Di zaman modern ini, cinta sering diperlakukan seperti aplikasi ojek online. Kalau yang datang motornya agak berisik, helmnya bau matahari, atau jalannya terlalu pelan, kita langsung membuka aplikasi lain sambil bergumam penuh harapan: “Mungkin ada driver yang lebih cocok dengan jiwaku.” Padahal yang dicari kadang bukan pasangan baru, melainkan sekadar sensasi baru. Dan di titik inilah Anna Karenina datang seperti bapak-bapak desa yang duduk di pos ronda sambil menyeruput kopi pahit lalu berkata pelan, “Nak… jangan salahkan sawahmu kalau kamu sendiri belum pernah benar-benar mencangkulnya.”
Ketika Swipe Kanan Menjadi Agama Baru
Dulu manusia mencari jodoh lewat mak comblang. Sekarang
lewat algoritma. Bedanya tipis: dulu yang menilai calon pasangan adalah
tetangga, sekarang server. Dulu ibu-ibu berkata, “Anaknya baik, rajin bantu
panen.” Sekarang aplikasi berkata, “98% compatibility. Suka kopi, senja, dan
healing.”
Masalahnya, algoritma tidak pernah kenyang menjual
kemungkinan.
Ia seperti pedagang cilok di depan sekolah: selalu
meyakinkan bahwa cilok berikutnya lebih enak daripada yang sedang kita makan.
Maka lahirlah generasi yang sulit menetap. Sedikit bosan, buka aplikasi.
Sedikit sepi, cari validasi. Sedikit hening, merasa hubungan sudah “kehilangan
spark.”
Padahal banyak hubungan bukan kehilangan cinta. Mereka cuma
kehilangan drama.
Dan manusia modern memang sering salah paham soal
ketenangan. Kalau hubungan tidak lagi bikin deg-degan seperti dikejar debt
collector pinjol, kita mulai curiga: “Apakah ini masih cinta?”
Tolstoy tampaknya sudah melihat penyakit ini jauh sebelum
Wi-Fi ditemukan.
Anna Karenina dan Penyakit “Mungkin Ada yang Lebih Seru”
Dalam Anna Karenina, Anna bukan perempuan miskin kasih
sayang. Ia punya rumah, status sosial, keluarga, dan kehidupan yang secara
teori cocok dijadikan konten “gratitude journal.” Tetapi manusia aneh. Kadang
ketika semua aman, jiwa justru mulai gelisah seperti kucing rumahan yang
menatap hujan sambil merasa dirinya harimau Siberia.
Anna tidak sekadar haus cinta. Ia haus intensitas.
Ia ingin merasa hidup terus-menerus. Dan itulah candu
terbesar manusia modern: bukan dicintai, tetapi merasa bergetar tanpa henti.
Media sosial memperparah semuanya. Kita melihat pasangan
lain liburan di Swiss, tertawa di pantai Bali, membuat video slow motion sambil
berlari di rumput. Tidak ada yang mengunggah momen ketika mereka diam-diam
bertengkar gara-gara galon belum diganti.
Instagram adalah museum kebahagiaan palsu. Semua orang
tampak romantis. Bahkan pasangan yang tadi pagi saling mendiamkan bisa terlihat
seperti tokoh drama Korea setelah diberi filter jingga dan lagu indie akustik.
Maka lahirlah penyakit modern bernama grass is greener
syndrome—penyakit yang membuat rumput tetangga selalu tampak lebih hijau,
padahal bisa jadi itu cuma efek edit Lightroom.
Levin, Kitty, dan Romantisme Tukang Cangkul
Di sisi lain, Tolstoy menghadirkan Levin dan Kitty. Mereka
tidak hidup dalam cinta yang meledak-ledak seperti kembang api tahun baru.
Mereka lebih mirip kompor dapur: tidak terlalu spektakuler, tapi justru dipakai
setiap hari agar hidup tetap berjalan.
Levin memahami sesuatu yang sulit diterima generasi modern:
cinta bukan taman hiburan.
Cinta lebih mirip bertani.
Kadang tanah subur. Kadang keras seperti hati mantan yang
sudah move on. Kadang panen bagus. Kadang yang tumbuh malah gulma dan salah
paham.
Tetapi petani sejati tidak pindah sawah setiap dua minggu
hanya karena ladang sebelah terlihat lebih hijau dari kejauhan.
Manusia modern sering ingin hasil panen tanpa mau
berkeringat. Ingin hubungan matang tanpa melalui fase membosankan. Ingin
pasangan setia, tetapi tetap ingin sensasi seperti episode awal sinetron.
Padahal semua yang hidup pasti memasuki rutinitas.
Bahkan mie instan favorit pun kalau dimakan tiga kali sehari
akan mulai terasa seperti ujian eksistensial.
Kebosanan: Monster yang Salah Dituduh
Lucunya, kebosanan hari ini dianggap tanda kegagalan
hubungan. Padahal bisa jadi ia cuma tanda bahwa hubungan sudah memasuki fase
nyata.
Cinta yang matang memang tidak selalu berbunyi petasan.
Hal-hal seperti itu tidak viral di TikTok karena algoritma
lebih suka keributan. Dunia digital dibangun di atas kegaduhan. Sementara cinta
yang sehat sering kali sunyi.
Ia seperti nasi hangat di rumah: tidak heboh, tapi dicari
ketika hidup mulai melelahkan.
Generasi yang Takut Tinggal
Ada ironi besar di zaman modern. Kita punya lebih banyak
cara berkomunikasi, tetapi semakin sulit bertahan dalam hubungan. Kita bisa
mengirim pesan ke siapa saja dalam hitungan detik, tetapi makin sulit duduk
diam menghadapi satu orang yang sama selama bertahun-tahun.
Mengapa?
Karena budaya hari ini melatih manusia menjadi turis emosi.
Padahal kedewasaan justru lahir ketika seseorang berhenti
terus-menerus mencari taman baru dan mulai belajar merawat halaman rumahnya
sendiri.
Dan memang benar. Tidak mungkin setiap hari terasa seperti
adegan klimaks. Kalau hidup terus-menerus intens, manusia bisa tumbang seperti
mesin motor yang dipaksa gaspol tanpa henti.
Cinta Itu Mirip Menanam Pohon Mangga
Cinta modern sering dijual seperti kembang api: cepat
menyala, heboh, lalu hilang sambil meninggalkan asap dan tagihan emosional.
Tetapi cinta yang bertahan lebih mirip pohon mangga.
Namun orang yang sabar tahu: pohon yang dirawat
bertahun-tahun akan memberi teduh yang tidak bisa dibeli dari pasar mana pun.
Begitulah cinta.
Bukan soal terus menemukan orang baru yang membuat jantung
berdebar. Tetapi tentang keberanian tinggal, mencangkul, membersihkan gulma,
lalu berkata setiap hari:
“Aku masih mau menanam di sini.”
Dan di zaman ketika semua orang sibuk mencari ladang yang
lebih hijau, mungkin tindakan paling revolusioner justru sederhana:

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.