua kebiasaan paman-paman kita yang aneh.

Tetapi tanpa memahami dari mana sebuah gagasan berasal, kita akan mudah mengira bahwa semua yang terjadi hari ini muncul begitu saja dari langit.

Padahal sejarah pemikiran lebih mirip sungai panjang. Air yang kita lihat hari ini mungkin baru, tetapi alirannya sudah berangkat dari hulu yang sangat jauh.

abah-arul.blogspot.com., Juni 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.