Di zaman modern, manusia menghadapi ketakutan yang aneh. Kita takut tua melebihi takut salah kirim pesan ke grup kantor. Rambut putih dianggap musuh. Kerutan diperlakukan seperti dosa administratif yang harus segera dihapus dengan serum, laser, dan filter kamera. Dunia modern seolah berkata: “Kalau bisa tetap terlihat dua puluh lima tahun, mengapa harus jujur kepada kalender?”
Padahal, kalender tidak pernah bohong. Yang suka bohong
justru foto profil.
Di tengah hiruk-pikuk manusia yang berlomba tampak muda,
muncul seorang filsuf Prancis bernama Edgar Morin yang menawarkan ide sederhana
namun menggetarkan: menjadi tua bukan berarti kehilangan diri, melainkan
mengumpulkan seluruh versi diri kita menjadi satu manusia yang lebih utuh.
Bagi Morin, manusia yang menua dengan baik bukanlah orang
yang berhasil menghapus uban, melainkan orang yang berhasil mempertahankan anak
kecil di dalam dirinya tanpa kehilangan tanggung jawab orang dewasa. Ini
menarik. Sebab kebanyakan kita justru mengalami tragedi spiritual yang sunyi:
semakin dewasa, semakin kehilangan kemampuan takjub.
Dulu waktu kecil, kita bisa menatap semut lima belas menit
penuh kekhusyukan, seolah sedang menyaksikan konferensi geopolitik miniatur.
Sekarang? Bahkan matahari terbenam kalah penting dibanding notifikasi diskon
“flash sale tinggal 3 menit”.
Morin tampaknya ingin berkata: “Jangan buru-buru membunuh
rasa heranmu.”
Dan lucunya, semakin tua manusia, semakin sedikit ia
bertanya, tetapi semakin banyak ia sok tahu. Padahal peradaban sering runtuh
bukan karena kurang jawaban, melainkan karena kehilangan rasa penasaran.
Lalu Morin berbicara tentang semangat remaja. Ah, ini bagian
yang paling tragis sekaligus lucu dalam kehidupan manusia. Masa remaja adalah
masa ketika seseorang percaya dirinya bisa mengubah dunia. Umur tujuh belas
tahun, kita merasa bisa memperbaiki negara, ekonomi global, bahkan mungkin
memperbaiki mantan.
Lalu datanglah usia dewasa.
Di titik inilah banyak orang diam-diam pensiun dari mimpi.
Mereka masih hidup secara biologis, tetapi cita-citanya sudah dimakamkan jauh
sebelum tubuhnya sendiri.
Morin menolak tragedi itu.
Menurutnya, orang tua yang masih punya mimpi adalah manusia
yang tetap menyala. Bayangkan seorang kakek berumur delapan puluh tahun masih
belajar menulis puisi, menanam pohon, atau mempelajari astronomi. Dunia modern
mungkin menganggap itu aneh. Tetapi justru itulah tanda jiwa yang sehat: ia
belum menyerah kepada waktu.
Karena sesungguhnya usia tua bukanlah akhir dari perjalanan.
Ia lebih mirip ruang arsip raksasa tempat seluruh pengalaman hidup disusun
ulang menjadi hikmah. Orang tua ideal dalam pandangan Morin bukan sekadar
“orang yang pernah hidup lama”, tetapi penyuling pengalaman.
Ia seperti pembuat kopi tradisional yang tahu persis mana
pahit yang memberi rasa dan mana pahit yang cuma bikin sakit maag.
Ada ironi besar dalam masyarakat modern: kita hidup lebih
lama, tetapi sering kehilangan seni menjadi tua. Kita punya teknologi
anti-aging, tetapi tidak punya filsafat anti-kekosongan.
Akibatnya lahirlah manusia-manusia yang tubuhnya menua,
tetapi jiwanya tidak matang. Umurnya enam puluh, emosinya masih komentar
Facebook jam dua pagi.
Morin menawarkan jalan lain. Ia mengajak manusia menjadi
seperti pohon tua: akarnya makin dalam, dahannya makin teduh, tetapi masih bisa
menari ketika angin datang.
Dan mungkin di situlah makna penuaan yang sebenarnya.
Karena pada akhirnya, hidup bukan perlombaan menuju muda,
melainkan perjalanan menuju utuh.
Dan uban, kalau dipikir-pikir, mungkin bukan tanda
kehancuran.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.