Kamis, 21 Mei 2026

Sepuluh Rintangan Spiritual: Ketika Ego Pakai Sorban dan Nafsu Belajar Tasawuf

Ada satu ironi yang jarang dibahas di pengajian modern: ternyata nafsu itu adaptif. Ia seperti pedagang gorengan di depan kampus—kalau mahasiswa lagi diet, dia jual tahu isi “rendah minyak”. Kalau orang mulai rajin ibadah, nafsu ikut hijrah, pakai gamis, lalu membuka usaha baru bernama “kesombongan spiritual”.

Inilah kira-kira inti dari pembahasan tentang sepuluh rintangan spiritual menuju Allah yang dijelaskan  berdasarkan kitab karya Ibnu Athaillah al-Sakandari. Ceramah ini seperti manual troubleshooting bagi para pencari Tuhan yang mulai mengalami gejala aneh: makin rajin dzikir tapi makin sensitif kalau tidak dipanggil “abah”, makin sering tahajud tapi story WhatsApp-nya penuh kode-kode langit.

Tasawuf, rupanya, bukan sekadar perjalanan menuju Allah. Kadang ia juga perjalanan panjang melawan diri sendiri yang hobi menyamar.

Ketika Amal Jadi Ajang Pamer Diam-Diam

Rintangan pertama adalah ru’yatul amal: merasa kagum pada amal sendiri.

Ini penyakit yang sangat halus. Orangnya mungkin tidak flexing secara terang-terangan, tapi dalam hati ada bisikan kecil:

“Masya Allah… subuh berjamaah lagi. Hebat juga aku ini.”

Awalnya hanya bisikan. Lama-lama berubah jadi perusahaan startup bernama “Aku Lebih Soleh Incorporated.”

Lucunya, setan mungkin sampai bingung. Dulu dia susah payah menggoda orang agar meninggalkan ibadah. Sekarang dia tinggal duduk santai sambil menikmati orang yang rajin ibadah tapi mulai mabuk pujian pada dirinya sendiri.

Ibadah akhirnya seperti aplikasi fitness. Yang penting bukan sehatnya, tapi statistiknya. Dzikir jadi mirip langkah harian di smartwatch:
“Alhamdulillah, hari ini 12 ribu istighfar.”

Padahal Allah bukan customer service yang terkesan oleh angka.

Nafsu Itu Pintar Menyamar

Rintangan berikutnya lebih menyeramkan: hadatsun nafsi, bisikan nafsu yang dikira ilham.

Ini level permainan yang sudah sulit dibedakan. Nafsu tidak lagi datang sambil membawa gitar dangdut dan brosur maksiat. Ia datang dengan suara lembut, memakai parfum gaharu, lalu berkata:

“Menurut saya… ini petunjuk spiritual.”

Masalahnya, manusia memang suka merasa spesial. Sedikit mimpi aneh langsung merasa dapat mandat langit. Baru semalam mimpi naik perahu di tengah kabut, paginya sudah membuka konsultasi metafisika.

Padahal bisa jadi itu cuma efek makan mi instan jam dua pagi.

Tasawuf klasik sebenarnya sangat realistis soal ini. Para sufi tahu bahwa ego manusia itu seperti kucing: kalau diusir lewat pintu depan, dia masuk lagi lewat ventilasi. Ketika syahwat dunia gagal menggoda, ego naik kelas menjadi “ego spiritual”.

Maka lahirlah manusia yang rendah hati di mulut, tetapi diam-diam berharap dipanggil “wali”.

Media Sosial: Tempat Riya’ Berubah Jadi Konten

Bagian paling relevan dari ceramah ini mungkin adalah ruknun bil khalq: merasa nyaman karena diterima manusia.

Kalau zaman dulu orang cukup puas dipuji tetangga, sekarang validasi hadir dalam bentuk hati merah, centang biru, dan komentar:
“Masya Allah guru…”

Media sosial membuat perjalanan spiritual kadang mirip kontes popularitas. Ada orang sedih bukan karena jauh dari Allah, tapi karena views ceramahnya turun drastis.

Padahal algoritma Instagram tidak pernah disebut dalam kitab-kitab tasawuf.

Lucunya lagi, manusia modern sering mengukur kedalaman spiritual seperti mengukur influencer:

  • makin banyak pengikut, dianggap makin alim,
  • makin estetik feed-nya, dianggap makin sufi,
  • makin sering upload kopi dan kitab kuning, dianggap makin dekat dengan Tuhan.

Seolah-olah maqam bisa dihitung pakai engagement rate.

Padahal bisa jadi seseorang yang paling dekat kepada Allah justru tidak punya akun TikTok sama sekali dan masih memakai HP yang kameranya buram seperti kenangan masa lalu.

Wirid pun Bisa Jadi Distraksi

Ada satu bagian yang sangat menohok: ta’annus bil wirid—terlena dengan wirid itu sendiri.

Ini seperti orang yang begitu sibuk memoles perahu sampai lupa berlayar.

Dzikir memang penting. Wirid memang mulia. Tapi para sufi mengingatkan: jangan sampai kita jatuh cinta pada sensasi spiritual, lalu lupa kepada Allah yang menjadi tujuan spiritual itu sendiri.

Kadang manusia menikmati “rasa religius” lebih daripada Tuhan.

Ia menikmati suasana haru, musik gambus, aroma minyak kasturi, dan getaran emosional—tetapi lupa bahwa inti tasawuf bukan mabuk suasana, melainkan kejernihan hati.

Dalam bahasa sederhana: jangan sampai sajadah berubah fungsi menjadi panggung pertunjukan ego.

Karomah: Godaan Level Premium

Rintangan lain adalah ketagihan karomah dan pengalaman mistik.

Ini lucu sekaligus berbahaya. Ada orang yang baru sekali doanya kebetulan terkabul, langsung merasa antenanya tersambung ke langit. Baru bisa menebak hujan lima menit sebelum turun, sudah merasa seperti manusia versi spiritual dari BMKG.

Padahal para wali besar justru sering menyembunyikan pengalaman spiritual mereka. Mereka takut dipuji. Takut tertipu. Takut berhenti di tengah jalan.

Sebab dalam tasawuf, pengalaman mistik itu seperti rest area di jalan tol: boleh dipakai istirahat, tapi jangan bikin rumah di situ.

Perjalanan Menuju Allah Itu Tidak Instagramable

Yang paling indah dari ceramah ini adalah kesadaran bahwa perjalanan menuju Allah bukan perjalanan yang glamor.

Ia bukan perjalanan penuh efek cahaya seperti film superhero. Kadang justru penuh rasa takut pada diri sendiri. Takut amal tidak diterima. Takut ikhlas tercampur ego. Takut ibadah berubah jadi identitas sosial.

Para sufi klasik memahami satu hal penting:
manusia paling berbahaya bukan manusia yang terang-terangan maksiat, tetapi manusia yang merasa sudah selesai memperbaiki diri.

Karena begitu seseorang merasa “sudah sampai”, biasanya justru saat itulah ia tersesat.

Maka perjalanan spiritual sejati mungkin bukan tentang menjadi manusia paling suci. Tetapi menjadi manusia yang terus sadar bahwa dirinya rapuh.

Seperti pengendara motor di jalan berlubang: bukan yang paling cepat yang selamat, tetapi yang tetap waspada sampai rumah.

Dan mungkin memang itu inti tasawuf:
bukan berjalan sambil membawa spanduk “aku dekat dengan Allah”, melainkan berjalan pelan-pelan sambil terus berkata dalam hati,

“Ya Allah… jangan biarkan aku tertipu oleh diriku sendiri.”

Karena ego, ternyata, bisa ikut mengaji.

abah-arul.blogspot.com., Mei 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.