Ada masa ketika Amerika Serikat mengajari dunia bahwa pasar bebas adalah seperti mie instan: tinggal seduh, jangan terlalu banyak campur tangan pemerintah, nanti teksturnya rusak. Negara ideal, kata mereka, cukup jadi wasit. Jangan ikut main bola. Jangan pula tiba-tiba turun ke lapangan sambil membawa peluit, gawang, dan saham mayoritas.
Lalu tibalah tahun 2026.
Dan Washington tampaknya berkata, “Ah sudahlah, kasih saya
jersey sekalian.”
Pemerintah Amerika, melalui CHIPS and Science Act,
memutuskan menggelontorkan dana sekitar $2 miliar ke sembilan perusahaan
quantum computing. Bukan sekadar hibah penelitian seperti dosen pembimbing yang
baik hati memberi dana skripsi. Tidak. Kali ini pemerintah membeli saham.
Negara resmi ikut main cap table.
Rasanya seperti melihat seorang anti-gula diam-diam
buka toko donat karena “situasi global menuntut.”
Yang membuat kisah ini makin lucu adalah latar politiknya.
Pemerintahan yang sebelumnya mencibir industrial policy sebagai bentuk
“kapitalisme kroni” kini justru bertingkah seperti investor Silicon Valley yang
baru selesai mendengar podcast tentang masa depan AI sambil minum kopi oat
milk.
Negara Sebagai Malaikat Investor
Daftar perusahaan penerima dana terdengar seperti nama-nama
bos alien di film fiksi ilmiah: D-Wave, Rigetti, PsiQuantum, Quantinuum. Kurang
satu langkah lagi menuju nama seperti “Galactic Federation Holdings.”
IBM mendapat porsi terbesar untuk membangun quantum chip
foundry di New York. Pemerintah ikut masuk. GlobalFoundries juga dapat dana.
Pemerintah ikut masuk lagi. Yang lain kebagian suntikan modal seperti tamu
hajatan yang dibagi amplop THR.
Yang menarik, Washington tidak memilih satu teknologi
quantum tertentu. Mereka menyebar taruhan ke berbagai pendekatan:
superconducting qubits, trapped ion, photonic, neutral atom, silicon spin
qubits.
Bayangkan bapak-bapak yang beli bibit durian, alpukat,
mangga, dan kelengkeng sekaligus karena trauma salah pilih tanaman tahun lalu.
Secara teknis, strategi ini masuk akal. Dunia quantum memang
masih seperti bayi jenius: potensinya luar biasa, tetapi masih suka ngompol
secara engineering.
Quantum: Teknologi yang Bisa Membobol Dunia
Alasan kepanikan Amerika sebenarnya sederhana: quantum
computing berpotensi menghancurkan sistem kriptografi modern.
Kalau komputer biasa itu seperti maling motor pakai obeng,
quantum computer suatu hari nanti bisa seperti jin yang langsung tahu PIN ATM
sebelum kita sendiri ingat.
Di sinilah geopolitik berubah seperti pertandingan catur
yang dimainkan orang-orang paranoid sambil minum espresso tiga shot. Amerika
takut China lebih dulu mencapai quantum supremacy. China takut Amerika lebih
dulu. Akhirnya semua negara besar tampak seperti tetangga kompleks yang
sama-sama membeli CCTV karena curiga ayamnya dicuri.
Pasar Saham dan Sifat Dasar Manusia: Panik, Serakah, dan
Sedikit Halu
Begitu pengumuman keluar, saham perusahaan quantum langsung
melesat. Ada yang naik 20 persen, 30 persen, bahkan lebih.
Padahal tidak ada terobosan teknologi baru.
Di sinilah pasar saham sering menyerupai grup WhatsApp
keluarga: satu orang teriak “katanya ada diskon besar!”, semua langsung lari
tanpa sempat cek apakah itu diskon atau sekadar tulisan “SALE” di warung
fotokopi.
Mungkin.
Kapitalisme Pasar Bebas, Kini dengan Sedikit Bumbu Negara
Paradoks paling lucu dari semua ini adalah Amerika kini
semakin mirip model ekonomi yang dulu sering mereka kritik.
Selama bertahun-tahun, Barat memandang “state capitalism”
ala China seperti orang memandang durian di lift: mencurigakan, berbahaya, dan
sebaiknya dijauhkan dari sistem.
Tetapi ketika persaingan teknologi makin brutal, ideologi
mulai lentur seperti sandal jepit kena panas aspal.
Wajib Pajak: Investor Tanpa RUPS
Yang paling menarik sebenarnya posisi rakyat biasa.
Secara teknis, warga Amerika kini ikut memiliki saham
perusahaan quantum melalui uang pajak mereka. Mereka menjadi venture capitalist
kolektif.
Bedanya, venture capitalist biasa bisa datang ke rapat,
protes strategi, atau minimal pamer di LinkedIn.
Wajib pajak? Mereka bahkan mungkin baru tahu uangnya dipakai
investasi quantum sambil makan sereal pagi.
Ini seperti tiba-tiba mengetahui uang iuran RT dipakai
membeli saham startup roket karena ketua RT merasa “masa depan transportasi
antariksa sangat menjanjikan.”
Dan memang bisa jadi benar. Tetapi sejarah menunjukkan bahwa
kalimat “demi keamanan nasional” sering punya kemampuan ajaib untuk membuat
semua kebijakan terdengar lebih masuk akal, termasuk yang awalnya terdengar
seperti ide dari grup Telegram pukul dua pagi.
Amerika Sedang Berubah
Mungkin inilah inti sebenarnya.
Dunia sedang memasuki zaman ketika negara-negara besar tidak
lagi percaya bahwa pasar bebas sendirian cukup cepat menghadapi perang
teknologi. Persaingan dengan China membuat Amerika perlahan meninggalkan
puritanisme ekonominya sendiri.
Ibarat orang yang dulu bersumpah anti-main-curang saat lomba
balap, lalu melihat lawannya memakai turbo roket.
Dan begitulah sejarah sering bergerak. Bukan karena filsafat
yang konsisten, melainkan karena ketakutan geopolitik yang mendadak.
Dari Koboi Pasar Menjadi Penjaga Kasino
Amerika dahulu memosisikan diri sebagai koboi pasar bebas:
negara cukup menjaga ketertiban, sementara inovasi lahir dari kompetisi liar
antarperusahaan.
Kini, perlahan-lahan, negara mulai duduk di meja kasino
teknologi sambil ikut memasang chip taruhan.
Ironisnya, mungkin inilah konsekuensi logis dunia modern.
Ketika teknologi menentukan keamanan nasional, negara tidak tahan hanya menjadi
penonton. Mereka ingin ikut main. Bahkan mungkin ingin jadi bandar.
Atau justru rakyat yang diam-diam sudah menjadi pemegang
saham tanpa pernah merasa membeli apa pun?
Begitulah zaman bekerja. Kadang kapitalisme dan sosialisme
tidak lagi bertengkar seperti dua ideologi besar. Mereka justru duduk semeja,
minum kopi bersama, lalu diam-diam membuka rekening investasi gabungan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.