Tentang Putin, Beijing, dan Dunia yang Katanya Sedang Berguncang
Di zaman modern ini, diplomasi internasional kadang terasa
seperti grup WhatsApp keluarga besar. Ada yang kirim stiker naga, ada yang
kirim meme elang, lalu semua orang pura-pura tenang padahal sedang saling
menyindir dengan kalimat, “Kami hanya ingin stabilitas kawasan.” Padahal
stabilitas kawasan itu sering kali artinya: “Tolong jangan ganggu dagangan
saya.”
Begitulah kira-kira suasana ketika Vladimir Putin datang ke
Beijing pada Mei 2026. Media pro-Rusia langsung meniup terompet kiamat
geopolitik: “Gempa bumi diplomatik!”, “Era baru dunia!”, “Barat panik!”, dan
mungkin kalau diberi kesempatan, mereka akan menambahkan, “Langit mendadak
merah, burung-burung migrasi berubah arah, dan saham kopi instan naik 3
persen.”
Padahal kalau dipikir-pikir, dunia geopolitik memang punya
kebiasaan aneh: setiap pertemuan dua pemimpin besar selalu dipasarkan seperti
trailer film Marvel. Ada musik dramatis, ada close-up wajah serius, ada narasi
“dunia tidak akan pernah sama lagi.” Namun setelah lampu bioskop menyala,
rakyat biasa tetap antre minyak goreng, tetap bayar cicilan, dan tetap lupa
password WiFi rumah.
Narasi besar kunjungan ini dibangun dengan sangat sinematik.
Putin datang membawa delegasi energi kelas berat. Ada pembahasan pipa gas Power
of Siberia-2, ada deklarasi multipolaritas, ada tea-time diplomatik, dan
ada pidato khusus untuk rakyat China. Semuanya dibungkus seperti adegan dua
pendekar tua sedang menyusun ulang nasib dunia sambil menyeruput teh melati.
Tetapi geopolitik modern sering kali lebih mirip pasar induk
daripada medan perang ideologi. Semua orang bicara prinsip, tetapi diam-diam
menghitung diskon.
China tahu bahwa Rusia sedang butuh pembeli energi setelah
hubungannya dengan Eropa retak akibat perang Ukraina. Rusia juga tahu bahwa
China adalah pelanggan terbesar yang tersisa dengan dompet tebal dan wajah
poker kelas dewa. Hubungan ini akhirnya seperti hubungan pemilik kos dan anak
kuliahan akhir bulan: sama-sama tersenyum, tetapi yang satu lebih membutuhkan
daripada yang lain.
Di sinilah letak humor sejarah. Rusia datang membawa
retorika “melawan dominasi Barat”, sementara China diam-diam tetap berdagang
dengan Barat. Beijing tampak seperti pedagang warung yang melayani dua kubu
tawuran sekaligus. Kepada satu pihak ia berkata, “Kita sahabat strategis.”
Kepada pihak lain ia juga berkata hal yang sama. Dan semua dilayani dengan
senyum diplomatik yang begitu tenang sampai-sampai kalkulator pun ikut merasa
inferior.
Kunjungan Putin ini sebenarnya penting, tetapi bukan “meteor
jatuh menghantam planet” pentingnya. Ini lebih seperti update software
geopolitik: versinya baru sedikit, tampilannya agak berubah, tetapi bug lamanya
masih ada.
Deklarasi multipolaritas misalnya, terdengar sangat gagah.
Seolah dunia sedang memasuki babak baru di mana tidak ada lagi satu negara
superpower yang mengatur segalanya. Namun multipolaritas bukan mie instan yang
bisa matang hanya karena dituangi air panas deklarasi politik.
Dunia menjadi multipolar bukan karena dua presiden
menandatangani dokumen sambil berjabat tangan di depan kamera. Dunia bergerak
multipolar karena ekonomi berubah, teknologi menyebar, India tumbuh, Global
South makin percaya diri, dan Amerika sendiri mulai kelelahan menjadi “polisi
dunia” yang harus mengurus semua konflik sambil tetap bayar utang nasional.
Jadi multipolaritas itu lebih seperti kemacetan Jakarta:
bukan hasil keputusan satu orang, tetapi akumulasi jutaan kendaraan yang
bergerak ke arah berbeda sambil semua merasa dirinya paling benar.
Yang paling menarik justru proyek Power of Siberia-2.
Nama proyek ini terdengar seperti film aksi tentang robot gas alam dari masa
depan. Padahal realitasnya lebih mirip negosiasi bapak-bapak kontraktor yang
belum sepakat harga semen. Rusia ingin cepat. China santai. Rusia butuh pasar.
China tahu dirinya dibutuhkan. Akibatnya pembicaraan berlangsung bertahun-tahun
seperti obrolan keluarga tentang renovasi rumah yang tak pernah jadi.
Lalu muncullah propaganda.
Media pro-Rusia membingkai kunjungan ini sebagai bukti bahwa
Rusia tetap kuat dan dicintai dunia. Ini penting untuk audiens domestik. Sebab
dalam politik modern, persepsi kadang lebih penting daripada kenyataan. Negara
bisa kesulitan ekonomi, tetapi selama videonya sinematik dan musik latarnya
heroik, sebagian rakyat tetap merasa sedang memenangkan sejarah.
Fenomena ini sebenarnya tidak khas Rusia saja. Semua negara
besar melakukan hal serupa. Amerika punya Hollywood. China punya narasi
“kebangkitan damai.” Rusia punya estetika “beruang tidak pernah tunduk.” Bahkan
kadang geopolitik terasa seperti lomba branding antar-peradaban.
Masalahnya, rakyat biasa sering lupa membedakan antara
simbol dan substansi.
Maka kunjungan Putin ke Beijing ini memang penting sebagai
simbol eratnya hubungan Rusia-China. Tetapi menyebutnya “gempa bumi geopolitik”
terlalu berlebihan. Dunia tidak langsung jungkir balik. NATO tidak mendadak
bubar. Dollar tidak mendadak berubah jadi kupon bakso. Dan rakyat dunia tetap
bangun pagi untuk bekerja seperti biasa.
Pada akhirnya, geopolitik modern bukan pertandingan catur
romantis antara dua jenius besar. Ia lebih mirip pasar malam raksasa: penuh
lampu, penuh suara, penuh atraksi, dan semua pedagang berteriak bahwa lapaknya
paling menentukan masa depan umat manusia.
Tugas kita sebagai pembaca hanyalah satu: menikmati dramanya
tanpa mabuk panggung.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.