Tentang Michel Serres dan Kesialan Dunia yang Mengira Semua Hal Harus Dijual
Aneh memang. Untuk roti kita pelit. Untuk password WiFi
kadang kita tiba-tiba jadi aktivis sosial.
Di sinilah filsuf Prancis Michel Serres datang membawa
keresahan filosofis yang sederhana namun menusuk seperti harga cabai menjelang
Lebaran. Ia mengatakan bahwa tidak semua pertukaran bekerja dengan logika yang
sama. Ada pertukaran yang membuat kita kehilangan sesuatu. Ada pula pertukaran
yang justru membuat semua orang bertambah kaya tanpa siapa pun jatuh miskin.
Dan perbedaan itu bisa dijelaskan hanya dengan dua benda:
roti dan pengetahuan.
Bayangkan seseorang membawa satu euro dan orang lain membawa
satu roti. Mereka bertukar. Selesai. Roti pindah tangan, uang berpindah tangan.
Semua tampak adil, seperti sinetron Ramadan episode awal sebelum konflik
warisan muncul.
Tetapi ada satu masalah kecil: roti itu habis dimakan.
Tidak peduli seberapa puitis cara Anda menggigit baguette
ala Paris, pada akhirnya roti tetap akan lenyap ke dalam sistem pencernaan.
Dunia material memang begitu. Kalau saya punya satu gorengan dan Anda
mengambilnya, maka saya kehilangan satu gorengan. Ini ekonomi semesta warkop:
siapa cepat dia dapat.
Namun pengetahuan bekerja seperti lilin yang menyalakan
lilin lain. Api berpindah, tapi api pertama tidak padam.
Ketika seorang guru mengajarkan teorema Pythagoras kepada
muridnya, sesuatu yang ajaib terjadi. Murid menjadi tahu, tetapi guru tidak
mendadak amnesia sambil berkata:
“Aduh… sekarang saya lupa rumus segitiga gara-gara tadi
ngajarin.”
Tidak begitu cara ilmu bekerja.
Malah sering kali guru baru benar-benar memahami sesuatu
justru ketika menjelaskannya. Seperti bapak-bapak yang baru sadar arti “sabar”
setelah mencoba mengajari anak SD matematika pecahan sambil menahan emosi dan
tekanan darah.
Ilmu itu unik. Dibagikan tidak habis. Disimpan sendirian
justru kadang berjamur.
Michel Serres seolah ingin mengatakan bahwa peradaban
manusia sebenarnya berdiri di atas dua dapur besar. Dapur pertama adalah dapur
kelangkaan: dunia barang, uang, properti, kursi jabatan, dan diskon tanggal
kembar. Semua terbatas. Semua diperebutkan. Dunia ini mirip prasmanan kondangan
ketika tinggal dua potong rendang dan tujuh paman antre di belakang Anda.
Tetapi ada dapur kedua yang jauh lebih ajaib: dapur
pengetahuan.
Di dapur ini, semakin dibagikan justru semakin banyak.
Semakin dipelajari semakin berkembang. Pengetahuan tidak seperti nasi padang
yang habis ketika dimakan. Ia lebih seperti resep nasi padang: makin disebarkan
makin banyak orang bisa memasak.
Karena itu sejarah manusia sesungguhnya dibangun bukan oleh
orang yang menimbun, melainkan oleh orang yang berbagi.
Bayangkan jika ilmuwan zaman dulu bersikap seperti pedagang
bakso pelit resep.
Isaac Newton mungkin akan berkata:
“Hukum gravitasi premium bisa dibuka setelah berlangganan
bulanan.”
Untungnya banyak pengetahuan tumbuh lewat semangat berbagi.
Hari ini kita melihatnya dalam Wikipedia, komunitas open source, dan
para programmer di GitHub yang rela membagikan kode sambil berharap setidaknya
README mereka dibaca dengan hormat.
Internet sebenarnya adalah bukti bahwa manusia punya potensi
luhur. Tetapi sekaligus bukti bahwa manusia juga suka debat 300 komentar soal
mie instan paling benar.
Di era digital, logika kelimpahan itu semakin terlihat
jelas. Satu video tutorial bisa ditonton jutaan orang tanpa membuat pembuatnya
kehilangan ilmunya. Bahkan kadang penontonnya lebih pintar daripada pembuat
konten dan mulai mengoreksi di kolom komentar dengan semangat mahasiswa
semester dua yang baru menemukan jurnal.
Namun di sinilah tragedi modern muncul.
Kita mulai memperlakukan pengetahuan seperti roti.
Ilmu dipagari. Jurnal ilmiah dikunci mahal. Kursus dijadikan
simbol status. Orang kadang lebih takut berbagi ide daripada berbagi charger.
Ada semacam keyakinan aneh bahwa kalau orang lain pintar, maka kita otomatis
menjadi kurang spesial.
Padahal ilmu bukan koleksi action figure yang nilainya turun
kalau disentuh orang lain.
Kita hidup di zaman yang ironis: informasi melimpah, tetapi
kebijaksanaan sering langka. Semua orang bisa mengakses ribuan artikel
filsafat, tetapi tetap marah hanya karena dibalas “ok” tanpa emoji.
Michel Serres mengingatkan bahwa ada bentuk kekayaan yang
tidak bisa dihitung seperti saldo rekening. Semakin kita berbagi pengetahuan,
seni, pengalaman, dan kebijaksanaan, semakin besar pula dunia batin manusia.
Masalahnya, manusia modern kadang lebih suka menimbun
“branding” daripada membangun peradaban. Kita rela membeli rak buku estetik,
tetapi malas membaca isinya. Buku hari ini kadang diperlakukan seperti tanaman
hias intelektual.
Di media sosial, orang berlomba tampak pintar, bukan menjadi
bijak. Seolah pengetahuan bukan lagi cahaya, melainkan aksesori digital.
Padahal hakikat ilmu sangat sederhana: ia hidup ketika
mengalir.
Karena itu mungkin transaksi paling mulia bukanlah jual-beli
barang, melainkan perjumpaan pikiran. Ketika satu ide bertemu ide lain lalu
melahirkan sesuatu yang baru. Tidak ada yang rugi. Tidak ada yang kehilangan.
Semua tumbuh bersama.
Seekor ayam kehilangan telur ketika telurnya diambil. Tetapi
seorang manusia tidak kehilangan pikirannya ketika pikirannya dibagikan.
Dan mungkin di situlah rahasia menjadi manusia yang
sesungguhnya: makhluk aneh yang bisa menjadi lebih kaya justru saat memberi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.