Senin, 18 Mei 2026

Membaca demi Bebas: Ketika Buku Lebih Ditakuti daripada Gergaji Besi

Ada banyak cara manusia mencari kebebasan.

Sebagian menggali tembok penjara dengan sendok. Sebagian lagi menyuap sipir. Tetapi di Brasil, negara yang terkenal dengan sepak bola, samba, dan drama telenovela yang tokohnya bisa mati tiga kali lalu hidup lagi di episode berikutnya, muncul metode yang lebih aneh: membaca buku.

Bayangkan seorang narapidana duduk di sel sempit sambil memegang karya Dostoevsky. Di luar sana, teman-temannya mungkin sedang latihan tato improvisasi atau debat filsafat tingkat warung tentang siapa yang mencuri sandal siapa. Tetapi dia justru sibuk menulis esai tentang makna eksistensi manusia. Bukan karena tiba-tiba tercerahkan seperti biksu Himalaya, melainkan karena setiap buku yang selesai dibaca bisa memotong hukuman empat hari.

Program itu bernama Remissão pela Leitura—Remisi melalui Membaca. Sejak 2012, pemerintah Brasil memberi kesempatan kepada narapidana untuk “kabur secara intelektual” sebelum benar-benar keluar dari penjara. Maksimal 12 buku setahun. Total potongan hukuman: 48 hari. Tidak banyak memang. Tetapi di balik jeruji, 48 hari bisa terasa seperti menemukan gorengan terakhir di meja rapat RT: kecil, namun penuh harapan.

Yang menarik, buku-buku yang dipilih bukan bacaan ringan seperti “Cara Cepat Kaya lewat Kripto” atau “1001 Jurus Menjadi Influencer Spiritual”. Yang diberikan justru karya sastra, filsafat, sains, dan klasik. Jadi ada kemungkinan seorang bandar narkoba tiba-tiba berdiskusi tentang Nietzsche sambil antre makan siang.

Di titik ini, penjara berubah agak mirip perpustakaan yang salah desain.

Program ini sebenarnya menyimpan gagasan yang sangat dalam: manusia mungkin berubah bukan hanya karena dihukum, tetapi karena diajak berpikir. Sebab sering kali kejahatan lahir bukan semata dari niat buruk, melainkan dari dunia batin yang sempit. Membaca memperluas ruang itu. Buku adalah jendela—klise memang—tetapi bagi orang yang hidup di sel beton, jendela sekecil apa pun terasa seperti mukjizat arsitektur.

Filsuf Prancis Michel Foucault pernah menjelaskan bahwa penjara modern bukan sekadar tempat menghukum tubuh, melainkan tempat membentuk jiwa. Namun praktiknya sering gagal. Banyak penjara justru menjadi “universitas kriminal”, tempat orang masuk sebagai pencopet lalu lulus dengan spesialisasi manajemen kartel. Seperti kursus online, hanya sertifikatnya lebih menegangkan.

Brasil tampaknya mencoba membalik keadaan. Mereka sadar bahwa mengurung manusia tanpa memberi arah hanyalah seperti memasukkan mie instan ke air dingin: bentuknya tetap ada, tetapi tidak matang-matang.

Tentu saja program ini bukan tanpa masalah. Namanya juga kebijakan publik; selalu ada celah antara idealisme dan akal licik manusia. Pertanyaan paling sederhana adalah: apakah narapidana benar-benar membaca bukunya?

Karena jujur saja, bahkan mahasiswa yang tidak dipenjara pun sering hanya membaca kesimpulan dan berharap dosennya sedang berbaik hati.

Bayangkan seorang napi menyerahkan laporan filsafat eksistensial yang terlalu bagus. Sipir mulai curiga.

“Ini tulisanmu sendiri?”

“Iya, Pak.”

“Kok ada catatan kaki format Chicago Style?”

“Karena saya telah menemukan makna hidup, Pak.”

Ada pula masalah pemilihan buku. Siapa yang menentukan bacaan “baik”? Jangan sampai narapidana yang baru belajar membaca langsung diberi kitab filsafat setebal batu bata. Orang itu mungkin belum tercerahkan; dia malah ingin memakai bukunya untuk ganjal meja.

Namun di situlah menariknya program ini. Ia percaya bahwa manusia tidak boleh diukur hanya dari kesalahan terburuknya. Dalam dunia yang gemar memberi label permanen, program ini seperti berkata: “Baiklah, kamu pernah jatuh. Sekarang coba baca Camus dulu.”

Dan ada sesuatu yang sangat ironis sekaligus indah di sini:
seorang manusia bisa kehilangan kebebasan fisik, tetapi justru menemukan kebebasan batin melalui buku.

Karena membaca pada dasarnya memang tindakan yang aneh. Tubuh kita diam, tetapi pikiran pergi ke mana-mana. Orang bisa tetap duduk di sel penjara sambil berkelana ke Rusia abad ke-19, Yunani kuno, atau bahkan ke masa depan bersama teori-teori sains. Buku membuat tembok kehilangan sebagian kekuasaannya.

Dalam tradisi tasawuf, ada gagasan bahwa penjara paling sempit bukanlah ruangan kecil, melainkan hati yang tertutup. Sebaliknya, jiwa yang tercerahkan bisa merasa lapang bahkan dalam kesempitan. Maka program membaca di penjara ini terasa seperti bentuk tasawuf administratif: negara tidak mengajarkan zikir, tetapi diam-diam memberi kesempatan untuk tafakur melalui halaman-halaman buku.

Pada akhirnya, program Brasil ini mungkin tidak akan menyelesaikan seluruh masalah kriminalitas. Ia bukan tongkat sihir. Penjara tetap penuh. Geng tetap ada. Kekerasan tetap terjadi. Tetapi setidaknya, di tengah sistem yang sering hanya tahu menghukum, ada satu eksperimen kecil yang percaya pada kemungkinan perubahan manusia.

Dan mungkin itulah fungsi paling mulia dari sebuah buku:
bukan membuat orang tampak pintar saat difoto di kafe, melainkan memberi seseorang alasan untuk menjadi manusia baru.

Kadang-kadang revolusi tidak dimulai dengan senjata.
Kadang dimulai dengan seseorang membuka halaman pertama, lalu berkata pelan:

“Baiklah… saya baca sampai bab dua dulu.”

abah-arul.blogspot.com., Mei 2026

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.