Tentang Digitalisasi yang Kebablasan
Konon, tanda sebuah negara maju adalah warganya bisa
melakukan apa pun lewat ponsel. Bayar listrik lewat aplikasi. Pesan obat lewat
aplikasi. Daftar rumah sakit lewat aplikasi. Bahkan untuk mengeluh bahwa
aplikasinya error pun… harus lewat aplikasi.
Di suatu pagi yang dingin di negeri modern, seorang nenek
berusia 92 tahun duduk di ruang tamunya sambil memandangi layar ponsel seperti
seorang arkeolog Mesir memandang hieroglif kuno. Di depannya muncul tulisan:
“Password Anda harus terdiri dari 14 karakter, satu huruf
kapital, satu simbol, satu angka, satu kenangan masa kecil, dan satu alasan
tetap bertahan hidup.”
Beginilah ironi zaman digital: manusia menciptakan teknologi untuk mempermudah hidup, lalu teknologi berkembang begitu cepat sampai hidup itu sendiri perlu tutorial YouTube.
Modernisasi hari ini sering diperlakukan seperti agama baru.
Kitab sucinya bernama “efisiensi,” nabinya bernama “startup,” dan dosa terbesar
adalah masih ingin bicara dengan manusia sungguhan di loket pelayanan.
Kalau dahulu orang dianggap kuno karena menulis surat dengan
pena, sekarang orang dianggap merepotkan karena ingin bertanya langsung kepada
petugas bank.
“Mohon gunakan aplikasi.”
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi bagi banyak lansia,
ia memiliki aura mistis seperti mantra penjaga gerbang dimensi lain.
Padahal lucu juga kalau dipikir-pikir. Generasi tua dulu
membangun jalan raya, jembatan, sekolah, bahkan sistem pemerintahan dengan
mesin ketik dan kopi pahit. Mereka menaklukkan musim dingin, perang, inflasi,
dan hidup tanpa Google Maps. Tetapi di usia senja, mereka dikalahkan oleh
CAPTCHA yang bertanya:
“Pilih semua gambar yang mengandung zebra cross.”
Ironinya, kadang manusia yang menciptakan kecerdasan buatan malah kehilangan kecerdasan kasih sayang.
Masalah terbesar sebenarnya bukan teknologi. Teknologi itu
netral. Ia seperti pisau dapur: bisa dipakai memotong sayur, bisa juga dipakai
memotong hubungan keluarga ketika cucu mulai kesal mengajari kakeknya cara
membuka email untuk ke-47 kali.
Yang menjadi soal adalah ketika digitalisasi berubah dari
alat menjadi ideologi.
Masyarakat modern kadang seperti restoran cepat saji:
semakin cepat pelayanannya, semakin sedikit rasa manusianya.
Kita hidup di zaman ketika aplikasi meditasi mengingatkan kita untuk “lebih hadir secara spiritual,” tetapi notifikasinya muncul setiap tiga menit. Bahkan ketenangan batin sekarang perlu login.
Ada sesuatu yang agak tragis sekaligus lucu dalam hubungan
lansia dan teknologi modern. Anak muda bisa menghafal 17 password berbeda tanpa
masalah, tetapi lupa tanggal ulang tahun ibunya sendiri. Sebaliknya,
nenek-nenek bisa mengingat nama seluruh tetangga satu kampung sejak tahun 1974,
tetapi tidak bisa mengingat apakah emailnya memakai “.com” atau “.id”.
Ini bukan soal pintar atau bodoh. Ini soal habitat.
Anak muda lahir dengan layar sentuh di tangan. Lansia lahir
di zaman ketika “cloud” masih berarti awan sungguhan, bukan tempat menyimpan
foto kucing.
Maka memaksa semua lansia mengikuti arus digital tanpa alternatif itu mirip seperti menyuruh ikan mendaki pohon lalu menyebutnya malas kalau gagal.
Filsafat modern sering berbicara tentang alienasi—keterasingan
manusia dari dunia yang ia bangun sendiri. Dulu pekerja pabrik merasa asing
terhadap mesin. Sekarang nenek merasa asing terhadap rumah sakit karena untuk
membuat janji temu saja ia harus melewati tujuh tahap verifikasi dan dua OTP.
Teknologi yang seharusnya menjadi jembatan perlahan berubah
menjadi satpam digital yang galak.
“Session expired.”
Kalimat pendek itu mungkin adalah puisi eksistensial paling jujur abad ini. Hidup manusia saja belum tentu jelas maknanya, sekarang sesi login pun ikut expired.
Tentu saja kita tidak bisa sekadar berkata, “Matikan semua
teknologi!” Itu sama absurdnya dengan menyuruh manusia modern kembali mencuci
pakaian di sungai sambil mendiskusikan Stoikisme.
Digitalisasi membawa banyak manfaat nyata. Pandemi
membuktikan bahwa teknologi bisa menyelamatkan hidup. Konsultasi kesehatan
jarak jauh, pembayaran cepat, distribusi bantuan sosial—semua itu penting.
Masalahnya muncul ketika efisiensi dijadikan dewa tunggal.
Dalam logika mesin, manusia ideal adalah manusia yang cepat,
mandiri, dan tidak banyak bertanya. Tetapi dalam logika kemanusiaan, justru
orang-orang yang lambatlah yang paling membutuhkan ruang.
Peradaban sejati diuji bukan saat melayani orang muda yang gesit menekan layar, melainkan saat menemani tangan renta yang gemetar mengetik PIN ATM.
Solusi paling masuk akal sebenarnya sederhana: jangan
membunuh dunia lama hanya karena dunia baru lahir.
Biarkan layanan digital berkembang, tetapi jangan musnahkan
loket tatap muka. Biarkan aplikasi mempermudah hidup, tetapi jangan jadikan
aplikasi sebagai satu-satunya pintu menuju kehidupan.
Sebab kadang seorang lansia tidak membutuhkan teknologi
paling canggih. Ia hanya membutuhkan seseorang yang sabar berkata:
“Tidak apa-apa, Bu. Kita coba pelan-pelan.”
Kalimat sederhana itu mungkin lebih manusiawi daripada seribu inovasi startup.
Pada akhirnya, ukuran kemajuan sebuah bangsa bukanlah
seberapa cepat internetnya, melainkan apakah seorang nenek berusia 90 tahun
masih bisa hidup bermartabat tanpa harus menghafal enam password dan tiga kode
OTP.
Karena kalau suatu hari nanti manusia harus login dulu
sebelum dianggap manusia, mungkin yang rusak bukan sistemnya.
Mungkin yang rusak adalah cara kita memahami kemajuan.
Dan barangkali, di sudut ruang tamu, nenek yang kebingungan
menghadapi kode QR itu sedang mengajarkan sesuatu yang diam-diam sudah
dilupakan dunia modern:

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.