Ada satu ironi yang jarang dibahas di pengajian modern: ternyata nafsu itu adaptif. Ia seperti pedagang gorengan di depan kampus—kalau mahasiswa lagi diet, dia jual tahu isi “rendah minyak”. Kalau orang mulai rajin ibadah, nafsu ikut hijrah, pakai gamis, lalu membuka usaha baru bernama “kesombongan spiritual”.
Inilah kira-kira inti dari pembahasan tentang sepuluh
rintangan spiritual menuju Allah yang dijelaskan berdasarkan kitab karya Ibnu Athaillah al-Sakandari. Ceramah ini seperti manual
troubleshooting bagi para pencari Tuhan yang mulai mengalami gejala aneh: makin
rajin dzikir tapi makin sensitif kalau tidak dipanggil “abah”, makin sering
tahajud tapi story WhatsApp-nya penuh kode-kode langit.
Tasawuf, rupanya, bukan sekadar perjalanan menuju Allah.
Kadang ia juga perjalanan panjang melawan diri sendiri yang hobi menyamar.
Ketika Amal Jadi Ajang Pamer Diam-Diam
Rintangan pertama adalah ru’yatul amal: merasa kagum
pada amal sendiri.
Ini penyakit yang sangat halus. Orangnya mungkin tidak
flexing secara terang-terangan, tapi dalam hati ada bisikan kecil:
“Masya Allah… subuh berjamaah lagi. Hebat juga aku ini.”
Awalnya hanya bisikan. Lama-lama berubah jadi perusahaan
startup bernama “Aku Lebih Soleh Incorporated.”
Lucunya, setan mungkin sampai bingung. Dulu dia susah payah
menggoda orang agar meninggalkan ibadah. Sekarang dia tinggal duduk santai
sambil menikmati orang yang rajin ibadah tapi mulai mabuk pujian pada dirinya
sendiri.
Padahal Allah bukan customer service yang terkesan oleh
angka.
Nafsu Itu Pintar Menyamar
Rintangan berikutnya lebih menyeramkan: hadatsun nafsi,
bisikan nafsu yang dikira ilham.
Ini level permainan yang sudah sulit dibedakan. Nafsu tidak
lagi datang sambil membawa gitar dangdut dan brosur maksiat. Ia datang dengan
suara lembut, memakai parfum gaharu, lalu berkata:
“Menurut saya… ini petunjuk spiritual.”
Masalahnya, manusia memang suka merasa spesial. Sedikit
mimpi aneh langsung merasa dapat mandat langit. Baru semalam mimpi naik perahu
di tengah kabut, paginya sudah membuka konsultasi metafisika.
Padahal bisa jadi itu cuma efek makan mi instan jam dua
pagi.
Tasawuf klasik sebenarnya sangat realistis soal ini. Para
sufi tahu bahwa ego manusia itu seperti kucing: kalau diusir lewat pintu depan,
dia masuk lagi lewat ventilasi. Ketika syahwat dunia gagal menggoda, ego naik
kelas menjadi “ego spiritual”.
Maka lahirlah manusia yang rendah hati di mulut, tetapi
diam-diam berharap dipanggil “wali”.
Media Sosial: Tempat Riya’ Berubah Jadi Konten
Bagian paling relevan dari ceramah ini mungkin adalah ruknun
bil khalq: merasa nyaman karena diterima manusia.
Media sosial membuat perjalanan spiritual kadang mirip
kontes popularitas. Ada orang sedih bukan karena jauh dari Allah, tapi karena
views ceramahnya turun drastis.
Padahal algoritma Instagram tidak pernah disebut dalam
kitab-kitab tasawuf.
Lucunya lagi, manusia modern sering mengukur kedalaman
spiritual seperti mengukur influencer:
- makin
banyak pengikut, dianggap makin alim,
- makin
estetik feed-nya, dianggap makin sufi,
- makin
sering upload kopi dan kitab kuning, dianggap makin dekat dengan Tuhan.
Seolah-olah maqam bisa dihitung pakai engagement rate.
Padahal bisa jadi seseorang yang paling dekat kepada Allah
justru tidak punya akun TikTok sama sekali dan masih memakai HP yang kameranya
buram seperti kenangan masa lalu.
Wirid pun Bisa Jadi Distraksi
Ada satu bagian yang sangat menohok: ta’annus bil wirid—terlena
dengan wirid itu sendiri.
Ini seperti orang yang begitu sibuk memoles perahu sampai
lupa berlayar.
Dzikir memang penting. Wirid memang mulia. Tapi para sufi
mengingatkan: jangan sampai kita jatuh cinta pada sensasi spiritual, lalu lupa
kepada Allah yang menjadi tujuan spiritual itu sendiri.
Kadang manusia menikmati “rasa religius” lebih daripada
Tuhan.
Ia menikmati suasana haru, musik gambus, aroma minyak
kasturi, dan getaran emosional—tetapi lupa bahwa inti tasawuf bukan mabuk
suasana, melainkan kejernihan hati.
Dalam bahasa sederhana: jangan sampai sajadah berubah fungsi
menjadi panggung pertunjukan ego.
Karomah: Godaan Level Premium
Rintangan lain adalah ketagihan karomah dan pengalaman
mistik.
Ini lucu sekaligus berbahaya. Ada orang yang baru sekali
doanya kebetulan terkabul, langsung merasa antenanya tersambung ke langit. Baru
bisa menebak hujan lima menit sebelum turun, sudah merasa seperti manusia versi
spiritual dari BMKG.
Padahal para wali besar justru sering menyembunyikan
pengalaman spiritual mereka. Mereka takut dipuji. Takut tertipu. Takut berhenti
di tengah jalan.
Sebab dalam tasawuf, pengalaman mistik itu seperti rest area
di jalan tol: boleh dipakai istirahat, tapi jangan bikin rumah di situ.
Perjalanan Menuju Allah Itu Tidak Instagramable
Yang paling indah dari ceramah ini adalah kesadaran bahwa
perjalanan menuju Allah bukan perjalanan yang glamor.
Ia bukan perjalanan penuh efek cahaya seperti film
superhero. Kadang justru penuh rasa takut pada diri sendiri. Takut amal tidak
diterima. Takut ikhlas tercampur ego. Takut ibadah berubah jadi identitas
sosial.
Karena begitu seseorang merasa “sudah sampai”, biasanya
justru saat itulah ia tersesat.
Maka perjalanan spiritual sejati mungkin bukan tentang
menjadi manusia paling suci. Tetapi menjadi manusia yang terus sadar bahwa
dirinya rapuh.
Seperti pengendara motor di jalan berlubang: bukan yang
paling cepat yang selamat, tetapi yang tetap waspada sampai rumah.
“Ya Allah… jangan biarkan aku tertipu oleh diriku sendiri.”
Karena ego, ternyata, bisa ikut mengaji.
abah-arul.blogspot.com., Mei 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.