Selasa, 19 Mei 2026

Cinta dan Kebosanan Modern

Di zaman modern ini, cinta sering diperlakukan seperti aplikasi ojek online. Kalau yang datang motornya agak berisik, helmnya bau matahari, atau jalannya terlalu pelan, kita langsung membuka aplikasi lain sambil bergumam penuh harapan: “Mungkin ada driver yang lebih cocok dengan jiwaku.” Padahal yang dicari kadang bukan pasangan baru, melainkan sekadar sensasi baru. Dan di titik inilah Anna Karenina datang seperti bapak-bapak desa yang duduk di pos ronda sambil menyeruput kopi pahit lalu berkata pelan, “Nak… jangan salahkan sawahmu kalau kamu sendiri belum pernah benar-benar mencangkulnya.”

Ketika Swipe Kanan Menjadi Agama Baru

Dulu manusia mencari jodoh lewat mak comblang. Sekarang lewat algoritma. Bedanya tipis: dulu yang menilai calon pasangan adalah tetangga, sekarang server. Dulu ibu-ibu berkata, “Anaknya baik, rajin bantu panen.” Sekarang aplikasi berkata, “98% compatibility. Suka kopi, senja, dan healing.”

Masalahnya, algoritma tidak pernah kenyang menjual kemungkinan.

Ia seperti pedagang cilok di depan sekolah: selalu meyakinkan bahwa cilok berikutnya lebih enak daripada yang sedang kita makan. Maka lahirlah generasi yang sulit menetap. Sedikit bosan, buka aplikasi. Sedikit sepi, cari validasi. Sedikit hening, merasa hubungan sudah “kehilangan spark.”

Padahal banyak hubungan bukan kehilangan cinta. Mereka cuma kehilangan drama.

Dan manusia modern memang sering salah paham soal ketenangan. Kalau hubungan tidak lagi bikin deg-degan seperti dikejar debt collector pinjol, kita mulai curiga: “Apakah ini masih cinta?”

Tolstoy tampaknya sudah melihat penyakit ini jauh sebelum Wi-Fi ditemukan.

Anna Karenina dan Penyakit “Mungkin Ada yang Lebih Seru”

Dalam Anna Karenina, Anna bukan perempuan miskin kasih sayang. Ia punya rumah, status sosial, keluarga, dan kehidupan yang secara teori cocok dijadikan konten “gratitude journal.” Tetapi manusia aneh. Kadang ketika semua aman, jiwa justru mulai gelisah seperti kucing rumahan yang menatap hujan sambil merasa dirinya harimau Siberia.

Anna tidak sekadar haus cinta. Ia haus intensitas.

Ia ingin merasa hidup terus-menerus. Dan itulah candu terbesar manusia modern: bukan dicintai, tetapi merasa bergetar tanpa henti.

Media sosial memperparah semuanya. Kita melihat pasangan lain liburan di Swiss, tertawa di pantai Bali, membuat video slow motion sambil berlari di rumput. Tidak ada yang mengunggah momen ketika mereka diam-diam bertengkar gara-gara galon belum diganti.

Instagram adalah museum kebahagiaan palsu. Semua orang tampak romantis. Bahkan pasangan yang tadi pagi saling mendiamkan bisa terlihat seperti tokoh drama Korea setelah diberi filter jingga dan lagu indie akustik.

Maka lahirlah penyakit modern bernama grass is greener syndrome—penyakit yang membuat rumput tetangga selalu tampak lebih hijau, padahal bisa jadi itu cuma efek edit Lightroom.

Levin, Kitty, dan Romantisme Tukang Cangkul

Di sisi lain, Tolstoy menghadirkan Levin dan Kitty. Mereka tidak hidup dalam cinta yang meledak-ledak seperti kembang api tahun baru. Mereka lebih mirip kompor dapur: tidak terlalu spektakuler, tapi justru dipakai setiap hari agar hidup tetap berjalan.

Levin memahami sesuatu yang sulit diterima generasi modern: cinta bukan taman hiburan.

Cinta lebih mirip bertani.

Kadang tanah subur. Kadang keras seperti hati mantan yang sudah move on. Kadang panen bagus. Kadang yang tumbuh malah gulma dan salah paham.

Tetapi petani sejati tidak pindah sawah setiap dua minggu hanya karena ladang sebelah terlihat lebih hijau dari kejauhan.

Manusia modern sering ingin hasil panen tanpa mau berkeringat. Ingin hubungan matang tanpa melalui fase membosankan. Ingin pasangan setia, tetapi tetap ingin sensasi seperti episode awal sinetron.

Padahal semua yang hidup pasti memasuki rutinitas.

Bahkan mie instan favorit pun kalau dimakan tiga kali sehari akan mulai terasa seperti ujian eksistensial.

Kebosanan: Monster yang Salah Dituduh

Lucunya, kebosanan hari ini dianggap tanda kegagalan hubungan. Padahal bisa jadi ia cuma tanda bahwa hubungan sudah memasuki fase nyata.

Cinta yang matang memang tidak selalu berbunyi petasan.

Kadang ia hadir dalam bentuk sederhana:
orang yang tetap menunggumu pulang,
orang yang hafal cara kamu marah,
orang yang tahu kapan kamu diam bukan karena tenang, tetapi karena lelah.

Hal-hal seperti itu tidak viral di TikTok karena algoritma lebih suka keributan. Dunia digital dibangun di atas kegaduhan. Sementara cinta yang sehat sering kali sunyi.

Ia seperti nasi hangat di rumah: tidak heboh, tapi dicari ketika hidup mulai melelahkan.

Generasi yang Takut Tinggal

Ada ironi besar di zaman modern. Kita punya lebih banyak cara berkomunikasi, tetapi semakin sulit bertahan dalam hubungan. Kita bisa mengirim pesan ke siapa saja dalam hitungan detik, tetapi makin sulit duduk diam menghadapi satu orang yang sama selama bertahun-tahun.

Mengapa?

Karena budaya hari ini melatih manusia menjadi turis emosi.

Sedikit bosan: pindah.
Sedikit kecewa: pergi.
Sedikit sepi: cari yang baru.

Padahal kedewasaan justru lahir ketika seseorang berhenti terus-menerus mencari taman baru dan mulai belajar merawat halaman rumahnya sendiri.

Tolstoy seperti sedang berbisik dari abad ke-19:
“Barangkali masalahnya bukan pasanganmu. Barangkali kamu terlalu berharap hidup terasa seperti trailer film terus-menerus.”

Dan memang benar. Tidak mungkin setiap hari terasa seperti adegan klimaks. Kalau hidup terus-menerus intens, manusia bisa tumbang seperti mesin motor yang dipaksa gaspol tanpa henti.

Cinta Itu Mirip Menanam Pohon Mangga

Cinta modern sering dijual seperti kembang api: cepat menyala, heboh, lalu hilang sambil meninggalkan asap dan tagihan emosional.

Tetapi cinta yang bertahan lebih mirip pohon mangga.

Awalnya biasa saja. Tidak estetik. Tidak romantis. Harus disiram terus. Kadang daunnya rontok. Kadang tidak berbuah lama sekali. Tetangga bahkan mungkin mengejek:
“Ngapain sih rawat pohon itu? Di toko buah tinggal beli.”

Namun orang yang sabar tahu: pohon yang dirawat bertahun-tahun akan memberi teduh yang tidak bisa dibeli dari pasar mana pun.

Begitulah cinta.

Bukan soal terus menemukan orang baru yang membuat jantung berdebar. Tetapi tentang keberanian tinggal, mencangkul, membersihkan gulma, lalu berkata setiap hari:

“Aku masih mau menanam di sini.”

Dan di zaman ketika semua orang sibuk mencari ladang yang lebih hijau, mungkin tindakan paling revolusioner justru sederhana:

tetap tinggal,
dan belajar mencintai tanah sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.