Rabu, 27 Mei 2026

Menghafal Puisi di Era Scroll: Ketika Otak Kita Berubah Jadi Kos-Kosan Algoritma

Ada masa ketika anak-anak diminta menghafal puisi. Mereka berdiri gugup di depan kelas, tangan dingin, suara gemetar, lalu mulai melafalkan bait demi bait karya penyair yang mungkin bahkan lebih tua daripada lemari kepala sekolah. Saat itu banyak murid mengeluh, “Buat apa sih hafal beginian?”

Kini, puluhan tahun kemudian, pertanyaan itu dijawab oleh zaman dengan cara yang agak ironis: ternyata kita bukan lagi kesulitan menghafal puisi—kita bahkan lupa kenapa tadi buka kulkas.

Di situlah kegelisahan Kateri Seraphina terasa menarik. Ia melihat menghafal bukan sekadar latihan akademik kuno, melainkan semacam latihan bela diri batin. Di tengah dunia digital yang sibuk menjadikan manusia seperti ikan mas koki—mudah terkejut, mudah lupa, lalu berenang lagi tanpa arah—menghafal adalah tindakan melawan arus.

Lucunya, peradaban modern sangat bangga dengan kemajuan teknologi penyimpan data. Cloud storage ada di mana-mana. Foto tersimpan ribuan. Kontak otomatis tersinkronisasi. Semua serba “diingatkan”. Tapi makin banyak perangkat yang mengingat untuk kita, makin sedikit hal yang benar-benar tinggal di kepala kita. Otak manusia sekarang seperti pegawai magang yang terus berkata, “Tenang, nanti saya cek Google dulu.”

Padahal memori bukan sekadar gudang arsip. Ia lebih mirip dapur. Di sanalah pengalaman, emosi, dan makna dimasak perlahan sampai menjadi bagian dari diri kita. Sesuatu yang dihafal dengan sungguh-sungguh akhirnya bukan lagi informasi; ia berubah menjadi karakter.

Itulah mengapa orang tua zaman dulu bisa tiba-tiba mengutip syair, pepatah, atau ayat di saat yang tepat. Bukan karena mereka sedang membuka aplikasi “Quotes of The Day”, melainkan karena kata-kata itu sudah menetap di dalam diri mereka seperti penghuni lama kontrakan yang hafal letak sendok.

Seraphina juga menyentil sesuatu yang agak menyeramkan: budaya lupa ternyata sangat menguntungkan sistem digital. Algoritma media sosial bekerja seperti pedagang gorengan di terminal—yang penting orang terus ngemil, jangan sampai kenyang berpikir. Konten harus cepat lewat. Emosi harus cepat naik lalu cepat hilang. Hari ini marah, besok lupa. Hari ini kagum, lusa pindah tren.

Akibatnya, manusia modern mulai hidup seperti tab browser: banyak yang terbuka, tidak ada yang benar-benar selesai.

Kita tahu sedikit tentang banyak hal, tetapi mendalam pada hampir tidak ada apa pun. Kita hafal meme seminggu terakhir, tetapi lupa nama tetangga sendiri. Kita bisa mengenali ratusan logo aplikasi, namun kesulitan mengingat satu bait puisi tanpa melihat layar.

Di titik ini, kritik Seraphina terasa seperti tamparan lembut memakai sarung bantal: tidak terlalu sakit, tapi cukup membuat kita termenung.

Tentu saja, romantisasi masa lalu juga perlu dicurigai. Menghafal puisi bukan jaminan seseorang otomatis menjadi filsuf bijaksana. Ada juga murid yang dulu hafal puisi hanya demi menghindari cubitan guru. Bahkan mungkin setelah dewasa ia tetap menjadi penyebar hoaks keluarga di grup WhatsApp.

Namun pesan utama Seraphina tetap relevan: ada hubungan erat antara ingatan dan kebebasan.

Manusia yang kehilangan memori mudah kehilangan arah. Bangsa yang lupa sejarah mudah mengulangi kebodohan yang sama dengan kostum berbeda. Individu yang tak pernah menyimpan sesuatu secara mendalam akan hidup sepenuhnya di permukaan, seperti daun eceng gondok yang bergerak ke mana pun arus notifikasi membawanya.

Karena itu, menghafal secara sukarela bisa menjadi tindakan yang diam-diam revolusioner. Bukan sekadar menghafal puisi Victor Hugo, tetapi apa pun yang memberi kedalaman: ayat suci, doa, lirik lagu lama, nama-nama ulama, bahkan resep opor nenek yang tidak pernah ditulis tapi selalu berhasil.

Semua itu membangun “rumah batin” yang bisa kita kunjungi kapan saja. Dan rumah batin adalah sesuatu yang mulai langka di era ketika perhatian manusia disewakan per detik kepada aplikasi.

Mungkin inilah paradoks terbesar zaman digital: kita hidup di era informasi paling melimpah, tetapi justru kekurangan perenungan. Kita seperti orang yang berdiri di tengah hujan deras sambil mati kehausan karena sibuk memotret awan.

Maka menghafal puisi hari ini bukan sekadar kegiatan sastra. Ia mirip menanam pohon di tengah kota beton. Kecil, lambat, dan tampak tidak efisien—tetapi justru itulah yang membuatnya penting.

Sebab dunia modern tidak terlalu takut pada manusia yang banyak tahu. Dunia lebih takut pada manusia yang mampu mengingat, merenung, lalu menghubungkan semuanya menjadi makna.

Dan mungkin, di tengah lautan video 15 detik dan perang notifikasi tanpa akhir, kemampuan mengingat satu bait puisi dengan hati yang tenang sudah cukup untuk menjadi bentuk kecil dari kemerdekaan.

abah-arul.blogspot.com., Mei 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.