Ada sesuatu yang lucu dalam sejarah manusia: setiap kali kekaisaran mulai megap-megap, selalu muncul dua jenis manusia. Yang pertama sibuk membeli emas. Yang kedua sibuk berkata, “Tenang, teknologi akan menyelamatkan kita.”
Yang pertama biasanya tampak seperti kakek-kakek yang
menyimpan beras di gudang. Yang kedua biasanya memakai hoodie hitam, bicara
tentang masa depan, lalu menamai anaknya seperti password WiFi.
Dalam utas panjangnya, akun The PenguinBTC mencoba
menjelaskan bahwa Amerika Serikat sedang berdiri di tepi jurang sejarah.
Utangnya mencapai puluhan triliun dolar. Pembayaran bunganya bahkan lebih besar
dari anggaran pertahanan. Ini seperti seseorang yang cicilan kartu kreditnya
sudah lebih mahal daripada biaya makan keluarganya, tetapi ia tetap membeli
drone dan langganan Netflix Ultra HD.
Masalahnya bukan sekadar utang. Negara besar bisa hidup
dengan utang, sebagaimana banyak mahasiswa hidup dengan mi instan dan harapan
palsu. Masalah muncul ketika bunga utang mulai memakan seluruh tenaga ekonomi.
Negara bekerja bukan lagi untuk membangun masa depan, tetapi hanya untuk
membayar masa lalu.
Di titik inilah teori “keruntuhan kekaisaran” mulai muncul.
Ray Dalio menggambarkannya seperti siklus hidup manusia: lahir, kuat, kaya,
sombong, berutang, lalu perlahan digantikan generasi baru. Kekaisaran pun
ternyata punya umur seperti gorengan—ada masa renyahnya, ada masa masuk angin
minyak.
Amerika selama puluhan tahun menikmati privilese luar biasa
karena dolar menjadi mata uang dunia. Dunia membeli minyak memakai dolar. Dunia
menyimpan cadangan memakai dolar. Dunia panik pun tetap membeli obligasi dolar.
Ini seperti seseorang yang selalu dipercaya jadi bendahara RT meskipun
dompetnya sudah berbunyi kosong.
Namun sekarang, sebagian negara mulai melirik emas, yuan,
bahkan aset digital. Petrodolar yang dulu seperti tiang utama rumah global
mulai terdengar berderit kecil. Belum roboh, memang. Tetapi bunyinya sudah
seperti lemari tua yang dipaksa menyimpan terlalu banyak rahasia.
Lalu masuklah tokoh paling modern dalam cerita ini: AI.
Di sinilah utas The PenguinBTC berubah dari dokumenter
ekonomi menjadi nyaris seperti anime futuristik.
Argumennya sederhana tetapi bombastis: bagaimana jika utang
tidak dibayar, melainkan “dilarutkan” lewat inflasi? Dan bagaimana jika inflasi
itu tidak menghancurkan rakyat karena AI membuat produksi barang melimpah ruah?
Secara teori, memang ada logikanya. Jika produktivitas
melonjak sangat tinggi, harga barang bisa tetap stabil walau uang beredar
meningkat. Jika robot bekerja tanpa tidur, AI menulis kode tanpa ngopi, dan
pabrik berjalan otomatis, maka biaya produksi bisa jatuh drastis.
Masalahnya, teori ekonomi sering terdengar sangat masuk akal
sampai bertemu manusia sungguhan.
Karena manusia bukan spreadsheet.
Bayangkan sebuah kota di mana AI menggantikan jutaan
pekerjaan. Barang memang murah. Robot memasak. Mobil tanpa sopir. Gudang
otomatis. Bahkan mungkin nanti ada AI yang bisa pura-pura peduli pada curhatan
kita jam satu malam.
AI memang bisa menjadi mesin produktivitas terbesar dalam
sejarah. Tetapi sejarah juga mengajarkan bahwa setiap revolusi teknologi selalu
punya “korban transisi.” Revolusi industri membuat banyak tukang tenun
bangkrut. Internet menghancurkan koran. Streaming membuat tukang rental DVD
pensiun spiritual.
Jadi membayangkan AI datang tanpa gejolak sosial sama
optimistisnya dengan berharap grup WhatsApp keluarga bisa bebas hoaks menjelang
pemilu.
Hal paling menarik dari utas tersebut sebenarnya bukan
prediksinya, melainkan suasana batinnya.
Ia mencerminkan kegelisahan zaman modern: kita sadar sistem
lama mulai retak, tetapi kita belum tahu apakah teknologi baru akan menjadi
jembatan… atau justru mempercepat kita jatuh ke jurang.
Dan mungkin memang begitu cara sejarah bekerja.
Kekaisaran jarang runtuh seperti gedung dalam film
Hollywood. Mereka lebih sering seperti rumah tua yang pelan-pelan bocor:
awalnya ember kecil di sudut ruangan, lalu rayap di pintu, lalu lampu berkedip,
sampai suatu hari penghuni sadar bahwa fondasinya sudah lelah menopang terlalu
banyak cerita.
Namun manusia modern punya kebiasaan unik: setiap kali
melihat retakan, ia segera membuat aplikasi.
Mungkin itu sebabnya AI hari ini diperlakukan seperti mesias
digital. Semua masalah ditempeli solusi AI. Pendidikan? AI. Ekonomi? AI.
Kesehatan? AI. Kesepian? AI. Tinggal tunggu ada startup yang menjanjikan “AI
untuk memperbaiki hubungan dengan mantan.”
Padahal teknologi hanyalah alat. Pisau bisa dipakai memasak
atau menikam. AI bisa meningkatkan produktivitas atau memperbesar ketimpangan.
Mesin tidak punya moral. Yang punya moral tetap manusia—makhluk yang bahkan
saat diberi internet super cepat masih sibuk berdebat soal nanas di pizza.
Pada akhirnya, utas The PenguinBTC layak dibaca bukan karena
ia pasti benar, tetapi karena ia memaksa kita berpikir tentang sesuatu yang
sering disembunyikan oleh optimisme resmi: bahwa sistem global tidak abadi.
Mungkin dunia tidak akan kiamat besok pagi. Kemungkinan
terbesar justru sesuatu yang lebih membosankan namun lebih nyata: erosi
perlahan. Dominasi yang memudar sedikit demi sedikit. Dunia multipolar.
Persaingan AI. Inflasi yang naik turun seperti emosi investor kripto.
Tetapi justru di situlah pelajaran filsafatnya.
Peradaban modern terlalu lama percaya bahwa pertumbuhan
ekonomi adalah hukum alam, padahal ia hanyalah kesepakatan kolektif yang dijaga
oleh kepercayaan. Dan kepercayaan manusia itu rapuh. Kadang lebih rapuh
daripada sinyal WiFi saat hujan.
Karena itu, mungkin kebijaksanaan terbaik di era ini bukan
menjadi nabi kiamat atau fanatik teknologi, melainkan menjadi manusia yang
cukup tenang untuk berpikir jernih di tengah kebisingan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.