Di televisi, geopolitik sering tampil seperti film laga. Ada kapal induk, rudal hipersonik, konferensi pers dengan wajah tegang, dan peta digital penuh panah merah. Semua tampak besar, serius, dan mahal. Sangat mahal. Bahkan mungkin lebih mahal daripada harga kopi di bandara.
Namun, sesungguhnya dunia internasional kadang bekerja
seperti grup WhatsApp keluarga besar: orang yang dulu pernah membantu pindahan
rumah akan lebih cepat dibalas pesannya dibanding orang yang cuma muncul saat
butuh pinjaman.
Kisah tentang hubungan Jepang dan Iran adalah contohnya.
Tahun 2026, ketika Amerika Serikat dan Iran kembali
bertengkar di Teluk Persia, dunia panik. Selat Hormuz—urat nadi minyak
dunia—ditutup Iran. Negara-negara pendukung AS dilarang lewat. Harga minyak
mulai menari seperti cabe rawit menjelang Lebaran.
Semua tegang.
Semua takut.
Semua menghitung berapa lama ekonomi dunia bisa bertahan
sebelum masyarakat mulai mengeluh, “Kenapa ongkir naik lagi?”
Namun di tengah ketegangan itu, satu kapal tanker Jepang
melenggang santai seperti orang dalam kompleks yang tetap boleh lewat portal
saat warga lain dicegat satpam.
Namanya Idemitsu Maru.
Iran mempersilahkannya lewat.
Bayangkan kekacauan para analis geopolitik.
Mereka mungkin sudah menyiapkan model simulasi perang,
algoritma blokade, dan grafik ketahanan energi. Lalu tiba-tiba muncul kenyataan
absurd:
“Maaf, yang ini boleh lewat. Mereka teman lama.”
Dunia ternyata tidak sepenuhnya diatur oleh teori hubungan
internasional. Kadang ia diatur oleh ingatan.
Dan Iran punya ingatan panjang.
Kita mundur ke tahun 1953.
Saat itu Iran sedang melawan Inggris soal minyak. Perdana
Menteri Mohammad Mossadegh menasionalisasi industri minyak Iran yang selama ini
dikuasai perusahaan Inggris. Inggris marah besar. Blokade dilakukan. Iran
diperlakukan seperti tukang bakso yang tiba-tiba mengambil kembali gerobaknya
sendiri lalu dimarahi seluruh kompleks.
Negara-negara lain ketakutan.
Tak ada yang berani membeli minyak Iran.
Semua menjaga jarak seperti teman yang melihat kita sedang
bermasalah dengan debt collector.
Kecuali Jepang.
Sebuah perusahaan Jepang bernama Idemitsu Kosan mengirim
kapal Nissho Maru untuk membeli minyak Iran meski Inggris marah. Kapal
itu menembus blokade. Datang saat Iran sendirian. Dan dalam politik
internasional, datang saat seseorang sendirian nilainya lebih tinggi daripada
seribu pidato persahabatan di forum internasional.
Iran tidak lupa.
Tujuh puluh tiga tahun kemudian, memori itu muncul lagi.
Ini menarik. Karena manusia modern sering berkata dunia kini
rasional, pragmatis, dan berbasis kepentingan. Padahal kenyataannya, negara pun
kadang menyimpan perasaan seperti mantan yang masih ingat siapa yang dulu
menemani saat rekening tinggal dua digit.
Geopolitik ternyata bukan hanya soal senjata.
Ia juga soal memori emosional yang dibungkus kalkulasi
ekonomi.
Tentu saja Iran bukan sedang menulis puisi romantis untuk
Jepang. Ini bukan drama Korea versi tanker minyak. Iran tetap pragmatis. Dengan
memberi pengecualian kepada Jepang, Iran sekaligus mengirim pesan halus kepada
dunia:
“Kami masih bisa memilih siapa teman dan siapa yang hanya
ikut-ikutan Amerika.”
Dan Jepang sendiri bukan sekadar teman nostalgia.
Ia adalah mesin industri raksasa yang hidup dari energi
Teluk. Tanpa minyak dari Hormuz, ekonomi Jepang bisa megap-megap seperti kipas
angin tua yang dipaksa mendinginkan satu stadion.
Di sinilah cerita menjadi lebih lucu sekaligus ironis.
Jepang adalah salah satu pemegang terbesar obligasi utang
Amerika Serikat.
Artinya, negara yang menjadi sekutu utama AS justru juga
salah satu kreditur terbesarnya.
Jadi hubungan mereka sebenarnya agak mirip:
“Dia sahabat saya.”
“Dan dia juga memegang surat utang saya.”
Dalam hidup biasa, ini disebut hubungan yang rumit.
Amerika tentu tidak ingin Jepang terguncang akibat krisis
energi. Karena kalau ekonomi Jepang goyah, Jepang mungkin perlu menjual
obligasi AS untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Dan kalau itu terjadi, pasar
keuangan Amerika bisa ikut bergetar seperti speaker hajatan yang tersenggol
anak kecil.
Maka diamnya AS terhadap pengecualian Iran kepada Jepang
bukanlah toleransi penuh cinta kasih universal.
Itu matematika.
Matematika sering lebih kuat daripada ideologi.
Karena pada akhirnya, misil bisa mengintimidasi negara lain,
tetapi pasar obligasi bisa membuat negara adidaya susah tidur.
Kisah ini memberi pelajaran menarik.
Pertama, dunia internasional punya ingatan lebih panjang
daripada netizen. Negara bisa menunggu puluhan tahun untuk membayar utang budi.
Kadang sejarah bekerja seperti rendang: makin lama disimpan, makin pekat
rasanya.
Kedua, aliansi internasional sering lebih cair daripada
slogan konferensi pers. Hari ini sekutu, besok berselisih. Hari ini musuh,
besok berdagang lagi. Politik global kadang mirip pertandingan sepak bola antar
kampung: habis berantem di lapangan, malamnya tetap makan sate bersama.
Ketiga, ekonomi adalah filsafat paling jujur dalam
geopolitik.
Negara boleh bicara tentang moral, demokrasi, keamanan, dan
stabilitas global. Tetapi di ruang rapat yang pintunya tertutup rapat,
pertanyaan sebenarnya sering cuma:
“Kalau dia jatuh, utang siapa yang ikut goyang?”
Mungkin itu sebabnya dunia tidak pernah benar-benar hitam
putih.
Karena bahkan di tengah ancaman perang, blokade laut, dan
pidato penuh amarah, selalu ada satu kapal tanker yang diizinkan lewat.
Dan kadang, nasib dunia ternyata ditentukan oleh sesuatu
yang sangat sederhana:
siapa yang dulu datang ketika semua orang lain pergi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.