Jumat, 22 Mei 2026

Ketika Tuhan Tidak Minta CV Spiritual — Tentang Cinta, Ma’rifat, dan Hamba yang Terlalu Sibuk Pamer Amal

Ada satu ironi lucu dalam kehidupan spiritual manusia modern: kita ingin dekat dengan Allah, tetapi pendekatannya sering seperti melamar kerja di perusahaan multinasional.

“Ya Allah, saya sudah ikut kajian 17 playlist, khatam wirid 40 hari, sedekah online pakai QRIS, bahkan story saya islami semua. Tolong dipertimbangkan untuk naik level spiritual.”

Padahal dalam tradisi sufi, khususnya dalam kajian tentang ma’rifat, hubungan manusia dengan Allah bukanlah hubungan HRD dengan pelamar magang. Ia lebih mirip hubungan seorang pecinta dengan kekasihnya—bedanya, Sang Kekasih ini tidak pernah ghosting, hanya kadang manusia terlalu sibuk mengecek notifikasi dunia.

Kajian tentang Ikatan Cinta dengan Allah ini sebenarnya membawa pesan sederhana namun mengguncang ego: semakin dekat seseorang kepada Allah, semakin ia merasa dirinya hanyalah hamba biasa. Dan lucunya, justru di titik itulah banyak orang gagal. Baru bisa istiqamah tahajud tiga malam saja sudah mulai berjalan seperti tokoh utama anime spiritual.

Padahal Rasulullah ﷺ sendiri, manusia yang sudah dijamin ampunannya, masih shalat malam sampai kakinya bengkak. Ketika ditanya mengapa beliau tetap beribadah seberat itu, jawabannya bukan:

“Karena saya sedang membangun personal branding kenabian.”

Bukan juga:

“Supaya engagement umat naik.”

Jawabannya sangat sederhana dan sangat menghancurkan logika transaksional manusia modern:

“Apakah aku tidak boleh menjadi hamba yang bersyukur?”

Kalimat ini seperti tamparan lembut memakai sajadah basah. Sebab banyak orang beribadah seperti sedang mencicil cicilan spiritual. Salat agar selamat. Sedekah agar lancar rezeki. Zikir agar bisnis naik. Bahkan kadang doa diperlakukan seperti customer service langit:

“Ya Allah, saya sudah transfer amal, kenapa paket kebahagiaan belum dikirim?”

Kajian ini mencoba membalik paradigma itu. Ibadah bukan transaksi. Ibadah adalah ekspresi cinta.

Dan cinta selalu membuat manusia tampak sedikit “tidak efisien.”

Orang jatuh cinta rela begadang hanya demi mendengar suara seseorang berkata, “udah makan belum?” Tetapi ketika bangun malam untuk tahajud, manusia sering berkata:

“Allah Maha Pengertian, besok saja.”

Ironinya, manusia sanggup menunggu chat pasangan sampai jam 2 pagi, tetapi azan Subuh lima menit saja terasa seperti panggilan sidang pengadilan kosmis.

Di sinilah tasawuf masuk seperti seorang kakek bijak yang menertawakan cucunya yang terlalu serius bermain game dunia. Tasawuf berkata: masalah manusia bukan kurang aktivitas, tetapi salah pusat gravitasi cinta.

Manusia modern itu unik. Ia bisa merasa sangat kehilangan ketika HP tertinggal, tetapi tidak merasa apa-apa ketika hatinya jauh dari Tuhan. Charger ketinggalan panik. Zikir ketinggalan santai.

Seolah-olah baterai ponsel lebih sakral daripada baterai ruhani.

Kajian ini juga mengkritik fenomena yang sangat tua namun selalu tampil dengan kostum baru: kesombongan spiritual. Ini penyakit yang lebih licin daripada minyak goreng di lantai dapur.

Ada orang yang baru sedikit mengenal zikir langsung merasa jadi wali cabang lokal. Baru mimpi bertemu simbol-simbol aneh sudah bicara seolah punya hotline pribadi dengan langit.

Padahal para sufi justru mengatakan: semakin seseorang mengenal Allah, semakin ia sadar betapa kecil dirinya.

Ibarat orang naik gunung. Dari bawah, bukit kecil terlihat besar. Tetapi ketika sudah sampai puncak Himalaya spiritual, manusia malah sadar dirinya cuma debu yang sedang menumpang bernapas.

Karena itu konsep fana sering disalahpahami. Banyak orang membayangkannya seperti karakter film fantasi yang melebur menjadi cahaya kosmik. Padahal yang paling penting dari fana bukan hilangnya tubuh, tetapi mengecilnya ego.

Yang dilebur bukan jasad, tetapi kesombongan.
Yang dibakar bukan identitas manusia, tetapi “aku paling suci.”

Sebab ego spiritual itu seperti kecoak. Semakin gelap ruang hati, semakin aktif ia berkeliaran.

Yang menarik dari kajian ini adalah cara Allah digambarkan bukan sekadar sebagai Hakim Agung yang dingin dan formal, tetapi juga sebagai Sang Mahacinta yang penuh kelembutan. Dalam bahasa sufi, Allah bahkan disebut “lebih rindu” kepada hamba-Nya.

Bagi sebagian orang modern, bahasa ini terdengar aneh. Karena kita terbiasa memandang agama seperti sistem administrasi akhirat: pahala, dosa, laporan amal, audit neraka.

Padahal para sufi datang membawa perspektif berbeda: hubungan manusia dengan Allah bukan cuma hubungan hukum, tetapi hubungan kerinduan.

Dan sebenarnya manusia modern sangat paham soal rindu. Hanya objek rindunya yang sering salah alamat.

Ada yang rindu validasi.
Ada yang rindu dipuji.
Ada yang rindu mantan.
Ada yang rindu diskon tanggal kembar.

Tetapi jarang yang sadar bahwa seluruh kerinduan itu mungkin hanyalah pecahan kecil dari kerinduan yang lebih besar: kerinduan jiwa untuk pulang kepada Tuhan.

Maka kehidupan modern sering terasa melelahkan bukan karena terlalu banyak pekerjaan, tetapi karena hati terus dipaksa mencintai hal-hal yang tidak mampu memberi ketenangan permanen.

Dunia itu seperti minum air laut. Makin diminum, makin haus.

Media sosial menjanjikan perhatian, tetapi melahirkan kecemasan.
Prestasi menjanjikan kebanggaan, tetapi melahirkan ketakutan kehilangan.
Popularitas menjanjikan kebahagiaan, tetapi sering menghasilkan kesepian yang memakai filter estetik.

Sementara tasawuf datang dengan pesan yang hampir terdengar terlalu sederhana:

“Cobalah duduk sebentar. Sebut nama Allah pelan-pelan. Lihat apa yang terjadi pada hatimu.”

Dan mungkin di situlah letak revolusi terbesar kajian ini. Ia tidak menawarkan manusia menjadi makhluk super. Ia hanya mengajak manusia kembali menjadi hamba.

Karena dalam dunia yang semua orang sibuk menjadi “sesuatu,” ternyata menjadi hamba yang tulus justru terasa paling langka.

Pada akhirnya, ma’rifat bukanlah kemampuan melihat cahaya-cahaya mistik atau berbicara dengan istilah Arab yang rumit sambil mengelus jenggot penuh makna. Ma’rifat mungkin jauh lebih sederhana—dan jauh lebih sulit.

Ia adalah ketika manusia mulai sadar:

bahwa seluruh hidupnya sebenarnya sedang mencari Allah, hanya saja sering tersesat di pusat perbelanjaan dunia.

 abah-arul.blogspot.com., Mei 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.