Ada satu jenis manusia yang unik di dunia ini. Kalau sedang sehat, ia lupa bersyukur. Kalau sakit, ia mulai rajin berdoa sambil membuka YouTube ceramah durasi 47 menit. Kalau dagangannya laku, ia berkata, “Ini hasil kerja keras.” Tapi kalau dagangannya sepi, tiba-tiba status WhatsApp-nya berubah menjadi kutipan Imam Al-Ghazali.
Manusia memang makhluk ajaib. Sedikit untung merasa CEO
semesta. Sedikit rugi merasa tokoh utama film tragedi.
Di situlah tasawuf datang bukan untuk memarahi manusia,
melainkan untuk menertawakannya dengan lembut.
Munajat dalam Al-Hikam karya Ibn Ata Allah al-Iskandari
seperti obrolan larut malam antara seorang hamba yang kelelahan dengan Tuhan
yang sudah memahami semuanya bahkan sebelum si hamba sempat curhat. Munajat itu
bukan pidato resmi. Bukan proposal bantuan spiritual. Ia lebih mirip suara
pelan seorang manusia yang akhirnya menyerah mengandalkan dirinya sendiri.
Dan anehnya, justru di titik menyerah itulah harapan mulai
tumbuh.
Seorang hamba berkata kepada Allah: “Engkau sudah lembut
kepadaku bahkan saat aku belum sadar bahwa aku lemah. Maka setelah aku sadar
diriku rapuh seperti kerupuk kena kuah bakso, apakah Engkau masih akan menutup
kasih sayang-Mu?”
Kalimat ini dalam tasawuf ibarat orang jatuh dari motor lalu
bukannya marah pada jalanan, malah sadar selama ini ia terlalu sombong membawa
hidup dengan kecepatan tinggi.
Kajian tentang munajat ini menjelaskan satu hal penting:
Allah itu Lathif — Maha Lembut. Dan kelembutan-Nya tidak naik turun
mengikuti grafik iman manusia seperti harga cabai di pasar.
Kadang manusia mengira Allah sayang hanya ketika hidup
sedang nyaman. Saat rekening aman, badan sehat, dan tetangga belum pamer
liburan ke Turki. Begitu hidup mulai sempit, manusia langsung curiga kepada
langit. Seolah-olah rahmat Tuhan punya mood swing.
Padahal menurut para sufi, kelembutan Allah justru sering
bekerja diam-diam seperti ibu yang menyelipkan uang ke saku anaknya tanpa
pidato ekonomi makro.
Kita ini sering gagal memahami bentuk kasih sayang Tuhan
karena terlalu terobsesi pada bentuk hadiah. Maunya rahmat selalu berbentuk
kemenangan, padahal kadang rahmat datang sebagai rem darurat. Ada doa yang
dikabulkan dengan “iya”. Ada yang dikabulkan dengan “nanti”. Ada juga yang
dikabulkan dengan “kalau Aku kasih sekarang, kamu malah tambah rusak.”
Tasawuf mengajarkan bahwa bahkan kegagalan pun bisa menjadi
bentuk kelembutan. Sebab tidak semua yang kita inginkan sanggup kita tanggung.
Ada orang dikabulkan kaya lalu berubah seperti sultan kecil yang marah-marah
kepada tukang parkir. Ada yang diberi popularitas lalu setiap bangun tidur
mengecek jumlah like lebih sering daripada mengecek hatinya sendiri.
Karena itu para sufi curiga pada diri sendiri lebih daripada
curiga pada setan.
Yang menarik, kajian ini juga membahas konsep fadhl
dan 'adl. Semua kebaikan berasal dari anugerah Allah. Sedangkan
keburukan muncul dalam kerangka keadilan-Nya. Kedengarannya berat, tapi
sebenarnya sederhana.
Kalau ada orang rajin ibadah lalu merasa dirinya spesial,
tasawuf datang membawa sapu untuk membersihkan ego itu.
Sebab menurut para arifin, bahkan kemampuan untuk sujud pun
bukan prestasi pribadi. Kita ini seperti lampu belajar yang bangga bercahaya
padahal colokannya masih menempel ke listrik Tuhan.
Begitu colokan dicabut sedikit saja, manusia langsung panik,
stres, lalu mencari video “cara hidup tenang dalam 5 menit”.
Tasawuf memang lucu. Ia membongkar kesombongan manusia
pelan-pelan seperti ibu membongkar tabungan receh anaknya yang ternyata isinya
cuma kancing baju.
Dalam kajian itu juga dijelaskan bahwa ridha Allah
mendahului ibadah manusia. Ini konsep yang sangat menenangkan. Banyak orang
membayangkan hubungan dengan Tuhan seperti hubungan pelanggan dan customer
service: “Saya sudah salat, mana bonus hidup tenangnya?”
Padahal dalam tasawuf, manusia bisa beribadah justru karena
lebih dulu disentuh rahmat. Kita ini bukan sedang mengetuk pintu Tuhan dari
luar. Kita sudah berada di dalam kasih sayang-Nya sejak awal, hanya saja sering
sibuk main ponsel batin sendiri.
Karena itu munajat para sufi penuh harapan. Mereka sadar
dosanya banyak, tapi mereka juga sadar rahmat Allah lebih luas daripada
kemampuan manusia untuk gagal.
Di zaman modern, manusia sering hidup seperti mesin cuci
yang lupa tombol off. Kepala muter terus. Hati panas. Jiwa kusut. Sedikit
masalah langsung merasa kiamat pribadi telah dimulai.
Lalu tasawuf datang membawa kalimat sederhana namun
menenangkan:
“Kalau stres, bersihkan rumah.”
Nasihat ini terdengar receh, tapi dalam dunia sufi,
membersihkan rumah kadang lebih dekat kepada Allah daripada debat panjang di
kolom komentar. Sebab jiwa manusia sering sembuh bukan karena teori besar,
melainkan karena kembali melakukan kebaikan kecil dengan ikhlas.
Itulah keindahan munajat yang menghiba. Ia tidak melahirkan
manusia putus asa, melainkan manusia yang sadar dirinya kecil namun tetap
berani berharap besar kepada Tuhan.
Karena pada akhirnya, tasawuf bukan ilmu untuk menjadi
manusia sakti. Tasawuf adalah ilmu agar manusia berhenti sok kuat.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.