Sabtu, 23 Mei 2026

Lompat Katak, Smelter, dan Mimpi Jadi Sultan Global

Tentang Hilirisasi Indonesia yang Kadang Mirip Drama Keluarga Besar

Ada satu kebiasaan unik bangsa-bangsa kaya sumber daya: mereka sering merasa sudah kaya padahal baru punya bahan mentah. Ini seperti seseorang yang bangga punya satu karung singkong lalu merasa setara dengan pabrik keripik internasional. Padahal dunia modern bukan menghargai siapa yang punya singkong, melainkan siapa yang bisa membuat singkong itu berubah jadi keripik rasa balado, dikemas estetik, lalu dijual tiga puluh kali lipat di minimarket bandara.

Di sinilah hilirisasi masuk sebagai mantra sakti era Joko Widodo. Kata “hilirisasi” mendadak terdengar di mana-mana seperti lagu dangdut yang diputar berulang di hajatan desa: awalnya orang bingung, lama-lama hafal juga. Dari pejabat, akademisi, sampai bapak-bapak warung kopi mendadak bicara soal smelter, nikel, dan baterai mobil listrik, meski sebagian masih mengira “smelter” itu nama villain di film robot Jepang.

Strategi ini sebenarnya sederhana: jangan lagi jual tanah mentah ke luar negeri seperti pedagang pisang yang menyerahkan buah sekaligus pohonnya. Indonesia ingin naik kelas. Kalau dulu kita ekspor bijih nikel mentah lalu negara lain mengolahnya menjadi barang mahal, sekarang Indonesia ingin berkata, “Maaf bos, mulai hari ini kami tidak cuma jual tepung, kami juga mau bikin martabak.”

Dan di sinilah muncul konsep yang terdengar seperti jurus silat ekonomi: Leapfrog Strategy alias strategi “lompat katak.”
Bukan, ini bukan program pelatihan kodok nasional.

Maksudnya adalah Indonesia tidak mau lagi berjalan pelan seperti kura-kura birokrasi sambil membawa map kuning. Indonesia ingin melompat langsung dari negara penjual bahan mentah menjadi pemain industri global. Logikanya mirip anak kampung yang tidak mau lagi sekadar jadi penonton warnet, tapi langsung belajar coding supaya bisa bikin aplikasi sendiri. Ambisius? Jelas. Nekat? Sedikit. Tapi sejarah memang sering ditulis oleh orang-orang yang cukup nekat untuk terlihat aneh di awal.

Masalahnya, melompat itu indah di teori, tetapi dalam praktik, katak juga bisa salah mendarat.

Pemerintahan Prabowo Subianto tampaknya melanjutkan proyek besar ini dengan gaya berbeda. Kalau Jokowi seperti mandor proyek yang membawa megafon sambil menunjuk excavator, Prabowo terlihat lebih seperti kepala perguruan silat yang mencoba mengatur formasi sambil menenangkan semua murid yang mulai berkelahi soal jatah makan siang.

Cakupan hilirisasi diperluas. Tidak hanya nikel, tetapi juga berbagai komoditas lain. Bahkan rumput laut ikut masuk radar. Ini menarik, karena bangsa yang dulu ribut soal “siapa paling nasionalis” sekarang mulai sadar bahwa masa depan ekonomi ternyata juga bisa ditentukan oleh ganggang laut yang selama ini lebih sering dianggap teman sandal jepit di pantai.

Namun seperti semua proyek raksasa, hilirisasi punya sisi dramatis yang tidak kalah panas dari grup WhatsApp keluarga menjelang pembagian warisan.

Pertama: ketergantungan pada Cina.
Nah, ini bagian yang rumit. Indonesia memang sedang membangun industri, tetapi banyak teknologi, modal, dan tenaga ahli datang dari China. Situasinya seperti seseorang yang ingin mandiri membuka warung kopi, tetapi mesin kopi, resep, kursi, bahkan playlist musiknya masih dipinjam dari tetangga. Warungnya memang milik sendiri, tetapi aroma kopinya masih terasa impor.

Kalau transfer teknologi tidak benar-benar terjadi, Indonesia bisa terjebak menjadi “kos industri” global: bangunannya milik kita, tanahnya milik kita, listriknya dari kita, tetapi otaknya tetap dari luar.

Kedua: masalah daerah penghasil.
Ini bagian yang sering membuat rakyat daerah mengelus dada sambil memandangi truk tambang lewat setiap hari seperti iring-iringan dinosaurus besi. Daerah kaya sumber daya kadang justru merasa seperti penonton VIP yang tidak dapat konsumsi. Pabrik berdiri megah, angka ekspor naik, tetapi jalan rusak, lingkungan tercemar, dan masyarakat lokal hanya mendapat debu plus janji konferensi pers.

Situasi seperti ini berbahaya. Karena rakyat bisa menerima kesulitan, tetapi sulit menerima ketidakadilan. Dalam politik, rasa tidak adil itu seperti nasi basi: sedikit saja baunya muncul, seluruh rumah langsung ribut.

Ketiga: lingkungan hidup.
Ah, manusia modern memang unik. Kita ingin baterai mobil listrik untuk menyelamatkan bumi, tetapi proses mengambil bahan baterainya kadang membuat gunung botak dan sungai berubah warna seperti es sirup. Alam akhirnya bingung: “Kalian ini sebenarnya mau menyelamatkan saya atau meng-upgrade cara merusak saya?”

Hilirisasi akhirnya menjadi paradoks zaman modern. Ia seperti obat kuat pembangunan: bisa membuat ekonomi berlari cepat, tetapi jika dosisnya salah, jantung sosial dan lingkungan ikut berdebar-debar.

Namun demikian, ada satu hal penting yang tidak boleh dilupakan: bangsa besar memang tidak bisa selamanya hidup dari menjual bahan mentah. Itu seperti petani yang terus menjual gabah tetapi tidak pernah belajar membuat nasi goreng. Cepat atau lambat, ia akan sadar bahwa keuntungan terbesar bukan ada di sawah, melainkan di dapur industri.

Karena itu, kritik terhadap hilirisasi seharusnya bukan “hentikan semuanya,” melainkan “bagaimana membuatnya lebih adil dan lebih cerdas.” Sebab menolak industrialisasi total hanya karena takut risiko, sama seperti menolak menikah karena takut mertua. Masalahnya nyata, tetapi hidup tetap harus jalan.

Indonesia hari ini sedang mencoba sesuatu yang sangat sulit: menjadi negara besar yang tidak sekadar kaya sumber daya, tetapi juga punya daya tawar geopolitik. Dalam dunia modern, negara dihormati bukan karena luas hutannya saja, melainkan karena negara lain bergantung pada industrinya. Dunia tidak antre pada penjual tepung. Dunia antre pada pembuat roti.

Dan mungkin di situlah inti sebenarnya dari hilirisasi:
Indonesia sedang berusaha berhenti menjadi warung bahan mentah dunia dan mulai belajar menjadi dapur besar peradaban.

Tentu jalannya tidak akan mulus. Akan ada korupsi, konflik kepentingan, drama izin tambang, hingga pejabat yang bicara “ekosistem industri” tetapi masih bingung membedakan nikel dan stainless steel. Tetapi sejarah pembangunan memang tidak pernah lahir dari situasi steril. Ia selalu berisik, penuh kontradiksi, dan kadang absurd.

Seperti katak yang melompat di musim hujan, Indonesia kini sedang mencoba satu lompatan besar. Pertanyaannya bukan lagi apakah kita berani melompat.

Pertanyaannya:
setelah melompat, kita mendarat di kolam industri masa depan… atau justru tercebur ke kubangan baru bernama ketergantungan?

abah-arul.blogspot.com., Mei 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.