Kamis, 21 Mei 2026

Ketika Negara Ikut Main Saham — Amerika dan Hobi Baru Jadi “Om Venture Capital”

Ada masa ketika Amerika Serikat mengajari dunia bahwa pasar bebas adalah seperti mie instan: tinggal seduh, jangan terlalu banyak campur tangan pemerintah, nanti teksturnya rusak. Negara ideal, kata mereka, cukup jadi wasit. Jangan ikut main bola. Jangan pula tiba-tiba turun ke lapangan sambil membawa peluit, gawang, dan saham mayoritas.

Lalu tibalah tahun 2026.

Dan Washington tampaknya berkata, “Ah sudahlah, kasih saya jersey sekalian.”

Pemerintah Amerika, melalui CHIPS and Science Act, memutuskan menggelontorkan dana sekitar $2 miliar ke sembilan perusahaan quantum computing. Bukan sekadar hibah penelitian seperti dosen pembimbing yang baik hati memberi dana skripsi. Tidak. Kali ini pemerintah membeli saham. Negara resmi ikut main cap table.

Rasanya seperti melihat seorang anti-gula diam-diam buka toko donat karena “situasi global menuntut.”

Yang membuat kisah ini makin lucu adalah latar politiknya. Pemerintahan yang sebelumnya mencibir industrial policy sebagai bentuk “kapitalisme kroni” kini justru bertingkah seperti investor Silicon Valley yang baru selesai mendengar podcast tentang masa depan AI sambil minum kopi oat milk.

Dulu slogan besarnya kira-kira:
“Biarkan pasar bekerja.”

Sekarang berubah menjadi:
“Biarkan pasar bekerja… tapi kami duduk di dewan direksi.”

Negara Sebagai Malaikat Investor

Daftar perusahaan penerima dana terdengar seperti nama-nama bos alien di film fiksi ilmiah: D-Wave, Rigetti, PsiQuantum, Quantinuum. Kurang satu langkah lagi menuju nama seperti “Galactic Federation Holdings.”

IBM mendapat porsi terbesar untuk membangun quantum chip foundry di New York. Pemerintah ikut masuk. GlobalFoundries juga dapat dana. Pemerintah ikut masuk lagi. Yang lain kebagian suntikan modal seperti tamu hajatan yang dibagi amplop THR.

Yang menarik, Washington tidak memilih satu teknologi quantum tertentu. Mereka menyebar taruhan ke berbagai pendekatan: superconducting qubits, trapped ion, photonic, neutral atom, silicon spin qubits.

Ini sebenarnya pengakuan yang sangat manusiawi:
“Terus terang kami juga belum tahu mana yang bakal berhasil.”

Bayangkan bapak-bapak yang beli bibit durian, alpukat, mangga, dan kelengkeng sekaligus karena trauma salah pilih tanaman tahun lalu.

Secara teknis, strategi ini masuk akal. Dunia quantum memang masih seperti bayi jenius: potensinya luar biasa, tetapi masih suka ngompol secara engineering.

Quantum: Teknologi yang Bisa Membobol Dunia

Alasan kepanikan Amerika sebenarnya sederhana: quantum computing berpotensi menghancurkan sistem kriptografi modern.

Kalau komputer biasa itu seperti maling motor pakai obeng, quantum computer suatu hari nanti bisa seperti jin yang langsung tahu PIN ATM sebelum kita sendiri ingat.

Seluruh sistem keamanan digital—bank, militer, komunikasi pemerintah—berdiri di atas asumsi bahwa memecahkan enkripsi membutuhkan waktu sangat lama. Quantum datang sambil berkata:
“Lucu sekali asumsi kalian.”

Di sinilah geopolitik berubah seperti pertandingan catur yang dimainkan orang-orang paranoid sambil minum espresso tiga shot. Amerika takut China lebih dulu mencapai quantum supremacy. China takut Amerika lebih dulu. Akhirnya semua negara besar tampak seperti tetangga kompleks yang sama-sama membeli CCTV karena curiga ayamnya dicuri.

Pasar Saham dan Sifat Dasar Manusia: Panik, Serakah, dan Sedikit Halu

Begitu pengumuman keluar, saham perusahaan quantum langsung melesat. Ada yang naik 20 persen, 30 persen, bahkan lebih.

Padahal tidak ada terobosan teknologi baru.

Tidak ada pengumuman:
“Kami berhasil membuat quantum computer stabil.”

Tidak ada:
“Kami berhasil memperbaiki error correction.”

Yang berubah hanya satu:
“Pemerintah masuk.”

Dan pasar langsung berkata:
“Kalau negara ikut investasi, pasti ini masa depan!”

Di sinilah pasar saham sering menyerupai grup WhatsApp keluarga: satu orang teriak “katanya ada diskon besar!”, semua langsung lari tanpa sempat cek apakah itu diskon atau sekadar tulisan “SALE” di warung fotokopi.

Fenomena ini menunjukkan bahwa investor modern kadang tidak membeli teknologi, melainkan membeli validasi politik. Kalau pemerintah masuk, rasa-rasanya seperti ada ayah besar yang berkata:
“Tenang, nak. Kalau jatuh, mungkin saya tangkap.”

Mungkin.

Kapitalisme Pasar Bebas, Kini dengan Sedikit Bumbu Negara

Paradoks paling lucu dari semua ini adalah Amerika kini semakin mirip model ekonomi yang dulu sering mereka kritik.

Selama bertahun-tahun, Barat memandang “state capitalism” ala China seperti orang memandang durian di lift: mencurigakan, berbahaya, dan sebaiknya dijauhkan dari sistem.

Tetapi ketika persaingan teknologi makin brutal, ideologi mulai lentur seperti sandal jepit kena panas aspal.

Tiba-tiba negara menjadi investor.
Menjadi pelanggan utama.
Menjadi regulator.
Kadang sekaligus jadi penentu siapa boleh hidup dan siapa tidak.

Amerika yang dulu berkata:
“Negara jangan terlalu ikut campur.”

Kini berkata:
“Baiklah… mungkin sedikit campur. Sedikit sekali. Sekitar dua miliar dolar.”

Wajib Pajak: Investor Tanpa RUPS

Yang paling menarik sebenarnya posisi rakyat biasa.

Secara teknis, warga Amerika kini ikut memiliki saham perusahaan quantum melalui uang pajak mereka. Mereka menjadi venture capitalist kolektif.

Bedanya, venture capitalist biasa bisa datang ke rapat, protes strategi, atau minimal pamer di LinkedIn.

Wajib pajak? Mereka bahkan mungkin baru tahu uangnya dipakai investasi quantum sambil makan sereal pagi.

Ini seperti tiba-tiba mengetahui uang iuran RT dipakai membeli saham startup roket karena ketua RT merasa “masa depan transportasi antariksa sangat menjanjikan.”

Tentu saja ada argumen patriotik:
“Ini demi keamanan nasional.”

Dan memang bisa jadi benar. Tetapi sejarah menunjukkan bahwa kalimat “demi keamanan nasional” sering punya kemampuan ajaib untuk membuat semua kebijakan terdengar lebih masuk akal, termasuk yang awalnya terdengar seperti ide dari grup Telegram pukul dua pagi.

Amerika Sedang Berubah

Mungkin inilah inti sebenarnya.

Dunia sedang memasuki zaman ketika negara-negara besar tidak lagi percaya bahwa pasar bebas sendirian cukup cepat menghadapi perang teknologi. Persaingan dengan China membuat Amerika perlahan meninggalkan puritanisme ekonominya sendiri.

Ibarat orang yang dulu bersumpah anti-main-curang saat lomba balap, lalu melihat lawannya memakai turbo roket.

Pada titik tertentu, idealisme mulai kalah oleh kalimat:
“Kalau kita tidak ikut, kita tertinggal.”

Dan begitulah sejarah sering bergerak. Bukan karena filsafat yang konsisten, melainkan karena ketakutan geopolitik yang mendadak.

Dari Koboi Pasar Menjadi Penjaga Kasino

Amerika dahulu memosisikan diri sebagai koboi pasar bebas: negara cukup menjaga ketertiban, sementara inovasi lahir dari kompetisi liar antarperusahaan.

Kini, perlahan-lahan, negara mulai duduk di meja kasino teknologi sambil ikut memasang chip taruhan.

Ironisnya, mungkin inilah konsekuensi logis dunia modern. Ketika teknologi menentukan keamanan nasional, negara tidak tahan hanya menjadi penonton. Mereka ingin ikut main. Bahkan mungkin ingin jadi bandar.

Pertanyaannya tinggal satu:
kalau nanti quantum benar-benar berhasil, siapa yang akan mengklaim kemenangan? Perusahaan? Pemerintah? Investor?

Atau justru rakyat yang diam-diam sudah menjadi pemegang saham tanpa pernah merasa membeli apa pun?

Begitulah zaman bekerja. Kadang kapitalisme dan sosialisme tidak lagi bertengkar seperti dua ideologi besar. Mereka justru duduk semeja, minum kopi bersama, lalu diam-diam membuka rekening investasi gabungan.

 abah-arul.blogspot.com., Mei 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.