Ada masa ketika seorang ayah adalah manusia paling sakti di dunia. Ia bisa memperbaiki kipas angin dengan diketuk pakai sendal. Ia bisa menyembuhkan demam hanya dengan kalimat, “Sudah, besok juga sembuh.” Ia bisa mengangkat galon, tabung gas, dan harga diri keluarga sekaligus.
Namun zaman berubah. Perlahan-lahan, ayah pensiun dari
status “superhero” menjadi sesuatu yang lebih menyedihkan: notifikasi WhatsApp
yang dibaca tiga jam kemudian dengan balasan, “Maaf Pa, lagi sibuk.”
Begitulah rasa getir yang mengendap dalam kisah Pascal,
seorang ayah 67 tahun yang mendadak menemukan dirinya berubah dari “Papa”
menjadi “gangguan teknis.” Sejenis pop-up kehidupan yang dianggap menghambat
produktivitas anak modern.
Pascal bukan ayah sinetron yang suka pidato sambil batuk
darah. Ia tipe ayah biasa: bekerja, menolong, diam-diam berkorban, lalu
pura-pura kuat seperti tembok rumah yang retaknya ditutup kalender. Ketika
anaknya, Julien, butuh uang 4.000 euro untuk membeli mobil baru, Pascal memberi
tanpa banyak drama. Sebab bagi orang tua, dompet sering kali punya logika
berbeda. Kalau anak minta bantuan, matematika mendadak berubah menjadi tasawuf:
angka hilang, cinta muncul.
Ironisnya, mobil itu mungkin lebih cepat datang ke rumah
dibanding rasa terima kasih.
Lalu tibalah adegan yang membuat dada pembaca seperti
ketindihan kulkas dua pintu. Pascal jatuh dan patah tulang. Ia menelepon
anaknya. Jarak rumah mereka hanya sepuluh menit. Bahkan mie instan saja butuh
waktu lebih lama untuk matang.
Tetapi jawaban Julien terdengar seperti pintu ATM yang
menelan kartu terakhir harapan manusia:
“Papa, panggil taksi saja. Aku bukan sopirmu.”
Kalimat itu pendek. Tidak ada makian. Tidak ada ledakan
emosi. Tetapi justru di situlah kengeriannya. Kadang hidup tidak menghancurkan
kita dengan petir. Ia cukup memakai satu kalimat datar yang dingin seperti AC
kantor pajak.
“Aku bukan sopirmu.”
Sebuah redefinisi hubungan dalam tujuh kata.
Tiba-tiba seluruh masa kecil Julien seperti dihapus oleh
algoritma efisiensi modern. Semua perjalanan sekolah, semua antar jemput les,
semua malam ketika Pascal menggendong anaknya demam ke rumah sakit—semuanya
seperti berubah status menjadi “layanan transportasi tidak berbayar.”
Lucunya, generasi modern sangat ahli berbicara tentang boundaries
dan kesehatan mental, tetapi kadang lupa bahwa orang tua juga manusia. Kita
rajin berkata, “Jangan toxic.” Namun kita sendiri bisa berubah menjadi racun
kecil yang menetes pelan dalam kesepian orang tua.
Masyarakat hari ini memang aneh. Kita bisa menghabiskan dua
jam memilih filter Instagram agar terlihat “authentic,” tetapi hanya memberi
lima menit untuk menelepon ibu sendiri. Kita hafal jadwal diskon e-commerce,
tetapi lupa ulang tahun ayah. Kita tahu kapan idol Korea ulang comeback, tapi
tidak tahu kapan orang tua terakhir kali tertawa lepas.
Modernitas kadang seperti apartemen mewah tanpa ruang tamu:
semua orang punya kamar sendiri, tapi tidak ada lagi tempat untuk benar-benar
duduk bersama.
Yang paling menyakitkan dari cerita Pascal bukanlah patah
tulangnya. Tulang bisa menyambung. Yang sulit menyambung adalah perasaan “tidak
dibutuhkan lagi.” Perasaan bahwa seseorang yang dulu menjadi pusat orbit
keluarga kini hanya dianggap gangguan kecil di pinggir kehidupan anaknya.
Padahal waktu kecil, anak adalah makhluk paling absurd
sedunia. Jam dua pagi muntah di kasur? Orang tua bangun. Menangis karena balon
lepas? Orang tua menenangkan. Takut ada monster di bawah tempat tidur? Ayah
rela memeriksa kolong sambil membawa sapu, seolah siap duel melawan setan demi
anaknya bisa tidur nyenyak.
Tetapi ketika ayah tua meminta diantar ke rumah sakit,
jawaban yang datang justru seperti customer service yang kelelahan.
“Aku bukan sopirmu.”
Kalimat itu sebenarnya bukan cuma penolakan bantuan. Ia
adalah tanda zaman. Zaman ketika relasi perlahan berubah menjadi transaksi.
Selama orang tua memberi uang, perhatian, warisan, atau bantuan mengurus cucu,
mereka dianggap penting. Tetapi saat mereka mulai membutuhkan, sebagian anak
mendadak merasa sedang ditagih utang emosional yang tidak pernah ingin mereka
bayar.
Ini ironis. Kita hidup di era teknologi paling canggih dalam
sejarah manusia, tetapi empati justru sering buffering.
Pascal akhirnya dibantu tetangga. Ah, tetangga. Makhluk
sosial yang dulu sering dicurigai suka gosip, kini malah kadang lebih hadir
daripada anak kandung sendiri. Di kota modern, hubungan darah sering kalah
cepat oleh hubungan yang kebetulan satu grup ronda.
Namun esai ini tidak sedang mengutuk anak muda secara
membabi buta. Hidup generasi sekarang memang berat. Tekanan kerja, biaya hidup,
kecemasan sosial, burnout, semuanya nyata. Julien mungkin juga lelah. Mungkin
juga terluka. Mungkin ia sedang tenggelam dalam masalahnya sendiri.
Tetapi justru di situlah ujian terbesar manusia modern:
mampukah kita tetap berempati ketika kepala sendiri penuh tagihan dan
notifikasi?
Sebab keluarga bukan proyek efisiensi. Ayah bukan aplikasi
transportasi online yang bisa dinilai bintang tiga karena “terlalu banyak
bicara.” Orang tua adalah akar. Dan lucunya manusia modern sering sibuk memoles
daun, sambil lupa kalau akar yang kering akan membuat seluruh pohon roboh
pelan-pelan.
Ada sesuatu yang tragis sekaligus lucu dari proses menjadi
tua. Ketika kecil kita dilarang menyentuh stop kontak karena dianggap belum
mengerti hidup. Ketika tua, kita mulai dilarang bicara terlalu lama karena
dianggap mengganggu hidup.
Manusia ternyata menghabiskan separuh hidup untuk dibimbing,
lalu separuh sisanya untuk diabaikan.
Pada akhirnya, kisah Pascal terasa menyayat karena sangat
mungkin terjadi di sekitar kita. Atau lebih buruk: mungkin sedang terjadi pada
orang tua kita sendiri sekarang, diam-diam, tanpa kita sadari.
Mungkin ayah kita tidak pernah berkata ia kesepian. Generasi
mereka memang dibesarkan untuk diam. Mereka tidak pandai membuat utas sedih di
media sosial. Mereka hanya duduk lebih lama di teras. Menyalakan televisi tanpa
benar-benar menonton. Mengulang cerita yang sama karena berharap ada yang masih
mau mendengarkan.
Dan mungkin, di suatu sore yang sunyi, mereka juga diam-diam
bertanya:
“Kapan anak yang dulu selalu memanggilku menjadi orang yang
merasa terganggu hanya karena aku menelepon?”
Itulah tragedi paling modern: bukan ketika orang tua
meninggal, tetapi ketika mereka masih hidup dan kita perlahan berhenti hadir.
Karena sesungguhnya, yang paling dibutuhkan orang tua di
usia senja bukan uang, bukan hadiah mahal, bahkan bukan mobil baru.
Kadang mereka hanya ingin merasa bahwa nomor mereka masih
layak diangkat sebelum dering ketiga.
abah-arul.blogspot.com., Mei 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.