Ada ironi besar dalam kehidupan modern: manusia hari ini bisa memesan kopi lewat aplikasi, memantau detak jantung lewat jam tangan, bahkan mencari pasangan hidup cukup dengan menggeser layar ke kanan — tetapi tetap tidak tahu apa sebenarnya yang ia rasakan saat sendirian di kamar.
Kita hidup di zaman ketika notifikasi lebih ramai daripada
percakapan batin. Dan di tengah keramaian itu, muncul sebuah kalimat yang
menampar pelan namun telak: “Tragedi terburuk bukanlah kematian, melainkan
menyadari terlambat bahwa kita tidak pernah benar-benar hidup.”
Kalimat ini seperti tagihan listrik: pendek, tapi bikin dada
hangat-dingin.
Masalahnya, banyak orang mengira hidup itu identik dengan
sibuk. Padahal hamster di roda putar juga sibuk. Dari pagi sampai malam ia
berlari penuh semangat, hanya untuk tetap berada di tempat yang sama. Kadang
manusia modern tidak jauh beda. Bangun pagi, kerja, rapat, scroll media sosial,
pura-pura tertawa di grup WhatsApp keluarga, lalu tidur sambil merasa ada
sesuatu yang kosong — seperti bakso tanpa kuah.
Di sinilah kisah Ivan Ilyich terasa menyeramkan.
Bukan karena ada hantu, bukan karena ada jumpscare ala film horor, tetapi
karena pembaca perlahan sadar: “Lho… jangan-jangan ini saya.”
Ivan adalah tipe manusia yang secara sosial dianggap
berhasil. Karier bagus, rumah bagus, status sosial aman. Kalau zaman sekarang,
mungkin LinkedIn-nya penuh ucapan “inspiring leader”, feed Instagram-nya
estetik, dan caption-nya berbunyi: “Grateful for the journey.”
Padahal di dalam dirinya, kosong seperti galon dispenser
tanggal tua.
Ia bekerja terlalu keras bukan karena cinta pekerjaan,
melainkan karena takut pulang pada keheningan rumahnya sendiri. Ada orang yang
lembur karena passion. Ada juga yang lembur karena kalau pulang harus ngobrol
dengan dirinya sendiri — dan itu lebih menakutkan daripada deadline.
Lucunya, manusia modern memang sering takut pada sunyi. Kita
bisa duduk di toilet sambil membawa ponsel, karena lima menit tanpa distraksi
terasa seperti bertemu makhluk gaib bernama “diri sendiri”. Keheningan hari ini
diperlakukan seperti musuh negara.
Pertanyaan semacam itu biasanya segera dibungkam dengan
membuka TikTok.
Tolstoy tampaknya paham bahwa tragedi terbesar manusia bukan
miskin, bukan gagal, bahkan bukan mati. Tragedi terbesar adalah hidup dengan
autopilot. Menjalani hidup seperti pegawai minimarket batin: senyum otomatis,
jawaban otomatis, bahkan sedih pun kadang otomatis.
Yang lebih lucu lagi, banyak orang membangun hidup demi
mengesankan orang yang bahkan tidak terlalu peduli pada mereka. Kita membeli
barang mahal agar dikagumi orang yang diam-diam juga sedang mencicil kecemasan
hidupnya sendiri.
Media sosial memperparah semuanya. Dunia hari ini seperti
festival topeng raksasa. Semua tampak bahagia, produktif, glowing, spiritual,
healing, mindful, dan “living my best life”. Padahal bisa jadi setelah foto
diambil, orangnya langsung bengong memandangi tembok sambil makan mi instan.
Ada sesuatu yang sangat melelahkan dari terus-menerus
tampil.
Kita jadi seperti aktor sinetron yang lupa kapan syuting
selesai.
Dan yang paling tragis: banyak orang baru sadar hidupnya
kosong ketika sudah terlalu jauh berjalan. Mirip orang naik angkot tidur pulas
lalu bangun-bangun sudah di terminal yang salah. Bedanya, dalam hidup, tidak
selalu ada angkot balik.
Itulah mengapa kisah Ivan Ilyich terasa seperti alarm
kebakaran spiritual. Ia baru sadar menjelang mati bahwa selama ini ia hidup
berdasarkan “template masyarakat”. Sekolah yang benar, pekerjaan yang benar,
gaya hidup yang benar, pergaulan yang benar — tetapi tidak pernah bertanya:
“Benarkah ini hidup yang aku inginkan?”
Manusia memang aneh. Kita rela kehilangan tidur demi uang,
lalu kehilangan uang demi memulihkan tidur.
Viktor Frankl pernah mengatakan bahwa krisis terbesar
manusia modern bukan kekurangan hiburan, melainkan kekurangan makna. Dan memang
benar. Hari ini orang bisa punya Netflix, Spotify, kopi mahal, gadget terbaru,
tetapi tetap merasa hampa pada jam dua pagi.
Karena ternyata jiwa tidak bisa dikenyangkan dengan
notifikasi.
Ada kelaparan yang tidak bisa diselesaikan oleh diskon
11.11.
Esai dan tweet semacam ini viral bukan karena orang suka
sedih, tetapi karena banyak manusia diam-diam merasa tertangkap basah. Mereka
membaca itu sambil tertawa kecil, lalu mendadak diam. Seperti orang yang sedang
bercermin dan sadar: “Wajahku kok capek sekali ya?”
Namun di balik semua kegelisahan itu, sebenarnya ada kabar
baik.
Kesadaran adalah pintu awal kehidupan yang sesungguhnya.
Selama seseorang masih bisa bertanya, “Apakah aku
benar-benar hidup?”, berarti jiwanya belum sepenuhnya mati rasa. Yang berbahaya
bukan orang tersesat. Yang berbahaya adalah orang yang terlalu sibuk sampai
lupa bahwa dirinya tersesat.
Mungkin hidup yang benar-benar hidup bukan soal menjadi
terkenal, kaya raya, atau tampak sukses di mata semua orang. Bisa jadi hidup
yang sungguh hidup justru sederhana: mampu tertawa tulus, punya hubungan yang
jujur, menikmati secangkir teh tanpa buru-buru, dan bisa duduk sendirian tanpa
panik.
Karena pada akhirnya, manusia bukan mesin fotokopi
produktivitas.
Kita ini makhluk yang butuh makna.
Dan mungkin, di situlah letak ironi terbesar zaman modern:
manusia berhasil menaklukkan luar angkasa, tetapi sering kalah ketika harus
duduk lima menit sendirian bersama isi kepalanya sendiri.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.