Di zaman modern ini, manusia bisa panik karena sinyal Wi-Fi turun satu garis, tetapi tetap santai ketika sinyal hatinya kepada Tuhan sudah “No Connection”. Kita hidup di era yang aneh: orang lebih takut kehilangan followers daripada kehilangan rasa malu di hadapan langit.
Maka muncullah sebuah pelajaran tua yang terasa seperti tamparan halus memakai sarung basah: jangan buru-buru mengira hidup nyaman berarti Tuhan sedang tersenyum kepada kita. Bisa jadi itu cuma “fitur cicilan azab”—dibayar nanti sekaligus, lengkap dengan bunga batin.
Begitulah kira-kira inti sebuah hikmah tasawuf yang sangat sederhana tetapi efeknya seperti kopi tanpa gula: pahit, namun bikin melek.
Ada satu jenis manusia yang hidupnya tampak seperti iklan properti syariah. Rezeki lancar. Dagangan laris. Kulit glowing. Bahkan ayam gepreknya selalu dapat bonus sambal. Lalu ia mulai berpikir, “Kalau aku salah, pasti hidupku sudah berantakan.”
Nah, di titik inilah tasawuf datang sambil membawa sapu, lalu menyapu kesombongan pelan-pelan.
Karena masalah terbesar manusia ternyata bukan miskin. Bukan pula gagal. Masalah terbesar manusia adalah ketika ia tidak sadar dirinya jauh dari Tuhan tetapi tetap merasa baik-baik saja. Itu seperti orang yang tidur di atas perahu bocor sambil berkata, “Tenang, airnya baru semata kaki.”
Tasawuf melihat bencana dengan cara yang sangat berbeda. Dalam pandangan biasa, siksaan itu identik dengan dompet tipis, motor mogok, atau mantan menikah duluan. Tetapi dalam pandangan para ahli hati, siksaan paling halus justru ketika hati tidak lagi peka.
Itulah alarm yang sering tidak terdengar karena tertutup suara notifikasi.
Lucunya, manusia modern sangat suka mengukur spiritualitas seperti mengukur performa startup. Semua harus terlihat “bertumbuh”. Ada yang merasa dirinya dekat kepada Tuhan karena omzet naik setelah rutin wirid tertentu. Ada pula yang memperlakukan doa seperti aplikasi pesan antar: “Saya sudah checkout tahajud, kok berkahnya belum sampai?”
Padahal hidup bukan marketplace langit.
Kadang justru ketika seseorang terlalu dimanjakan dunia, itu bukan tanda dicintai. Bisa jadi ia sedang “dibiarkan”. Dan dibiarkan oleh Tuhan adalah kondisi yang menyeramkan. Seperti guru yang sudah malas menegur murid nakal karena merasa, “Ah, anak ini sudah cape dinasihati.”
Di sinilah tasawuf memperkenalkan satu kata kecil yang diam-diam lebih penting daripada ribuan teori spiritual: adab.
Adab bukan sekadar sopan santun ala buku pelajaran SD. Adab adalah cara hati berdiri di hadapan kehidupan. Cara menerima nikmat tanpa menjadi sombong. Cara menerima musibah tanpa berubah menjadi pendakwah kemarahan.
Orang beradab itu unik. Saat diberi, ia malu karena merasa belum pantas. Saat diuji, ia tetap percaya bahwa Tuhan bukan sedang membencinya.
Seolah-olah ibadah adalah sistem poin minimarket yang bisa ditukar hadiah.
Tasawuf menertawakan cara berpikir seperti itu dengan elegan. Karena hubungan manusia dengan Tuhan bukan transaksi e-commerce. Ini hubungan cinta. Dan cinta sering bekerja seperti tukang kebun.
Bayangkan ada bunga yang sedang tumbuh liar. Rantingnya ke mana-mana. Daunnya sombong. Lalu datanglah tukang kebun membawa gunting.
Padahal si tukang kebun hanya ingin bunganya tumbuh lebih indah.
Begitu juga hidup manusia. Ada masa ketika Tuhan memangkas kesombongan lewat kegagalan. Memotong ego lewat kehilangan. Mengurangi rasa pongah lewat air mata. Dan anehnya, justru setelah dipangkas itulah manusia mulai belajar menjadi lembut.
Masalahnya, manusia sering ingin masuk surga sambil mempertahankan seluruh kesombongannya tetap utuh. Kita ingin dekat kepada Tuhan tanpa kehilangan ego. Itu seperti ingin kurus sambil berteman setia dengan prasmanan.
Karena itu para ahli tasawuf berkali-kali mengingatkan: inti perjalanan spiritual bukan seberapa keras suara zikir kita, melainkan seberapa halus hati kita.
Sebab ada orang yang lisannya sibuk menyebut nama Tuhan, tetapi hatinya masih hobi merendahkan orang lain. Ada pula yang rajin menghadiri kajian, tetapi gampang menghina sesama hanya karena beda cara berpakaian atau beda pilihan kelompok. Spiritualitasnya tinggi, tetapi adabnya pendek.
Padahal dalam dunia batin, adab itu fondasi. Kalau fondasinya retak, bangunan amal bisa roboh hanya karena angin pujian.
Akhirnya kita sampai pada kenyataan yang agak lucu sekaligus menyedihkan: banyak manusia takut miskin, tetapi sedikit yang takut hatinya mengeras. Banyak yang rajin meminta kelancaran rezeki, tetapi jarang meminta kelembutan jiwa.
Mungkin karena dompet kosong lebih cepat terasa daripada hati kosong.
Dan mungkin itulah sebabnya pelajaran tentang adab selalu relevan. Ia mengingatkan kita bahwa ukuran keberhasilan hidup bukan sekadar “apa yang kita punya”, tetapi “apa yang terjadi pada hati kita ketika memiliki atau kehilangan sesuatu.”
Karena bisa jadi seseorang tampak sukses di mata dunia, tetapi sebenarnya sedang tersesat perlahan tanpa sadar—seperti penumpang kapal pesiar yang sibuk karaoke sementara kapalnya diam-diam miring.
Maka, kalau suatu hari hidup terasa dipangkas, jangan buru-buru mengira langit sedang memusuhi kita.
Bisa jadi itu cuma cara Tuhan merapikan taman hati.
abah-arul.blogspot.com., Mei 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.