Ada mitos besar yang sangat disukai manusia modern: bahwa sejarah digerakkan oleh orang-orang jenius. Kita membayangkan dunia berubah karena seorang ilmuwan duduk sendirian di loteng sambil rambutnya berdiri seperti kesetrum galon bocor. Newton di bawah pohon apel. Einstein dengan lidah menjulur. Leonardo da Vinci menggambar helikopter ketika tetangganya masih sibuk memperdebatkan bentuk sendal.
Padahal, kalau dipikir-pikir, manusia tidak pernah
benar-benar sepintar itu secara individual.
Coba lihat grup WhatsApp keluarga.
Di sana kita akan menemukan fakta antropologis yang
menyentuh: spesies yang berhasil membuat roket ke Mars ternyata masih bisa
percaya bahwa minum air rebusan paku payung dapat menyembuhkan semua penyakit
kecuali cicilan motor.
Di sinilah pemikiran Matt Ridley dalam The Rational
Optimist terasa seperti tamparan lembut memakai sandal hotel. Ia mengatakan
bahwa kemajuan manusia bukan terjadi karena otak kita makin cerdas, melainkan
karena manusia mulai saling terhubung dan bertukar ide. Bukan IQ yang terutama
mengubah dunia, melainkan koneksi.
Singkatnya: peradaban lahir bukan dari manusia yang paling
pintar, tetapi dari manusia yang mau ngobrol.
190.000 Tahun: Lama Sekali untuk Tidak Upgrade
Hal paling lucu dalam sejarah manusia adalah ini: selama
sekitar 190.000 tahun, manusia modern sebenarnya sudah memiliki otak yang
kurang lebih sama dengan kita sekarang. Artinya, nenek moyang kita secara
biologis mungkin cukup cerdas untuk membuat aplikasi transportasi online.
Masalahnya, mereka belum punya investor.
Selama ribuan generasi, manusia hidup hampir tanpa kemajuan
berarti. Teknologi jalan di tempat. Inovasi seret. Peradaban seperti laptop tua
yang membuka Microsoft Word saja sudah ngos-ngosan.
Lalu sekitar 50.000 tahun lalu, sesuatu berubah.
Manusia mulai bepergian lebih jauh. Bertemu kelompok lain.
Berdagang. Bertukar cerita, alat, bahasa, dan mungkin juga gosip antarsuku.
Dan dari situlah keajaiban muncul.
Ridley memakai metafora yang sangat nakal namun akurat: ideas
having sex — ide-ide berhubungan seks.
Bayangkan satu suku punya tombak bagus, suku lain punya
teknik mengikat yang kuat. Ketika keduanya bertemu, lahirlah tombak yang lebih
mematikan. Mungkin setelah itu mereka juga bertukar resep sup rusa dan teori
konspirasi tentang kepala suku tetangga.
Peradaban ternyata bekerja seperti dapur nasi goreng. Tidak
ada bahan yang istimewa sendirian. Bawang kalau sendirian hanya membuat mata
pedih. Cabai sendirian cuma bikin panas. Tetapi ketika semuanya dipertemukan di
wajan sosial bernama “interaksi manusia”, muncullah sesuatu yang membuat hidup
lebih nikmat.
Kemajuan adalah tumisan kolektif.
Tasmania: Tragedi Orang yang Terlalu Menutup Diri
Kasus Tasmania mungkin adalah salah satu eksperimen sosial
paling menyeramkan dalam sejarah manusia.
Ketika permukaan laut naik sekitar 10.000 tahun lalu,
Tasmania terpisah dari Australia. Penduduk di sana hidup terisolasi selama
ribuan tahun. Tidak ada internet. Tidak ada perdagangan. Tidak ada tetangga
yang datang pinjam garam sambil membawa gosip terbaru.
Dan yang terjadi justru mengejutkan.
Mereka bukan hanya berhenti berkembang—mereka malah
kehilangan teknologi yang sebelumnya sudah dimiliki. Kemampuan membuat alat
tulang hilang. Jaring ikan hilang. Cara membuat pakaian menghilang. Bahkan
kemampuan menyalakan api pun perlahan lenyap.
Bayangkan ironi ini: manusia dengan otak modern, tetapi lupa
cara bikin api.
Itu seperti seseorang punya smartphone paling canggih,
tetapi lupa password Wi-Fi.
Tasmania mengajarkan sesuatu yang agak menyedihkan:
pengetahuan ternyata bukan milik individu. Pengetahuan adalah milik jaringan.
Ia hidup karena dibicarakan, diajarkan, dipraktikkan bersama. Jika hubungan
antarmanusia putus, pengetahuan ikut keriput seperti kerupuk kena hujan.
Kita sering membayangkan ilmu sebagai benda padat seperti
emas yang bisa disimpan sendirian di brankas. Padahal ilmu lebih mirip lagu
dangdut hajatan—ia hanya hidup kalau terus dimainkan di tengah keramaian.
Dunia Modern: Banyak Koneksi, Sedikit Pertemuan
Ironinya, di tahun 2026 manusia lebih terkoneksi daripada
sebelumnya, tetapi sering kali lebih terisolasi secara mental.
Kita punya media sosial yang memungkinkan berbicara dengan
orang di benua lain, namun algoritma justru membuat kita terjebak di kamar
gema. Kita hanya mendengar pendapat yang sama dengan pendapat kita sendiri.
Akibatnya, internet kadang seperti pesta besar di mana semua
orang berteriak tetapi tidak ada yang benar-benar mendengar.
Padahal inovasi lahir dari tabrakan ide yang berbeda.
Silicon Valley menjadi pusat teknologi bukan semata karena
banyak orang jenius, tetapi karena di sana programmer, ilmuwan, investor,
seniman, dan orang-orang aneh yang tidur hanya dua jam sehari bercampur menjadi
satu sup intelektual raksasa.
Peradaban maju ketika ide saling bertabrakan dengan gembira,
bukan ketika masing-masing duduk di bunker ideologinya sendiri sambil curiga
kepada semua orang.
Menjadi Pintar atau Menjadi Penghubung?
Di sekolah, kita diajarkan untuk menjadi murid paling
pintar. Ranking satu dipuja seperti nabi matematika kecil. Tetapi dunia nyata
sering lebih ramah kepada orang yang mampu menghubungkan banyak hal.
Orang sukses sering bukan yang paling jenius, melainkan yang
berada di persimpangan ide terbanyak.
Mereka yang bisa berbicara dengan berbagai kalangan. Yang
mau mendengar. Yang tidak alergi pada perspektif baru.
Karena ide besar sering lahir dari pernikahan aneh antara
dua hal yang tampaknya tidak berhubungan.
Kadang filsafat bertemu teknologi lalu lahirlah AI.
Kadang psikologi bertemu pemasaran lalu lahirlah iklan
skincare yang membuat orang merasa hidupnya gagal hanya karena pori-pori.
Kadang tasawuf bertemu dunia modern lalu lahirlah kesadaran
bahwa manusia ternyata bukan kekurangan informasi, melainkan kekurangan
kejernihan batin.
Hidup modern membuat kita mengumpulkan data seperti kolektor
perangko digital. Tetapi kebijaksanaan lahir bukan dari banyaknya informasi,
melainkan dari kemampuan menyambungkan titik-titik.
Koneksi Juga Bisa Menularkan Kegilaan
Tentu saja, konektivitas bukan malaikat tanpa dosa.
Jaringan yang sama yang menyebarkan ilmu juga menyebarkan
hoaks. Perdagangan yang membawa kemakmuran juga membawa wabah. Media sosial
yang menghubungkan manusia juga bisa mengubah orang biasa menjadi komentator
geopolitik dadakan setelah menonton video tiga menit.
Jadi Ridley memang terlalu optimis jika menganggap
pertukaran ide otomatis menghasilkan kemajuan.
Kadang ide-ide juga kawin silang lalu melahirkan monster.
Tetapi tetap saja, isolasi hampir selalu lebih buruk. Air
yang mengalir bisa keruh, tetapi air yang diam terlalu lama berubah menjadi
rawa.
Masa Depan Milik Orang yang Mau Membuka Pintu
Pada akhirnya, sejarah manusia mungkin bukan kisah para
genius tunggal, melainkan kisah jutaan percakapan kecil.
Percakapan di pasar.
Di pelabuhan.
Di warung kopi.
Di kampus.
Di ruang obrolan internet.
Bahkan mungkin di kolom komentar yang biasanya lebih panas daripada neraka
birokrasi.
Peradaban tumbuh ketika manusia saling bertukar
sesuatu—barang, cerita, bahasa, pengalaman, bahkan cara memandang hidup.
Karena itu, ancaman terbesar manusia modern mungkin bukan
kurangnya kecerdasan, melainkan keinginan untuk menutup diri.
Tasmania memberi kita pelajaran pahit: ketika jaringan
putus, pengetahuan ikut padam.
Dan mungkin di situlah makna terdalam menjadi manusia: kita
tidak diciptakan untuk hidup sebagai otak yang terisolasi, melainkan sebagai
simpul dalam jaringan besar pertukaran makna.
Masa depan bukan milik orang yang paling keras berkata “aku
paling benar.”
Masa depan milik mereka yang cukup rendah hati untuk
berkata:
“Menarik juga idemu. Coba kita ngobrol sambil ngopi.”
abah-arul.blogspot.com., Mei 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.