Ada kalanya memahami politik modern terasa seperti membuka lemari tua milik kakek yang sudah meninggal. Kita mencari kaus kaki, tetapi yang ditemukan justru surat cinta tahun 1953, foto hitam-putih tanpa nama, dan kuitansi pembelian kambing yang entah mengapa masih tersimpan rapi.
Begitulah nasib banyak orang ketika mencoba memahami
fenomena seperti woke culture, politik identitas, cancel culture,
atau berbagai perdebatan budaya yang memenuhi media sosial. Mereka mengira
sedang menyaksikan pertengkaran baru, padahal sesungguhnya sedang melihat
episode terbaru dari serial yang naskahnya ditulis berabad-abad lalu.
Jika mengikuti kerangka yang ditawarkan sebagian pengamat,
serial itu memiliki tiga tokoh utama: Rousseau, Marx, dan Gramsci. Bayangkan
ketiganya naik satu angkot yang sama. Rousseau duduk di depan sambil mengeluh
tentang kondisi jalan. Marx duduk di tengah sambil menjelaskan mengapa sopir
angkot mengeksploitasi penumpang. Sementara Gramsci duduk paling belakang
sambil diam-diam menguasai pengeras suara dan memilih lagu yang diputar
sepanjang perjalanan.
Rousseau: Ketika Semua Masalah Berawal dari Pagar Rumah
Jean-Jacques Rousseau mungkin adalah orang pertama yang
memandang peradaban dengan ekspresi seperti pelanggan restoran yang baru
menyadari ada lalat di dalam supnya.
Menurut Rousseau, manusia pada dasarnya baik. Masalah muncul
ketika seseorang mulai menunjuk sebidang tanah dan berkata, “Ini milik saya.”
Sejak saat itu, menurutnya, dimulailah parade panjang
ketimpangan, keserakahan, dan berbagai bentuk ketidakadilan.
Bila Rousseau hidup hari ini, mungkin ia akan melihat
kompleks perumahan berpagar tinggi lalu bergumam, “Nah, ini dia sumber
masalahnya.”
Pemikiran Rousseau memiliki daya tarik yang luar biasa
karena menyentuh intuisi moral manusia. Hampir semua orang pernah merasa bahwa
ada sesuatu yang tidak beres dalam masyarakat. Ada yang bekerja keras tetapi
tetap miskin, ada yang melakukan kesalahan tetapi tetap kaya. Dunia kadang
terasa seperti permainan monopoli yang sudah dimenangkan orang lain sebelum
kita mulai melempar dadu.
Rousseau memberi bahasa bagi perasaan itu.
Namun seperti semua filsuf besar, ia juga meninggalkan
warisan yang ambigu. Ketika "kehendak umum" ditempatkan di atas
individu, muncul pertanyaan yang cukup mengganggu: siapa yang menentukan apa
sebenarnya kehendak umum itu?
Masalahnya mirip rapat keluarga besar. Semua orang mengaku
berbicara demi kepentingan bersama, tetapi entah mengapa menu makan siang
akhirnya selalu dipilih oleh paman yang paling keras suaranya.
Marx: Akuntan yang Menemukan Revolusi
Jika Rousseau adalah penyair yang mengeluh tentang hujan,
Marx adalah insinyur yang datang membawa diagram saluran air.
Marx membaca keluhan-keluhan moral Rousseau lalu berkata,
“Baiklah, mari kita lihat mesin di balik semua ini.”
Baginya, masalah bukan sekadar ketidakadilan abstrak.
Masalahnya ada pada struktur ekonomi.
Marx seperti mekanik yang membuka kap mobil masyarakat lalu
menunjukkan bahwa bunyi aneh yang selama ini didengar ternyata berasal dari
mesin yang memang dirancang dengan cara tertentu.
Menurutnya, sejarah bergerak melalui konflik kelas. Kaum
pekerja dan kaum pemilik modal bukan sekadar kelompok sosial, melainkan dua
kubu dalam pertandingan panjang yang menentukan arah peradaban.
Marx menawarkan sesuatu yang tidak dimiliki Rousseau: sebuah
teori besar yang tampak ilmiah.
Dan manusia memang menyukai teori besar.
Kita lebih nyaman mendengar bahwa ada satu penyebab utama di
balik semua masalah daripada menerima kenyataan bahwa dunia sering kali
berantakan karena seribu sebab kecil yang saling bertabrakan seperti motor di
perempatan tanpa lampu lalu lintas.
Di sinilah daya pikat Marx berada. Ia memberikan peta. Dan
manusia selalu menyukai peta, terutama ketika sedang tersesat.
Masalahnya, sejarah memiliki kebiasaan buruk: ia jarang
mengikuti peta yang dibuat oleh para filsuf.
Gramsci: Ketika Pertempuran Pindah ke Ruang Tamu
Antonio Gramsci datang membawa pengamatan yang sederhana
namun tajam.
Ia melihat bahwa kapitalisme ternyata tidak runtuh
sebagaimana diprediksi banyak orang.
Lalu ia bertanya, “Mengapa?”
Jawabannya menurut Gramsci cukup mengejutkan.
Masyarakat tidak hanya hidup dari roti, gaji, dan pabrik.
Mereka juga hidup dari cerita, simbol, sekolah, lagu, film, buku, dan
nilai-nilai yang mereka anggap normal.
Dengan kata lain, manusia bukan hanya makhluk ekonomi.
Mereka juga makhluk narasi.
Bayangkan sebuah pertandingan sepak bola.
Jika Marx sibuk merebut stadion, Gramsci justru tertarik
pada siapa yang menulis aturan permainan, siapa yang memilih komentator, dan
siapa yang menentukan mengapa sebuah gol dianggap sah.
Inilah yang kemudian dikenal sebagai hegemoni budaya.
Menurut Gramsci, kekuasaan sejati tidak selalu datang dari
polisi atau tentara. Kadang ia datang dari buku pelajaran, acara televisi, dan
obrolan santai saat makan malam.
Karena itulah medan pertempuran bergeser.
Dulu orang berdebat tentang pabrik.
Sekarang orang berdebat tentang kurikulum.
Dulu orang bertengkar tentang kepemilikan tanah.
Sekarang orang bertengkar tentang kata ganti orang.
Perang tidak berhenti. Ia hanya pindah alamat.
Masalah dengan Peta yang Terlalu Sederhana
Kerangka Rousseau-Marx-Gramsci memang menarik.
Ia seperti peta wisata yang membantu kita memahami kota
besar hanya dalam satu lembar brosur.
Masalahnya, kota yang sebenarnya jauh lebih rumit.
Di antara Rousseau dan Gramsci terdapat puluhan pemikir lain
yang ikut menyumbang batu bata pada bangunan kiri modern. Ada Hegel, Nietzsche,
Adorno, Marcuse, Foucault, Derrida, dan banyak nama lain yang membuat mahasiswa
filsafat kehilangan waktu tidur menjelang ujian.
Selain itu, tidak semua orang progresif membaca Gramsci
sebelum sarapan.
Banyak gerakan sosial lahir bukan dari buku filsafat,
melainkan dari pengalaman nyata manusia menghadapi diskriminasi, ketimpangan,
atau ketidakadilan.
Menganggap semua fenomena budaya modern sebagai hasil
konspirasi intelektual tunggal sama naifnya dengan menganggap seluruh masakan
Indonesia berasal dari satu resep nasi goreng.
Menelusuri Silsilah Gagasan
Pada akhirnya, memahami sejarah pemikiran politik mirip
menelusuri silsilah keluarga.
Semakin jauh kita mundur ke belakang, semakin kita sadar
bahwa banyak kebiasaan hari ini ternyata memiliki leluhur yang sangat tua.
Rousseau mengajarkan kecurigaan terhadap masyarakat.
Marx mengajarkan kecurigaan terhadap ekonomi.
Gramsci mengajarkan kecurigaan terhadap budaya.
Dan manusia modern mewarisi ketiganya sekaligus.
Akibatnya, kita hidup di zaman ketika orang bisa curiga
terhadap sistem, pasar, media, sekolah, keluarga, bahkan terhadap cara menu
nasi padang disusun di etalase.
Namun di balik semua perdebatan itu terdapat pelajaran yang
lebih penting.
Gagasan-gagasan besar tidak pernah benar-benar mati. Mereka
hanya berganti pakaian, mengganti istilah, dan membuat akun media sosial baru.
Karena itu, mempelajari Rousseau, Marx, dan Gramsci bukan
berarti harus setuju dengan mereka. Sama seperti mempelajari silsilah keluarga
bukan berarti kita harus mewarisi semua kebiasaan paman-paman kita yang aneh.
Tetapi tanpa memahami dari mana sebuah gagasan berasal, kita
akan mudah mengira bahwa semua yang terjadi hari ini muncul begitu saja dari
langit.
Padahal sejarah pemikiran lebih mirip sungai panjang. Air
yang kita lihat hari ini mungkin baru, tetapi alirannya sudah berangkat dari
hulu yang sangat jauh.
abah-arul.blogspot.com., Juni 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.