Ada satu ironi lucu dalam kehidupan spiritual manusia modern: kita ingin dekat dengan Allah, tetapi pendekatannya sering seperti melamar kerja di perusahaan multinasional.
“Ya Allah, saya sudah ikut kajian 17 playlist, khatam wirid
40 hari, sedekah online pakai QRIS, bahkan story saya islami semua. Tolong
dipertimbangkan untuk naik level spiritual.”
Padahal dalam tradisi sufi, khususnya dalam kajian tentang ma’rifat,
hubungan manusia dengan Allah bukanlah hubungan HRD dengan pelamar magang. Ia
lebih mirip hubungan seorang pecinta dengan kekasihnya—bedanya, Sang Kekasih
ini tidak pernah ghosting, hanya kadang manusia terlalu sibuk mengecek
notifikasi dunia.
Kajian tentang Ikatan Cinta dengan Allah ini
sebenarnya membawa pesan sederhana namun mengguncang ego: semakin dekat
seseorang kepada Allah, semakin ia merasa dirinya hanyalah hamba biasa. Dan
lucunya, justru di titik itulah banyak orang gagal. Baru bisa istiqamah tahajud
tiga malam saja sudah mulai berjalan seperti tokoh utama anime spiritual.
Padahal Rasulullah ﷺ sendiri, manusia yang sudah dijamin
ampunannya, masih shalat malam sampai kakinya bengkak. Ketika ditanya mengapa
beliau tetap beribadah seberat itu, jawabannya bukan:
“Karena saya sedang membangun personal branding kenabian.”
Bukan juga:
“Supaya engagement umat naik.”
Jawabannya sangat sederhana dan sangat menghancurkan logika
transaksional manusia modern:
“Apakah aku tidak boleh menjadi hamba yang bersyukur?”
Kalimat ini seperti tamparan lembut memakai sajadah basah.
Sebab banyak orang beribadah seperti sedang mencicil cicilan spiritual. Salat
agar selamat. Sedekah agar lancar rezeki. Zikir agar bisnis naik. Bahkan kadang
doa diperlakukan seperti customer service langit:
“Ya Allah, saya sudah transfer amal, kenapa paket
kebahagiaan belum dikirim?”
Kajian ini mencoba membalik paradigma itu. Ibadah bukan
transaksi. Ibadah adalah ekspresi cinta.
Dan cinta selalu membuat manusia tampak sedikit “tidak
efisien.”
Orang jatuh cinta rela begadang hanya demi mendengar suara
seseorang berkata, “udah makan belum?” Tetapi ketika bangun malam untuk
tahajud, manusia sering berkata:
“Allah Maha Pengertian, besok saja.”
Ironinya, manusia sanggup menunggu chat pasangan sampai jam
2 pagi, tetapi azan Subuh lima menit saja terasa seperti panggilan sidang
pengadilan kosmis.
Di sinilah tasawuf masuk seperti seorang kakek bijak yang
menertawakan cucunya yang terlalu serius bermain game dunia. Tasawuf berkata:
masalah manusia bukan kurang aktivitas, tetapi salah pusat gravitasi cinta.
Manusia modern itu unik. Ia bisa merasa sangat kehilangan
ketika HP tertinggal, tetapi tidak merasa apa-apa ketika hatinya jauh dari
Tuhan. Charger ketinggalan panik. Zikir ketinggalan santai.
Seolah-olah baterai ponsel lebih sakral daripada baterai
ruhani.
Kajian ini juga mengkritik fenomena yang sangat tua namun
selalu tampil dengan kostum baru: kesombongan spiritual. Ini penyakit yang
lebih licin daripada minyak goreng di lantai dapur.
Ada orang yang baru sedikit mengenal zikir langsung merasa
jadi wali cabang lokal. Baru mimpi bertemu simbol-simbol aneh sudah bicara
seolah punya hotline pribadi dengan langit.
Padahal para sufi justru mengatakan: semakin seseorang
mengenal Allah, semakin ia sadar betapa kecil dirinya.
Ibarat orang naik gunung. Dari bawah, bukit kecil terlihat
besar. Tetapi ketika sudah sampai puncak Himalaya spiritual, manusia malah
sadar dirinya cuma debu yang sedang menumpang bernapas.
Karena itu konsep fana sering disalahpahami. Banyak
orang membayangkannya seperti karakter film fantasi yang melebur menjadi cahaya
kosmik. Padahal yang paling penting dari fana bukan hilangnya tubuh,
tetapi mengecilnya ego.
Sebab ego spiritual itu seperti kecoak. Semakin gelap ruang
hati, semakin aktif ia berkeliaran.
Yang menarik dari kajian ini adalah cara Allah digambarkan
bukan sekadar sebagai Hakim Agung yang dingin dan formal, tetapi juga sebagai
Sang Mahacinta yang penuh kelembutan. Dalam bahasa sufi, Allah bahkan disebut
“lebih rindu” kepada hamba-Nya.
Bagi sebagian orang modern, bahasa ini terdengar aneh.
Karena kita terbiasa memandang agama seperti sistem administrasi akhirat:
pahala, dosa, laporan amal, audit neraka.
Padahal para sufi datang membawa perspektif berbeda:
hubungan manusia dengan Allah bukan cuma hubungan hukum, tetapi hubungan
kerinduan.
Dan sebenarnya manusia modern sangat paham soal rindu. Hanya
objek rindunya yang sering salah alamat.
Tetapi jarang yang sadar bahwa seluruh kerinduan itu mungkin
hanyalah pecahan kecil dari kerinduan yang lebih besar: kerinduan jiwa untuk
pulang kepada Tuhan.
Maka kehidupan modern sering terasa melelahkan bukan karena
terlalu banyak pekerjaan, tetapi karena hati terus dipaksa mencintai hal-hal
yang tidak mampu memberi ketenangan permanen.
Dunia itu seperti minum air laut. Makin diminum, makin haus.
Sementara tasawuf datang dengan pesan yang hampir terdengar
terlalu sederhana:
“Cobalah duduk sebentar. Sebut nama Allah pelan-pelan. Lihat
apa yang terjadi pada hatimu.”
Dan mungkin di situlah letak revolusi terbesar kajian ini.
Ia tidak menawarkan manusia menjadi makhluk super. Ia hanya mengajak manusia
kembali menjadi hamba.
Karena dalam dunia yang semua orang sibuk menjadi “sesuatu,”
ternyata menjadi hamba yang tulus justru terasa paling langka.
Pada akhirnya, ma’rifat bukanlah kemampuan melihat
cahaya-cahaya mistik atau berbicara dengan istilah Arab yang rumit sambil
mengelus jenggot penuh makna. Ma’rifat mungkin jauh lebih sederhana—dan jauh
lebih sulit.
Ia adalah ketika manusia mulai sadar:
bahwa seluruh hidupnya sebenarnya sedang mencari Allah,
hanya saja sering tersesat di pusat perbelanjaan dunia.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.